Love In Trouble

Love In Trouble
Masalah Restu



Setelah melakukan pertemuan panjang antara Mahen, Zaina dan Sofyan yang datang sendirian. Mereka memutuskan untuk jujur kepada keluarga Sofyan tentang hal yang satu ini. Berbagai resiko akan datang ke keputusan mereka, tapi dengan kebersamaan ini. Mereka yakin kalau hasilnya akan sangat memuaskan.


“Bilang yang sejujurnya?” tanya Karina, pacar Sofyan itu.


Zaina mengangguk dengan serius. “Maaf kalau aku terkesan ikut campur sama urusan percintaan kalian. Tapi di sini aku sama Mahen cuman mikir kalau jalan terbaik ya cuman jujur doang sama apa yang terjadi.”


Sofyan melirik pada kekasihnya itu yang kini sudah melamun.


Zaina yang sadar akan keresahan mereka langsung saja menggenggam tangan Karina. Perempuan yang sangat lembut nan sopan itu sepertinya benar-benar bingung sama pilihan yang dibuat mereka.


"Tapi kakak tau kan sama permasalahan hubungan aku sama aa Sofyan?" tutur Karina dengan pelan. "Aku beneran nggak mau memaksa kehendak lagi. Aku kasihan sama aa Sofyan."


"Kenapa jadi aku?" sentak Sofyan membuat Karina makin menunduk.


"Sebenarnya ... aku tahu a, aku tau kalau kamu di acuhin kan sama orang tua kamu selama ini? Aku tahu kalau kamu itu di diemin sama keluarga kamu. Mamah kamu nggak mau ngomong sama kamu kalau masih pacaran sama aku. Hm .. padahal aku jelas tau, gimana dekatnya kamu sama orang tua kamu. Aku nggak mau a, aku nggak mau jadi pasangan yang egois."


Mendengar itu membuat Zaina reflek menoleh pada Sofyan. Rasa kasihan kembali menyelimuti hati perempuan itu. Tapi dia nggak ada hak untuk ikut campur. Zaina menoleh pada Mahen dan diam-diam mereka berpegangan tangan di bawah meja. Keduanya sepakat untuk diam. Membiarkan Sofyan dan Karina untuk mengutarakan isi hati mereka.


"Kamu tahu semuanya?"


Karina mengangguk.


"Aku nggak sengaja baca notes kamu di HP. Sebagai anak mamah yang sedari kecil deket sama orang tua. Pasti rasa nya sakit pas tau orang tua ngejauhin cuman karena keinginan mamah kamu nggak bisa kamu wujudin. Maaf mas. Aku nggak mau egois lagi. Walaupun sakit .. aku gak masalah kok pisah sama kamu."


"AKU YANG NGGAK MAU!" Sofyan menggebrak meja buat Karina menyusut dan menunduk.


"Kasihan bagaimana?" tanya Sofyan sambil mengusap kepalanya, frustasi. "Gue yang harusnya di kasihani di sini. Gue mau berjuang sama hubungan ini. Tapi dia terus aja mikir buat pisah. Seolah perjuangan gue nggak di liat sama sekali. Bahkan Karina nggak pernah mau ngomong bareng bareng."


Sofyan menatap Karina lalu menghela napas kasar.


"Lu juga denger kan?" seru Sofyan yang ditunjukkan pada Zaina dan Mahen. "Dari tadi dia nggak ada mau ngelakuin niatan apa pun dan ngomong cuman nggak enak terus. Dan pada akhirnya cuman mau nyerah?"


Sofyan tertawa dan menggeleng.


"Kamu tuh kayaknya memang punya pacar lain di luaran sana ya? Makanya pengin banget pisah dari aku dan gak berusaha untuk pertahanin hubungan kita?"


Zaina refleks menarik tubuh Karina yang semakin melemas. Memeluknya erat, seolah memberi kekuatan pada Karina yang kelihatan ling lung itu.


"Sofyan! Lu nggak inget sama yang gue omongin terakhir kali" marah Zaina yang nggak bisa diem. "Dari tadi gue udah bilang, jangan selesaiin masalah ini pake emosi! Nggak bakal ada habisnya. Dengerin dulu penjelasan dari Karina. Baru marah ... bukannya ngedepanin ego dulu!"


"Benar apa yang di bilang sama Zaina." Setuju Mahen


"Kalian nggak ada yang paham sama gue! Dan urusan kayak gini malah nambah bikin pusing—


"AKU DIANCEM!" pekik Karina tiba-tiba membuat mereka semua menatap Karina. "Aku memang cinta sama kamu, aku juga mau kamu jadi pasangan hidup aku. Tapi aku harus apa kalau orang tua aku di ancem sama orang tua kamu!" lanjutnya dengan napas memburu.


Membuat semua orang diam.


Terkejut.