
Sudah satu bulan berlalu. Zaina sudah berusaha ikhlas akan takdir hidupnya. Walaupun sesekali ia masih terlihat sedih. Tapi Zaina mulai bisa memahami semuanya, kalau semua ini memang takdir yang harus ia jalani.
"Kalau aku terpuruk terus, yang ada dedek sedih di sana. Jadi aku harus kuat sambil terus kirim doa ke dedek," gumam Zaina sambil menatap foto janin yang sejak dulu selalu ia simpan.
"Tapi berat ya nak. Apa, emang bunda belum pantas untuk menjadi orang tua. Makanya kamu pergi? ini beneran sakit. Tapi bunda nggak tahu harus melakukan apa. Rasanya tiap jalan yang bunda lalui itu sangat berat tanpa adanya kamu. Kamu ... tuh penguat bunda. Bunda bisa lewatin ini semua ya karena kamu. Tapi, kalau kamu pergi?"
Zaina tersenyum kecut.
Ia turun dari kasurnya seraya mengenakan selop hangat nya. Perempuan itu memasuki ruang ganti dan mengambil kotak yang ada di ujung laci. Dia membawanya keluar kamar dan duduk di ruang tamu. Zaina taruh kotak itu di pangkuannya dan mengusap debu yang memenuhi atas kotak.
"Bunda sengaja udah siapin ini semua buat kamu. Bunda inget banget," ucap Zaina lagi sambil tertawa kecil mengingat kisah tentang kotak ini.
Dengan perasaan sendu, dia membuka kotak dan melihat ada kaus kaki dan sapu tangan rajut yang dia buat sendiri. Hasil usahanya di masa lalu. Sengaja ia simpan supaya anaknya bisa memakai untuk pertama kalinya.
"Ah ... bunda inget banget. Dulu karena bunda bosen, bunda sengaja ngerajut. Walau bunda sama sekali nggak paham gimana caranya ngerajut. Tapi bunda nggak peduli dan terus berusaha biar bisa kasih kamu barang buatan bunda sendiri."
Zaina menatap tangannya. Masih ada sayatan dan tusukan jarum kecil yang membekas di tangan Zaina.
"Luka ini bunda terima hanya untuk kamu, nak. Tapi sakit di tangan bunda nggak sebanding sama apa yang bunda terima saat ini. Rasanya ... sakit banget ya nak. Ini bener bener sakit yang melebihi benak bunda. Bunda nggak pernah bayangin kalau kehilangan anak bakalan sesakit ini."
"Zaina?"
Perempuan itu menoleh dan mendapati daddy Zidan yang datang sambil membawa bolu di nampan.
Buru-buru Zaina menutup kotak itu dan menaruh ke kolong meja. Ia menepuk sofa di sebelahnya, meminta daddy Zidan untuk duduk di sana.
Ah, tentang orang tuanya.
Zaina berusaha memaafkan perbuatan orang tuanya. Dia berbesar hati dengan mengikhlaskan perbuatan orang tua nya yang terakhir kali benar-benar menyakiti dirinya. Zaina menganggap ini semua impas dengan perbuatan yang dia lakukan.
Dia juga nggak mau terlalu terlarut. Yang ada anaknya sedih di sana. Jadi, Zaina memilih memaafkan mereka. Berbeda dengan Mahen. Sampai detik ini, dirinya masih belum bisa memaafkan Mahen. Entah kenapa, semua perkataan Mahen masih terus terbayang dan itu benar-benar membuatnya malas untuk bertemu laki-laki itu.
"Zaina? kenapa melamun?"
Zaina terhenyak lalu menoleh dan menggeleng. "Kenapa dad?" tanya Zaina.
"Enggak ... tadi sebelum mommy berangkat ke tempat nenek kamu. Kami sengaja masakin bolu pandan yang kamu suka. Jadi, dimakan ya ..."
"Woah ... makasih daddy," seru Zaina sambil menyuap bolu itu dan bergumam setuju sama rasanya. "Oh iya, mommy sampai kapan yah ke rumah neneknya? nenek emang sakit apa? terus ... jangan bilang nenek sakit karena aku ya? pasti kan berita tentang aku udah kedengeran kan sampai ke luar negeri?"
"Loh? mana ada ... nenek malah sedih banget mendengar berita kamu. Dia seneng loh pasti tahu bakalan punya cicit tapi belum sempet ke sini. Nenek malahan sakit dan denger kabar ini."
Zaina menunduk.
"Ternyata, banyak ya yang sayang sama anak aku."
"Iya dong," tambah daddy Zidan. "Semuanya sayang sama anak kamu. Oh iya, mommy kamu paling satu mingguan di sana. Jadi kamu jangan bosen-bosen ya sama daddy."
"Nggak mungkin aku bosen dong sama daddy," jawab Zaina sambil tersenyum tipis.
"Ya sudah ... oh iya, kamu beneran nggak mau maafin Mahen?" tanya daddy Zidan dengan hati-hati.
Zaina mendengus dan memilih membawa piring bolu itu ke kamarnya. Meninggalkan daddy Zidan begitu saja.
"Kasihan nak, Mahen. Dia juga menyesal. Kalau kamu nggak maafin dia, dia beneran kacau. Daddy nggak kuat ngeliat dia. Miris banget. Jadi, kamu maafin dia ya ..."
Langkah Zaina terhenti di ujung anak tangga dan hanya bisa tertawa kecil.
"Kalau daddy kasihan sama dia, gimana dengan aku?" tanya Zaina membuat daddynya tersentak. "Aku juga punya hati dad. Semua perkataan Mahen masih jelas nyakitin aku dan nggak segampang itu buat dia mendapat maaf dari aku."
"Ya sudah ... daddy serahkan semuanya sama kamu. Tapi daddy nggak bisa handle dia untuk datang ke sini atau bujuk kamu. Karena kalau pun daddy usir. Dia bakalan lakuin cara lain untuk ketemu sama kamu."
"Ya ... itu di luar kehendak kita. Selama Mahen nggak macem macem sama aku. Aku nggak masalah mau di apain juga sama dia. Jadi kalau dia yang macem macem dan buat aku risih. Aku pasti yang bakal turun tangan sendiri."
"Ya sudah, kamu makan bolunya ya. Terus istirahat. Jangan lupa minum obat."
"Iya yah ..."
Zaina kembali ke dalam kamarnya. Begitu masuk Zaina langsung disambut dengan sering telepon yang menyapa pendengarannya. Ia melihat nama mommynya yang terpampang di layar.
/Kamu baik-baik aja nak?/
"Ya kayak biasanya. Kenapa mom?"
/Enggak ... mommy cuman kangen sama kamu. Kalau kamu kangen nggak nih sama mommy? mommy pergi sampai satu minggu loh. Kita nggak bisa ketemu selama itu./
Zaina terkikik.
"Aku kangen kok sama mommy. Tapi tetep aja kangen aku ke mommy kalah sama rasa kangen aku ke dedek," balas Zaina.
/Nak?l
"Nggak bisa. Aku Egois. Sakit. Aku kangen. Aku sekangen itu sama dedek," jawabnya pelan.
Kalimatnya berantakan. Zaina terus menegaskan kalau dia sangat kangen sama anaknya yang bahkan belum bisa Zaina lihat rupanya. Dia beneran sekangen itu sama anak nya.
Zaina menundukkan kepalanya, membuat mommy Nadya yang ada di seberang sana jadi menatap khawatir. Kedua tangan Zania udah saling bertaut satu sama lain. Meremas sangat erat sampai kuku jemarinya memerah.
/Are you sad?/
Zania menggeleng. "I'm not ..." dustanya
/Mommy paham./ ada perasaan sesak di hati perempuan yang melahirkan Zaina itu.
"Aku nggak mau sedih dan buat anak aku sedih di alam sana. Tapi gimana, aku nggak bisa ngontrol sama sekali. Akhirnya aku cuman bisa diem sambil bayangin kalau semua ini nggak terjadi di hidup aku."
/Nak .../
"Sakit banget bun rasanya. Setiap mau ikhlas, eh ngeliat susu ibu hamil di dapur. Ngeliat ke ruang ganti kamar, aku nemuin rajutan yang aku buat sendiri. Banyak banget kenangan yang nggak gampang aku lupain. Sampai aku sendiri nggak tahu harus apa. Karena sesusah itu ..."
/Nak ... bunda paham. Sangat paham. Pasti sakit kan? tapi bunda beneran khawatir sama kamu. Kamu juga jangan diem di kamar doang. Yang ada kamu malah inget sama hal kayak gini. Jadi, sibukan diri nak. Bunda bukan mau kamu lupa sama semua kenangan itu. Tapi, bunda mau kamu bangkit. Karena nama anak kamu akan selalu terkenang di hati kamu. Di saat kamu harus jalanin hidup kamu yang sekarang./
“Iya bun ... makanya mulai besok aku mau kerja lagi, kayak dulu. Bunda tenang aja.”
/Nak ... jangan kecewakan bunda ya,/ gumam mommy Nadya membuat senyum Zaina memudar. /Bunda nggak tahu apa yang kamu pikirin selama ini. Kamu selalu keliatan baik-baik aja di depan mommy. Tapi, mommy nggak tahu apa yang sebenarnya ada di benak kamu. Apa pun itu, jangan pernah mikirin hal buruk ya nak. Kalau kamu sampai nyakitin diri kamu sama aja kamu nggak sayang sama bunda./
“Bun ...”
/Bunda nggak bisa, nak. Kamu sayang kan sama bunda? Bunda udah kehilangan cucu bunda dan jangan sampai anak bunda juga ngelakuin macem-macem yang buat bunda sakit hati./
“Iya bunda, tenang aja ...”
Zaina mendengar seseorang yang memanggil bundanya dari seberang sana. “Tuh kayaknya ada yang mau ngobrol sama bunda. Bunda ngurus dulu aja. Nanti kalau bunda kangen, bunda telepon aku lagi aja. Dan ... bunda nggak perlu khawatir sama sekali. Aku nggak bakal nyakitin diri sendiri. Aku nggak mau pergi ninggalin bunda.”
/Makasih, nak ... bunda doain supaya kamu bisa bahagia. Ya sudah, bunda matiin video call nya dulu ya./
Zaina melambaikan tangan lalu tabletnya menggelap. Wajah tersenyumnya langsung lenyap begitu mommy Nadya nggak terlihat di layar lagi. Kini dia terhenyak dan menunduk seraya menghela napas kecil.
“Bunda kayaknya tau deh,” gumam Zaina sambil mengangkat bantal. Di sana ada cutter yang sudah Zaina simpan sejak beberapa hari yang lalu. Ia genggam benda tajam itu dan mengusap pelan sebelum menggeleng dan membuangnya ke tempat sampah. “Nggak ... aku nggak boleh mikirin ke arah sana lagi. Nggak boleh. Masih ada orang yang sayang sama aku!”
Perempuan itu langsung mengingat daddynya dan mencari keluar. Ia terus berlari mencari keberadaan daddynya. Sampai ia bertemu daddynya sedang memberi makan ikan di sana. Ia menubruk tubuh daddynya dan memeluk sangat erat.
“Daddy ... maafkan aku,” histeris Zaina
“Eh ... anak daddy kenapa?” kaget daddy sambil mengusap punggung Zaina.
“Maafin aku, maaf ...”
Daddy Zidan tersenyum tipis. Seolah paham sama keadaan Zaina. Ia juga enggan untuk bertanya lebih lanjut, nggak mau membuat anaknya semakin sedih. Ia mengusap punggung Zaina dan terus mengelap air mata yang turun di pipi anaknya.
“Aku salah, aku nggak akan mikir hal lain lagi,” ucap Zania ambigu
“Ssst ... okei-okei, nggak usah kamu jelasin lagi. Sekarang kamu cukup tenang aja ya. Daddy sama mommy akan selalu ada di sini. Tenangin diri kamu, nggak apa-apa nangis asal kamu tenang. Tapi mulai besok daddy nggak mau lihat air mata turun di wajah kamu lagi,” ucap dady Zidan yang langsung diangguki Zaina
Ia janji.