Love In Trouble

Love In Trouble
Sayang



Setelah kepergian Oma, Zaina dan sekeluarga seolah baru tersadar dari lamunan. Zaina mengerjap bingung dan langsung memekik begitu kencang dan memeluk kedua orang tuanya.


Wajah perempuan itu sampai memerah.


"Mom ... apa ini akhirnya? ya ampun.”


Kebahagiaan mengudara di rumah itu. Terutama keluarga Zaina yang selama ini udah menunggu waktunya tiba. Mereka benar-benar mengucap syukur karena akhirnya setelah penantian lama harapan mereka terwujud juga. Zaina sampai menangis memeluk orang tuanya.


Dan,


Oma yang sejak tadi mengintip di balik pintu kamar ikut tersenyum tipis. Mulai merasa bersalah karena selama ini udah menahan kebahagiaan mereka yang ternyata sebenarnya sangat baik sama dirinya itu.


***


Pagi sekali,


Sekitar jam tiga pagi, orang tua Zaina memilih pulang karena mereka tiba-tiba ada urusan ke luar kota. Jadi, mau tidak mau Zaina merelakan orang tuanya untuk pergi. Sementara Zaina memilih diam di rumah omanya. Tidak sopan kalau mau pulang juga, karena mereka belum ada pamitan sama sekali.


Setelah menganarkan orang tuanya keluar, Zaina tidak bisa tidur lagi. Ia sengaja mengirimkan pesan ke Mahen dan perempuan itu terkejut karena Mahen langsung meneleponnya.


“Mas ... kamu belum tidur? Atau baru bangun. Aku ganggu ya, kalau memang ganggu. Nggak usah di angkat aja mas,” titah Zaina


/Jangan Zaina ... mas tadi malem tidurnya kecepatan kok. Jadi, mas nggak sengaja bangun pagi gini. Mas yang harusnya tanya sama kamu. Kok kamu malah hubungin mas jam segini? Kamu belum tidur atau gimana? Kalau memang belum tidur sama sekali. Mas matiin telepon ya./


“Ih jangan di matiin dulu, ada yang mau aku omongin sama mas ...”


/Ya ampun ... mas ikut bahagia mendengarnya. Terus mas harus datang ke sana kapan? Mas beneran mau nyelesaiin masalah ini dengan cepat dan nanti langsung nikahin kamu./


“Idih ... itu mah nantian kali mas.”


/Duh ... mas kebelet buat nikah sama kamu nih./


Zaina mencibir. "Alah ... itu mah kamunya sendiri yang nggak tau diri. Kesal lah aku mah sama kamu. Nanti mas. Semuanya pasti ada waktunya. Aku juga nggak mau cepat cepat bawa kamu ke rumah oma."


/Kenapa gitu sayang? bukannya lebih cepat lebih baik? mas juga kan mau ajak kamu ke keluarga besar mas. Kamu masih ingat kan betapa nggak welcome nya mereka pas dulu tau kita mau nikah? Makanya mas mau coba kenalin kamu sama mereka, kamu nggak apa-apa kan?/


Perempuan itu menatap pasrah.


Masih banyak hal yang ternyata harus mereka lewati bersama. Tapi kalau demi kebersamaan mereka, Zaina tidak bisa apa-apa selain menyetujui. Karena ini seperti awal yang baik untuk hubungan mereka berdua.


"Aku ikut mas aja. Karena aku tau yang terbaik menurut kamu, mas."


/Ya sudah ... kamu lakuin apa yang kamu mau juga. Mas nunggu semua keputusan kamu. Tapi mas siap apa pun yang kamu pinta. Jangan lupa kalau ada apa-apa tuh kamu langsung bilang sama mas. Jangan simpen sendiri. Mas sama sekali nggak suka!/


Zaina tersenyum.


Kini dia sangat bersyukur karena mendapat support yang sangat besar dari kekasihnya. Banyak yang ia ragukan, tapi karena mereka selalu bersama-sama melakukan ini semua. Mereka bisa melewati ini dengan baik.


"Aku sayang kamu, mas."