Love In Trouble

Love In Trouble
Maaf?



"Kamu masih belum memaafkan aku?"


Zaina terkejut dan langsung terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pikirannya berkelana ke masa lalu, tapi Zaina nggak menemukan jawaban sama sekali untuk menjawab pertanyaan ini.


"Mas tahu kalau di sini mas salah besar sama kamu. Mas sangat tahu kalau di sini mas udah buat kamu kecewa. Tapi mas juga nggak bisa apa-apa. Ini seperti takdir yang mas enggak terima sama sekali. Jadi, bukan mas yang mau. Mas juga nggak mau begini. Jadi, mas minta tolong banget ... kamu maafin mas ya."


"..."


"Zaina?" panggil Mahen lagi. Mahen nggak mengetik lagi dan malah memusatkan perhatian pada Zania.


"..."


"Kamu beneran nggak bisa ya? kamu nggak pernah mau maafin mas? apa kurangnya usaha mas selama ini? mas selalu ngehubungin kamu walau kamu nggak pernah jawab sama sekali. Mas selalu ke rumah kamu walaupun berakhir di usir. Mas selalu cerita tentang kehidupan mas walau ya ujungnya kamu selalu marah dan mengatakan hal kasar. Mas juga terus—


"Professional," gumam Zaina pelan membuat mulut Mahen langsung bungkam. "Daddy bilang kalau anda nggak bakal bahas ini kalau lagi kerja."


Mahen menghela napas kasar.


"Zaina ..."


"Enggak ya, tuan. Kalau tuan masih maksa buat bahas ini. Aku nggak akan segan keluar dari sini!" tegasnya.


"Dan mau membayar semua uang penalti itu?"


Zaina menghela napas kasar. Baru kemarin dia membaca isi surat itu dan jelas-jelas membaca kalau salah satu pihak melanggar kontrak, maka ia akan membayar denda sebanyak lima ratus juta. Jumlah yang sangat fantastis emang.


Ya ... Zaina sih bisa membayar. Tapi dia berjanji untuk nggak menggunakan uang orang tuanya dengan banyak. Dan Zaina juga merasa bodoh karena nggak melihat perusahaan yang pasti tercantum pada surat. Kalau kayak gini mah dia yang rugi.


"Bisa banget kamu ancemnya!"


"Bukan mengancam," peringat Mahen sambil menggeleng. "Hanya mengingatkan. Supaya kamu nggak ngomong mau keluar dari perusahaan ini dengan mendadak setelah ada nya kontrak itu."


Zaina merengut.


"Licik kamu, tuan! aku yakin kalau pinalty kontrak sebuah perusahaan nvgak ada yang segede itu. Tapi sama aku bisa jadi segede itu. Dasar ..." Zaina mencibir.


Mahen mengendikan bahu.


"Yang penting nggak merugikan banyak pihak kan? cuman kamu doang yang ngerasain hal ini? jadi ... nggak ada problem atau masalah sama sekali. Kamu cukup ikutin aja semua isi kontrak yang ada dj sana!"


"Semua?" kaget Zaina. Ia jadi mengingat point kontrak. "Saya nggak mungkin datang ke apartemen tuan setiap hari untuk menyiapkan sarapan kan?" tanya Zaina dengan tatapan yang sangat memicing.


"Memangnya kenapa? ada yang salah? dan saya ... panggilan macam apa itu?" tanya Mahen yang tidak suka sama panggilannya. "Aku-Kamu saja ..."


Zaina berdecak. "Tuan tau nggak sih sama semua point yang ada di kontrak pekerjaan? saya ini cuman asisten tuan doang. Masa tetep di suruh datang ke apartemen buat siapin baju dan sarapan untuk tuan. Terus dua puluh empat jam saya masa harus didedikasikan sama tuan? kerjaan apa itu? kerjaan mah cuman di kantor doang. Nggak perlu ngurus ini itu."


"Kamu nih nggak tau bedanya asisten sama sekretaris kah?" tanya Mahen


Zaina mendengus.


"Sepertinya kamu paham. Jadi, kerjaan kamu memang sepenuhnya mengikuti keinginan saya dan nggak hanya itu saja. Kerjaan kamu juga harus mengikuti apa yang saya perintahkan. Kamu tidak perlu khawatir sama sekali, kamu nggak perlu pusing dengan semua dokumen kerjaan. Karena itu semua bukan tugas kamu. Tugas kamu cuman membimbing saya dan mengurus saya."


Zaina berdecih.


"Ih! ini mah sama aja kayak tuan gunain kekuasaan tuan buat lakuin semua yang tuan mau."


"Nggak masalah dong ... tidak merugikan banyak pihak ini," jawab Mahen sambil tertawa kecil.


"IYA!" seru Zaina sambil melipat tangan di dada. "Tuan emang nggak ngerugiin banyak pihak. Tapi, tuan ngerugiin aku tau nggak sih," omelnya. "Ini mah sama aja enak di tuan, tapi di aku enggak sama sekali."


Mahen tersenyum simpul, wanitanya mulai cerewet kayak dulu lagi.


“Ya ... yang namanya atasan selalu gitu kan? Jadi ... kamu nggak usah protes. Duduk di meja kamu dalam ruangan ini dan pahamin semua aktivitas saya dari pagi sampai tidur lagi. Jangan sampai ada yang kelewat, kalau ada ... siap siap aja saya kasih hukuman.”


Zaina mengernyit dan menggeleng. “Memangnya kamu berani hukum aku?” tantang Zainamenentang.


Mahen tersenyum tipis.


“Berani dong ... kamu kan bawahan aku, bukan pacar aku lagi,” jawab Mahen membuat Zaina tersentak dan sadar sama posisinya. “Kecuali kalau kamu mau kita memiliki hubungan kayak dulu lagi. Aku sih yes, nggak bakalan hukum kamu. Bahkan kamu nggak perlu kerja dan kita ubah status hubungan kita. Dari yang nggak ada apa-apanya, jadi suami istri. Gimana?” goda Mahen


Zaina langsung merampas kertas yang ada di meja dan meninggalkan Mahen begitu saja, lalu ia duduk di kursi yang ada di sana. Ia mengernyit saat sadar kalau tempat duduknya persis di depan Mahen. Laki-laki itu masih terus menatapnya membuat Zaina menunduk dan mengucapkan banyak perkataan kesal.


“Nggak usah mendumel gitu Zaina,” ucap Mahen dengan jujur lalu tertawa kecil. “Bukannya serem yang ada malah gemes tau nggak sih liatnya.”


“TUAN!” seru Zaina menatap tajam, bersitatap dengan mata teduh milik Mahen. Ah Zaina kalah dan langsung menunduk lagi. “Daddy udah janji kalau kamu nggak bakalan campur aduk masalah sama kerjaan. Jadi, jangan kayak gini. Itu namanya nggak profesional tau nggak sih,” ucap Zaina dengan bisikan kecil.


Mahen menyerah dan mengangguk.


“Maaf ... silahkan kamu pahami dulu peraturan di sana, kalau ada yang nggak paham silahkan langsung tanya saja ke saya.”


“Iya ...”


Mahen kembali fokus ke kerjaannya, sambil sesekali melirik ke arah Zaina yang terlihat sesekali merengut. “Sepertinya saya harus usaha lebih keras untuk mendapatkan kamu. Tapi, apa yang harus saya berikan lagi supaya kamu sadar kalu saya masih di sini, saya masih terus ada di belakang kamu dan nggak akan pernah pergi sama sekali.”


Mahen menyerah. Ia nggak mau ambil pusing, kerjaannya masih banyak. Ia berusaha memfokuskan dirinya sama kerjaan.


Sementara itu,


Zaina benar-benar dibuat tidak berdaya ada di sini.


“Saya pamit ke toilet,” ucap Zaina pada akhirnya dengan berani.


Perempuan itu meninggalkan ruangan Mahen dan menelusuri lorong perusahaan Mahen yang sangat sepi. Dulu Zaina nggak pernah memperhatikan tempat ini semua. Dia hanya fokus sama tujuannya datang yaitu Mahen. Tanpa pernah memperhatikan ke keseluruhan tempat. Tapi, kali ini Zaina baru sadar kalau lantai ruangan Mahen jarang ditemuin pegawai lainnya. Hanya ada OB atau OG yang berkeliaran.


“Pak maaf ...,” panggil Zaina pada orang yang sedang menyapu tersebut.


“Iya? Ada apa neng?”


“Ini pak ... saya mau tanya, kenapa jarang ada pekerja di lantai ini ya? soalnya saya nggak lihat ada tanda-tanda kehidupan di sini? Apa emang pada nggak masuk ya?” tanya Zaina sembari mengusap tengkuknya. “Tapi ... ini bukan tanggal lagi libur gitu kok. Jadi ... agak aneh ya kalau pada nggak masuk kayak gini.”


“Ih si eneng ini baru ya?” tanya bapak itu


Zaina mengangguk dengan ragu.


“Ah ... pantas saja kalau baru. Lantai ini khusus ruangan tuan Mahen sama sekretarisnya saja. Jadi, memang jarang ada orang yang datang ke sini kecuali memang genting. Selebihnya untuk saling berkomunikasi, biasanya tuan Mahen mengandalkan sekretarisnya karena memang se nggak suka itu lantai ini diinjak sama orang asing.”


Zaina mengangguk pelan.


“Tapi ... di sini memang biasanya cuman ada tuan Mahen saja. Karena sekretaris tuan Mahen lebih sering berada diluar. Jadi ... memang lantai ini sangat sepi.”


Zaina mengangguk mengerti. “Kalau gitu ... di mana asistennya tuan Mahen?”


“Asisten?”


Perempuan itu mengangguk dengan cepat. “Kata tuan Mahen asistennya itu lagi sakit ya? makanya aku ngegantiin peran asisten tuan Mahen itu buat sementara waktu. Makanya ... kalau ada asisten tuan Mahen, pasti lantai ini lumayan ramai kan? Soalnya ... kalau kayak gini setiap hari, apa nggak sepi dan gimana gitu ...,” bisik Zaina sambil bergidik.


Bapak itu tertawa dan menggeleng.


“Tidak ada asisten neng ... sudah saya bilang kalau tuan Mahen nggak suka ada orang asing yang menginjak kaki di sini. Jadi nggak ada tuh asisten sama sekali. Tuan Mahen cuman kerja  sendiri sama sekretarisnya saja, nggak ada asisten-asisten sama sekali.”


“Ah ... jadi gitu,” kaget Alea sambil menghela napas kasar. Dia baru sadar kalau dirinya di bohongi sama Mahen.


Dengan perasaan kesal, Alea mengucapkan terima kasih sama bapak itu lalu meninggalkannya gitu aja. Ia udah nggak peduli lagi sama toilet atau perasaan gugupnya. Yang ingin dia temui hanyalah Mahen. Dia mau menayakan maksud dari pria itu.


“MAHEN!” panggil Alea dengan membentak setelah membuka pintu ruangan dengan kasar.


“Eh kenapa?” panik Mahen yang langsung meninggalkan kerjaan dan menghampiri Zaina. “Ada yang ganggu kamu? Siapa ... kasih tau aku, jangan diem aja!” pekik Mahen tanpa sadar.


“Kamu yang kenapa mas,” seru Zaina dengan marah. “Kamu sengaja kan suruh aku ada di sini, padahal nggak ada asisten sebelumnya. Kamu ambil kesempatan dan jangan bilang, kamu kerja sama dengan daddy aku? Kalian sengaja biar aku bisa ketemu sama kamu?” marah Zaina


Mahen tertegun dan langsung diam. “Ah ... kamu sudah tahu?” ucapnya dengan sangat lemas


“Berarti benar kan ... kalau kamu memang sengaja. Aku nggak suka ya Mahen, kamu ngelakuin ini demi kamu doang. Tapi kamu nggak mikirin perasaan aku sama sekali,” ucap Zaina dengan perasaan emosi menggebu. “Bahkan aku berusaha ngeberaniin diri untuk ketemu sama kamu, aku menahan diri supaya ada di kata profesional. Tapi kamu sendiri yang kayak gini,” ucap Zaina dengan sangat marah


“Maaf ...”


“Mahen ... aku tau, kamu ngerasa bersalah. Tapi aku juga butuh waktu buat maafin kalian semua. Kasih aku waktu. Bukannya malah maksa kayak gini,” ucap Zaina lalu tertawa sendu. “Aku tahu kalau kalian semua sedih, termasuk kamu. Kamu juga nggak mau gi giniin sama aku. Tapi aku nggak bisa ... sumber kebahagiaan aku direnggut, orang yang buat aku bertahan di dunia ini pergi. Rasanya sakit. Tapi ... kalian nggak pernah kasih waktu aku buat berdamai dulu.”


“Maaf Zaina, mas nggak maksud kayak gitu ...”


“Aku tahu kalian semua pada sedih,” ucap Zaina pelan. “Tapi aku korbannya kan di sini? Jadi kalian nggak bisa maksa aku ini itu. Aku masih maunya begini.”


“Okei Zaina ... maaf ya, mas nggak mikirin perasaan kamu sama sekali. Mas nggak mikirin isi hati kamu. Mas nggak paham sama apa yang kamu mau,” ucap Mahen sambil menggandeng tangan Zaina sambil mengusapnya pelan. “Mas tau kalau ini semua nggak mudah. Mas juga tahu kalau kamu belum bisa maafin mas ... mas nggak butuh hubungan kita kayak dulu. Tapi, mas mau kita temenan. Kamu cerita semuanya sama mas ...”


“Maksud kamu?”


“Mas beneran sedih ngeliat kamu yang nyimpen semuanya sendiri kayak gini. Mas nggak mau kalau kamu terpuruk, mas nggak bisa ... mas mau kamu cerita apa yang sebenarnya selama ini kamu alamin. Mas mau kamu terbuka. Biar kita ngerasa sakitnya bareng. Bukan kamu sendirian doang.”


Zaina terdiam.


“Nggak masalah kalau akhirnya nanti kamu ketemu sama laki-laki yang bisa membuat kamu cinta lagi. Walaupun mungkin sakit, tapi kalau itu demi kebahagiaan kamu, mas nggak masalah sama sekali. Tapi ... jangan kayak gini. Mas nggak suka,” pinta Mahen dengan penuh harapan


Zaina menunduk.


Ia juga merasa kehilangan. Rasa sakit yang dia alami sangat double. Ia harus benci sama orang yang mengatakan buruk tentang anaknya. Walau hati dia sangat menentang. Zaina memejamkan mata, membayangkan kalau anaknya masih ada di sisi dia.


Apa yang bakalan anaknya pilih?


Kalau dia memaafkan Mahen, apa anaknya bakalan marah di sana? Atau anaknya bakalan sedih?


Lamunan dia terhenti saat tangannya terasa ditarik lalu Zaina dibuat terkejut saat melihat Mahen yang udah berlutut di bawah. Ia mau ikut berlutut, tapi Mahen menggeleng dan malahan menahannya.


“Zaina ... kita ulang semuanya ya dari awal? Kamu bersedia? Sebagai teman. Mas janji nggak akan mengungkit masalah lain sama kamu. Mas juga nggak akan buat kamu risih. Aku juga gak akan melebihkan keinginan mas atau ingetin semua tentang hubungan kita pas dulu. Mas cuman mau kamu punya temen berbagi ... jangan sendiri. Itu sama aja nyakitin diri kamu dan nyakitin mas.”


Mahen mengecup punggung lengan Zaina sambil menitikkan air mata.


“Kamu mau menjadi teman aku lagi? Bukan sebagai mas tapi sebagai Mahen, laki-laki yang baru kenal?” tanya Mahen lagi


Setelah pertimbangan cukup lama akhirnya Zaina mengangguk dengan ragu.


“Makasih!” pekik Mahen lalu memeluk Zaina dengan sangat erat. “Sekali lagi ... makasih.”