Love In Trouble

Love In Trouble
Bertemu Dia



Sudah satu bulan lamanya Zaina bekerja di perusahaan dan sejak itu juga, dia belum sempat untuk menjalani hal yang sudah di buat sebelum pergi menemui anaknya. Zaina di buat sibuk sama semua kerjaan yang menumpuk sekalian mempelajari dan membiasakan diri. Jadi, tidak ada waktu sama sekali untuk melakukan satu pun perjanjian yang dia buat.


Tapi, beberapa hari terakhir waktu Zaina juga semakin lenggang dan dia akan melakukan dari point kedua. Yaitu berdamai sama keadaan dan berteman biasa sama Ghaly. Tanpa melibatkan masa lalu.


Toh, bagi Zaina. Tidak terlalu buruk untuk meminta maaf sama orang yang udah menyakiti dirinya. Mereka juga sama sama salah. Bukan salah Ghaly saja.


Jadi, beberapa hari terakhir mereka memang jauh lebih dekat. Walau sesekali Ghaly akan menjaga jarak karena tidak mau menyakiti Zaina lagi.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Masuk."


Ghaly masuk dengan membawa map di lengannya. "Mbak Zaina ... nanti jangan lupa ada pertemuan antar perusahaan pas jam makan siang untuk sekedar mengeratkan tali kekeluargaan aja dan juga ini ada file yang harus mbak tanda tangani." Ghaly membuka map nya dan menaruh surat ke hadapan Zaina.


Perempuan itu merenggangkan tubuhnya lalu menatap kesal pada Ghaly.


"Sebenarnya saya masih nggak suka sama panggilan yang satu ini," jujurnya. "Padahal saya jauh lebih muda di banding kamu. Tapi masa kamu manggil saya mbak ... aneh banget tau nggak sih."


"Ya .. namanya mbak atasan aku. Harus ada batasan dong. Jadi mau nggak mau aku harus lebih sopan, loh kamu sendiri manggil diri sendiri saya kan? jadi impas. Walau kedengerannya nggak enak. Tapi memang ini yang harus di lakuin."


Zaina mengangguk pasrah. Sangat lelah sebenarnya punya segudang beban seperti ini. Ia menyandarkan tubuhnya ke meja dengan lengan kanan sebagai penopangnya.


"Capek juga ya kerja kayak gini. Harus ekstra hati-hati karena takut banget ada orang lain yang ganggu kinerja perusahaan. Harus ngelakuin semuanya dengan baik biar nggak ada kesalahan yang nyebabin perusahaan rugi. Capek banget ... mana nggak bisa bebas lagi. Main kayak dulu ..."


Ghaly merasa kasihan. Jujur saja, di sudut hatinya yang paling dalam nama 'Zaina' masih terdengar sangat spesial. Memang dulu dia hanya memanfaatkan Zaina. Tapi Ghaly jadi semakin sadar kalau Zaina hanya perempuan yang tulus sama dia dari segi mana pun.


Rona kebahagiaan Ghaly rasakan saat mengetahui fakta kalau Zaina hamil. Saat itu rasanya dia sangat marah karena tau, anaknya akan bersama pria lain. Sampai dia nekat melakukan hal jahat.


Kini dia menyesal.


Begitu juga, ia merasakan rasa sakit saat mengetahui anaknya pergi meninggalkan dia. Tanpa ia tahu, semuanya benar-benar menyakitkan. Jujur saja, Ghaly juga merasakan hari terpuruk setelah mengetahui ini. Tapi dia mulai bangkit saat mendapat tawaran dari orang tua Zaina untuk dukung Zaina dengan menjadi asistennya.


Dan karena itu ...


Ghaly benar-benar mengesampingkan perasaannya dan memposisikan diri sebagai seorang kakak untuk Zaina. Berharap tidak ada yang menyakiti perempuan itu dan untung saja. Dari hari pertama bertemu, Ghaly merasakan kalau Zaina udah baik-baik aja.


Tidak ada raut sedih. Jadi, Ghaly sedikit lebih tenang.


"GHALY!"


"Eh iya kenapa?" kagetnya langsung bersitatap sama mata Zaina yang kelihatan kesal.


"Dipanggil dari tadi, tapi malah ngelamun!" Zaina menepuk keningnya sambil menggeleng. "Pasti mikirin kerjaan ya? emang banyak banget sih kerjaan. Oh iya .. tadi saya nanya, kalau makan siang nanti bisa nggak kalau saya nggak dateng? males loh ... cuman basa basi makan siang doang dan nggak ada mutunya. Mending ngehabisin waktu sama kerjaan ..."


"Mbak Zaina ... Tuan Zidan sendiri yang bilang sama kita kalau boleh kerja, tapi harus inget waktu. Jangan paksa diri buat kerja terus. Tapi kenapa mbak malah nggak dengerin omongan ayah mbak sendiri? Mbak udah kerja terus loh ... bahkan mbak selalu ambil lembur, padahal itu kerjaan masii bisa di kerjain besok. Terus datengnya juga pagi banget."


"Ya ... kalau aku sedikit ngerasa males, takutnya malah bablas gitu," dustanya. Padahal Zaina ngelakuin ini semua untuk membuat capek tubuhnya.


"Ya sudahlah ... kamu atur saja."


"Baik mbak."


***


Zaina mengambil blazer biru dongker yang tergantung dengan malas. Ia berdecak malas saat melihat Ghaly yang sudah berjalan mendekat.


"Iya Ghaly ... nggak usah diingetin lagi. Nih aku udah siap," rengek Zaina.


"Hahaha ... maaf ya mbak kalau aku bawel. Tapi nggak enak kalau nggak datang karena biasanya tuan Zidan selalu dateng ke acara kayak gini. Jadi kalau anaknya tuan Zidan ogah datang, yang ada mereka nggak percaya lagi."


"Iya-iya!"


Zaina mengikuti langkah kaki Ghaly dan turun ke bawah. Ia juga masuk ke mobil, duduk di samping Ghaly masih dengan celetukan kesal di mulutnya.


"Lagian ... daddy nggak ada capeknya ya. Ngikut hal kayak gini. Ngurus perusahaan aja capek. Apa lagi harus ikut ke acara yang cuman adu gengsi doang. Duh ... mana daddy pas dulu tuh nggak cuman megang satu perusahaan doang. Tapi banyak cabang."


"Hahaha ... tuan Zidan memang sehebat itu."


"Eh, tapi nggak boleh muji daddy pas di depan orangnya ya!" peringat Zaina.


"Kenapa gitu?"


"Nanti daddy besar kepala, nggak suka ah aku kalau daddy udah sombong gitu."


Ghaly tertawa terbahak. Bisa-bisanya Zaina menroasting bapaknya sendiri.


Setelah setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah restoran. Ghaly memutar mobil dan membukakan pintu untuk Zaina.


"Terima kasih ..."


Ghaly mengangguk, sudah masuk ke mode seriusnya lagi.


Keduanya masuk ke dalam dan setelah bertanya ke pelayan di sana. Mereka diantarkan ke sebuah orang dan di sana baru ada beberapa orang yang menunggu. Zaina langsung bersalaman sekalian memperkenalkan diri. Setelahnya ia hanya di suruh menunggu karena semua orang belum datang.


"Jangan kemana-mana Ghaly!" bisik Zaina sambil menarik ujung jas Ghaly saat tau laki-laki itu mau keluar. "Tunggu di sini!" bisiknya lagi benar-benar nggak may di tinggalkan.


"Tapi sekretaris yang lain pada keluar mbak. Di sini cuman ada orang penting aja. Saya cuman memastikan kalau mbak itu baik-baik aja. Terus saya keluar. Jadi mbak di sini dulu aja ya. Saya mau—


"Permisi."


Zaina menoleh ke pintu saat mengenal suara yang baru saja ia dengar. Degh, tubuhnya terpaku melihat laki-laki yang sangat ia rindukan ada di sana. Begitu juga Mahen yang terkejut melihat ada Zaina di tempat ini. Tapi pandangan laki-laki itu langsung beralih begitu sadar kalau Zaina lagi sangat dekat dengan Ghaly. Bahkan tubuh mereka nyaris menempel.


"Ehem ... maaf saya telat."