
"Bunda beneran nggak suka sama pengganggu itu. Pemaksa dan arogan. Membuat anak bunda jadi nggak bisa apa-apa selain menurutinya. Bunda kadang kasian sama Mahen sendiri. Kenapa dia bisa terjebak sama perempuan itu. Tapi, balik lagi. Mungkin ini yang harus di terima sama Mahen. Jadi, bunda nggak bisa apa-apa selain ngebiarin Mahen selesaiin masalahnya sendiri."
Zaina tambah nggak mengerti.
"Ini maksud bunda tentang perempuan yang bernama Restu kah?"
Bunda Mahen mengangguk. "Kamu pasti denger kan dari berita? Bunda beneran misuh-misuh banget pas keluarga itu malah semakin macam-macam."
Ada banyak pertanyaan yang hinggap di benak Zaina. Apa lagi, ia melihat wajah emosi bunda Mahen yang benar-benar kentara banget.
"Kamu tahu nggak sih kalau Restu itu—
"BUNDA!"
Mahen datang dengan napas memburu dan menghela napas lega. Seolah lega karena bundanya nggak kelepasan mengatakan tentang Restu. Mahen menarik napas dalam dan menelen saliva.
"Katanya bunda mau ajak lihat gaun? itu Zaina juga kan? mau lihat gaun nya? kenapa masih di sini? ini bentar lagi hujan loh. Jadi, pada masuk yuk," ajak Mahen sambil buka pintu belakang dengan lebar.
"Ih kamu ganggu aja, lihat gaun masih bisa entaran. Masih ada waktu. Ada yang mau bunfa ceritain dulu sama Zaina."
"Bunda," rengek Mahen sambil menggeleng dan menatap melas pada bundanya.
"Kenapa sih, biarin aja. Biar Zaina tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini."
"Aku mohon ..."
Bunda Mahen berdecak dan akhirnya menghela napas pasrah sembari mengangguk. Membuat Mahen langsung mengelus dadanya.
Melihat itu Zaina menatap dengan bingung. Ia sangat yakin kalau ada yang disembunyikan sama mereka dan seperti nya masih ada hubungan tentang Restu. Tapi apa yang mereka sembunyikan? Kenapa juga Mahen harus halangin bundanya untuk berbicara?
Aish, Zaina kan jadi penasaran bukan main. Dia juga mau tau apa yang di tentang Mahen itu. Dia juga mau tau apa yang disembunyikan Mahen selama ini. Atau kejelasan hubungan antara Mahen sama Restu.
"Sudah lah nak Zaina ... kamu mau lihat gaunnya kan? kamu belum lihat sama sekali ya? mau lihat sekarang?"
Zaina mengangguk dan mengikuti langkah bunda Mahen yang sudah memasuki pintu belakang. Zaina menoleh pada Mahen yang masih berada dj pintu. Menatapnya penuh ingin tau, sebelum akhirnya dia sendiri yang melewati Mahen gitu aja.
***
Sebuah gaun impian dia saat itu terpampang nyata di mata Zaina. Perempuan itu menatap kagum gaun yang belum pernah ia lihat wujudnya dan hanya pernah dilihat dalam bentuk desain saja.
"Bagaimana ini?"
"Kenapa?" tanya bunda Mahen.
"Ini terlalu bagus. Ya ampun, ini nggak masalah kan bun kalau aku bawa gaun ini? bunda nggak marah kan? aku jadi nggak enak sama bunda. Bunda yang udah simpan selama ini. Tapi, aku malah bawa pergi gitu aja."
Bunda Mahen tertawa.
"Ngapain bunda marah? alesan bunda nyimpen ini semua kan karena takut kamu buang barang berharga ini. Walau pun sekarang udah nggak ada artinya. Tapi setiap barang di sana punya banyak kenangan bagi bunda. Jadi, karena bunda takut kamu buang ini semua. Bunda sengaja simpen kok. Jadi ... kalau udah waktunya, barang ini juga bakalan kembali sama pemiliknya."
Zaina menunjuk dirinya yang diangguki sama bunda Mahen.
Zaina berjalan mengitari satu kamar yang dikhususkan sama bunda Mahen untuk menaruh barang yang dulu menjadi benda pernikahan mereka. Ada gaun dan jas di sana. Tumpukan kartu undangan, bahkan sovenir sampai barang yang nah di kasih keluarga Mahen untuk Zaina.
Perasaannya campur aduk melihat itu semua.
Dengan melihatnya buat Zaina yakin kalau semuanya pernah ia lewati. Ada perasaan haru membayangkan dulu dirinya yang excited untuk melewati ini semua. Walau saat ini semuanya cuman kenangan.
"Bun ... boleh nggak sih aku marah sama takdir."
Bunda Mahen terdiam.
"Dulu ... pas aku nyiapin ini semua. Aku beneran bahagia banget dan nggak pernah khawatir sama sekali karena aku di kelilingi banyak orang baik dan aku masih punya anak aku yang menjadi sumber kekuatan aku. Tapi, sekarang? semua ini udah berlalu. Aku ... kadang suka marah sama takdir."
"Hey ... jangan nangis dong Zaina sayang."
Bunda Mahen membawa kepala Zaina ke ceruk lehernya dan mengusap punggung perempuan itu. Bunda Mahen ikut merasakan sakit hati yang di derita sama Zaina dan dia jelas tau kalau Zaina sudah melewati semuanya dengan sangat baik.
"Zaina ... wajar nggak sih kalau kita marah sama takdir? di saat kita selalu punya bayangan indah tentang hidup kita? di saat kita sendiri selalu punya ekspetasi tersendiri yang tentu aja bahagia? tapi takdir membawa kita ke arah lain dan berakhir buat kita hancur."
"..."
"Jadi ... menurut bunda sesekali kecewa sama takdir yang udah terbentuk itu nggak masalah sama sekali. Asal setelah itu kamu jangan sampai marah sama Tuhan. Karena mungkin ini menurut kita menyakitkan dan cuman bikin hancur saja. Siapa tau ada kebaikan di dalamnya? Kita ga tau kan? Toh ... pasti ada pelajaran di balik semua takdir yang di kasih Allah. Walaupun menyakitkan, tapi kita tetap harus berpositif thinking."
Bunda Mahen melepas pelukan dan menepuk pipi Zaina dengan sangat lembut.
"Buat sekarang ... jangan sungkan untuk cerita ya. Hubungan kamu sama Mahen memang udah selesai. Tapi kamu tetep bunda anggap sebagai anak bunda sendiri. Jadi sering main ya ke sini. Kalau lagi ada masalah jangan sungkan buat cerita sama bunda. Anggap aja bunda ini temen kamu."
"..."
"Walaupun bunda nggak janji untuk menyelesaikan masalah. Tapi, bunda janji akan menjadi pendengar yang baik untuk kamu."
Zaina memajukan bibir bawahnya. Benar-benar merasa terharu.
"Makasih banyak ya bunda. Maaf aku selalu ngerepotin dan makasih juga atas tawarannya."
"Hahaha sama-sama. Oh iya hari ini bunda belum masak. Jadi bunda sama ayahnya Mahen mau belanja makanan ke luar dulu. Kamu sama Mahen dulu, nggak apa-apa kan?"
Zaina berbalik dan matanya terbelalak.
"Eh ... memangnya bunda mau ke mana? kalau nggak ada bahan makanan, gimana kalau beli online aja? biar nggak usah keluar. Nggak usah ngerepotin gini."
"Nggak ada yang di repotin sama sekali!" tegas bunda Mahen yang selanjutnya memanggil Mahen dengan teriak. Tak lama Mahen datang.
"Kenapa bun?"
"Habis ini bunda sama ayah kamu mau keluar. Jadi, kamu jaga Zaina ya. Jangan di kamar mulu."
Mahen melirik pada Zaina dan akhirnya mengangguk.
"Iya bun ..."