Love In Trouble

Love In Trouble
Nekat



Dengan perasaan gugup, Zaina keluar dari kamarnya. Tepat siang ini dirinya akan menemui oma nya. Keluarga daddy nya itu. Ini pilihan hidupnya dan entah apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi yang Zaina tahu, dirinya akan berusaha menentang pilihan hidupnya.


Perempuan yang mengenakan baju formal itu memilih untuk berdiam lebih dulu di depan cermin. Menatap dirinya, hmm lebih tepatnya mengasihi dirinya sendiri? Entah lah ... Zaina juga tidak mengerti, kenapa dirinya bisa memilih jalan ini. Tapi mengingat omongan omanya, yang selama ini ternyata orang tuanya sudah memiliki beban banyak karena kelakuan dirinya. Membuat Zaina harus mandiri.


Bukan kah seperti itu?


Atau malah Zaina yang salah?


Entah lah ...


"Kadang aku kasihan sama diri aku sendiri," gumam Zaina sambil menatap ke arah cermin. "Kenapa banyak banget sih masalah hidup yang dateng? Walau banyak pihak yang mulai bela aku. Tapi kan ... kadang aku masih takut sama hari esok."


Perempuan itu menghela napas kasar.


"Nggak pernah ada yang tahu kan, apa yang terjadi ke depannya? Itu lah yang setiap hari aku rasain. Kayak yang was-was aja gitu. Kayak sekarang ini ... beberapa hari yang lalu, mana ada aku kepikiran buat nerima permintaan oma untuk dekat sama laki-laki lain."


Perempuan itu tertawa kecil.


Ia menghela napas kasar. Pikirannya melayang ke Mahen. Laki-laki yang selalu dan sampai kapan pun itu akan terus ada di relung hatinya. Tapi ... apa yang harus dirinya pilih?


"Bener kata oma ... kalau aku nggak bisa mengulang luka lama lagi. Kalau sama Mahen, entah apa yang aku bakal dapetin lagi untuk ke depannya kan? Dan juga ... aku gak mau Mahen dapetin barang bekas kayak aku."


Kali ini Zaina mengangguk yakin.


"Ya .. ini pilihan aku. Nggak apa-apa. Ke depannya aku bakal rela kok kalau ngelihat Mahen sama perempuan lain. Asal dia baik aja. Toh ... aku masih bisa temenan sama Mahen kan? Hubungan kita nggak bakal hancur karena hal ini kan?" tanya Zaina yang sebenarnya bingung sama jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan sendiri.


Setelah beberapa menit merenung.


Perempuan itu mengangguk.


Ia menepuk lengan atasnya sendiri, berusaha menyemangati dirinya sendiri itu. "Semangat Zaina! Coba doang nggak apa-apa kan? Aku berhak nyari laki-laki lain, demi Mahen sendiri. Biar dia bisa menemukan perempuan yang tepat bukan?"


Akhirnya setelah berusaha menyemangati dirinya sendiri. Zaina mengenakan tas mainnya dan langsung saja keluar kamar. Begitu turun dari lantai atas. Langkahnya terhenti saat melihat orang tuanya yang sedang berkumpul di ruang tamu. Langkahnya sempat terhenti. Sedikit gugup, tapi dia memberanikan diri untuk turun.


"Mommy ... Daddy ...," sapanya


Mereka menoleh dan menatap bingung. "Mau ke mana kamu? Bukannya kemarin kamu bilang kalau hari ini gak may ke kantor? Tapi, kenapa sekarang kamu rapih banget. Ada urusan?"


Zaina menggeleng.


"Mau jalan sama nongkrong sebentar aja mom. Aku baru inget, kalau setelah adanya masalah ini. Aku sama sekali gak pernah keluar rumah. Nggak pernah nikmatin waktu di umuran aku. Jadi ... aku mau cari angin, sekalian jalan jalan aja. Boleh kan mom?"


Mommy Nadya beralih menatap suaminya, membiarkan sang suami menjawab.


"Ya boleh dong ... butuh penjagaan nggak?" jawab daddy Zidan.


"Ya sudah, daddy rasa juga sudah lama kamu mengendap di rumah. Sudah waktunya kamu keluar rumah. Tetap hati hati dan jaga diri ya nak. Dan tentu saja, kalau ada apa-apa jangan lupa untuk bilang sama kami. Karena kami akan selalu ada di sini. Di sisi kamu."


***


Setelah beberapa menit menyetir sendiri, akhirnya kini Zaina sudah berada di restoran yang di pinta omanya. Sayang dia nggak berani masuk. Rasa beraninya yang ada beberapa saat lalu, Tiba-tiba saja lenyap dan pergi entah ke mana. Hanya menyisakan ketakutan.


Zaina mencengkram kuat setir dan tersenyum miris.


Tiba-tiba suara ponsel yang berdering membuat Zaina menoleh dan nama 'Mahen' di layar ponsel membuat Zaina nyaris tersedak. Ia menegakkan duduknya. Ini kenapa dia berdegup kencang? Kayak yang ketahuan selingkuh saja. Tanpa pikir panjang, dirinya langsung saja mengangkat telepon dari laki-laki itu.


"Iya Mahen ke napa?"


"Zaina ... kamu lagi di mana? Kamu di rumah kan? Aku ke sana ya. Kenapa perasaan aku nggak enak banget ya. Kamu baik-baik aja kan? Nggak lagi jahatin diri sendiri lagi? Nggak lagi nangis sendirian lagi?"


Zaina tersenyum tipis mendengar Mahen yang masih saja terus mengkhawatirkan dirinya.


"Aku baik-baik aja ... aku juga lagi nggak ada di rumah. Aku lagi cari angin di luar. Tenang ... aku nggak pernahh jahatin diri aku lagi kok. Kan kamu sendiri yang bilang. Jadi, tenang aja. Kamu nggak perlu khawatir."


"Bagus lah kalau begitu ... di luar? Kamu lagi di mana? Ke napa nggak bilang sama aku. Ya ampun Zaina. Aku beneran khawatir banget sama kamu. Kamu beneran baik aja kan? Nggak ada yang terjadi ... kamu di mana deh. Biar aku yang samperin kamu."


Perempuan itu terdiam saat matanya menangkap keberadaan mobil yang sangat kenal dan benar saja oma nya turun dari mobil yang sejak tadi menarik perhatiannya dan bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya. Tapi laki-laki yang turun juga bersama omanya.


Apa laki-laki itu?


Hanya itu yang ada di pikiran Zaina.


"Zaina? Kenapa kamu diam saja?! ya ampun, aku beneran khawatir banget sama kamu. Cepat nyalakan lokasi kamu, biar aku ke sana."


"Ah iya," ucap Zaina yang baru tersadar dari lamunannya. Ia mengerjap dan menggeleng kecil. "Nggak Mahen ... aku baik baik aja kok. Maaf aku nggak bisa ngasih tau kamu. Karena aku beneran mau habisin waktu sendiri. Anggap aja karena selama ini aku mengurung di kamar terus dan ini waktunya aku keluar. Balik kayak dulu lagi ..."


"Ya udah, kalau itu memang yang kamu mau. Tapi kalau ada apa-apa langsung hubungin aku ya. Karena beneran pikiran aku cuman tertuju ke kamu doang."


Zaina menarik napas dalam.


"Mahen ... kamu bilang kalau aku harus berani dalam memilih sesuatu hal kan. Jadi do'akan aku ya untuk kali ini aja."


"Hah?! Kenapa tiba-tiba ngomong kayak gini? Kamu nggak lagi berbuat macem-macem kan? Ya ampun Zaina, aku makin khawatir sama kamu. Kamu di mana sih ..."


"Hahaha ... enggak macam-macam kok. Aku cuman nanya doang loh. Intinya do'ain aku ya Mahen."


"Apapun itu, doa aku akan terus menyertai hidup kamu ..."