Love In Trouble

Love In Trouble
Memintanya Datang



"Ya ampun ... ternyata kita udah menyalahkan orang yang salah ya mas," gumam sang mommy setelah mendengar semua cerita dari suaminya. Ia sangat terkejut kalau dalang di balik peristiwa ini karena wanita itu yang hanya iri sama anaknya. "Mas ... selanjutnya kamu bakalan apa? Kamu gak mungkin diam aja kan?"


"Tenang sayang, mas akan main rapih dan diam-diam akan menghancurkan wanita itu."


"Tapi ... jangan bilang sama Zaina ya," ucap mommy Zaina lagi. "Kamu tahu kan seberapa lapang dan luas hati anak kita sampai kadang nggak mau melihat orang lain tersiksa. Aku nggak mau kalau Zaina masih baik aja di saat masih banyak orang yang jahat sama dirinya."


"Tenang aja sayang, untuk saat ini aku nggak akan bilang sama Zaina dulu."


Crklek.


Dua orang tua Zaina langsung bungkam dan melihat Zaina keluar dari kamarnya. Mommy Nadya menatap tertegun saat melihat kantung mata anaknya yang benar-benar ada dan menghitam. Menandakan anaknya nggak pernah tidur sama sekali.


"Nak ... kamu butuh sesuatu?"


Zaina menggeleng dan mendekat. Ia duduk di sofa sebelum tiduran, menggunakan paha mommy Nadya sebagai bantalan nya. Mommy Nadya langsung mengusap rambut anaknya.


"Anak mommy lagi nggak cantik nih!" gumam mommy Nadya. "Pasti kamu belum tidur sama sekali kan? Kamu nggak lupa kan kalau mommy berulang kali bilang sama kamu untuk istirahat. Tapi apa ini?!"


"Iya nak," tambah daddy Zidan. "Daddy kan udah berulang kali bilang kalau kamu nggak usah mikirin masalah ini. Ini semua biar daddy yang urus. Atau kamu mau Ghaly datang ke sini? Biar kamu ada temen bicara."


Zaina menggeleng.


"Buat mejemin mata aja aku nggak bisa dad. Aku beneran nggak bisa tidur. Kayak yang nggak tenang aja. Ya walau akhirnya bakal ketiduran. Tapi nggak apa-apa deh dan Ghaly nggak perlu datang ke sini."


"Kenapa? Kalian lagi marahan?"


"Ih enggak! Pasti kan karena aku nggak pernah datang ke kantor. Ghaly jadi urus semua kerjaan. Aku nggak mau nambah kerjaan Ghaly karena ini. Kasihan dia. Dan juga di depan kadang masih ada awak media. Aku nggak mau kalau Ghaly terganggu karena mereka semua."


Zaina cemberut.


"Lagian kenapa mereka terus ada di sini sih? Sampai kapan pun juga, aku nggak akan pernah keluar dan klarifikasi sama mereka. Aku juga sengaja matiin semua telepon aku. Aku gak mau di ganggu sama siapa-siapa!"


Mommy Nadya menggigit bibir bawahnya.


"Tapi ... kamu baik-baik aja kan, nak?"


Dengan tegas Zaina mengangguk.


"Aku baik baik aja kok, mom. Mommy tenang aja dan juga, aku cuman butuh angin segar aja. Makanya kadang aku tuh baru bisa keluar kalau malem banget. Pas semua wartawan udah pada pergi. Selebihnya, mommy nggak perlu panik atau khawatir sama keadaan aku. Aku baik-baik aja kok."


Tidak ada kelegaan di wajah mommy Nadya.


Dia selalu melihat sisi anaknya yang seperti ini dan dirinya nggak mau sampai mengeluarkan kata kasar hanya untuk ini. Ia nggak mau ikut emosi melihat anaknya yang masih aja menahan semua kesedihannya.


"Ya sudah ... tapi jangan lupa buat cerita sama mommy ya. Nanti malem, mommy bakalan datang ke kamar kamu buat nanya perasaan kamu."


"Iya mom ..."


Untuk sesaat tidak ada yang saling bicara. Hanya suara ketikan dari keyboard yang beradu saja yang terdengar dari sang daddy yang masih menyempatkan diri untuk bekerja. Mereka sibuk dengan urusan dan pemikiran masing masing.


"Zaina ... kamu masih memiliki harapan sama Mahen?"


Zaina melirik pada daddynya. Jantungnya langsung berdegup kencang, mencari fakta yang terjadi. Dia terus mengorek hatinya sampai perasaan berdegup membuat dia sadar. Kalau mendengar namanya saja masih mampu buat dirinya berdegup.


"Aku nggak tau," dusta Zaina. "Memangnya kenapa dad? Daddy butuh sesuatu kah? atau gimana?"


Daddy Zidan menarik napas dalam.


"Daddy hanya mau tau bagaimana perasaan kamu yang sebenarnya. Karena daddy nggak ingin melihat kamu udah lupa gitu aja sama masa lalu kamu. Di saat masalah ini masih berkaitan dengan Mahen. Nggak hanya itu, ada yang harus daddy urus kalau faktanya kamu masih cinta sama Mahen."


Zaina mengangkat bahu acuh.


"Kalau aku masih punya perasaan sama mas Mahen juga nggak ada jalan lagi kan?" gumam Zaina dengan suara yang sangat kecil. "Kita semua udah punya jalan masing-masing dan nggak bisa memaksa keadaan sama sekali. Sekarang aja Mahen nggak ada tuh inisiatif buat hubungin aku untuk masalah ini."


"Eh," seru Zaina yang ingat sesuatu. "Nggak tau juga deh, soalnya kan aku juga yang nggak nyalain HP. Aku masih terlalu takut. Tapi ... mau gimana pun, aku nggak bisa gapai semua keinginan aku kan? Karena kenyataannya, sekarang Mahen udah sama perempuan lain."


"..."


"Jadi, buat mommy sama dadsy. Jangan terus inget masa lalu atau jodohin aku sama Mahen ya. Karena masih ada hati perempuan lain yang harus di jaga dan aku nggak mau menyakiti hati dia. Jadi tolong berhenti ..."


"Nak, kamu tahu kan siapa yang buat kamu kayak gini?" tanya mommy Nadya membuat Zaina bungkam dan hanya bisa menunduk sembari sesekali mengangguk. "Kamu tahu kan kalau Restu yang udah buat kamu di posisi serba salah. Dia udah ngebohongin banyak orang, demi nama dia sendiri dan ngebiarin kamu malah dihujat."


Mommy Nadya memijit keningnya dan menarik napas dalam.


"Kamu nih sebenarnya sadar nggak sih. Kenapa kamu masih mikirin perasaan perempuan lain, di saat dia sendiri nggak pernah mikirin perasaan kamu? Udah lah ... mommy marah sama kamu."


Zaina bangkit dari tidurnya dan duduk di samping sang mommy.


"Bukannya mommy sama daddy sendiri yang nyuruh aku buat jadi orang baik?" gumam Zaina sambil menarik napas dalam. "Aku ... cuman nggak mau nambah masalab aja. Kalau memang aku egois, aku bakal rebut Mahen kok dan nggak akan biarin perempuan itu buat dekat lagi sama Mahen. Tapi, balik lagi. Aku yakin banget kalau semakin banyak yang hujat aku kalau aku ngelakuin itu."


Zaina menyokong tubuhnya dengan dua tangannya. Sedikit menyandar ke belakang dan menatap jauh ke arah depan. Dia menarik napas kecil seraya tersenyum tipis.


"Aku tuh punya bayangan."


"Bayangan?"


Perempuan itu menyentuh hatinya yang sangat terluka.


"Aku tuh kadang nggak paham, kenapa mereka jahat banget sama aku. Dan yang bikin aku sedih. Karena masalah ini, aku jadi nggak bisa bergerak bebas sampai datang untuk nemuin makam anak aku."


Zaina menarik napas dalam.


"Padahal tiap minggunya aku harus datang, tapi karena masalah ini. Aku jadi nggak bisa bergerak bebas. Makanya aku mau masalah ini cepet selesai dan nggak mau lagi berurusan sama mereka."


Daddy Zidan menatap khawatir.


"Kan kasihan dad, anak aku sendirian di atas sana dan lihat kondisi aku yang kayak gini. Aku cuman mau datang ke makam dan ngomong sama anak aku kalau semuanya baik baik aja."


"Iya ... daddy akan selesaikan secepatnya ya. Kamu tenang aja. Nanti kita ke makam bareng-bareng."


"Beneran dad?"


Daddy Zidan mengangguk. Berusaha menenangkan sang anak.


"Daddy hanya butuh jawaban kamu aja dan memang kamu masih memiliki perasaan sama Mahen. Tapi karena takdir yang membawa kamu kayak gini, buat kamu jadi nggak bisa apa-apa selain menahan diri. Kalau gitu ... buat sekarang, kamu nggak usah urus semuanya. Biar daddy yang lanjutin sisanya."


"Daddy?"


"Sudah ... jangan khawatir. Biar daddy yang urus sisanya. Sekarang kamu masuk kamar dan tidur."


Walaupun bingung, Zaina menurut. Dia beranjak masuk ke dalam kamar. Perempuan itu duduk di pinggiran kasur dan menghela napas kasar.


Ia memandang kasur yang terlihat sangat nyaman itu.


"Aku juga mau tidur, tapi ... nggak bisa."


***


"Saya sudah mengetahui semuanya. Jadi, kamu nggak perlu mengelak sama sekali. Bagaimana Mahen? Kamu laki-laki kan? Kalau laki-laki tidak seharusnya kamu hanya duduk diam saja tanpa membereskan masalah ini."


Daddy Zidan mendengar suara jatuh dari seberang sana yang terdengar sangat nyaring. Daddy Zidan meringis. Pasti Mahen sangat terkejut karena dirinya yang tiba-tiba saja menelpon dan mengatakan kalau ia tahu semuanya di tengah masalah ini.


"Om?"


"Bukan seperti ini caranya Mahen. Kalau kamu memiliki wanita yang kamu cintai. Kamu nggak cukup memandang dari jauh saja. Kamu harus berusaha untuk dekat sama dia. Jangan pernah menyerah karena ancaman apa pun. Karena wanita nggak suka melihat laki-laki nya yang seperti itu. Kamu harus usaha kalau kamu masih cinta sama anak saya."


Di seberang sana, Mahen hanya terus terkejut mendengar omongan orang tua Zaina.


Baru beberapa saat yang lalu, dia di marahi sama orang tua Zaina. Sampai seolah orang tua Zaina nggak memberi restu sama sekali. Dan sekarang dia malah di izinkan untuk dekat sama anaknya lagi?


Mahen ... merasa dia salah dengar?


"Om? aku nggak salah denger kan. Kenapa om bisa tahu semuanya dan siapa yang ngasih tau?"


"Kamu nggak perlu tahu. Dan karena ancaman dari wanita itu, kamu jadi menjauh anak saya dan menyakiti hati anak saya? Kamu paham nggan sih kalau anak saya cinta sama kamu? dan nggak seharusnya kamu malah menjauh seperti ini. Memangnya kamu nggak kasihan sama Zaina?"


"Tapi ... video itu? Aku nggak mau membahayakan Zaina, om. Kalau aku nggak bisa buat Zaina seneng. Seenggaknya aku bakalan terus berusaha supaya Zaina nggak sedih lagi. Udah cukup sama semua kesedihan di hidup Zaina. Aku beneran takut kalau Restu semakin bertingkah kalau aku datang nemuin Zaina."


"..."


"Walau, aku mau banget," seru Mahen dengan sangat semangat. Jujur dari hatinya yang paling dalam.


"..."


"Aku mau nemuin Zaina sekarang juga. Aku mau ketemu dan nenangin Zaina. Tapi, sedikit berontak aja kayak kemarin. Restu udah nekat ngelakuin ini. Makanya, aku mau minta maaf sama om. Harusnya kemarin aku nggak marah sama Restu. Dan Restu akhirnya enggak keluarin pernyataan kayak gini. Aku beneran minta maaf banget sama om."


"Sudah lah ... saya yang harusnya minta maaf ke kamu. Karena masalah ini kamu jadi menahan diri demi membela anak saya. Tapi dengan tidak tahu dirinya saya malah marah sama kamu. Padahal kamu udah usaha supaya anak saya nggak tersakiti lagi."


"Nggak apa-apa om, om seorang ayah. Yang pasti mau berusaha yang baik untuk anak om. Jadi, wajar kalau om ngelakuin banyak cara untuk anak om. Termasuk ke aku yang memang waktu itu mencurigakan."


"Sudah ... tidak apa-apa. Yang penting sekarang kamu ada itikad baik. Terima kasih dan sekarang saya mau nanya sama kamu. Kamu masih ada perasaan sama anak saya?" tanya daddy Zidan dengan tenang.


Berbanding terbalik dengan Mahen di seberang sana yang udah sangat gugup.


Pasalnya dia nggak tahu, daddy Zaina menanyakan seperti ini memang untuk menguji dirinya atau menyindirnya? Mahen berusaha memikirkan jawaban terbaik supaya daddy Zaina nggak tersinggung sama jawabannya.


"Jawab saja Mahen, karena saya lebih suka kamu jujur dari pada membohongi diri kamu. Dan jujur kalah kamu lakuin ini karena memang cinta sama anak saya. Atau kamu cuman kasihan aja sama Zaina?"


"Tidak ada rasa kasihan sama sekali ke Zaina. Perasaan ini masih ada sampai titik ini, kalau aku boleh jujur. Dari dulu, aku sama sekali nggak pernah bisa jauh dari Zaina. Dulu aku hanya kecewa karena tuduhannya, tapi nggak tahu karena hal ini malah buat aku sama Zaina jadi sejauh itu."


"..."


"Dan sekarang, nggak ada hal lain yang bisa aku lakuin selain memberi kebahagiaan untuk Zaina. Karena aku sadar, udah nggak bisa deket lagi sama Zaina. Jadi, aku cuman mau menjaga Zaina dari jauh. Aku nggak mau ngeliat Zaina jadi sedih. Walau ini menyakiti hati kecil aku. Tapi, nggak masalah. Selama Zaina baik-baik aja, aku juga bakalan baik baik aja."


"Nggak bisa kayak gitu." Daddy Zidan menarik napas dalam. "Datanglah nak, datang ke sini. Temui Zaina."


"Tapi video itu?"


"Biar daddy yang urus. Kamu datang saja ke sini dan temui Zaina. Karena anak saya sama seperti kamu. Kalian masih saling mencintai. Jadi ... datang lah, nak."