Love In Trouble

Love In Trouble
Akhir



Atas kedewasaannya akhirnya Mahen dan Zaina bisa saling memaafkan satu sama lain dan dari satu masalah yang ini. Mereka jadi bisa menghargai satu sama lain. Keduanya tak bisa menyangkal sama sekali kalau keributan kecil seperti ini lah yang membuat hubungan keduanya jadi bertahan hingga detik ini.


Semua masalah telah usai hingga detik ini. Pelaku perusahaan sudah ditangkap karena daddy Zidan yang turun tangan sendiri. Hingga keluarga Zidan yang ternyata welcome sama dirinya. Semua itu mampu membuat Zaina super duper bahagia. Zaina merasa semuanya berjalan dengan baik.


Dan malam ini, adalah malam yang semua orang tunggu.


"Bagaimana para saksi?" penghulu menatap semua orang di sana dan jawaban semua orang membuat penghulu tersenyum pada Mahen. "Sah?"


"SAH!"


"Alhamdulillah ..." Penghulu tersebut mendoakan banyak hal baik untuk pasangan yang baru saja menikah itu.


Begitu semua masalah usai, Mahen benar-benar langsung meminang Zaina dan tepat hari ini. Tepat malam ini, mereka melangsungkan pernikahan. Kebahagiaan yang selama ini mereka tangga. Akhirnya terwujud juga. Keduanya saling menatap setelah dinyatakan sah.


Akhirnya ...


***


"Mas."


Acara baru saja selesai dua jam yang lalu. Oh iya pernikahan mereka, bukan pernikahan yang besar. Tapi pernikahan ini termasuk pernikahan biasa karena hanya mengundang keluarga besar, ini juga atas permintaan Zaina. Toh yang penting mendapat persetujuan dari keluarga saja kan? ia juga tak membutuhkan alasan dari semua orang.


Pernikahan diadakan di hotel. Setelah semuanya selesai, pasangan itu bisa langsung meninggalkan semuanya tanpa harus ribet mengurus sisanya.


Kini, setelah acara selesai semua keluarganya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing begitu juga pasangan suami istri yang baru saja menikah.


Mahen sedang mengurus semua barang mereka sembari menunggu Zaina keluar kamar.


"Mas ... tolong ambilin piyama biru aku di tas dong," papar Zaina setelah ribet mengurus gaunnya di dalam kamar mandi


"Sebentar."


Mahen merogoh tas dan langsung memberikan piyama yang dimaksud Zaina. "Makasih mas."


"Mas ..."


Ada rasa haru yang terselip di benak mereka berdua. Mereka saling menatap sebelum kembali berpelukan dengan sangat erat. Hingga tanpa sadar Zaina terisak. Perempuan itu merasa haru atas semua jalan hidup yang ia lalui hingga sampai di titik ini.


"Mas ..."


Mahen menangkup wajah Zaina dan mengangguk. Seolah paham atas semua yang terjadi. Ia berusaha menenangkan sang istri yang masih menangis. Mahen mengusap air mata Zaina.


"Aku sayang banget sama kamu," jujur Mahen. "Aku tahu kalau kita bahagia. Tapi jangan nangis kayak gini ya. Mas nggak suka lihat kamu nangis," aku Mahen.


Zaina tetap merasa terharu.


"Ini mimpi nggak sih mas? sekarang ... aku dan kamu udah jadi sepasang suami istri. Kita nggak perlu takut lagi kalau ada yang ganggu hubungan kita. Karena pada kenyataannya kita udah sampai di titik ini."


Mahen menggeleng.


Ia membawa Zaina ke balkon dan memeluk tubuh Zaina dari belakang.


"Ini semua nyata, sayang. Berulang kali masalah datang di hidup kita. Tapi pada kenyataannya kita bisa lewatin sekarang dan kamu udah jadi istri aku dan aku suami kamu."


Zaina mengerjap pelan.


"Suami?" panggilnya yang terdengar sangat lucu. Dia terkikik pelan. "Suami aku ..."


"Hahaha iya istri aku."


Dan keduanya tertawa benar-benar bahagia atas hubungan yang satu ini.


Ini memang bukan akhir, tapi ini awal dari semuanya. Tapi di titik ini mereka sangat bahagia karena berhasil. Berhasil melewati semuanya hingga mencapai kata bahagia di hidup mereka dan keduanya berjanji akan terus bahagia.