Love In Trouble

Love In Trouble
Berdua Bersamamu



Setelah perseteruan yang terjadi antara Zaina dan Mahen hingga menimbulkan banyak orang bertanya-tanya, kini mereka kembali seperti biasa. Ini lah keseharian yang biasa terjadi pada hubungan mereka berdua. Toh, hubungan tanpa pertengkaran juga sangat aneh. Tidak ada bumbunya, jadi hambar.


Setidaknya dengan pertengkaran kecil seperti ini akan membuat Zaina sama Mahen berpikir selanjutnya. Dua orang di sana akan mencari tahu kesalahan mereka dan mulai merenung atas semua yang terjadi di hidup mereka. Dan setelah memikirkan, mereka akan menghindari hal itu lagi dan hubungan mereka akan terus berjalan dengan sangat baik.


Kini ... Zaina sama Mahen telah membeli semua kebutuhan untuk apartemen Mahen.


Ini semua ide Zaina.


Karena sungguh Zaina sengaja datang ke apartemen Mahen untuk mencari tahu. Tapi dia malah di kejutkan dengan suasana dan keadaan apartemen yang berantakan.


Mau tidak mau acara date mereka tertunda, karena dua orang dewasa itu memilih merapihkan apartemen Mahen secara bersama. Setelah dua jam lamanya, akhirnya apartemen Mahen sudah kembali layak huni dan Zaina memutuskan untuk memasak.


"Mas ... jadi selama ini kamu makan apa! kenapa kulkas sampai kosong gini. Bahkan air putih aja tinggal sebotol. Ya ampun," hardik Zaina saat melihat isi kulkas yang melompong


Bahkan ia tidak menemukan bahan makanan lainnya. Semuanya tuh benar-benar sangat kosong.


"Maaf yang ..."


"Ya udah ... dari pada keluar nggak jelas mendingan sekarang kita ke supermarket dan beli semua kebutuhan di apartemen kamu. Sekalian kamu catet deh barang apa aja yang kamu butuhin."


Dan berakhir lah mereka dimari. Setelah sibuk belanja ke sana ke mari, akhirnya kegiatan belanja mereka selesai dan kini mereka memilih kembali karena Zaina berniat untuk memasak.


"Sini sama mas aja."


Mahen membaktikan membawa tas belanjaan dan membiarkan Zaina hanya membawa tas selempang yang memang milik perempuan itu.


"Ih kamu udah bawa banyak banget," papar Zaina sambil menunjuk semua kresek yang ada di sana.


"Nggak apa-apa, santai aja ..."


Dengan sangat gantle, Mahen membawakan semua barang yang ada di sana, lalu membiarkan Zaina berjalan di depan nya. Sesekali perempuan itu akan berhenti di depan toko yang sangat menarik perhatiannya.


"Kamu kalau mau belanja juga nggak masalah kok," papar Mahen lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Masih banyak waktu kok dan mas juga belum lapar banget."


Zaina yang masih berhenti tepat di sebuah toko dan melihat kalung yang terpasang di depan kaca langsung menggeleng pelan.


"Itu kalungnya lucu loh," seru Mahen lagi seolah memaksa Zaina untuk membeli.


"Masalahnya nih ya mas, nggak guna juga. Aku suka barang lucu, tapi aku kurang suka pake perhiasan," jawab Zaina lalu perempuan itu cemberut pelan. "Makanya semuanya cuma numpuk di laci dan tempat perhiasan doang. Jarang ada yang aku pakai. Aku cuma makai yang itu-itu aja. Jadi ya sayang aja ..."


"Terserah kamu ... tapi kalau kamu memang mau beli juga nggak masalah kok," papar Mahen


Setelah menimang beberapa keputusan akhirnya wanita itu hanya menggeleng pelan. Ia tidak mau membeli yang nanti nya malah menjadi mubazir saja.


Mereka kembali berjalan menyusuri banyak toko sampai langkah Zaina terhenti lagi.


"Kamu mau beli—" Mahen langsung terdiam saat melihat toko yang ada kini ada di depan mereka. Mulutnya kaku saat melihat toko perlengkapan bayi itu.


Dia melirik sebentar Zaina, tapi perempuan itu hanya diam dan tersenyum tipis.


"Zaina?" panggil Mahen pelan.


"Kalau anak aku masih ada di sini, pasti aku lagi seneng belanjain dia barang lucu kayak yang ada di sini ya mas. Apa lagi kalau anak perempuan tuh punya banyak barang lucu. Ah, aku belum sempet dandanin dia. Tapi dia malahan pergi ninggalin aku."


Mahen menaruh semua belanjaan mereka ke lantai dan merangkul Zaina dengan sangat erat. Ia mengusap punggung wanitanya yang sangat ia cintai itu.


"Kamu baik-baik aja?"


Sebuah anggukan ia terima. Membuat Mahen tersenyum tipis. Bahagia melihat Zaina yang jauh lebih baik di banding sebelumnya.


"Aku cuma sedikit rindu aja pas masa aku lagi hamil. Dari yang mual terus, nggak bisa makan, dipaksa minum susu padahal waktu itu luar biasa eneg banget, sampai harus banyak minum vitamin. Orang tua aku yang excited kamu yang jauh lebih excited," jelasnya dengan tatapan sangat nanar. "Ah ... aku kangen banget masa itu."


Mahen tertegun dan menarik napas kecil, ia memegang belakang tubuh Zaina. Melingkari lengannya di pinggul perempuan itu.


"Kamu ... jangan kayak gini, mas jadi sedih."


Tapi Zaina berbalik dan menampilkan senyuman dirinya yang sangat lebar.


"Nggak mas ... aku nggak mau sedih lagi."


Mahen termenung sesaat. "Kamu beneran udah ikhlas?"