
Melamun dan melamun, mungkin itu keseharian Zaina beberapa waktu belakangan ini. Makin banyak menghujat dirinya, makin juga mentalnya berakhir buruk. Zaina semakin nggak paham, harus melakukan apa supaya semua orang tahu kalau dirinya nggak seburuk yang di beritakan sama semua orang.
Zaina menyatukan kedua lengannya dan semakin mengeratkan genggaman tangannya. Perempuan itu menatap kosong ke arah depan. Semakin dirasa, ia semakin sakit hati dengan apa yang terjadi belakangan di hidupnya.
Dengan jiwanya yang seperti kosong,
Zaina turun dari kasurnya dan mengambil air wudhu, dengan perlahan ia berwudhu. Aliran air kran terus turun sama dengan air matanya yang nggak bisa di hentikan sama sekali. Zaina terus menangis, dengan perasaan tak menentu. Setelah selesai mengambil wudhu, dengan gemetar Zaina mengambil mukena dan mengggelar sajadah.
Zaina mengaku,
Dia bukan manusia yang baik atau taat beribadah. Terkadang Zaina malu karena dia yang nggak bisa menjadi manusia taat dan hanya datang ke Allah saat dirinya sedang banyak masalah. Zaina benar-benar malu dan takut, kalau ternyata Allah nggak akan memaafkan semua perbuatan dirinya.
Meski begitu, Zaina akan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik. Dia akan berusaha untuk terus beribadah dan membuang rasa malasnya.
Dengan khusyuk, Zaina menunaikan ibadah. Setelah beberapa saat dan shalatnya sudah selesai. Zaina duduk dengan nyaman di atas sajadah sambil mengadahkan kedua lengannya.
“Ya Allah ... tolong tunjukan jalan untuk alur hidup anda. Beri kebahagiaan yang melimpah di hidup hamba, karena hamba nggak sanggup menjadi luka di hidup semua orang karena tindakan hamba sendiri. Hamba beneran nggak kuat sama sekali.”
Zaina mengusap air matanya.
Satu pemikiran yang buat Zaina sampai detik ini menahan diri, yaitu pemikiran untuk pergi meninggalkan semuanya. Karena perempuan itu sangat sadar, kalau hidupnya hanya memberi masalah bagi orang tuanya. Sangat berbeda dengan apa yang diberikan orang tuanya.
Ia kembali menarik napas dalam.
“Ya Allah ... Hamba tahu mungkin ini salah satu jalan untuk bertemu dengan kata bahagia. Tapi, kalau memang sesulit ini tolong jauhkan hamba dari orang tua hamba. Karena mereka sama sekali nggak tahu dengan apa yang hamba rasakan. Orang tua hamba harus bahagia dan tidak di izinkan pusing hanya karena masalah hamba doang.”
Tubuh perempuan itu terasa sangat lemas.
Ia mundur dan duduk menyandar, masih dengan mukena yang terpasang di tubuhnya.
Mulutnya bergetar, tanda ia mau mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di hati dan benak nya. Dia sangat emosi, walau dia juga nggak tahu harus melakukan apa. Karena Zaina sama sekali nggak menemukan titik terang untuk masalah hidupnya.
Zaina mengepalkan tangan kuat, setetes air mata yang tak berhenti sejak mengambil air wudhu tadi malah semakin deras turun. Sampai Zaina menghembuskan napas kasar. Dia sungguh nggak sanggup dengan perasaan sesak dan kacau di hidupnya itu.
“Ya Allah ... hamba tahu kalau Engkau nggak akan memberi masalah di luar kemampuan hamba. Tapi mau sampai mana?” gumam Zaina
Perempuan itu merasa belakangan ini semua tatapan tertuju sama dirinya. Tidak hanya ucapan buruk di media massa yang semakin menumpuk, beberapa pegawai di rumahnya sampai memberikan tatapan memburu membuat Zaina takut untuk keluar. Dia yang biasanya akan mengatakan apa yang dia nggak suka dengan lantang. Kini berakhir mengkerut dan hanya diam, tanpa tahu harus melakukan apa.
Dirinya benar-benar merasa tingkat percaya dirinya semakin hancur karena masalah ini.
Zaina semakin takut.
Ia semakin tenggelam di lubang gelap yang dia ciptakan sendiri.
“Ya Allah ... apa masalah ini akan terus datang ke hidup hamba? Sampai semua orang benar benar benci sama hamba? Sampai semua orang ingin meniadakan hamba?”
Zaina memejamkan mata. Tangisannya benar-benar terdengar sangat menyakitkan, membuat siapa aja yang mendengar akan ikut sakit hati. Perempuan itu menutup mulutnya, takut tangisan dia membuat mommy nya semakin khawatir.
“Gimana kalau karena masalah ini, semua orang semakin membenci aku? Gimana kalau mereka malah semakin buat aku terpojokan? Gimana kalau mereka malah buat aku semakin tersakiti? Aku takut ... benar-benar sangat takut, karena masalah ini terus ganggu aku.”
Berusaha menghapus air matanya, walau itu terdengar sia-sia karena dirinya yang nggak berhenti mengeluarkan air mata. Sampai pada masanya dia bersujud dan terus berdoa dengan hapalan yang dia tahu.
“Ya Allah ... hamba tidak bisa marah sama sekali, karena mungkin akan ada hadiah besar setelah ini. Tapi, tolong kuatkan orang tua hamba. Jangan membuat orang tua hamba jadi lemah karena hal ini. Tolong bahagia kan mereka. Kalau memang hamba menjadi titik perusak di hidup mereka— ambil saja hamba dari dunia ini.”
“Bawa hamba pergi untuk menemui anak hamba.”
***
“Dia menangis lagi?”
Mommy Nadya yang baru datang dari kamar Zaina langsung mengangguk dan duduk di hadapan suaminya itu. Ia menarik napas dalam sambil mengangkat bahu acuh. Mommy Nadya ikut perih melihat anaknya yang seperti ini. Dia semakn benci sama orang yang membuat anak nya sampai sedih seperti ini.
Mommy Nadya menatap suaminya itu dengan pandangan yang tak bisa di artikan.
“Mas ... aku merasa jadi mommy yang gagal untuk anak sendiri. Dia mati-matian untuk membuat kita bahagia dan nggak mau melihat sedih, di saat kita hanya mau dia yang bahagia. Aku harus apa, mas ... aku beneran nggak sanggup lihat Zaina yang seperti ini,” gumam mommy Nadya sambil mengguncangkan lengan suaminya. “Cari cara, mas ... tolong buat wanita itu mengaku. Biar semua orang tahu kalau ini bukan salah Zaina sama sekali.”
“...”
Daddy Zidan menarik napas dalam dan menggeleng kecil.
“Anak kita nggak salah, mas ... anak kita nggak salah sama sekali. Tapi kenapa mereka nyerang anak kita? Aku beneran benci sama orang yang udah menyakiti Zaina!! Kenapa kamu nggak kasih izin aku buat keluar dan menemui perempuan itu. Aku mau minta pertanggung jawaban dia karena udah buat hari hari Zaina semakin kacau karena masalah ini.”
Daddy Zidan pindah tempat duduk dan membawa tubuh istrinya ke pelukan..
Satu keluarga kacau kalau masalah ini sudah terjadi dan nggak ada yang tahu kalau mereka sama sama saling menguatkan kalau hal seperti ini terjadi.
“Sayang ... bukan maksud mas melarang kamu untuk mendatangi wanita itu. Hanya saja kamu sedang emosi, kalau emosi sedang menguasai kita. Yang ada kita malah melantur dan asal ngomong. Mas nggak mau kalau hal itu sampai terjadi. Kita cukup terlihat tenang biar wanita itu ngerasa kita nggak ada pergerakan. Sampai menemui celahnya, baru kita yang akan bergerak. Kamu nggak usah khawatir, karena mas juga sedang cari tahu cara untuk menjatuh kan wanita itu sekaligus dengan keluarganya.”
“Tapi ... sampai kapan, mas?”
Mommy Nadya menutup wajahnya dan menangis, nggak memperdulikan Daddy Zidan yang masih terus mengusap punggungnya.
“Aku beneran nggak kuat mas. Lihat Zaina yang terus nangis. Ngelihat Zaina yang kurang tidur sampai kantung matanya menghitam, nggak cuman itu aja. Dia beneran kayak mayat hidup dan tidurnya juga karena kelelahan nangis terus dan selanjutnya dia nggak akan pernah bisa tidur sama sekali.”
Daddy Zidan menarik napas dalam, laki-laki itu juga bingung.
Mommy Nadya teringat sesuatu dan melepas pelukan antara mereka. Di pandangnya wajah suaminya itu dengan sendu.
“Kamu beneran berpikir kalau Mahen mampu buat Zaina jadi tersenyum lagi?”
Daddy Zidan menoleh dan langsung mengangguk.
“Kita harus mempertemukan mereka. Boleh kan?”
Mommy Nadya akhirnya hanya pasrah mengangguk. “Ya sudah, suruh Mahen datang ke sini. Semoga saja dia mampu membuat Zaina tersenyum lagi.”