Love In Trouble

Love In Trouble
Rencana Mulai Berjalan



1. Meminta maaf pada Mahen dan berjalan seperti biasanya.


Zania menarik napas dalam. Permintaan yang pertama aja sudah sangat susah menurutnya. Dia berdecak kesal. “Kenapa minta maaf sama Mahen harus ada di urutan yang pertama sih? Ah elah ... susah dah ini mah. Mau pergi ketemu sama anak aku aja di atas sana, messti lewatin hal yang susah kayak gini. Duh elah ...”


Zania mengeluarkan sebuah foto dirinya sama Mahen di masa lalu. Ia memandang lekat-lekat. Wajahnya tersenyum sangat tipis. Sebelum ia beranjak ke arah tong sampah dan membuang nya.


“Nggak ada alasan lain untuk nyimpen foto Mahen. Kalau sampai dilihat orang, yang ada aku di panggil orang gagal move on,” ucapnya lalu tertawa tipis.


Ia terdiam, memandang beberapa foto Mahen sama dirinya yang sudah berakhir di tempat samah. Semua kenangan terasa memutar di benaknya. Kenangan indah sekaligus buruk yang ingin dia lenyapkan.


“Ah ... sayang banget sih, keberadaan Mahen waktu itu bener-bener buat hidup aku jadi bermakna. Dia yang ngajak aku keluar dari lubang hitam,” ucapnya pelan. “Walau sekarang dia juga yang ajak aku masuk ke lubang hitam itu lagi dan semakin terperosok semakin dalam.”


Zaina memekik pelan dan berakhir menghela napas. Ia pukul-pukul kepalanya, berharap semua kenangan itu lenyap di benaknya.


“Aish ... susah, susah, susah,” lanjutnya dengan kesal sambil menghentakan kakinya. “Ayo Zaina ... ingat kalau Mahen udah punya cewek lain. Mahen udah lupain semua kenangan kita. Mahen udah pergi dari masa lalu dan sekarang cuman bisa beranjak ke masa depan,” ingat Zaina untuk dirinya sendiri.


“Masa kamu mau tenggelam sendirian di masa lalu!” seru Zaina


Hatinya sangat nyeri tapi ini nggak bisa di lupakan semudah itu. Zaina mendengus dan mengepalkan tangan seraya meloncat kesal. “Lupa! Lupa! Lupa!”


Setelah terus berperang sama dirinya sendiri. Akhirnya Zaina memilih kembali duduk di meja kerjanya dan membaca lagi surat yang dia punya. Ia berdecak membaca baris kedua yang dirinya tulis sendiri di masa lalu.


2. Kembali rukun sama Ghaly, tanpa bawa masa lalu


Perempuan itu membacanya sambil mengangguk kecil. Tidak terlalu sulit. Zaina mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja dan langsung saja menghubungi Ghaly. Tanpa menunggu lama, Ghaly langsung mengangkatnya dari seberang sana.


/Ada apa mbak? Mbak butuh sesuatu?/ tanya Ghaly dari seberang sana dengan sangat khawatir


Zaina terkikik dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Masih dengan posisi menelepon Ghaly. “Ini di luar jam kerja, kalau kamu ingat. Jadi nggak usah panggil mbak, ih! Kebiasaan tau nggak sih,” ucap Zaina dengan pura-pura kesal.


/Ya kan ... gue kira lu nelepon di luar jam kerja juga buat bahas kerjaan. Jadi harus formal dong. Jadi, ada apa? lu butuh sesuatu?/


Zaina terdiam, “Lu beneran udah maafin gue kan?”


/Maafin apa?/ batin Ghaly dengan bingung dari seberang sana. /Lu ada salah sama gue. Ini nggak lagi ngomongin masa lalu lagi kan? Bukannya lu sendiri yang ngomong nggak mau bahas masa lalu lagi? Jadi ... tumbenan banget nanya kayak gini./


Zaina menghela napas dalam. Tumbenan banget? Zaina mau tertawa mendengarnya. Bahkan sampai detik ini dia nggak pernah absen untuk memikirkan anaknya dan masa lalu. Bahkan sampai detik ini ia masih tenggelam sama apa yang terjadi di masa lalu. Jadi, nggak ada yang tumbenan. Kali ini dia hanya menceritakan saja dan membagi pikirannya sama yang lain.


/Zaina kenapa? Kenapa malah diam aja? Nggak ada yang mengganggu kamu kan? Jangan buat khawatir kayak gini dong,/ panggil Ghaly dari seberang sana dengan sangat khawatir.


“Hahaha enggak kok ... oh tentang tadi. Tiba-tiba aku lagi kepikiran yang dulu aja dan aku rasa, aku cukup punya banyak sikap jahat ke kamu. Aku pasti buat kamu terluka banget kan? Makanya aku minta maaf. Puncaknya, aku malah hilangkan anak kita yang harusnya tumbuh. Yang harusnya sekarang aku lagi hamil besar. Tapi, karena aku yang nggak bisa jaga anak. Anak kita malah pergi ninggalin kita.”


/Zaina ... kok ngomongin ini lagi sih? Sudah lah kita harus merelakan anak kita pergi dari dunia ini. Ini semua udah takdir dan gue nggak ada nyalahin lu sama sekali. Jadi, nggak usah ngerasa gue ini marah. Karena ini juga salah gue./


“Kenapa jadi nyalahin diri lu sendiri?”


/Iya dong ... kalau gue bisa jadi ayah yang baik untuk anak kita dan bisa jaga anak kita, pasti lu nggak akan kayak kemaren. Tapi balik lagi, ini semua udah takdir. Juga ... dunia ini terlalu jahat untuk anak kita. Gue nggak mau ada sesuatu yang terjadi kalau kita memaksakan hal yang seharusnya memang sudah pergi. Jadi ... ikhlaskan saja ya./


Zaina menarik napas dalam. Nyatanya kata ikhlas nggak segampang yang di ucapkan dan benar-benar ikhlas nggak akan pernah Zaina rasakan.


Dia nggak akan melupakan keberadaan anaknya.


Sampai maut menjemputnya atau dia sendiri yang mendatangi maut.


Sampai itu, dirinya nggak akan pernah melupakan janin yang pernah berada di perutnya.


“Kamu sudah ikhlas? Segampang itu? Gimana caranya ... bahkan sampai detik ini aku belum bisa ikhlas sama sekali. Sulit. Ngeliat anak kecil aja rasanya aku masih di penuhin rasa bersalah.”


/Zaina ... kamu baik-baik saja?/ tanya Ghaly yang khawatir mendengar Zaina seperti ini.


“Ah ... kata baik-baik aja udah lama hilang dari hidup aku. Kenapa nanya gitu?”


/Zaina ... kita ketemuan yuk. Ini orang tua kamu baru aja ngehubungin gue dan ngasih tau kalau mereka ada urusan di luar kota. Yang artinya lu cuman sendirian di rumah kan? Jadi, dari pada sedihnya sendirian. Gimana kalau kita ketemuan aja dan bagi kesedihan bersama. Kdengaran seru kan?/


Zaina terdiam.


/Ayo Zaina ... gue yang jemput ke rumah lu deh. Tapi jangan nangis sendirian, gue mohon. Lu masih punya orang yang banyak sayang sama lu, yang nggak mau ngeliat lu sedih apa lagi nangis dan salah satunya gue./


“Kalau lu nggak mau ngeliat gue nangis, tapi kenapa lu malah ngajak gue buat ketemu? Bukan nya mendingan lu nggak perlu ngeliat gue yang nangis kayak gini? Jadi ... gue nangis di rumah sendirian juga nggak masalah kok.”


/No! Nggak boleh ada yang sedih sendirian di sini. Gue emang nggak suka lihat lu nangis. Tapi gue lebih nggak suka ngeliat lu nyimpen semuanya sendiri. Masih ada gue. Kita berdua sedikit punya nasib yan sama. Kita berdua sama-sama kehilangan. Jadi, nggak usah ada yang nyimpen semuanya sendiri. Kita harus sedih bersama./


“Mana ada kayak gitu?” seru Zaina seraya terkekeh. Zaina super sadar kalau Ghaly benar benar khawatir sama dirinya sampai memaksa untuk bertemu. Dengar aja suaranya yang khawatir. Dan karena itu hatinya sangat menghangat. Karena ... masih ada yang peduli sama dirinya sendiri. Setelah kemarin dia di babat habis sama keluarganya sendiri.


/Ada Zaina. Jadi kita ketemu yuk. Lu mau kemana? Gue jabanin deh. Mau ke tempat yang tenang. Hayuk, gue tahu kok tempatnya. Gimana?/


“Ya udah deh,” putus Zaina membuat perempuan itu mendengar helaan napas lega dari seberang sana. “Jemput gue ya.”


/Siap tuan puteri. Gue bakalan jemput sekarang. Asal lu jangan nangis sendirian./


“Hmm ...”


***


Suasana yang sepi membuat Zaina memekik riang dan berakhir berdiri di depan Ghaly yang sejak tadi hanya menyilangkan tangan di dada, tersenyum tenang melihat Zaina yang girang seperti ini.


Seperti janji Ghaly tadi, laki-laki itu benar menjemput Zaina di mansionnya. Padahal rumah mereka benar-benar sangat jauh. Tapi Ghaly jabanin dan akhirnya Ghaly membawa Zaina ke sebuah pantai yang memang terkenal sepi dan jangan di datangin banyak orang karena mereka harus bayar dengan nominal yang cukup besar.


Ghaly melompat kecil di depan Ghaly.


“Makasih karena udah bawa gue ke sini. Gue beneran seneng banget,” adu Zaina


Ghaly mengacak rambut perempuan itu dan terselip rasa bahagia, karena dia berhasil membuat wanitanya jadi senang bukan main.


“Lu bahagia?”


Zaina mengangguk.


“Mumpung sepi ... gimana kalau lu teriak, keluarin semua uneg-uneg yang ada di hati lu. Keluarin aja. Di sini lagi nggak ada orang, nggak bakal ada yang denger. Jadi, mendingan lu keluarin baru gue yakin hati lu bakalan lega banget.”


Zaina mengerjap. “Beneran nggak ada orang?”


Ghaly mengangguk.


Laki-laki itu menautkan jari lengan mereka sebelum berlari membawa Zaina ke tepi pantai dan berdiri di sana. Membiarkan kaki mereka tersapu ombak sesekali. Ia menarik napas dalam dan memejamkan mata.


“Kenapa semua orang jahat sama Zaina!” pekik Ghaly membuat Zaina terkejut dan menoleh pada laki-laki di sampingnya. “Jangan pernah ada yang jahat sama Zaina! Lukain saja gue. Karena gue di sini juga salah!” lanjut Ghaly membuat Zaina menepuk kesal laki-laki itu.


“Eh apaan sih mulutnya,” kesal Zaina sambil menggeleng kecil.


Ghaly membuka matanya.


“Kenapa? Memang itu yang buat aku nggak nyaman akhir-akhir ini. kenapa semua orang selalu aja nyalahin lu. Padahal di sini kita ngejalanin hidup berdua. Tapi, kenapa cuman lu yang di salahin doang? Ini nggak adil. Harusnya mereka juga nyalahin gue. Bukan cuman lu doang.”


Tenggorokan Zaina terasa tercekat.


“Gue laki-laki, gue pemeran utamanya, gue yang ajak lu ke lubang hitam itu. Gue yang udah buat lu masuk ke hubungan yang buruk dan puncaknya gue malahan buat lu sampai hamil tapi gue malah ninggalin lu sendirian. Gue nggak peduli sama keadaan lu. Ngebiarin lu hadepin semuanya sendiri.”


“...”


“Tapi setelah kita ketemu lagi. Gue malahan bocorin berita lu ke media. Rasanya gue beneran jahat banget sama lu. Gue udah ngelukain lu banyak banget. Gue yang buat lu di hujat sama semua orang. Tapi sekarang? Hidup gue malah di tolong sama orang yang udah gue jahatin. Makanya, gue ngerasa suka sedih dan marah sama diri sendiri. Ya ampun ... gue juga muak banget sama orang yang udah jahat sama lu. Karena lu nggak pantaes. Gue yang paling pantes mendapatkan balasan di sini.”


Zaina menggigit bibir bawahnya.


“Gue juga kadang sakit kok, Zaina. Belum sempet jaga anak yang mulai gue sayangin, eh gue malah kehilangan. Tapi balik lagi, lu bisa ngebayangin nggak sih gimana kalau anak kita lahir di sini dan mereka malah menghujat anak kita? Atau anak kita yang mulai tumbuh, tapi orang tua dari temannya terus mengungkit masalah ini sampai buat anak kita jadi sedih banget. Jadi, ini salah satau pemikiran yang buat gue jadi ikhlas.”


“Ya ... walaupun nggak ikhlas sepenuh itu,” lanjut Ghaly lalu tertawa kecil.


“Ghaly? Lu baik-baik aja kan?”


Ghaly menggeleng sambil menatap Zaina. “Gue beneran bakalan baik-baik aja kalau lu juga baik-baik aja. Jadi, gue harap lu selalu baik-baik aja ya Zaina. Bagi semuanya sama gue.”


Zaina menunduk.


“Sakit Ghaly,” ucap Zaina sambil meringis dan mulai menitikkan air mata. “Keluarga aku sendiri. Oma aku sendiri bilang beruntung karena anak kita meninggal. Mereka malah besyukur di atas kepedihan hati aku. Mereka sama sekali nggak mikirin perasaan aku. Mereka nggak tau gimana sakitnya aku pas anak aku pergi. Tapi, kenapa mereka malah bersyukur?”


“Zaina ...”


Ghaly menutup wajahnya dan menggeleng.


“Kita salah, tapi kita juga bisa dapetin kesempatan kedua kan? Aku juga nggak butuh belah kasih mereka kok. Aku lebih seneng mereka yang nggak peduli sama hidup aku dan milih diem aja. Aku lebih bersyukur kok kalau gitu. Dari pada mereka malah ngomong kayak gitu.”


Zaina mengepalkan tangan di sisinya.


“Aku mati-matian untuk bangkit loh. Tapi, kenapa akhir-akhir ini banyak banget orang yang mau bercanda sama aku?” tanya Zaina.


“Keluarin semuanya ...” Ghaly mengangguk. Ia menatap mata Zaina dengan lembut. “Gue ada di sini. Jadi keluarin semuanya ya.”


Zaina menelan saliva. Sangat sesak. Lagi dan lagi ia malah menangis di depan orang lain. Padahal dia sudah berjanji untuk nggak nangis lagi. Tapi beneran sulit. Dia nggak bisa.


“Ghaly ... kapan aku bahagianya? Aku cukup muak tinggal di sini.”


Ghaly juga nggak tahu harus menjawab seperti apa.


Tiba-tiba saja Zaina melepas genggaman tangan mereka dan menatap ke arah depan. “GUE CAPEK!” teriaknya kencang. “Gue juga mau bahagia. Gue mau kayak orang lain yang jalanin hidup tanpa beban. Gue juga mau semudah itu lupain masa lalu. Tapi nggak bisa ...”


Tubuhnya luruh, Zaina membiarkan tubuhnya tersapu ombak kecil.


Melihat itu Ghaly ikutan berlutut dan dengan perlahan memeluk tubuh Zaina. Tak ada penolakan sama sekali. Ghaly menepuk punggung Zaina dan perempuan itu semakin terisak kencang di pelukannya.


Ghaly memejamkan mata, menahan air mata yang memaksa keluar. Hatinya juga benar-benar sakit mendengar wanitanya menangis seperti ini.


“Ada gue ... gue akan selalu di sini.”