
Sejak tadi Zaina terus mondar mandir di dalam ruangan kerjanya. Bahkan kerjaan yang niat awalnya mau dia urus kini malahan terbengkalai karena terus memikirkan apa Mahen beneran datang atau tidak. Ia berjalan memutar dan menggeleng kecil, memikirkan gimana wartawan di depan bakalan bertemu sama Mahen dan ujung-ujungnya bakalan ada berita buruk yang membawa mereka lagi.
“Mahen ke napa nekat banget sih?” seru Zaina dengan sangat kesal.
Perempuan itu menarik napas dalam.
“Aku bakalan marah banget sama Mahen kalau dia beneran datang dengan nekat dan malah buat rencana dia berjalan nggak lancar.” lagian Zaina juga nggak paham alasan Mahen bakalan datang ke sini, toh enggak seharusnya laki-laki itu datang ke sini lagi.
“Bukannya ... Mahen sendiri yang ngomong kalau kita bagusnya nggak ketemu dulu? Untuk meminimalisir berita buruk tentang mereka. Atau karena takut Restu tahu dan malah buat hubungan mereka semakin menjauh? Tapi ini kenapa menjadi gini? Kenapa Mahen malah nekat kayak gini?"
Zaina menghentakkan kaki kesal.
Sedang sibuk dengan pikiran sendiri, Tiba-tiba pintu di ketuk dan Ghaly muncul dari pintu. Ia hanya mengatakan kalau sudah mengerjakan semua tugas yang tadi di perintahkan sama Zaina dan sedang ada tamu.
Selang beberapa detik, seorang pria yang sejak tadi buat Zaina resah masuk. Untuk sesaat Zaina sangat terkejut dan menggeleng kecil sambil tertawa, melihat penampilan Mahen yang benar-benar berbeda.
Pria yang sangat tampan dan selalu berpakaian rapih ini, nyatanya kini datang mengenakan celana pendek berbahan parasut ditambah dengan kaus yang dipadukan dengan jaket hitam. Tidak lupa syal di tengah cuaca yang sangat panas. Dan tentu saja ada masker sama kaca mata hitam yang menutupi Mahen sangat erat, sampai Zaina sedikit tertipu sama penampilan laki-laki itu.
Zaina menutup mulutnya dan berakhir pecah tawanya saat Mahen mendengus sambil membuka semua pakaian yang menutupnya erat.
“Mahen ... ya ampun, ngapain sampai kayak gini sih?” seru Zaina, menghampiri Mahen dan membantu pria itu membuka syal.
“Demi ketemu sama kamu nih. Soalnya kan kalau nggak tertutup kayak gini, mereka pasti langsung tau siapa aku. Nanti, beritanya rame lagi. Terus, malah buat kesempatan para awak media buat bikin berit aburuk tentang kita.” Zaina mengangguk setuju dengan penjelasan Mahen. “Untung aja tadi di depan langsung ketemu sama Mahen. Jadi, aku langsung masuk ke sini tanpa harus buat janji atau izin dulu sama resepsionis kamu.”
Zaina masih tertawa kecil dan menggiring Mahen untuk duduk, perempuan itu melipir ke meja yang penuh dengan cemilan dan minuman. Ia menyeduh es teh. Untung saja di ruangannya tersedia kulkas untuk membuat minuman menyegarkan di tengah cuaca yang sangat panas kayak gini.
“Kamu nih ... padahal nggak usah datang ke sini,” seru Zaina sambil menaruh minuman buatan nya sendiri ke hadapan Mahen. Lalu perempuan itu turut duduk di depan Mahen.
“Khawatir tahu nggak sih. Takut kamu ke napa-napa dan Alhamdulillah banget, pas ngeliat kalau kamu baik-baik aja kayak gni,” ucap Mahen lalu terhenti karena dia menyeruput minuman dan berseru segar. “Dan ... aku nggak nyesel karena berpenampilan kayak tadi. Karena, itu buat kamu ketawa lebar kayak tadi.”
“...”
“Iya ... aku rela ngelakuin apa pun, biar kamu bisa ketawa kayak tadi. Suka banget lihat kamu yang ketawa lepas kayak tadi. Sering sering ya Zaina.”
Zaina merona dan menunduk, sembari menyelipkan rambutnya di telinga.
“Ah ... kamu mah bisa aja.”
“Hahaha, kenapa gemes banget sih?” seru Mahen.
“Ih ...”
“Memang cuman kamu yang paling menggemaskan di dunia ini. valid, no debat!”
***
“Aku beneran nggak menyangka kalau respon mereka bakalan baik kayak gini.”
Mata Zaina nyaris berkaca-kaca saat membawa berita yang di tunjukan Mahen pada dirinya. Yang mana rata-rata berita judulnya adalah tentang kebaikan dirinya. Dari ada yang sadar kalau dirinya sedang difitnah atau sampai kebaikan dirinya karena menghabiskan banyak uang untuk para wartawan yang bahkan sudah mengganggu dirinya itu.
Zaina menoleh pada Mahen, di sana ada senyuman tulus yang di tunjukan Mahen pada dirinya. Rasanya tenang melihat laki-laki itu benar-benar memprioritaskan dirinya. Bahkan rela membuat namanya buruk karena resiko yang bakalan dia terima. Walaupun sebagian besar Mahen datang karena khawatir, tapi fokus utama laki-laki itu datang untuk membaca bersama semua komentar baik untuk Zaina dan itu sangat menggemaskan bukan main.
Mahen menggeleng.
“Ini harus kita apresiasi!” seru Mahen dengan semangat. “Aku mau lihat senyuman lebar kamu karena orang yang udah berakhir bela kamu lagi. Aku mau menjadi orang pertama yang lihat kamu itu bahagia karena hal ini. Dan .... benar kan?” seru Mahen sambil memandang lurus mata Zaina. “Aku benar benar ngerasa spesial banget karena bisa ngeliat mata kamu yang berbinar karena ini. Aku bisa bahagia bukan main karena ngelihat kamu tersenyum membaca komenan positif untuk kamu.”
Apresiasi ...
Ya ...
Zaina sangat merasakannya. Selain orang tuanya, Mahen menjadi salah satu orang yang benar benar selalu mengapresiasikan dirinya atas semua pilihan hidupnya dan ini beneran ngebuat Zaina merasa dirinya sangat berharga.
Layaknya anak kecil yang masih terus di apresiasi, atas setiap langkah yang dia pilih. Ya ... Zaina merasa dirinya masih seperti anak kecil. Dan hanya orang tertentu saja yang mengetahui dirinya menyukai hal ini.
“Mahen ... kapan sih kamu nggak buat aku kagum?” gumam Zaina di dalam hati.
“Mahen ... makasih banyak ya.” Itu yang terlontar dari mulut Zaina. “Aku kira, aku nggak bakal lihat kamu yang terus ada di sisi aku lagi. Aku kira, kamu nggak bakalan bisa jadi teman aku lagi. Aku kira, kita nggak bisa kayak dulu lagi. Tapi ternyata ... semuanya berjalan seperti yang aku mau. Ternyata, aku masih di kasih kesempatan untuk ngerasain semua ini. Jadi, aku benar benar berterima kasih banyak sama kamu.”
Mahen terpana untuk sesaat sampai dia terkekeh dan menggeleng.
Ia ambil tangan Zaina dan ia taruh di tangannya. Lalu menutup dengan tangan Mahen yang lain.
“Ini semacam takdir nggak sih?” ucap Mahen membuat Zaina spontan mengangguk. “Karena aku juga nggak menyangka bakalan melangkah ke titik ini. Aku kira, selamanya aku bakalan mengorbankan hal ini. Tapi, ternyata aku masih punya keberanian untuk melangkah ke arah yang lain. Demi kamu. Ya ... jadi bisa di bilang ini takdir.”
Mendengar hal ini membuat Zaina ingat akan omongan daddy nya semalam.
“Mahen ... sebenarnya aku penasaran, apa yang ngebuat kamu nurut sama Restu sampai buat aku tuh dicuekin kayak waktu itu. Daddy cuman bilang kalau kamu ngelakuin ini tuh demi aku dan nggak cuman itu aja, daddy bilang kalau aku harus percaya kalau yang kamu lakuin itu untuk aku. Tapi—
“Tapi ...”
Zaina menelan saliva.
“Sepertinya ... ini bukan hal kecil? Jadi, kamu nggak perlu ribetin diri kamu hanya demi kamu. Pasti susah kan? Kamu harus usaha lebih untuk Restu, padahal hati kamu nggak nyaman? Jadi aku harap, kamu jangan buat diri kamu jadi kayak gini.”
Mahen menggeleng.
“Zaina ... jangan paksa aku untuk berhenti, sebentar lagi. Tunggu ya dan tenang aja, ini pilihan aku. Kamu nggak boleh protes sama sekali.”
Zaina mengerucutkan bibirnya.
Baru mau berbicara, suara ponsel Mahen terdengar dan laki-laki itu langsung izin untuk menjauh lalu mengangkatnya. Ekspresi yang berubah dari wajah Mahen membuat Zaina yakin ada sesuatu hal terjadi. Sampai Mahen kembali lagi dan terdengar helaan napas berat.
“Zaina ... niatnya aku mau anterin kamu pulang, tapi kayaknya ngak bisa deh. Restu nelepon aku dan nyuruh aku ke sana. Dan karena aku nggak mau rusak rencana aku, aku pamit ya buat ke sana.”
Zaina mengangguk walau nggak rela.
Mahen tersenyum dan menepuk puncak kepala perempuan itu. “Aku pamit ...” baru Mahen memegang kenop pintu, ia berbalik dan berdiri kembali di depan Zaina. “Boleh aku minta pelukan? Anggap aja semangat dari kamu ...”
Tanpa pikir panjang, Zaina langsung menubruk tubuh Mahen dan memeluk tubuh laki-laki itu. Keduanya memberikan afeksi kenyamanan satu sama lain. Sembari berharap kalau semuanya terus berjalan baik untuk hubungan mereka.