
Ghaly sudah di bebaskan dan sekeluarga hanya bisa berharap kalai Ghaly nggak akan macam-macam lagi. Mereka hanya bisa mengandalkan kepercayaan tak tertulis. Semoga saja Ghaly melakukan apa yang di pinta daddy Zidan dan nggak akan mengecewakan Zaina lagi.
Dan, dari hari ke hari kondisi media sosial mulai kembali seperti biasa. Seiring berjalannya waktu, semua orang juga mulai lupa sama masalah keluarga pengusaha Zidan dan hidup Zaina juga jauh lebih tenang setelah semuanya gak pernah menghiraukan dirinya lagi.
Zaina turun dari lantai dua sambil memegang pinggiran tangga. Beberapa hari belakangan, punggungnya mulai pegal. Padahal kehamilannya belum besar. Tapi dia mulai merasa pegal kalau sering jalan-jalan.
Perempuan itu menghela napas kasar dan duduk menyila di ruang tamu sambil memukul pelan punggungnya. Dia noleh saat mendengar suara dan melihat mommynya mendekat sambil mengaduk sesuatu di gelas.
"Mom ... badan aku kenapa pegal terus ya?" adu Zaina sambil merengek. "Ini ... hari ini aja aku ada rencana mau dateng ke rumah keluarga besar mas Mahen. Makanya aku takut kalau di sana malah ngerecokin, karena nggak bisa bantu ini itu. Nanti ... malah buat mereka nggak suka lagi sama aku. Makanya, ada alternatif nggak sih. Biar punggung aku nggak sakit lagi."
Mom Nadya menaruh gelas itu ke atas meja.
"Mom pijitin aja ya, mom juga kurang tau gimana harus ngelakuin ini semua." Mom Nadya menatap khawatir. "Ah, tapi minum dulu susu ibu hamilnya. Mom lihat-lihat kamu jarang banget minum susu ini."
"Ih nggak enak," rengek Zaina sambil menutup mulutnya. "Bau tau ..."
"Iya ... memang nggak enak, tapi demi kebaikan anak kamu. Kamu harus konsumsi. Tahan aja. Toh, cuman selama sembilan bulan doang ini. Jadi, tahan-tahan aja. Bayangin ini demi kesehatan anak kamu."
Zaina makin merengut.
"Minum nak," paksa mom Nadya mendorong segelas susu itu ke arah Zaina.
Zaina terpaksa menerimanya dan menjepit hidungnya. Dia terpaksa menenggak dan menghabiskannya, sampai habis ia merasa mual dan menutup mulutnya. Matanya sudah berkaca-kaca sambil menatap mommynya itu.
"Mom," rengeknya
Mom Nadya tertawa dan menaruh gelas kosong itu ke atas meja dan meminta Zaina untuk berbalik. Ia menyingkap baju anaknya sedikit ke atas dan mulai membalur minyak angin dan memijatnya pelan.
"Kamu beneran udah mikirin apa yang akan terjadi di sana kan? masalahnya, untuk sekarang. Kamu nggak cuman di hadepin sama orang tua Mahen yang udah menerima kamu dan nggak peduli sama kondisi kamu. Tapi kali ini kamu itu harus di hadepin sama keluarga besar Mahen."
Zaina termenung sambil sesekali memejamkan mata, merasakan nyaman di punggungnya.
"Aku udah ngebayanginnya ... tapi di sisi lain, aku agak tenang karena ada Mahen, mom. Soalnya dia pasti bela aku kan? Sekali pun keluarga besarnya menolak dan marah. Aku nggak peduli sama sekali. Karena yang paling utama itu cuman keluarga inti Mahen. Selagi mereka menerima aku dengan baik, aku nggak perlu khawatir."
Mom Nadya mengusap dadanya dengan tangan kosong.
"Tapi ... kenapa perasaan mommy nggak enak ya?" ucap mom Nadya. "Tapi, mom harap memang nggak ada apa-apa karena kamu juga nggak memikirkan hal aneh. Jadi, semoga ini cuman feeling meleset doang dan kamu itu di terima baik sama mereka."
Zaina tetdiam.
"Eh iya! mommy ada saran nggak aku pakai baju apa? Soalnya kan ... kebanyakan baju aku tuh yang crop gitu. Makanya aku bingung harus pake baju yang mana. Dan harusnya aku pakai baju yang sopan kan?"
Mommy Nadya berdiri, "Ah ... tadi mommy turun juga mau nunjukin baju sama kamu. Tapi, kenapa lupa ya. Udah ya, mommy ambil dulu. Nanti lanjut lagi pijitin punggung kamu."
Zaina menurunkan bajunya.
"Punggung aku udah agak mendingan kok, jadi nggak usah di pijitin lagi! Tapi, makasih mommy ..."
Mommy Nadya tertawa lalu bergegas naik ke lantai dua untuk membawakan baju buat Zaina. Zaina terus mengikuti kepergian mommynya sampai mommynya itu menghilang di balik pintu kamar, baru dia menunduk dan mengusap dadanya yang berdebar sejak tadi.
"Sebenarnya .. aku juga ngerasain yang sama, mom. Sejak tadi malam aku kepikiran terus sama masalah ini. Aku itu takut kalau ada apa-apa dan merasa bakalan ada hal besar yang terjadi."
"Tapi ... aku nggak mau buat mommy khawatir dan jadi kepikiran. Makanya aku bohong. Tapi, ternyata mommy juga ngerasain yang sama. Duh, perasaan aku jadi makin nggak enak. Supaya nggak ada apa-apa deh ..."
***
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam dan Zaina sudah siap menggunakan rok polos berwarna hijau sage dengan atasan tertutup berwarna putih. Zaina semakin tampil cantik dengan bandana polos yang menghiasi kepalanya. Jangan lupakan dandanan tipis, menambah kesegaran di wajah perempuan itu.
Dan sudah sejak tadi, Zaina sama mommy Nadya nunggu di ruang tamu. Karena daddy Zidan juga belum pulang dari kantor. Jadi, mereka sengaja menunggu di depan.
"Mom, doakan ya semoga semuanya berjalan baik-baik aja."
Mommy Nadya menangkap keresahan anaknya dan ikut mengusap punggung Zaina dengan lembut.
"Doa mommy akan selalu mengiringi setiap langkah kamu. Jadi, kamu nggak perlu khawatir sama sekali. Kamu bakal baik-baik saja. Tapi ... jangan pernah jauh-jauh dari Mahen ya."
Zaina mengangguk mengerti.
Suara klakson yang terdengar membuat Zaina sama mom Nadya beranjak keluar. Mereka melihat mobil Mahen yang masuk ke pekarangan rumahnya dan laki-laki itu keluar lalu berlari ke arah mereka.
"Mom," sapa Mahen sambil menyalimi calon mertuanya itu. "Aku izin bawa Zaina ya."
"Iya bawa aja, tapi jangan jauh-jauh ya dari Zaina. Karena mommy takut di antara keluarga kamu ada yang nggak suka sama Zaina dan ngomong sesuatu yang menyakitkan lagi."
"Iya mommy, tenang aja. Aku bakal pastikan Zaina nggak akan mendengar omongan jahat mereka."
Sekarang mom Nadya jauh lebih tenang di banding sebelumnya.
Ia melambaikan tangan saat Mahen merangkul Zaina untuk masuk ke dalam mobil. Lalu Mahen menunduk sopan saat sudah menutup pintu mobil Zaina lalu berlari memutar untuk masuk ke sisi satunya.
Mahen menoleh melihat Zaina yang udah duduk di sampingnya.
Zaina yang merasa di sindir langsung menoleh ke arah dirinya. Ia menunduk dan melihat penampilannya sendiri. "Ada yang aneh ya sama aku?" seru dia dengan khawatir. "Aku agak nggak percaya diri sih pake rok kayak gini, gak biasa banget. Apa lagi bando kayak gini."
Zaina menggerutu kecil. Biasanya dia tipe yang pakai baju santai seperti celana dan kaos. Bisa di bilang dia ini perempuan tomboi yang nggak suka pakai baju yang krcewean kayak gini. Tapi mok Nadya bilang kalau ini baju yang paling pantas.
"Duh, apa aku ganti baju dulu ya? kalau kamu muter lagi ke rumah aku. Bakalan keburu nggak sih."
Mahen sigap memegang tangan Zaina yang mau menurunkan bandonya. Ia menggeleng saat Zaina menatapnya bingung.
"Kamu cantik loh, mas suka sama penampilan kamu kayak gini. Nggak usah di berantakin!"
"Eh, beneran? kamu nggak bohong kan? cuman untuk nyenengin hati aku doang."
"Mana ada kayak begitu," seru Mahen lalu mengusap pipi Zaina. "Kamu cantik apa adanya dan mas menyukainya. Jadi nggak usah merasa nggak percaya diri kayak tadi ya."
"Hahaha makasih mas," gumamnya dengan pipi yang semakin merona. Menahan malu.
***
Zaina meneguk saliva saat ia memegang tangan Mahen lalu turun dari mobilnya. Ia berhenti sejak dan mendongak. Ini kenapa suasananya kelihatan sangat suram, membuat dia jadi nggak enak sendiri. Duh, Zaina jadi nggak tahu harus apa.
Dia mengeratkan pelukan pada lengan Mahen.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Mahen sambil merangkul pinggang perempuan itu, sadar kalau perempuan di sampingnya ini nggak lagi baik-baik aja. "Ada aku, jadi tenang ya. Kalau mereka ada ngomong macem-macem sama kamu. Kamu hiraukan aja ya ... biar mas yang balas mereka."
Zaina mengangguk.
"Assalamu'alaikum, aku datang ..."
Semua orang langsung menoleh ke arah pintu buat Zaina semakin mengeratkan pelukan di lengan Mahen.
"Ya ampun, calon menantu bunda akhirnya datang," sapa bunda Mina sambil mendekat. "Nih! kenalin ... ini calon menantu aku. Kalian harus baik-baik ya sama Zaina."
"Kamu beneran mau jadiin dia calonnya Mahen?" tanya salah satu orang membuat hati Zaina langsung memcelos.
Belum aja dia duduk, ia udah mendapat penolakan dari mereka. Tapi dia harus tegar, karena dia tahu. Keluarga Mahen akan menjaganya dan kalau dia menangis atau menunjukan kelemahannya. Yang ada mereka malahan semakin menindas.
"Iya Mina ... dia ini yang kemarin sempat viral kan?" tany yang lain sambil menatap sinis pada Zaina. "Berarti dia ini sekarang lagi hamil kan? kamu memangnya nggak malu, memasukkan aib ke dalam rumah kamu?"
"Calon istri saya bukan aib!" potong Mahen dengan suara tertahan. "Tante, yang nggak tahu apa-apa mending nggak usah ikut campur. Ini pilihan saya dan sekali pun saya nggak jadi itu juga bukan urusan kalian. Jadi, mending kalian urus anak kalian yang gila harta itu."
"Kamu kok ngomong begitu," jawab sang tante yang tadi menyindir Zaina. "Padahal tante ngomong gini juga, demi kebaikan kamu. Siapa tau, dia memang memanfaatkan kamu doang. Makanya, tante ngomong gini demi kamu juga. Lagian ... dia ini lagi hamil anak orang lain. Bisa membawa musibah untuk keluarga kamu. Anak haram—
"Maaf," sela Zaina. "Saya memang salah, saya mengaku salah, mungkin bagi kalian saya cuman aib. Ya saya nggak peduli. Silahkan kalian ngomongin saya ini itu, karena saya nggak akan mengelak. Toh, semakin saya mengelak yang ada kalian semakin membenci saya kan?"
Mereka diam.
"Tapi, satu ... kalian menghina saya, sama saja kalian menghina takdir yang ditunjuk sama Tuhan. Dan semakin kalian membicarakan, dosa saya akan kembali ke kalian. Jadi, saya nggak akan pernah peduli. Toh, malah saya di manfaatkan bukan?" tanya Zaina membuat Mahen sama orang tuanya Mahen menatap penuh kagum.
"Tapi ... saya nggak bakalan diam aja kalau kalian udah ngatain anak saya. Dia hadir di sini juga karena takdir Tuhan. Dia anugerah terindah yang di kirim Tuhan, bukan anak haram seperti yang kalian bilang. Stop, ngomong yang macem-macem sebelum saya semakin marah dan malah mengatakan sesuatu yang kasar dan akhirnya malah menyakiti kalian."
Beberapa dari mereka mulai ketakutan karena aura menyeramkan yang di keluarkan Zaina dan memilih untuk diam aja. Berusaha untuk nggak peduli.
Lalu, Zaina menoleh pada Mahen.
"Dan ... udah berulang kali saya nanya sama Mahen. Apa dia nggak akan malu kalau punya hubungan sama saya. Bahkan saya sendiri menolak, karena nggak mau membawa dampak buruk ke keluarga Mahen. Tapi mas Mahen sendiri yang bilang kalau semuanya baik-baik aja dan saya bukan beban di keluarga mereka. Bahkan orang tua Mahen juga menerima saya dengan baik. Jadi, ada apa dengan kalian yang malah menolak saya kayak gini?"
Mereka diam.
"Udah-udah ... kalian dengar kan omongan calon menantu saya?" tanya ayah Mario yang sejak tadi diam. "Kami sama sekali nggak pernah peduli sama kondisi Zaina dan kita menerima semuanya. Jadi, kalian nggak perlu repot. Tak perlu lagi mengurusi keluarga kami. Kalian urus keluarga kalian masing-masing aja."
Semuanya diam, nggak ada yang berani membantah omongan ayahnya Mario. Walau, Zaina masih bisa lihat tatapan sinis dari mereka. Tapi Zaina berusaha mengabaikan semua itu.
Ia di ajak untuk duduk di salah satu sofa besar dan mereka duduk di sana.
"Ini kita lagi nunggu nenek," beri tahu Mahen sambil berbisik karena nggak mau mengganggu yang lain.
Zaina mengangguk mengerti, pantas saja dari tadi mereka cuman cucuk dan belum ada yang melakukan hal lain. Dia jadi bingung. Ternyata mereka sedang menunggu seseorang. Terjawab sudah pertanyaan nya.
Ia duduk dengan nyaman dan mulai menatap satu per satu keluarga yang ada di sana. Ada yang masih melirik ke arah dia dan saat Zaina balas menatapnya, dia bakalan balik ke arah lain. Ada juga yang nggak peduli dengan keberadaan dirinya.
Dan, Zaina baru sadar kalau mereka semua cukup banyak.
"Ya iyalah ... toh rumahnya aja tadi gede banget. Ini kayaknya, rumah ini kayak jadi base camp kalau keluarga mas Mahen lagi kumpul deh," gumam Zaina di dalam hati. "Berarti ... kalau aku memang berjodoh sama mas Mahen sampai nanti menikah. Aku harus hadepin mereka terus dong? duh ... ini mah PR gede. Tapi nggak apa-apa. Jadi, sebanding deh kalau aku memang dapet mas Mahen yang super sabar dan orang tua mas Mahen yang selalu baik banget sama aku."
Perempuan itu mulai menatap ke sekitar lagi, sampai pintu rumah kembali terbuka dan seorang nenek yang cukup tua masuk ke dalam di ikuti dengan perempuan muda di belakangnya.
"NENEK!" seru Mahen di sebelahnya membuat Zaina sedikit terlonjak kaget. "Nenek apa-apaan sih ngajak dia datang ke sini!" seru Mahen yang marah.
"Nenek masih dengan pendirian nenek!" jawab neneknya itu membuat Zaina benar-benar penasaran akan apa yang terjadi di sini