
Tinggal hitungan hari Zaina akan menikah sama Mahen dan ia juga semakin gugup karena hal ini. Berulang kali dia cek semua kebutuhannya. Dia nggak mau ada yang terlewati karena mau gimana pun, ini pernikahan pertamanya. Dia mau melakukan yang terbaik.
“Aku beneran nggak sabar sama respon mas Mahen nantinya ... Kalau drakor yang aku suka tonton sih biasanya kalau ada orang yang nikah pasti suaminya selalu speechless sama penampilan istrinya pas keluar.”
Zaina memekik dan menendang udara.
“Aku beneran nggak sabar ... ya kalau buat yang seneng seneng sih, aku beneran nggak sabar banget. Tapi, tetep aja. Pasti ada hal di luar nalar kan yang nggak bisa aku bayangin? Tapi apa pun itu. Semoga aku bisa deh ...”
“...”
“Tapi ... aku kangen juga deh sama mas Mahen.”
Zaina turun dari kasurnya dan mengambil boneka lumba-lumba yang dulu di kasih sama. Mahen. Ia memeluk boneka itu dan mengecupi atasnya. Berharap kalau yang dia peluk adalah Hermawan.
“Aku beneran kangen banget. Ya ampun ... padahal pas sama Ghaly aja. Aku nggak pernah tuh ngerasain sekangen ini. Tapi kenapa pas sama Mahen, aku bisa ngerasain rasa rindu kayak gini. Padahal, bisa di bilang aku belum lama banget ketemu sama mas Mahen dan kalau sama Ghaly, itungannya udah lima tahun lebih.”
Perempuan itu menyimpan bonekanya dengan rapih lalu turun dari kasur.
"Ah ... Tiba-tiba aku kepikiran sama Ghaly deh," ucapnya lalu mengusap perutnya. "Adek mau tau kabar ayah ya? makanya tiba-tiba bunda ngerasain kayak gini?" serunya lalu melangkah dengan riang keluar rumah.
Ia mencari keberadaan orang tuanya sampai ketemu sama mereka yang sedang bersantai di ruang baca yang ada di lantai tiga.
"Daddy," panggilnya dengan merengek.
"Ya ... ada apa?"
"Aku mau nanya daddy deh tentang keadaan Ghaly," ucap Zaina yang langsung mendapat tatapan tajam dari orang tuanya. "Ih ... maksud aku bukan begitu. Aku cuman bingung sekaligus penasaran aja. Ghaly tuh beneran udah pergi dari hidup aku atau enggak. Kan, kalau anak aku lahir. Aku harus siapin jawaban sama dia kalau nanti nanya tentang ayahnya."
Mommy Nadya hanya bisa menepuk kening dan menggeleng tak percaya.
"Satu ... anak kamu masih tiga bulan, kalau pun dia nanya. Kamu harus nunggu minimal satu tahun bahkan lebih untuk dia paham tentang seorang ayah dan bisa lancar bicara. Dua ... masih tiga bulan loh Zaina ... dan kamu udah nanya hal kayak gini? Ya ampun, random banget deh."
Zaina melenguh dan mengerucutkan bibirnya. Ia duduk di salah satu kursi di sana.
"Kan ... aku cuman penasaran loh. Memangnya salah ya aku nanya kayak gitu?"
"Bukannya salah ... hanya saja daddy terkejut. Tadi apa pertanyaan kamu?" tanya daddy Zidan meminta ulang. "Ah iya ... untuk sekarang, sepertinya Ghaly masih serius dengan hukumannya. Dia nggak akan ganggu kamu lagi. Dia seperti nya tahu kalau perbuatannya selama ini udah salah."
"Gitu ya?"
"Dan ... kamu tenang aja, daddy udah peringati dia. Dia nggak boleh datang nemuin anak kamu dan bilang tentang statusnya. Jadi, kamu bisa lanjut memberi tahu kalau Mahen itu ayah dari anak kamu. Tapi ... balik lagi. Kamu mau jujur sama dia atau enggak. Tapi, kalau pun jujur kamu bisa bilang pas udah dewasa. Jangan pas kecil."
Zaina termenung.
Ia menatap kosong.
"Aku nggak kepikiran buat bohong sama anak aku sih. Pasti ada waktunya dia harus tahu tentang siapa ayah kandung nya. Karena aku nggak mau kalau dia tahu dari orang lain. Pasti itu sakit hati banget kan ... jadi suatu waktu, aku harus bilang sama dia tentang apa yang terjadi."
"Ya ... itu kembali sama kamu. Daddy angkat tangan karena nggak mau ganggu kamu sama sekali."
"Oke deh dad. Aku mau—
BRUGH ... "TUAN! NYONYA!"
Semuanya langsung menoleh ke arah pelayan di rumah mereka yang membuka pintu dengan paksa.
Daddy Zidan menatap datar. "Kamu tahu kan kalau saya paling nggak suka sama pegawai yang nggak tahu sopan santun kayak—
Pelayan itu mengangguk.
“Sa— saya nggak peduli mau nyonya sama tuan bakalan marah sama saya,” lanjutnya lagi dengan napas memburu. “Ada hal pen— penting, yang ha— rus tuan sa—
“Mbak ... napas dulu yuk,” pinta Zaina dengan sopan sambil menghampiri pelayannya itu. “Tarik napas ... dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi sampai mbak kayak gini. Ada hal yang penting kah?”
Pelayannya langsung mengangguk.
Pelayan itu berusaha bersantai dan setelah lebih tenang, ia kembali menatap mereka. “Nona sama tuan harus tahu apa yang sedang trending.” Pelayan itu memberikan ponselnya dan tiga orang itu langsung melihatnya.
/Perusahaan X akan menjodohkan cucunya dengan perempuan bernama Alfi? Simak berikut informasi perempuan itu./
/Bagaimana kelanjutan perjodohan antara Mahen dan Zaina?/
/Berakhir kandas? Sebab perjodohannya berakhir karena putri dari pengusaha Z itu hamil di luar nikah?/
“Mas Mahen?” seru Zaina yang tubuhnya seketika lemas. “Jangan bilang ini bener? Jangan bilang kalau mas Mahen memang di jodohin sama Alfi? Jadi ... semuanya berakhir begini?” tanya Zaina lalu tertawa kecil dan menggeleng tak percaya.
“Nggak, nak ... kamu jangan percaya itu. Kita hubungin keluarga Mahen dulu ya dan tanyakan apa yang sebenarnya terjadi,” pinta daddy Zidan lalu mengucapkan terima kasih kepada pelayan tadi dan memintanya untuk meninggalkan mereka.
“Enggak dad ... kalau memang ini nggak bener, pasti nggak bakalan ada berita kayak gini. Ini mah ... udah pasti kalau mereka diem-diem nolak hubunagn aku sama mas Mahen dan memilih untuk ngejodohin mas Mahen sama perempuan itu.”
“ZAINA!”
“Kita lihat dulu ...”
Dengan sigap, daddy Zidan membuka laptopnya dan mencari informasi tentang berita yang baru saja keluar. Mommy Nadya sama Zaina duduk di belakangnya. Masih dengan tatapan nggak percaya Zaina membaca semua itu di depannya. Ia tertawa lirih, membawa setiap kalimat yang tertulis di sana.
“Lihat ... ternyata neneknya Mahen yang keluarin steatment ini. Bukan langsung dari keluarga Mahen, makanya kamu nggak usah mikir yang macem-macem ya.”
“Mom ... tapi itu—
Sebuah video yang memperlihatkan Mahen sedang merangkul seorang perempuan, yang Zaina tau itu Alfi sedang terpampang di layar laptop. Mereka keliatan sangat mesra. Zaina menatap sayu, hatinya sangat sakit.
“Kamu nggak usah percaya video ini ya, bisa aja ini mah video lama,” ucap mommy Nadya yang berusaha menenangkan Zaina.
Zaina menggeleng. “Aku kenal banget sama mas Mahen,walau baru dua mingguan aku nggak ketemu mas Mahen lagi. Aku tahu banget kalau ini nggak lama. Tapi baru ..., aku yakin banget. Woah, ternyata ini lebih parah. Tiga harian lagi sebelum menikah. Bisa-bisanya mas Mahen malah selingkuh terang-terangan sama aku.”
“ZAINA!”
“Kok kalian nggak ada yang ngertiin aku sama sekali sih,” marah Zaina yang sudah menangis.
“Bukannya nggak ngertiin kamu, nak. Realistis aja, Mahen keliatan suka banget sama kamu. Jadi, nggak mungkin kalau dia selingkuhin kamu. Kita tunggu dulu ya, kita telepon mereka dulu dan tanya apa yang sebenarnya terjadi di sini. Jadi, kamu nggak usah mikirin yang macem macem dulu.”
“Banyak tuh kasus di luaran sana, yang keliatan sayang sama istrinya. Tapi masih selingkuh!”
“Tapi nak—
“Aku nggak tahu ah, harus bales apa lagi. Feeling aku bilang kalau itu memang Mahen dan mungkin dia memang udah mikirin semuanya. Terus milih untuk nggak bersama aku. Dan ini udah dua minggu kit anggak bertemu. Jadi, wajar kalau dia berubah pikiran dan mungkin dia udah kepincut sama Alfi.”
“Nggak, nak ... jangan asumsiin apa pun dulu ya. Kita pikirin baik-baik dulu. Kita—
“NGGAK!”
Zaina menghentakan kaki dan berjalan keluar. Mommy Nadya yang mau menyusul langsung di tahan sama suaminya. Suaminya itu menggeleng, “biarin dulu ... Zaina butuh waktu. Dia butuh waktu buat mikirin semuanya sendiri. Selagi dia mikir, mendingan kita ngurus masalah yang satu ini dan tanya apa yang sebenarnya terjadi sama keluarga Mahen.”
“Tapi mas ...” khawatir mommy Nadya.
“Nggak ... Zaina nggak akan macem macem, mas yakin. Dia cuman butuh istirahat doang.”
***
ARGH ... BRUGH, PRANG!
Zaina menutup telinganya dan memekik. Ia menangis. Ia nggak lagi melihat perselingkuhan dengan matanya langsung, tapi dia malahan tahu dari media yang jelas semuanya bakalan tahu juga.
“Kenapa sih ... kenapa Mahen ngelakuin ini sama aku? Kalau dia memang nggak mau sama aku. Harusnya dia jujur aja sama aku. Bukannya malah gini. Aku lebih ngerasa baik baik aja. Kalau dia udah nolak aku dari awal. Bukannya pas aku udah jatuh cinta sama dia.”
Zaina menangis.
Kamarnya sudah berantakan karena menjadi tempat pelampiasan Zaina. Ia benar-benar mengeluarkan emosinya ke kamarnya.
Barang pecah belah yang udah pada pecah, boneka yang terlempar ke sembarang arah, selimut yang udah asal terlipat. Dan sekarang Zaina terduduk di balik pintu. Ia masih terus menangis dan mengepalkan tangan.
“Aku beneran benci banget sama orang yang ingkar janji. Dua kali, dua laki-laki juga yang udah bohongin aku kayak gini. Memang seharusnya aku nggak percaya sama yang namanya laki-laki. Emang seharusnya aku percaya sama diri aku sendiri aja. Karena mereka nggak akan pernah bisa memenuhi keinginan aku.”
Zaina mengerang frustasi. Biasanya kalau lagi sedih kayak gini, ia harus menyakiti dirinya sendiri supaya dia jadi tenang. Tapi, sekarang malah nggak bisa sama sekali. Dia harus ingat kalau ada anak yang dia kandung. Dia nggak mungkin egois dan menyakiti dirinya sendiri tapi melupakan keberadaan anaknya.
“Tapi ... kenapa harus aku lagi? Kalau memang dia mau sama Alfi. Harusnya Mahen nggak perlu tuh pura-pura nggak suka sama Alfi pas di rumah neneknya. Dia bisa aja jujur sama aku. Kalau dia memang suka sama Alfi dan nggak suka sama aku. Aku bakalan langsung sadar pas itu ... bukannya malah semakin memperdalam perasaan ini.”
Suara notifikasi ponselnya membuat perhatian Zaina teralihkan.
Dia bangkit dan mengambil ponselnya di atas tempat tidur. Tatapannya terpaku, “ah ... pesan dari wedding organizer,” paparnya dengan lirih. Ia membuka pesan itu. Terdapat foto tempat pelaminan yang sudah di hias. Tangannya gemetar, matanya berlinang air mata. Hanya tawa kecil yang bisa ia lantunkan.
“Apa adminnya nggak tahu sama masalah yang lagi ramai?” tanya Zaina dengan frustasi. “Harusnya dia nggak perlu ngirim pesan kayak gini. Sengaja banget, mau meledek.”
Tanpa pikir panjang, Zaina langsung memblokir nomor WO yang udah bekerja sama untuk pernikahnya. Bahkan ia menghapusi semua data tentang pernikahan mereka.
“Nggak ... dengan nyimpen semua ini, malahan buat aku semakin nggak tahan doang,” ucapnya dengan yakin. Ia menghapusi semuanya. Dari foto Mahen, semua foto yang dikirim sama Mahen, bahkan sampai memblokir media sosial milik Mahen. Sampai tangannya terhenti pada ruang pesan dirinya sama Mahen.
Ia terpaku.
Tak ada pesan sama sekali di sana.
“Bahkan, pas keadaan lagi panas kayak gini. Dia nggak berusaha menghubungi aku sama sekali. Fakta kayak gini buat aku makin yakin kalau berita itu memang benar kan? Kalau memang nggak bener, pasti kan Mahen terus ngehubungin aku dan mencoba meralat berita buruk itu.”
***
Saat ini, Zaina sudah jauh lebih tenang. Tapi dia masih berdiam di kamarnya. Orang tuanya yang terus mengetuk, meminta dia untuk keluar atau sekedar makan. Zaina hiraukan. Dia benar-benar butuh waktu untuk sedniri.
Dan ia juga nggak mau melampiaskan amarahnya sama orang tuanya.
Kini, Zaina sedang berdiam di meja belajarnya dengan laptop yang sudah terbuka. Ia membawa semua berita yang ada di sana. Setelah membaca dia baru mengerti, kalau memang perjodohan ini udah pernah di ungkit dari lama tapi baru kembali naik lagi tadi pagi.
“Aku tahu kalau Mahen memang nggak suka sama dia. Tapi, seharusnya dia sendiri kan klarifikasi ke media atau nggak ke aku. Kalau kayak gini sama aja, secara nggak langsung dia setuju sama omongan neneknya tentang perjodohan ini.”
Tangannya mencengkram kuat mouse yang ada di sana. Napasnya semakin memburu setiap ia membaca hujatan yang malah tertuju ke dirinya.
“Bahkan gue nggak ada ikut campur sama masalah ini, tapi kenapa semua orang masih aja bawa-bawa gue?”
Zaina berteriak sangat marah. Ia memukul meja yang ada di depannya. Tangannya memerah, tapi dia nggak peduli. Rasa sakitnya nggak sebanding dengan perasaan sesak yang ada di hatinya. Ia terus menatap barisan hate comment yang tertuju ke arahnya. Semakin jahat cuitan komen di sana, semakin kencang juga Zaina mencengkram gelas beling yang ada di genggaman tangannya.
“Aku beneran nggak tahan banget, rasanya mau bilang sama mereka semua kalau aku nggak ikut-ikutan. Dan ... kenapa selalu aku yang di bawa ke permasalahan mereka?”
Ia menunduk dan menatap perutnya yang semakin kelihatan buncit itu.
“Aku tahu, kalau diri aku salah. Tapi .. nggak seharusnya mereka ngomong sejahat ini sama aku.”
Zaina mencengkram dadanya. Rasa sakirnya jadi double gini. “Ini benar-benar menyakitkan,” ucapnya dengan sangat lirih.