Love In Trouble

Love In Trouble
Alasan Selama Ini



"Di— diancem?"


Karina mengangguk. "Orang tua kamu datang ke rumah tanpa sepengetahuan aku dan membentak ibu sama bapak aku! Mereka bilang bakal hancurin hidup aku, kalau aku itu masih maksa punya hubungan sama kamu, a ... mereka juga bilang kalau selamanya nggak bakalan kasih restu dan kalau aku tetap maksa. Yang ada orang tua aku semakin di teken."


Karina meraung sambil menutup mulutnya.


"Usaha orang tua aku satu-satunya, yang menjadi sumber penghasilan di keluarga aku nyatanya di otak-atik sama keluarga kamu, a! Aku selalu menjadi saksi gimana orang tua aku nangis karena masalah ini dan di tengah semua ini, gimana aku bisa maksain keadaan?"


Perempuan itu berdiri dan menatap sendu pada Sofyan yang masih keliatan sangat syok itu.


"Orang tua aku sampai mohon-mohon ke aku mas. Kami bingung biayain adik aku yang mau masuk sekolah karena orang tua kamu buat dagangan bapak aku jadi sepi dan aku cuman bisa lihatin sampai nggak bantu apa-apa. Aku nggak mungkin diam doang a."


Karina menatap mereka satu per satu dan menghela napas frustasi.


"Aku juga mau usahain hubungan kita, a. Aku juga cinta sama kamu. Cuma kamu yang selalu ada di samping aku, pas aku susah. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku. Cuma kamu doang. Aku udah sejatuh cinta itu sama kamu. Tapi kalau keadaannya kayak gini, aku harus apa?"


"..."


"Semuanya susah, a ... aku sedih liat orang tua aku, aku sedih liat kamu yang kehilangan sosok kasih sayang mamah kamu, aku sedih karena lihat hubungan kamu sama orang tua kamu yang retak, aku sedih karena hubungan kita banyak merusak semua hal. Aku nggak bisa egois a .. aku mau kamu, tapi semuanya seakan sulit. Kita nggak bisa terus maksain kehendak."


Sofyan menunduk.


"Sesulit itu?"


Laki-laki itu menggenggam tangan Karina dan berusaha menatap mata Karina yang terus mengalihkan pandangan.


"Kenapa kamu nggak bilang? Ini ranahnya bukan hal kecil lagi loh. Tapi orang tua aku udah turun tangan dan buat kamu jadi sulit," gumam Sofyan dengan pelan. "Aku nggak tau mereka bisa seberani ini."


"Ya ampun ..." Sofyan berdiri dan membuka ponselnya. "Ini nggak bisa di biarin sama sekali sih!" pergerakannya terhenti saat tangannya di tahan sama Karina.


"Jangan marah sama orang tua kamu, mas. Mereka cuma mau yang terbaik untuk kamu. Aku juga nggak mau buat hubungan kamu sama mamah kamu semakin buruk. Jadi, aku harap kamu jangan marah sama mereka."


"Terus aku harus apa Karina?" seru Sofyan dengan sewot. "Mana mungkin aku diem aja pas tau ternyata selama ini keluarga pacar aku kesulitan karena ulah mereka? Ampun dah ... aku sama sekali nggak nyangka kalau mamah sampai berani datang ke keluarga kamu kayak gini."


"Maaf ..."


"Bukan kamu yang harus minta maaf!" tegas Sofyan sambil menggeleng kecil.


“Terus apa a? Aku harus marah sama takdir yang terbentang di antara kita? Aku harus marah siapa? Akhirnya aku cuman bisa diem aja, termenung ... dan bukannya aku nggak mau harepin hubungan kita. Tapi aku cuman nggak mau jadi perempuan egois. Aku nggak mau ngebuat banyak orang susah, udah cukup selama ini hubungan kita nyakitin banyak orang. jangan lagi.”


Sofyan menggeleng.


“Tapi—


“Mau apa?” tanya Sofyan. “Kalau lu mau pergi sama gue, kayaknya gue masih nggak bisa ketemu mereka,” jujur Sofyan yang benar-benar kecewa sama orang tuanya itu. “Kalian temuin aja sendiri, gue nggak mau nemuin mereka lagi. Gue takut kelepasan.”


“A ... jangan begitu,” lanjut Karina, ia menggeleng sambil menatap kekasihnya. “Cukup aku yang sakit hati di sini, cukup aku yang ngelakuin ini. aku ngelakuin ini semua biar kamu punya hubungan yang baik sama orang tua kamu itu. Aku nggak ada niatan memperburuk hubungan kalian. Jadi ... aku mohon, jangan kayak gini.”


Sofyan menunduk, tangannya semakin mengepal kuat. Emosinya semakin di ubun-ubun, jika tadi ia marah sama Karina kini marahnya tertuju ke orang tua dia.


“Nggak bisa Karina ...”


“A, aku mohon ... mereka cuman orang tua yang mau ngelakuin terbaik untuk anaknya,” desis Karina. “Kamu coba pahamin pemikiran orang tua kamu, pasti nanti kamu paham kenapa mereka ngelakuin ini. Mungkin, kalau kamu punya anak nanti sama wanita pilihan orang tua kamu. Kamu juga akan paham.”


“Selamanya aku nggak akan pernah paham sama pemikiran mamah dan papa. Di mana-mana harusnya mereka bahagia melihat anaknya senang. Tapi apa? mereka malah mempersulit hidup aku kan? Jadi ... aku nggak akan pernah paham sama pemikiran mereka sama sekali.”


Zaina menepuk meja dan meminta mereka untuk duduk. Keduanya menurut dan kembali duduk membuat Zaina menatap kasihan pada mereka. Urusan seperti ini saja yang seharusnya memudahkan mereka tapi malah terhalan karena keegoiskan orang tua yang entah inginnya apa.


“Seperti yang gue bilang tadi, gue sama Mahen bakalan nemuin orang tua lu. Lu nggak perlu ikut, cuman gue sama Mahen aja. Lu tinggal duduk manis aja di sini. Nggak usah ikut campur, karena gue tau apa yang bakal di omongin dan gue harap dengan begini bisa ngebuat hubungan lu sama Karina baik-baik aja.”


“Tapi—


Zaina menggeleng, mengabaikan protesan dari Karina.


“Kamu tenang aja ya ... nggak bakal ada yang nyakitin kamu lagi dan untuk orang tua kamu, tadi aku udah suruh orang buat cari tahu tentang kamu dan ternyata mereka cepet buat nemuin rumah kamu. Bala bantuan lagi datang kesana.”


“Eh— makasih banyak. Ya ampun, ini beneran?”


Zaina mengangguk dan tersenyum tipis.


“Jangan khawatir lagi ya. Kami akan bantu sebisa kami supaya hubungan kalian nggak retak. Pokoknya kalian tenang aja, aku dan Mahen akan terus pantau kalian. Karena mau gimana pun, aku nggak mau dijodohin sama Sofyan dan sebaliknya juga gitu. Jadi, kalian nggak boleh gampang nyerah ya ... dan untuk Karina, aku mohon. Kalau kamu nggak mau lanjutin hubungan ini. Yang ada kamu hancurin hubungan aku juga.”


Karina menatap Mahen dan Zaina satu per satu.


“Aku mohon ... jangan cepet nyerah ya.”


Karina menghela napas.


“Aku bukannya mau nyerah, aku cuman takut ... tapi kalau kalian mau bantu. Dengan senang hati aku terima dan aku benar-benar terima kasih sama kalian berdua. Kalian udah banyak bantu aku ... makasih sekali lagi.”


Zaina tersenyum tipis dan melirik Mahen, mengisyaratkan untuk berdiri.


"Kami nggak mau ikut campur lagi. Sepertinya kalian juga butuh ngobrol bareng. Kami pamit. Untuk urusan orang tua Sofyan, tenang aja ... gue sama Mahen yang bakalan urus dulu. Kalian cukup yakinin hubungan kalian."