Love In Trouble

Love In Trouble
Lega



"Habis ini kamu ikut daddy dulu ya," pinta daddy Zidan sambil menaruh piring kotor ke dapur.


Di rumah mereka, memang dibiasakan siapa saja yang habis makan. Maka dia yang akan membersihkan diri. Tidak melulu harus perempuan yang turun tangan. Karena daddy Zidan nggak mau membiasakan diri seperti itu. Ini tugas bersama dan sudah seharusnya mereka melakukan secara bersama.


"Tapi dad ... bisa nggak kalau siangan aku ke proyek tempat yang tadi daddy bilang."


Daddy Zidan menghampiri Zaina dan menatap bingung. "Mau ke mana dulu kamu?" tanyanya sambil sibuk menuang minuman. "Kan daddy udah bilang dari kemarin kalau kamu luangin waktu kamu sekarang, soalnya banyak yang harus kamu pelajari tentang kantor. Soalnya kamu udah lama kan nggak ngurus kantor. Jadi, kalau daddy main lepas kamu gitu aja. Yang ada kamu pusing sendiri. Makanya daddy itu mau ajarin kamu dari awal lagi."


Sadar kalau daddy nya ini sedang dalam mood kurang baik. Zaina mendekati dan memeluk erat. Memasang wajah memelas.


"Aku mau ke rumah oma kok," ucap Zaina membuat dua orang tuanya langsung menoleh kepadanya.


"Oma? oh iya ... mom mau hubungin oma kamu duluan deh. Tapi mom takut kalau oma kamu masih marah sama mom. Jadi, mom nggak berani buat hubungin oma kamu dulu."


Zaina kaget.


"Lah aku kira oma udah hubungin mom sama dad," jelas Zaina yang bingung karena memang omanya sendiri yang berjanji mau minta maaf sama mom dan dad. "Nanti deh sekalian aku tanya kenapa oma belum hubungin mom atau dad. Ya ampun ..."


"Jangan nak," sela Mom Nadya menghampiri mereka. "Ndak usah paksa oma kamu. Mungkin emang oma kamu aja yang belum nyaman. Jadi, biarkan saja ... nunggu sampai oma kamu itu sedikit lebih nyaman. Toh, yang penting oma kamu udah ngomong mau hubungin dad atau mom kan?"


Dengan bingung Annisa mengangguk.


"Biasa aja dong dad lihatin akunya," ucap Zaina sembari mengibaskan rambutnya. "Zaina tahu, kalau Zaina itu cantik banget. Tapi biasa aja dong liatinnya. Kan jadi malu ..."


Daddy Bima hanya tertawa sambil menggeleng kecil.


"Kan daddy lagi nunggu jawaban kamu. Jadi, kenapa kamu mau ke rumah oma? oma nelpon atau ada sesuatu terjadi sama oma? soalnya dad nggak mau hubungin oma lebih dulu. Sebelum oma kamu itu minta maaf sama dad."


"Idih sama-sama kerasnya," sindir Zaina membuat dad Zidan mengangkat baju, acuh.


"Ya biarin aja, itu janji yang udah daddy buat untuk diri sendiri. Jadi, dad sama sekali nggak mau ingkar. Makanya sebelum oma kamu hubungin, dad nggak mau duluan. Udah jadi ibu daddy kenapa? baik-baik aja kan?"


Zaina mengangguk, menenangkan mereka.


"Oma baik-baik aja kok. Cuma sedikit mulai susah makan karena kangen masakan aku. Makanya aku minta izin sama dad. Nanti aku mau ke rumah oma dulu buat masak. Nanti kalau udah siap, aku langsung ke proyek kok. Boleh kan kalau aku agak telat? tapi Zaina usahain buat cepet kok."


Daddy Zidan dan Mommy Chika menghela napas lega. Lega karena tidak ada hal buruk yang terjadi.


"Kalau itu yang mau kamu lakuin, ya sudah. Asal tetap datang ke proyek ya."


"Iya dad ..."