
"Maaf ...
"Nggak mas," bentak Restu sambil menahan tangan Mahen yang mau menyentuh tangan Zaina. "Kamu nggak perlu minta maaf sama sekali. Ini bukan salah kamu. Jadi kamu nggak perlu buat minta maaf. Kita datang baik-baik tapi malah di sambut kayak gini. Memang seharusnya kita gak dateng mas. Aku beneran kesel banget."
"Siapa yang nggak kesel kalau masalah hidup kita jadi bahan gosip orang lain?"
Zaina menghela napas kasar dan mengacak kasar rambut nya. Rasanya semua tenaga dia terserap. Bukannya istirahat, dia malah meladeni orang yang menyakiti dia sampai seperti ini.
"Argh! Gue benci banget sama kalian."
"Zaina, tenang ya ... kamu lagi sakit. Tangannya diem dulu, nanti infusnya ke napa-napa dan melukai tangan kamu."
"Mahen," ucap Restu yang tak percaya karena Mahen masih baik aja sama Zaina. Padahal mereka udah di tuduh seperti ini. "Kamu apa-apaan sih mas. Aku nggak suka ya kalau kamu kayak gini. Beneran deh, nggak seharusnya kamu tuh masih baik sama orang yang udah jahat sama kamu. Aku beneran sakit hati banget loh atas tingkah mantan kamu. Kalau gitu aku nggak bakalan datang!" Restu menyilangkan tangan di dada dan berbalik, membelakangi tubuh mereka.
Zaina berdecih.
"Nggak ada yang nyuruh lu buat datang. Gue lebih ngerasa seneng kalau istirahat sendiri walaupun ketakutan, dari pada harus dengerin lu ngomong. Yang ada keadaan gue makin terpuruk karena mulut lu yang jahat banget."
"Alah ... gitu aja sakit hati. Padahal lu udah buat Mahen jauh lebih sakit hati karena tingkah lu."
Zaina memgepalkan tangan dan berdecih.
"Mau gue ngapain juga, nggak ada urusannya sama sekali sama lu. Mau gue jahatin Mahen, lu cuman orang lain dan gak harusnya peduli sama gue. Dan ... lu tuh beneran nggak suka banget ya sama gue? gue beneran benci sama orang kayak lu. Beneran deh."
"Lu juga ngeselin!" balas Restu tak mau kalah. "Sok banget sakit. Palingan ini pencitraan doang biar dijenguk sama mas Mahen kan? lu pasti masih punya perasaan kan sama cowo gue? alah ... bilang aja kalau lu iri sama gue. Dasar."
"Berhenti," ucap Mahen pelan yang bingung harus membela siapa.
Dua perempuan yang bertengkar di hadapan dia, benar benar membuatnya sangat mumet. "Nggak usah di ributin lagi ya. Buat Zaina, gue minta maaf kalau lu ngerasa sakit hati karena tingkah gue yang malahan ngomongin masalah hidup lu ke orang lain. Jadi, jangan perpanjang lagi ya. Dan buat Restu, ini Zaina lagi sakit dan drop loh. Kok lu tega ajak dia berantem?"
Zaina menunduk dan mengepalkan tangan.
"Minta maaf segampang itu? di saat gue beneran benci sama orang yang ngomongin gue?" tanya Zaina. Ia narik napas dalam dan memalingkan wajah. "Pergi kalian, gue nggak mau lihat muka kalian di sini lagi!"
"HUH! Dasar nggak tahu terima kasih," seru Restu yang berusaha di abaikan sama Zaina. Restu menarik tangan Mahen. "Udah lah mas .., kita pergi aja dari sini."
"Nggak bisa Restu," ucap Mahen melepas genggaman tangan Restu membuat perempuan itu merengut kesal. "Gue udah janji sama orang tua Zaina dan gue nggak mau ingkar sama sekali. Jadi, gue mohon ... jangan paksa gue buat pergi dari sini. Kalau kamu udah nggak suka di sini. Nggak apa-apa kok kalau kamu mau pergi juga."
Mahen mengepalkan tangan saat melihat Zaina menangis. Hatinya sangat rapuh tapi perempuan sebelahnya malahan menghentakan kaki kesal.
"Mas! kamu pergi sama aku dan pulangnya harus sama aku juga. Jadi, aku nggak mau kalau kamu masih di sini. Aku gak suka ya kalau kamu kayak gini! Kamu janji kalau nggak bakalan begini. Tapi apa? belum apa-apa aja, udah ingkar."
"Restu ... mohon ngertiin gue."
"Alah mas, kamu sama saja. Aku benci sama kamu!" pekik Restu membuat Zaina menarik napas dalam.
"Bawa aja sana perempuan itu. Ada di sini juga malahan cuman bawa masalah aja. Jadi, nggak usah lah ada di sini, nggak guna sama sekali," ucap Zaina dengan asal yang udah sangat kesal.
"WOI!" bentak Restu.
Belum sempat mengatakan apa-apa tapi tubuh Restu udah di tahan sama Mahen.
"Cukup diam aja Restu," pinta Mahen dengan nada yang sangat memohon. "Kamu cukup di sini ya. Kamu mau nunggu gue kan? ya udah jangan cari ribut lagi. Karena gua akan pulang kalau orang tua Zaina juga udah datang. Jadi, diem dulu ya ..."
Restu mendengus dan beranjak duduk di sofa sambil menabrak asal benda di sana. Membuat bunyi terdengar cukup berisik di ruangan mereka.
Melihat Restu yang udah jauh lebih tenang, Mahen mengambil alih tempat duduk yang ada di samping Zaina. Ia duduk di sana, berusaha memanggil perempuan itu untuk duduk sambil menghadapnya. Tapi Zaina nggak peduli dan malah menatap ke arah lain membuat Mahen menarik napas dalam. Berusaha memahami perasaan Zaina yang lagi nggak baik-baik aja.
"Zaina," panggil Mahen dengan berbisik. "Ada yang mau gue omongin jadi bisa nggak lihat ke arah sini dulu?"
Zaina menggeleng.
"Gue mohon ... kalau kamu tetep kukuh sama pendirian kamu. Biar gue yang pindah, biar gue bisa lihat wajah kamu. Okei?"
Zaina menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Ngomong di situ atau nggak ngomong sama sekali!" marah Zaina membuat Mahen urung untuk pindah tempat duduk dan tetap di tempatnya.
"Zaina ... gue beneran minta maaf banget sama lu," ucap Mahen sambil berbisik kecil, supaya Restu nggak dengar omongan mereka. "Untuk masalah yang tadi, gue beneran ngaku kalau gue salah. Tapi waktu itu Restu sendiri yang maksa gue buat cerita. Dia sampai nangis dan kamu tuh tau sendiri kan kalau gue nggak bisa ngeliat perempuan nangis. Yang ada nggak tega. Jadi, gue terpaksa buat cerita. Gue beneran nyesel banget kalau inget ini. Jadi, gue minta maaf banget ya sama lu."
Zaina mengepalkan tangan.
"Jangan diem gini aja Zaina. Bukannya kamu bilang sendiri kalau kita nggak boleh marahan lagi? dan kita juga baru saling maaf-maafan jadi jangan marah lagi ya. Gue bener minta maaf. Gini aja deh, kamu mau apa? biar aku beliin. Biar aku kasih kamu sesuatu. Asal kamu jangan marah lagi."
"Gue udah punya semuanya."
Mahen menghela napas dalam.
"Apa aja deh ... gue tahu kalau lu udah punya semuanya. Tapi kan kalau di beliin laki-laki lain atau orang lain pasti rasanya beda kan? jadi lu bisa suruh gue gitu. Apa saja. Beneran deh. Karena biasanya perempuan suka di beliin apa pun sama laki-laki lain."
"Dan jangan samakan perempuan itu sama gue!"
"Iya ... gue tahu kalau lu berbeda dari perempuan lain. Terus apa dong yang harus gue lakuin? biar lu maafin gue. Gue tuh beneran ngerasa nggak enak banget. Jadi, tolong maafin gue ya. Gue beneran nggak akan tenang kalau lu masih gak maafin gue."
Mahen membenarkan posisi duduknya.
"Gimana kalau gue kasih lu satu permintaan? lu bisa minta apa aja sama gue. Bebas."
Zaina yang sejak tadi merasa malas langsung terhenyak. Permintaan yang sangat menguntungkan untuk dirinya. Zaina berusaha mengingat list yang bisa ia lakukan sama Mahen dan ia bisa mencentang list itu dengan memakai satu permintaan yang dikasih sama Mahen.
Terdengar menarik kan?
Zaina menoleh dan berusaha nggak terlihat kalau dia sangat tertarik dengan omongan Mahen. Ia sengaja masih acuh dan menatap malas pada Mahen.
"Beneran tuh?"
Mahen mengangguk dengan semangat. "Beneran! gue bakal kabulin aja apa yang lu mau. Gue bakalan kasih apa pun asal gue maafin. Jadi, lu mau apa?"
"Nggak sekarang."
"Hah?"
"Iya ... gue butuh nanti. Gue nggak butuh sekarang. Nanti kalau gue udah butuh, gue bakalan minta sesuatu sama lu dan saat itu, gue harap lu bakalan kabulin apa pun yang gue mau."
Mahen refleks menggenggam tangan Zaina dan mengangguk.
"HEH! APAAN TUH!" seru Restu yang sejak tadi berusaha menajamkan pendengaran untuk mendengar perbincangan mereka. Tapi dia nggak mendengar apa-apa sama sekali dan sekarang dia malah melihat Mahen menggenggam tangan Zaina. Dia nggak terima lah dan langsung saja berdiri untuk menghampiri mereka.
"Nggak ada ya saling pegangan kayak tadi!" marah Restu yang menarik kasar tangan Mahen dari tangan Zaina. "Dan lu, jadi perempuan gatel banget. Udah jadi mantan aja, masih kayak gini. Idih ... geli banget gue mah."
Zaina menarik napas dalam sambil menggeleng membuat Mahen menatap khawatir. Baru saja dia di maafkan sama Zaina. Tapi Restu malah berulah. Ia menatap tajam ke Restu, tapi nggak berani marah sama sekali.
"Buat Restu ... ini gue yang megang tangan Zaina dulu loh," seru Mahen dengan suara tertahan. "Tapi, kenapa kamu malah marah ke Zaina?"
"Memang perempuan lu aja yang cemburuan sama gue," tawa Zaina. "Tenang aja mbak ... gue nggak bakalan suka lagi sama pacar lu. Gue nggak bakalan pernah kembali sama yang jadi masa lalu gue."
"Tapi dia bukan—
"Ya iyalah!" sela Restu lagi. "Yang ada lu nggak punya hati kalau masih mau sama Mahen. Sama laki-laki yang udah lu lukain segitunya."
Zaina tergelak. Beneran nggak paham sama Restu. Baru aja kenal, tapi udah sok dekat. Sekalinya pura-pura dekat, itu perempuan malah kelihatan cemburu banget. Alah, Kalau Zaina lagi nggak sakit dia bakalan tertawa kencang di depan wajah perempuan itu. Masalahnya, untuk ketawa aja perutnya sangat sakit. Jadi, dia nggak bisa apa-apa selain tertawa di dalam hati.
"Restu ... lu nggak perlu sok deket kok sama gue. Apa lagi untuk ngebuktiin kalau lu bisa deket sama mantan Mahen. Atau karena lu mau sombong karena sekarang gue nggak deket lagi sama Mahen, tapi lu yang deket. Gue beneran gak peduli dan nggak pernah ngerasa cemburu sama sekali. Beneran deh. Lu yang nahan cemburu kayak gini malahan keliatan lucu di depan mata gue!"
"..."
"Lu kira dengan lu yang kayak gitu bikin gue cemburu?" sentak Zaina lalu tertawa dan menggeleng. "Nggak ... beneran deh. Gue nggak iri sama sekali. Tingkah lu malah jadi bahan ketawaan di hidup gue. Karena apa? lu sama aja kayak ngundang masuk musuh ke hidup lu."
"..."
"Gimana kalau sekarang Mahen masih suka sama gue atau gue yang masih suka sama Mahen? gue bakalan gampang buat rebut Mahen dari hidup lu. Tapi apa? nanti lu sendiri. Nanti lu nangis. Males ah gue ladeninnya. Karena gue sangat yakin kalau gue secara nggak langsung lukain lu. Lu tipe orang yang bakalan umbar kesalahan gue dan cari pembelaan di luaran sana."
Restu menunduk, ia menelan saliva. Merasa terkejut karena Zaina mampu menebak semuanya sampai sedetail ini. Dia beneran terkejut banget.
"Dan satu ya Restu ... jangan pernah cari masalah sama gue. Mungkin karena selama ini gue diem aja, atau karena masalah gue kemarin tuh diem aja. Jadi, lu ngerasa kalau gue nggak berbahaya. Tapi enggak ... kalau lu macem macem sama gue. Gue bakalan bales semuanya. Hmm ... atau yang lebih parah gue bakalan main main sama perusahaan lu ya? kayaknya seru ..."
Zaina pura-pura berpikir kemungkinan keuntungan yang akan ia dapat nantinya.
"Duh ... kayaknya seru banget. Ini mah perusahaan lu bisa ketindes banget. Kalah jauh ..."
CEKLEK!
Zaina menoleh. Akhirnya orang yang dia tunggu-tunggu datang. Sementara itu, Ghaly masih memegang kenop pintu dan menatap mereka semua dengan bingung. Kenapa mereka semua kelihatan canggung kayak gitu? Sedikit aneh dan membingungkan.
"Kalian kenapa pada diem aja?"
Zaina menggeleng dan menyuruh Ghaly cepat untuk menghampirinya dan saat Ghaly datang, Zaina langsung menggenggam tangannya.
"Nah ... udah ada yang nemenin gue kan. Jadi, kalian silakan pergi aja. Toh, kalian mau pergi kan? eh malah harus kesini. Jadi, makasih ya. Makasih karena udah nyempetin datang walau rasanya gue masih kesel sama lu!"
Ghaly menatap bingung, begitu menoleh pada Restu yang balik menatap tajam. Membuat Ghaly sedikit paham sama apa yang terjadi. Apa lagi cengkraman tangan Zaina di tangan dia masih terasa membuat dia yakin kalau ada sesuatu yang terjadi di sini.
Sementara itu Mahen menatap aneh pada kedatangan Ghaly terutama pada tangan Zaina yang melingkar di tangan laki laki itu. Ia sedikit nggak suka. Tapi Mahen bisa apa? selain menghela napas.
"Kalau kayak gitu, gue pamit dulu ya Zaina dan gue minta maaf kalau kedatangan gue malah nambah keributan aja dan sekali lagi gue minta maaf. Untuk yang tadi, lu bisa kapan aja minta langsung sama gue. Karena gue bakalan iyain apa pun yang lu pinta."
Zaina mengangguk dengan malas, "makasih ..."
"Udah lah, kita cepetan keluar!" seru Restu sambil memandang tajam Zaina dan menarik paksa Mahen keluar sampai pintu tertutup rapat. Baru Zaina bisa bernapas dengan lega.