Love In Trouble

Love In Trouble
Pertanyaan Mendadak



“Sering main ke sini ya.”


Aish ... Zaina cemberut saat merasa suasana jadi mellow seperti ini. Ia kembali keluar dari mobilnya dan memeluk omanya dengan sangat erat. Kalau saja omanya tidak boleh sering sering pergi ke luar rumah karena harus banyak istirahat, pasti Zaina udah menyuruh omanya untuk tinggal bareng sama dia dan ikut terus ke mana pun dia pergi. Tapi sayang dokternya melarang.


“Oma ... ih kok Zaina jadi sedih banget sih,” rajuk Zaina sambil menghentakkan kakinya


“Hahaha ... udah nggak apa-apa, asal kamu janji sering datang ke sini ya. Paling tidak satu minggu sekali, karena oma juga pasi rindu sama kamu,” imbuh oma. “Kalau memang kamu lagi sibuk banget, juga jangan maksain diri ya. Takut kamu lagi capek terus maksa ke sini dan malah sakit. Kalau memang nggak bisa, seenggaknya kamu telepon oma,” sambungnya


Zaina mengangguk dengan sangat cepat. “Aku janji bakal terus nelepon oma pas senggang. Biar oma juga nggak merasa kesepian ya.”


Oma mengangguk dan mendorong pelan tubuh Zaina.


“Sudah sana kamu pergi, nanti malah nggak jadi-jadi loh.”


Dengan berat hati Zaina meninggalkan oma dan kembali masuk ke dalam mobi. Ia melambai kan tangan pada sang oma lalu langsung tancap gas meninggalkan rumah oma. Takut nanti malah berat hati terus kembali lagi ke sana.


Selama perjalanan Zaina terus memikirkan apa aja yang sudah siapkan,


Jadwal makan sampai minum obat omanya sudah ia tulis dan tempel di kamar sang oma, sementara ia juga memberi kertas itu pada mbak yang Zaina percaya, supaya omanya itu nggak lupa. Sekalian Zaina juga menyuruh pembantu itu untuk langsung menelepon dirinya jika oma nggak mau makan.


Kedua, Zaina menyiapkan beberapa makanan dari ayam aroma bawang, tempe tahu bacem yang nanti tinggal di goreng sama pembantu di sana. Zaina sudah menaruhnya di dalam kulkas sebanyak dua toples. Jadi, aman. Zaina harap dengan makanan yang ia siapkan makanan oma jadi teratur dan nggak asal makan lagi.


Ketiga, Zaina menaruh beberapa air botol di tempat yang sering di kunjungi oma. Jadi kalau oma haus, tidak perlu turun ke bawah atau keluar yang malah menyita waktu lagi. Selain itu, Zaina juga menghubungkan telepon oma supaya kalau ada apa-apa bisa cepat untuk menghubungi dirinya.


Setelah mengingat dan memastikan kalau semua sudah siap, perempuan itu mengangguk dan semakin menancap gas menuju rumahnya.


***


“Pagi Ghaly.”


“Pagi juga mbak Zaina.”


Langkah perempuan itu terhenti dan ia melangkah mundur, “ah elah ... formal banget sih. Gue memang udah balik kerja lagi. Tapi jangan mbak deh, keliatan tua banget. Panggil aja Zaina, kayak biasa loh,” seru Zaina dengan cepat. “Mau ngomong pakai gue atau lu juga nggak masalah bange kok ...”


“Tapi—


“Nggak usah protes!” marah Zaina sambil pura-pura melotot, yang bukannya seram malah keliatan super lucu di mata Ghaly. “Anggep aja teman kayak biasa sih. Nggak suka ah panggil formal kayak tadi. Kecuali kalau lagi rapat atau di lingkup yang serius, baru deh boleh manggil kayak tadi.”


Ghaly mengangguk.


“Oh iya apa aja yang harus gue kerjain? Lama nggak kerja buat gue agak kagok nih.”


“Nanti di bawa ke ruangan lu deh,” jawab Ghaly. “Ini masih ada yang harus gue selesaiin dulu.”


“Okei ... nanti masuk aja ya.”


Ghaly mengacungkan jempolnya.


Zaina masuk ke dalam ruangannya. Ia menarik napas dalam berusaha menerima eforia ruang kantor yang penuh akan file. Ia tersenyum melihat seisi kantor yang masih sangat bersih. Zaina taruh tas nya di atas meja dan membuka balkon, membiarkan angin sejuk masuk ke dalam. Sesekali Zaina rapihkan juga buku ke dalam rak.


Sampai matanya menemukan secarik kertas yang menarik perhatiannya.


Zaina tersentak membaca surat itu,


Kertas yang masih utuh bahkan belum menguning atau terlipat sama sekali menjadi saksi bisu perasaan Zaina yang berubah menjadi sendu.


1.         Meminta Maaf sama Mahen dan berjalan seperti biasanya.


2.         Kembali rukun sama Ghaly, tanpa bawa masa lalu (Done)


3.         Berhubungan baik sama mommy dan daddy, nggak boleh canggung lagi!


4.         Liburan bareng sama mommy dan daddy


5.         Ketemu sama keluarga besar sambil meminta maaf atas semua yang udah aku lakuin


6.         Liburan bareng Ghaly (Done)


7.         Pergi dengan tenang dan menemukan anak aku.


 


Tangannya mengambil pulpen yang ada di atas meja dan menambah tulisan yang ada di sana.


1.         Meminta Maaf sama Mahen dan berjalan seperti biasanya. (Done)


2.         Kembali rukun sama Ghaly, tanpa bawa masa lalu (Done)


3.         Berhubungan baik sama mommy dan daddy, nggak boleh canggung lagi! (Done)


4.         Liburan bareng sama mommy dan daddy


5.         Ketemu sama keluarga besar sambil meminta maaf atas semua yang udah aku lakuin (Baru sama oma, sama tante dan yang lain belum. Masih jalan setengah)


6.         Liburan bareng Ghaly (Done)


7.         Pergi dengan tenang dan menemukan anak aku.


 


Tangannya berhenti menulis dan dia menatap sendu kertas itu. Tulisan itu membuat Zaina sadar kalau dirinya pernah seputus asa itu di dalam hidupnya.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Zaina pelan


Perempuan yang akhir akhir ini merasa hidupnya jauh lebih tenang dan baik kembali memikir kan sang anak yang mungkin kesepian di atas sana. Salah satu alasan yang membuat dia menulis ini menjadi bahan pertimbangan juga untuk kali ini.


Zaina menggeleng dan meremas kertas itu sampai tak terbentuk sama sekali. Ia melempar nya ke tempat sampah.


“Bukan jalan yang tepat kalau aku bunuh diri, yang ada nanti anak aku sedih di atas sana karena kita nggak akan pernah bisa ketemu,” ucap Zaina lirih


Dengan perasaan yang lebih sedih, Zaina memilih membuka laptop dan berharap dengan melakukan kegiatan akan membuatnya lupa sama hal yang sangat menyedihkan seperti ini.


“Maaf ya nak, karena bunda udah berpikir bodoh kayak tadi,” gumam Zaina saat kembali  teringat dengan anaknya.


“Bunda janji nggak akan pernah ngelakuin hal bodoh kayak gitu lagi. Yang ada nanti bunda bakal kirim doa dan ngaji untuk kamu. Supaya kamu juga tenang di atas sana dan nggak sedih,” lanjutnya


Zaina langsung mengusap air matanya saat mendengar ketukan pintu,


“Masuk.”


Ghaly masuk ke dalam ruangannya sambil membawa tumpukan file.


“Data perusahaan beberapa bulan belakangan udah aku kirim ke email ya,” pesan Ghaly. “Dan ini file yang butuh tanda tangan. Memang agak banyak soalnya banyak yang belum di kerjain dari lama kan?”


Zaina mengangguk.


“Hei,” panggil Ghaly sambil menjentikkan jari tepat di depan Zaina


Perempuan itu tersadar dan langsung mengerjap kaget.


“Eh iya kenapa?”


“Lu baik-baik aja?” tanya Ghaly dengan sangat sopan.


Perempuan itu terdiam lalu mengangguk pelan.


“Ya udah, pokoknya ini semua udah lengkap. Ada email juga yang harus lu baca,” titah Ghaly. “Kalau ada apa-apa panggil aja gue. Nggak usah sungkan kayak gitu. Karena gue juga nggak akan marah.”


“Iya ...”


“Ya udah, gue pamit.”


“Ghaly,” panggil Zaina saat laki-laki itu sudah memegang kenop pintu Ghaly menoleh.


“Kenapa?”


“Nanti makan siang bareng ya, ada yang mau gue omongin.”


“Okei ...”


***


Saat ini, Zaina sama Ghaly sedang ada di restoran yang menyediakan satu ruangan khusus untuk mereka. Sebelumnya Zaina udah memberi kabar ke Mahen, karena takut kekasihnya itu melihat dan cemburu lagi. Jadi, sebelum hal buruk terjadi Zaina antisipasi untuk bilang sama Mahen dan untung saja Mahen menyetujuinya asal mereka jaga jarak dan nggak terlalu dekat. Untung aja, Zaina masih sanggup menyanggupinya.


Keduanya sama-sama diam saat makan. Baru setelah selesai, Zaina mengulurkan kertas yang tadi ia bawa lagi ke tong sampah kepada Ghaly.


Ghaly menatap bingung, tapi Zaina menyuruh Ghaly untuk membacanya.


Awalnya Ghaly membaca seperti biasa tapi begitu melihat list paling akhir, Ghaly langsung menggebrak meja dan menatap nyalang Zaina.


“Apa-apaan ini ... kenapa lu bisa-bisanya mikir sedangkal ini.”


Zaina mengangguk pelan dan meminta maaf.


“Aku beneran bodoh waktu itu.”


Ghaly menggeleng.


“Ini bukannya bodoh tapi udah masuk nggak waras,” seru Ghaly yang sangat marah. “Ini lu ngasih surat ini ke gue mau sombong gitu? Karena tinggal dua list yang belum lu isi terus lu mau datengin anak kita di atas sana?”


Zaina menggeleng dengan cepat.


“Terus apa Zaina!” hardik Ghaly yang masih emosi. “ Kamu ... ya ampun. Gue kira selama ini lu udah baik dan nerima semuanya dengan baik. Tapi apa ini? ternyata lu masih mendem semua nya sendiri. Sampai mau ngelakuin hal yang sungguh gue benci banget.”


Ghaly meraup wajahnya frustasi dan menggeleng pelan.


“Dengerin gue dulu.”


Ghaly berusaha mengontrol emosinya dan menenggak segelas air putih penuh untuk menenang kan dirinya. Lalu ia duduk dan mengontrol napasnya dan kembali menatap Zaina dengan sangat serius.


“Okei ... sekarang gue nggak mau judge apa-apa. Tapi, tolong jelasin maksud tulisan lu yang ada di sana,” perintah Ghaly sambil menunjuk kertas yang udah semakin di remas sama Ghaly itu sampai tak terbentuk lagi.


“Itu dulu dan sekarang gue udah nggak mau ngelakuin itu lagi kok ...”


“Tetap aja Zaina ... mau dulu atau sekarang, tapi lu udah mikir ke arah sana yang artinya lu pernah mikir ini kan? Apa sih pikiran lu waktu itu? Sampai mikir ke arah sana. Lu mikir jauh nggak? kalau lu pergi, siapa aja yang bakalan sedih? Banyak Zaina ... apa lagi banyak banget yang sayang sama lu. Lu rela ninggalin semua orang yang sayang sama lu ini?”


Zaina menggeleng pelan.


“Terus?”


“Aku waktu itu lagi kacau banget Ghaly ...”


“Okei, terus?”


“Maksudnya tuh yang gue pikirin ya cuman anak kita. Gue mikir kalau anak kita pasti kesepian di atas sana dan sementara gue udah nggak betah hidup di sini. Jadi, pikiran bodoh gue waktu itu ya ninggalin dunia ini dan temuin anak gue.”


Zaina mencengkram tisu yang sejak tadi sudah ia pegang itu.


“Ini beneran udah lama banget, sebelum gue baikan sama Mahen. Dan sekarang ... pas gue lagi beresin ruangan kantor. Gue nemuin lagi surat ini dan rasanya kayak dejavu. Rasa sakitnya kembali datang.”


Ghaly mengangguk.


“Iya, gue tahu ... masalah ini pasti buat kita sakit. Entah sampai kapan pun, karena memang kita nggak bisa apa-apa selain menerima ini. Kehilangan menjadi hal paling pahit di hidup dan menurut gue cuman itu salah satu yang gue paham. Tapi jangan kayak gini ya.”


Ghaly mengusap lengan Zaina, berusaha menahan tangisannya sendiri.


Ia tersenyum sambil menatap Zaina yang melamun tapi air matanya menetes di wajahnya.


“Kita harus kuat untuk anak kita. Kalau kita lemah yang ada anak kita juga sedih di atas sana. Jangan kayak gini lagi ya. Gue beneran marah ...”


“...”


Ghaly terdiam.


“Lu cuman kehilangan anak kita doang. Sementara gue?” ucapnnya terhenti. Tenggorokannya ikut tercekat. Ia mengalihkan pandangan sebentar sebelum kembali menatap pada Zaina. “Tapi gue kehilangan lu sama anak kita. Dua orang yang gue cintai. Tapi gue nggak pernah mikir sejauh itu Zaina ...”


Zaina terdiam.


“Gue memang sangat sakit, kadang kalau inget gue harus berhenti ngelakuin aktivitas apa pun dan kembali diem terus melamun, ratepin semua rasa sakit ini. Dan itu salah satu yang bisa gue lakuin dan lumayan bikin tenang, jadi gue harap ... lu bisa cari aktivitas yang bisa buat lu tenang kalau ingat hal sedih kayak gini. Ada?”


Zaina termenung dan mengangkat bahu bingung.


“Nggak apa-apa, sorry tadi gue marah. Agak kepancing, soalnya kesal sama lu yang kayak tadi. Tapi its oke ... yang penting tuh kertas udah robek. Anggap aja robeknya kertas itu sebagai akhir lu ngelakuin hal bodoh kayak gini ya dan makasih karena udah mau jujur sama gue. Karena itu artinya lu masih mau terbuka dan ceritain isi hati lu sama gue.”


Zaina mengangguk.


Ia menatap serius ke arah Ghaly.


“Tapi gue mau nanya sesuatu sama lu.”


Ghaly memiringkan wajahnya dan mengangguk pelan, “iya?”


“Lu cuman punya diri lu sendiri di sini, jadi ... apa lu pernah mikir sejauh ini atau yang lebih parah?” tanya Zaina yang langsung membuat Ghaly bungkam.