Love In Trouble

Love In Trouble
Selalu Bersama



"Saya nggak mau memaksa tante. Saya juga berterima kasih karena udah bertemu sama tante yang baik dan dari awal aku melihat tante sama om. Saya langsung ambil kesimpulan kalau kalian orang yang baik. Kalian keliatan juga sayang banget sama Sofyan. Jadi ... saya harap rasa tidak suka tante nggak membuat tante lupa kalau sudah jalan ke arah yang salah dan buat anak tante jadi tersakiti kayak gini."


Zaina menunduk sopan, sekaligus meminta maaf karena sudah membuat keributan.


"Sekali lagi Zaina minta maaf ya, tante. Zaina nggak ada niatan untuk cari ribut," ucapnya tepat di depan pintu. "Ini murni karena aku kasihan liat Sofyan sama Karina. Mereka keliatan saling mencintai, tapi benar-benar pasrah karena nggak tau harus apa lagi melewati banyak rintangan di hubungan mereka."


"..."


"Saya juga ngelakuin ini karena udah punya seseorang yang paham sama aku luar dalam," jelas Zaina sambil menatap Mahen membuat laki-laki itu tersenyum tipis dan malahan mengangguk. "Aku ngomong kayak gini, bukan maksud gak suka sama Sofyan. Karena jujur aja Sofyan sangat baik dan siapa aja pasti bisa cinta sama dia."


"..."


"Tapi ... kami punya arah yang berbeda. Aku sama Sofyan nggak mau menyakiti pasangan kami masing-masing hanya untuk mewujudkan paksaan kalian," ucap Zaina yang sudah mengeluarkan uneg-uneg selama ini.


Zaina melihat mamah nya Sofyan yang keliatan sedih. Terselip rasa nggak tega membuat Zaina menghampirinya dan berlutut tepat di depan mamah Sofyan.


"Tante ... kasihan Sofyan. Dia kelihatan bimbang dan bingung banget. Dia nggak mau menyakiti perasaan tante dan sedikit kehilangan peran tante karena keributan masalah pacarnya ini. Tapi di sisi lain, hanya pacarnya yang buat dia semangat selama ini. Sebagian hidupnya udah ada di kekasihnya dan kalau tante rebut kebahagiannya. Yang ada Sofyan jadi sedih dan nggak tau harus berpegang seperti apa."


Dengan hati-hati Zaina memegang tangan mamah Sofyan.


"Aku tahu ... semua yang di lakuin orang tua pasti ada alasannya tersendiri. Begitu juga, tante. Mungkin tante ngelakuin ini karena alasan tertentu. Tapi coba deh tante bayangin kebahagiaan Sofyan selama ini ... tante mulai lihat dari sudut pandang Sofyan. Bukan sudut pandang tante doang."


Zaina tersenyum tipis dan berdiri. Ia rasa sudah cukup, mamah Sofyan kelihatan terguncang dan memikirkan hal ini. Untuk selebihnya Zaina akan serahkan ke Atas. Dia harap hasilnya akan sesuai seperti yang dia harapkan selama ini.


"Aku pamit dulu ya, tante. Maaf karena kedatangan aku malah bikin ribut. Sekarang semua keputusan ada di tangan tante. Kalau pun tante masih maksa dan nggak denger penjelasan aku. Maaf karena sampai kapan pun aku nggak akan pernah bisa nikah sama anak tante. Permisi."


"Ayo mas."


Zaina menggandeng tangan Mahen dan mereka keluar dari rumah ini. Meninggalkan tempat ini.


***


"Lega?"


Zaina memeluk tubuhnya sendiri dan menggeleng. "Aku masih takut," ucapnya dengan mata terpejam. Ia berusaha merasakan angin yang menyelimuti tubuhnya. Sangat menyegarkan.


Zaina membuka mata dan melihat suara debur ombak yang menjadi pemandangannya kali ini. Ombak dan pasir pantai merupakan perpaduan tempat yang pas bagi hati menemukan ketenangan.


"Takut kenapa? Tenang aja ... apa pun yang terjadi aku akan terus ada di samping kamu. Nggak usah khawatir sama sekali ya. Kita pasti bakal lakuin yang terbaik. Kamu tuh tenang aja."


"Tapi kalau orang tuanya Sofyan ngelakuin banyak cara untuk wujudin keinginan mereka tuh gimana?" tanya Zaina yang masih cemas. "Ini aja dari tadi Sofyan ngehubungin aku terus. Mungkin dia mau nanya kalau pertemuan ini lancar atau enggak. Tapi aku masih nggak berani jawab. Karena ini belum ada kepastian fix dari orang tuanya Sofyan."


Mahen mengangguk, paham maksud kekasihnya itu.


"Tapi boleh nggak sih buat sementara kita nggak usah omongin ini?"


Zaina menoleh, "maksud kamu? Kamu pasti lelah ya ngomongin masalah yang sama terus. Maaf ya mas, karena kalau bareng aku. Kamu malah ngomongin masalah terus kayak gini. Aku nggak ada maksud buat kamu pusing." Zaina mengangguk. "Iya sih ... aku baru sadar kalau kamu bareng aku tuh, cuma buat nyelesaiin masalah doang. Pasti kamu udah muak ya?" simpul Zaina membuat Mahen tepuk jidat.


"Mana ada kayak gitu," balas Mahen.


"Terus tadi?"


"Maksud mas ... mas nggak akan pernah lelah bantu kamu buat selesaiin masalah. Tapi, mas harap kalau kita lagi ya berdua gini dan di tempat menyenangkan kayak gini. Lebih baik kita lupain semua masalah di luar dan cukup fokus sama hubungan kita."


"Hubungan kita?"


Mahen mengangguk. "Masih banyak hal menyenangkan yang kita bisa omongin berdua."


***


Waktu sudah semakin petang, langit sedang menunjukkan posisi paling indahnya. Warna jingga, burung camar yang berterbangan dan suara ombak membuat Zaina benar benar merasa begitu tenang.


Pasangan kekasih itu kini sedang duduk beralaskan kain putih. Tak ada yang bicara sama sekali. Keduanya sibuk mengagumi pemandangan yang sangat indah ini.


"Zaina ..."


"Hmm?"


"Mas mau ngomong sesuatu deh sama kamu."


"Iya?" Zaina menoleh menatap Mahen yang kelihatan gugup. "Kamu baik-baik aja kan?"