
Sungguh kabar baik benar-benar datang ke hidup Zaina. Ia tak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana caranya supaya sang oma dan orang tuanya berbaikan. Tanpa dia memikirkan caranya, pada kenyataannya Tuhan membawa jawaban sendiri lewat musibah yang diderita sang daddy.
Kini Zaina paham, alasan dibalik setiap musibah yang datang pasti akan ada kebahagiaan yang terselip. Mungkin seperti ini? Di tengah rasa sakit dan penderitaan yang di derita daddy nya. Ada hal yang membuat Zaina sangat bersyukur dan itu datang dari orang tuanya.
Kini, oma dan mommy nya sudah duduk di belakang dan Zaina menyetir. Sesekali ia turut tersenyum melihat mereka yang begitu akur bahkan saling bercanda satu sama lain. Entah apa yang mereka bicarakan, Zaina tidak menyela sama sekali. Tapi apa pun itu, Zaina membiarkan mereka berdua bersama. Sementara dirinya berusaha fokus sama jalanan.
Perempuan itu tersenyum sambil menatap jalanan yang kosong.
“Akhirnya ...”
***
Suara tawa oma dan mommy memecah keheningan kamar inap rumah sakit tempat daddy Zidan berada. Perbincangan mereka tampak seru membuat daddy Zidan melirik anaknya dan kedua orang itu bersitatap lalu menggeleng kecil. Keduanya tidak mau mengganggu oma sama mommy yang terlihat seru membicarakan hidup mereka.
“Ternyata mereka bisa akur ya,” bisik daddy Zidan
Zaina menarik kursi di dekatnya lalu duduk di dekat kasur sang daddy.
“Aku beneran kaget loh dad. Tadi tuh aku sengaja ninggalin mommy sama oma berdua di dalem rumah, soalnya kan aku nggak mau terlalu ikut campur sama masalah mereka dan juga takut mereka keganggu sama aku. Makanya aku tinggalin deh. Eh ... pas aku balik, aku udah lihat mom sama oma yang kayak gini,” seru Zaina sambil melirik mommy dan omanya berada. “Seneng sih, tapi penasaran ... apa aja yang udah mereka omongin. Tapi sungkan lah kalau aku nanya.”
Daddy Zidan mengangguk setuju.
“Iya lah ... untuk sekarang, biarin aja dulu mereka kayak gini. Lihat muka mommy kamu—
Zaina menoleh.
Zaina mengangguk dan kembali menatap daddy nya.
“Mommy beneran bahagia banget ya dad, aku jadi ikutan bahagia deh.”
Daddy Zidan mengangguk.
“Dari lama kan mommy kamu mau punya hubungan baik sama mertuanya, sayang sekali ibu daddy nggak pernah sadar dan terus jahat sama kami. Dan setelah berpuluh tahun kemudian, akhirnya impian mommy kamu terwujud. Ya ... udah pasi mommy kamu seneng banget. Kalau begini ... daddy jadi ngerasa bersalah deh. Seharusnya dari lama daddy bisa bujuk ibu supaya mommy kamu bahagia dari lama. Bukannya baru sekarang malah ngerasainnya. Sedikit telat nggak sih?”
Dengan tegas Zaina menggeleng.
“Daddy udah jadi suami dan ayah yang terbaik.”
Daddy Zidan tersenyum tipis.
“Makasih ya nak ... kalau saja kamu egois dan nggak inisiatif melakukan kayak gini. Pasti hubungan kami masih buruk. Tapi karena kesabaran kamu, kita bisa jadi kayak gini. Daddy beneran berterima kasih dan berhutang budi sama kamu.”
Zaina mencibir lalu tertawa kecil diikuti daddy Zidan yang juga tertawa.
“Daddy kayak sama siapa aja, aku kan anak daddy dan aku juga ngelakuin ini supaya kita semua bisa baik. Toh ... dengan begini juga ngebuat perjodohan itu berakhir kan? Pokoknya banyak hal baik deh dan aku bersyukur banget karena semuanya berakhir dengan baik gini. Mungkin ini juga jawaban atas doa kita selama ini dad.”
Daddy Zidan mengangguk setuju. Ia bergerak dan meringis, pergerakannya sedikit sulit karena kakinya yang sakit.
“Oh iya ... bagaimana dengan Mahen?”