Love In Trouble

Love In Trouble
9 - Nasihat atau Amarah?



"Jangan pernah memendam semuanya sendiri, mommy sungguh khawatir sama apa yang terjadi sama kamu tahu nggak sih! Mommy memang kecewa sama kamu. Tapi bukan berarti kamu bisa kayak gini. Nggak makan dan nggak ada mikirin kesehatan kamu sama sekali. Apa kamu sama sekali nggak mikir apa yang mommy mau lakukan untuk kamu ini?"


Zaina menunduk, merasa nggak enak bukan main.


Zaina baru saja sadar dari pingsannya itu, tidak terlalu lama karena Zaina di kasih tahu kalau pingsan hanya sekitar satu jam saja. Hanya itu. Tetapi tetap aja raut khawatir mommynya buat perasaan Zaina jadi nggak enak bukan main.


"Hayo lah Zaina ... mommy memang mau marah sama kamu. Atas apa yang udah kamu lakukan selama ini. Tapi mommy bukan orang jahat yang akan membiarkan kamu gitu aja. Mommy itu diam-diam suka memperhatikan apa yang kamu lakukan. Tapi apa yang mommy dapat?"


Zaina mencengkeram selimut. Ia benar-benar nggak enak dan merasa malu.


"Kamu sendiri yang bilang kalau nggak pernah kepikiran untuk melakukan hal gila kayak orang lain. Kamu sendiri yang bilang mau mempertahankan anak itu. Kamu beneran nggak pernah mikirin hal buruk. Tapi apa ini? Dengan kamu yang nggak makan, bahkan nggak minum susu hamil kamu. Secara nggak langsung kamu mau membunuh anak itu. Anak tak bersalah itu."


"Maaf mommy ... aku janji nggak akan ngelakuin ini lagi dan buat mommy jadi khawatir. Mommy bisa marahin aku sepuasnya."


Mata Zaina berkaca-kaca sambil natap sang mommy. "Karena aku lebih suka kayak gini. Aku lebih suka sama mommy yang marahin aku dan ngomong kayak gini. Dari pada cuma diam aja dan buat perasaan aku jadi nggak enak bukan main. Jadi, makasih ya mommy karena udah mengesampingkan ego mommy dan bicara sama aku. Aku nggak bakal lupain ini semua."


Mommy nya duduk di pinggiran kasur dan menggenggam tangan Zaina lalu pada akhirnya dia memeluk Zaina buat tubuh perempuan itu sedikit menegang karena terkejut. Walau pada akhirnya Zaina membalas pelukan sang mommy dengan sangat erat juga dan pada akhir nya dia menangis dengan kencang.


"Mommy ... aku benar-benar hancur sama semua ini. Aku menyesal sama apa yang terjadi. Aku nggak tahu kalau pada akhirnya kayak gini. Aku bingung harus apa. Aku menerima anak ini, tapi kadang aku membenci kenyataan kalau saat ini kekasih aku udah pergi dan nggak tahu lagi ada di mana."


Mata Momy Zaina sudah memejam, menahan emosi yang tercurahkan. Lalu dia melepas pelukan mereka dan natap mata anaknya itu. Dengan tangan yang masih saling bertautan satu sama lain.


"Sebenarnya ... siapa kekasih kamu ini? Apa kamu mau cerita sama mommy? Tanpa ada yang kamu tutupi sama sekali atau membohongi mommy hanya untuk membuat nama kekasih kamu jadi keliatan baik."


Zaina terdiam sejenak dan pada akhir nya dia memutuskan untuk cerita semua ini.


"Tapi ... mommy harus janji, setelah aku cerita mommy nggak akan pernah marah sama siapa pun itu. Aku cuma nggak mau nanti mommy menjauh lagi dari aku hanya karena aku yang kayak gini. Akh nggak mau sampai mommy itu benar-benar di buat kecewa sama cerita yang aku kasih tahu."


Mommy Zaina mengangguk, "ceritakan dan mommy akan berusaha pertimbang kan semuanya."


***


Mengalirlah semua tentang Ghaly dari mulut Zaina. Tidak ada yang di tutupi sama sekali oleh Zaina. Perempuan itu benar-benar menceritakan hubungan mereka dari awal hingga pada akhirnya Ghaly memutuskan untuk pergi. Bahkan dia menceritakan kelakuan buruk mereka walau dengan takut-takut, karena dengan begini akan membuat Zaina jauh lebih lega dan Zaina rasa kalau pada akhirnya dia akan di usir karena ini.


Setidaknya, Zaina sudah menyiapkan mentalnya.


Zaina menautkan dua tangannya itu.


"Aku sendirian, mom. Aku nggak tahu harus apa. Rasanya aku menyesal tapi itu juga nggak akan mengembalikan semuanya kan? Jadi aku benar-benar merasa hancur. Tapi ... mungkin setelah dengar semua ini. Mommy jadi malu karena tingkah aku yang memang nakal. Aku nggak masalah kok kalau mommy itu kepikiran untuk mengusir aku dan aku bakalan hidup bersama anak aku nanti."


"Hey ... anak mommy ngomong apa sih? Emangnya mommy pernah bilang mau mengusir kamu dari rumah ini? Nggak kan? Mommy sama daddy memang udah kecewa sama kamu."


Mommy nya itu sedikit duduk menyandar di atas kasur. Dengan dua lengannya yang menjadi tumpuan dan menatap langit kamar.


"Kami rasanya udah salah mendidik kamu. Bukan karena kamu, karena apa yang ada dalam diri kamu sekarang itu bentuk didikan kami selama ini kan?"


Zaina menggeleng.


"Ini memang aku yang nakal, jadi mommy sama daddy jangan nyalahin kalian masing-masing. Karena itu buat aku semakin merasa bersalah dan jadi nggak enak."


Zaina menarik napas dalam. "Karena ... setelah perbuatan aku ini. Aku memang merasa mommy sama daddy menjaga jarak dari aku. Tapi nggak bisa di pungkiri kalau kalian terkadang masih aja merawat aku dengan baik. Walau gak ada kata-kata yang terlontar sama sekali tapi aku yakin mommy sama daddy masih aja memperlakukan aku dengan baik."


Dada Zaina semakin sesak dan dia menutup wajahnya, menangis.


"Rasanya ... kalau udah kayak gitu, aku cuma merutuki diri aku aja. Kenapa dari dulu aku nggak melihat ini semua. Dulu aku terlalu bodoh dan cuma bisa meliat dari sisi yang negatif aja. Tanpa aku bisa tahu kalau ternyata ini yang udah daddy sama mommy lakukan untuk aku dan ini semua demi kebaikan aku."


"Seperti kata kamu ... menyesal juga bukan suatu hal yang benar kan?"


Anak itu mengangguk kecil.


"Nah itu ... dari pada memikirkan yang buruk. Mommy sama daddy akan jauh lebih bahagia. Melihat kamu yang mau melupakan kala itu. Kamu harus bisa lupain semua yang terjadi dan mulai hidup dengan baik."


Mommy Zaina mengusap punggung anak sulungnya itu.


"Kamu harta kami yang paling bahagia. Rasa kecewa ini cuma sesaat dan nanti mommy sama daddy juga akan kembali seperti biasa sama kamu kok. Jadi, kamu nggak perlu berpikir yang aneh ya. Karena kami selamanya akan sayang sama kamu. Terlepas dari apa yang udah kamu lakukan."


Zaina malah menangis, "makasih mommy, makasih banyak karena udah baik banget sama aku."