Love In Trouble

Love In Trouble
22 - Usai



 


“Sebenarnya mas nggak rela sih,” papar Mahen melihat Zaina tampil cantik. “Ini juga ... kenapa kamu harus tampil cantik kayak gini sih?” tanya Mahen sambil menyentuh dress biru yang di kenakan Zaina. “Mas nggak suka ah ... coba kamu ganti baju yang bisa aja gitu. Kalau bisa sih pakai kaos.”


“Tapi ... kamu mau pakai kaos bahkan piyama juga tetep cantik sih. Nggak akan ada yang bisa nandingin. Jadi, mas tetep nggak rela kalau kamu mutusin buat ketemu sama laki-laki itu! Mas nggak akan bisa nerima sampai kapan pun.”


Zaina menyentuh tangan Mahen dengan lembut.


“Seenggaknya aku jujur sama kamu kan? Dari pada aku diam-diam di belakang kamu? Nggak mas ... aku masih hargain kamu loh dan kamu juga bisa ngawasin aku dari jauh. Kalau dia macam-macam kamu bisa maju paling depan untuk bela aku.”


“Iya sih ...”


“Aku yang harusnya nanya sama kamu, kamu nggak apa-apa ninggalin jam kerja kamu cuman demi aku? Masalahnya ... beberapa hari yang lalu jelas kamu bilang sama aku kalau ada rapat penting di perusahaan. Tapi, sekarang kamu malah nungguin aku kan? Kamu beneran nggak apa-apa? nggak bakalan di marahin?”


“Siapa yang bisa marahin aku?” tanya Mahen sambil menepuk dadanya, sombong.


“Aish ... sombongnya.”


Mahen tertawa lepas.


Zaina menatap dirinya lagi sebelum masuk ke dalam mobil.


“Oh iya mas ... aku pakai baju kayak gini juga bukan mau validasi dari Ghaly kok. Beneran deh. Semakin besar perut aku, semakin aku nggak pede kalau pakai kaos gitu. Pasti keliatan dan salah satu jalan untuk nyembunyiin perut aku ya cuman pakai dress kayak gini.”


Mahen berlutut dan mengusap perut Zaina, hingga perempuan itu melangkah mundur.


“Jangan dengerin apa kata bunda kamu ya. keberadaan kamu nggak buat kami malu kok. Kami bahagia karena punya kamu,” beritahu Mahen lalu dia berdiri lagi. “Dan kamu ... mulut tuh di jaga ya. Anak kita bisa ngedenger di dalam sana dan dia pasti sedih kalau denger bundanya sendiri ngomong kayak gini. Jadi ... nggak usah macem-macem deh. Dia terlahir karena Allah menitipkan dia ke kamu. Dia tuh berharga, jadi jangan malu atau mikir yang aneh lagi.”


Zaina merasa tertampar mendengarnya. Dia menunduk dan mengusap perutnya.


“Maafin bunda ya, nak. Bunda nggak bermaksud begitu.”


Mahen mengangguk bangga. Memang begitu harusnya.


Dia menggandeng Zaina lalu membukakan pintu mobil untuk Mahen. “Silahkan masuk, tuan putri ...”


“Makasih mas sayang.”


***


Zaina sangat cemas. Keringat dingin mulai turun di tubuhnya. Matanya udah kehilangan fokus. Sekarang, perempuan itu udah duduk di kursi tepat di tempat yang dijanjikan Ghaly. Sudah lima belas menit Zaina datang, tapi Ghaly belum kelihatan batang hidunganya sama sekali.


“Ya Allah ... semoga semuanya lancar, jangan buat hati aku gundah lagi setelah ketemu sama Ghaly. Aku janji cuman mau bilang tentang kondisi aku sama Ghaly, terus aku bakalan pergi lagi.”


“Tapi ... kenapa gugup banget kayak gini ya?”


Zaina menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia mengangkat wajahnya dan melihat Mahen yang masih fokus melihatnya. Hatinya sedikit lebih tenang, senyuman Mahen benar-benar mampu membuat dia jadih merasa lebih baik.


Mahen mengepalkan tangan, memberi kekuatan pada Zaina. Zaina mengangguk dan mengucapkan terima kasih tanpa suara.


Suara pintu yang beradu dengan bela berbunyi dan Zaina hanya bisa terkesiap. Di sana ada Ghaly. Laki-laki yang menemani dia selama bertahun-tahun dan sekarang sedang berdiri tanpa rasa bersalah sama sekali. Zaina mengepalkan tangan.


Ghaly keliatan baik-baik saja, wajahnya sangat segar.


Sangat berbanding jauh sama seperti dirinya.


“Halo,” sapa Ghaly canggung dan duduk di depan Zaina. “Gimana kabar kamu?”


Zaina melirik sebentar ke arah Mahen dan laki-laki itu masih mengangguk sambil tersenyum kecil. Lalu Zaina menatap Ghaly lagi. “Gue datang bukan untuk basa-basi dari lu, gue cuman mau mendengar semua penjelasan dari mulut lu. Alesan lu ninggalin gue gitu aja sampai gue nggak tahu lu pergi ke mana.”


“Maaf ...”


“Gue nggak butuh maaf lu!” hardik Zaina. “Gue cuman mau denger alesan, kenapa lu nglekauin itu sama gue. Kenapa lu milih pergi tanpa ngasih kabar. Bukan ... gue gini bukan karena nggak bisa lupain lu. Tapi gue beneran benci sama sikap pengecut lu.”


“...”


“Kalau dari awal lu emang nggak niat hidup sama gue, lu nggak usah nerima gue. Lu juga nggak usah manfaatin uang gue sama koneksi yang gue punya. Sampai pakai tubuh gue.”


“Maaf ... aku kalut waktu itu. Aku masih belum punya uang sama sekali, aku mikir kalau selamanya nggak bisa ngandelin lu sama sekali. Karena gue juga mau hidupin lu dengan uang aku sendiri. Tapi ... karena kepengecutan aku, aku malah milih pergi tanpa ngasih kabar dan sekarang aku kembali mau meminang kamu.”


“Telat!”


Ghaly kaget dan menatap curiga, “maksud lu apa?”


“Gue beneran udah benci sama lu! Bahkan gue males untuk ketemu lu sekarang. Lu udah kayak hama di hidup gue dan gue nggak butuh pinangan lu karena gue udah ketemu sama laki-laki yang mau nerima gue apa adanya.”


Zaina bangkit dan menghampiti Mahen. Ia membawa Mahen kembali bersamanya.


“Dia ... dia yang udah lebih dulu meminang aku. Jadi, lu nggak perlu repot-repot cari uang dan ngomong banyak alesan. Kalau dari awal niat lu emang mau pergi dari hidup gue.”


“Zaina ... siapa dia?”


“Mahen. Laki-laki pemberani yang udah buat gue lupa sama lu. Dia yang udah buat gue yakin kalau kepergian lu nggak berpengaruh apa-apa di hidyp gue. Dia juga yang berani minang gue, di saat gue belum yakin sama perasaan gue dan sekarang ... gue kira awalnya, gue bakalan hancur pas liat lu lagi. Tapi ternyata enggak, karena apa? karena hati gue udah terpaut sama Mahen. Bukan laki-laki yang bisanya cuman hancurin gue.”


“Lu selingkuhin aku?”


Tuduhan yang nggak berdasar.


“Harusnya anda sadar, siapa yang meninggalkan Zaina lebih dulu,” seru Mahen dengan serius. “Selingkuh? Kalau anda tidak mau diselingkuhi, harusnya anda nggak menghilang dari hidup Zaina.”


“Anda nggak usah sok tahu!” marah Ghaly menunjuk-nunjuk Mahen. “Lu cuman orang luar yang nggak tau apa-apa. Jadi, nggak usah ikut campur sama sekali!”


Mahen merangkul Zaina.


“Selama kamu masih berhubungan sama calon istri saya, saya akan bela dia dong dan kamu ... selama kamu menghina Zaina yang tidak-tidak, saya akan marah sama kamu. Jadi, ya terima saja.”


“Zaina ... siapa sebenarnya dia. Aku cuman mau ketemu sama kamu doang. Bukan yang lain. Dan kamu ternyata mulai berani ya nentang aku?”


Zaina berdecih.


“Siapa kamu?” serunya lalu tertawa. “Dengan kamu pergi dan hilang kabar dari hidup aku aja udah buat aku yakin kalau hubungan kita udah selesai dan satu, nggak usah cari tahu apa-apa tentang gue lagi. Karena gue nggak akan peduli sama lu lagi. Lu cuman hama di hidup gue. Silahkan pergi ...”


“Zaina ...”


“Nggak usah masang tampang nyedihin kayak gitu, karena yang lu alamin nggak sebanding sama yang gue alamin. Camkan itu.”


Zaina semakin mengeratkan pelukan di lengan Mahen.


“Dan ... harapan lu sebelum lu benar-benar pergi beneran terjadi, ternyata dan gue ucapin makasih karena hal itu yang buat gue kuat selama ini.”


“Ya?” bingung Ghaly


“Lu doain gue hamil kan? Seolah lu ngarepin kepercayaan gue dan ternyata harepan lu terjadi.” Zaina memejamkan mata, menahan air mata yang memaksa turun. Dia merasakan rangkulan di tubuhnya. “Di perut gue ada anak lu. Semua perlakuan yang lu lakuin menghasilkan dia dan setelah gue hancur karena masalah ini. Lu malah pergi dan lepas tangan gitu aja sama gue?”


“Na?” kaget Ghaly yang nggak menyangka hal ini akan terjadi.


“Gue hancur sendirian, Ghaly. Gue cari ke mana pun lu pergi, tapi lu nggak ada kabar sama sekali. Lu beneran ninggalin gue. Gue nyaris memilih untuk pergi aja dari dunia ini karena gue bingung. Dan ... ternyata gue sadar, kalau masih banyak orang baik yang mengelilingi gue.”


“...”


“Lu selalu bilang kalau orang tua gue jahat kan? Nggak ... ternyata di sini lu yang jahat, lu yang selalu hasut gue ini itu. Lu juga yang udah buat gue benci sama mereka. Padahal mereka yang selalu ngertiin gue dan dari situ gue sadar, kalau lu bukan orang baik yang tepat di hidup gue. Lu cuman pembicara buruk yang buat gue jauh dari hal-hal baik.”


“...”


“Dan nggak cuman itu, Mahen datang sambil menerima semuanya. Dia yang nyatanya bukan ayah kandung dari anak aku. Tapi, malah dia yang nawarin diri untuk jaga anak aku. Dia yang selalu ngertiin aku di tengah sifat sensitif aku. Dia juga yang sering antar aku ke rumah sakit dan dia yang selalu excited pas cek anak aku.”


“...”


“Jadi ... kamu udah nggak ada hak di hidup gue lagi. Pergi kamu, karena aku nggak akan pernah bisa ngebuat gue buat kembali sama lu lagi.”


“Zaina?” panggil Ghaly sambil mendekat, tapi Zaina refleks mundur.


“Nggak usah sentuh gue ...”


“Kenapa lu nggak bilang dari awal?” ucap Ghaly. “Kalau lu kasih tau aku, aku pasti nggak bakal tinggalin lu gini. Aku pasti bakal nerima kamu dan tentunya, aku bakalan ngomong sama orang tua kamu. Jadi, bukan salah aku kalau aku malah ngilang begini. Karena kalau kamu jujur juga, aku bakalan nerima anak aku dengan baik.”


“Bukan anak kamu!” pekik Zaina. “Dia cuman milik aku dan kamu nggak ada hak sama sekali.”


“Ayolah Zaina, aku yang jauh lebih berhak atas anak aku. Laki-laki itu nggak mungkin nerima anak kita dengan baik. Dia palingan cuman caper doang sama kamu. Aku yang ayah kandungnya, aku yang jauh bisa menjaga anak kita dengan baik.”


“Nggak usah sok tau! Kamu udah pergi dan aku nggak bakalan kembali sama kamu lagi. Gue nggak peduli sama kamu!”


“Zaina ... kalau kamu nggak mau kembali sama aku, aku nggak bakalan diem aja ya. Kamu tahu kan kalau aku nekat? Aku nggak mungkin diem aja pas anak aku malah bersama laki-laki lain. Camkan itu.”


“Dan aku nggak akan pernah peduli lagi sama semua bualan kamu.”


Zaina menarik lengan Mahen dan membawanya pergi gitu aja. Ghaly terus memanggil tapi di abaikan sama Zaina. Perempuan itu langsung terduduk lesu di dalam mobil. Ia menarik napas dalam, benar-benar sesak dan Zaina berakhir menangis.


“Aku udah bener kan? Aku udah ngelakuin yang bener kan?”


Mahen mengangguk, ia mendekat ke arah Zaina. Mengiring wajah Zaina untuk bersandar di pundaknya.


“Zaina memang yang paling hebat. Kamu beneran hebat banget, bisa lewatin ini semua dengan baik. Pasti nggak gampang kan untuk keliatan berani di depan masa lalu kayak tadi. Tapi kamu beneran hebat banget.”


“Aku sebenarnya takut banget, mau gimana pun dia udah bersama dengan aku dari lama banget. Aku cuman takut luluh pas ngeliat dia. Tadi pas Ghaly dateng, aku sempet luluh. Rasanya hati aku bergetar. Tapi di sana ada kamu. Ada kamu yang selalu tersenyum ke arah aku. Ada kamu yang selalu nguatin aku dan aku beneran makasih banyak sama kamu karena udah pergi bareng aku. Aku nggak tahu, kalau aku pergi sendiri. Pasti aku udah lupa sama semua usaha kamu.”


“Nggak Zaina ... ini bukan karena aku, tapi ini karena keinginan dari lubuk hati kamu yang paling dalam. Kamu bisa melakukan semuanya dengan baik. Kamu bisa lewatin juga karena diri kamu, jadi nggak usah mikir kalau ini karena aku. Ini karena kehebatan kamu sendiri.”


Zaina mengusap air matanya dan mendongak.


“Dan ... mas, sekarang aku udah yakin. Aku mau nerima pinangan kamu. Aku memilih kamu di antara semua orang! aku beneran akan menerima pinangan kamu. Sekarang, aku udah yakin sama diri aku sendiri. Nggak ada yang buat aku ragu lagi, karena kamu memang pilihan utama di hidup aku.”


“Zaina ...”


“Kalau kamu mikir ini karena Ghaly atau paksaan aku doang. Enggak mas. Aku udah mikirin ini dari lama, niat aku mau nyelesaiin masalah aku dulu sama Ghaly. Biar aku bisa milih kamu tanpa ada masalah lagi dan ternyata, semuanya benar-benar selesai sekarang. Urusan aku sama Ghaly udah selesai. Jadi, aku mau sama kamu. Aku nggak mau kehilangan laki-laki baik kayak kamu. Kamu mau kan?”


“Zaina ...” panggil Mahen.


Mahen menarik Zaina mendekat dan memeluk perempuan itu dengan sangat erat. Mahen terus mengucapkan rasa syukur di dalam hatinya. Ia juga berterima kasih sama Zaina karena memilih hal ini. Dan berakhir, Mahen yang mengecup kening Zaina sebelum melepasnya.


“Mas beneran makasih banyak sama kamu ... makasih karena udah memilih mas.”


“Aku yang makasih karena mas mau memilih aku!”