Love In Trouble

Love In Trouble
Rasa Nyaman



Tontonan sudah habis sejak tadi, tapi Zaina sama Mahen masih betah berada di balik selimut. Ditambah di luar sana hujan dengan turun sangat deras membuat mereka merasa cukup dingin dan terlampau males untuk ngelakuin apa-apa.


Niat awal Zaina ingin menginap di apartemen Mahen. Dia terlalu mengantuk untuk pulang dan ingin langsung tidur gitu aja. Sayang, saat minta izin. Dengan cepat daddy Zidan langsung melarang kuat-kuat dan meminta Zaina untuk pulang. Walau malam larut sekali pun, karena harus nunggu hujan reda.


Sepertinya, orang tuanya itu masih takut Zaina terjerumus lagi karena dulu pernah melakukan kesalahan besar. Jadi, wajar kalau sekarang orang tuanya sedikit protektif. Tapi Zaina tidak masalah, selama mereka melakukan hal yang baik. Dirinya nggak akan protes sama sekali.


"Mas beneran seneng deh kita bisa bareng kayak gini."


Mahen menggenggam tangan Zaina, sangat erat. Dari tadi sengaja tidak melepaskan sama sekali. Merasa nyaman di posisinya saat ini.


"Aku beneran cinta banget sama kamu. Mas merasa kita tinggal beberapa langkah lagi biar bisa bareng dan mas nggak menyangka, kalau awal pertemuan kita dulu ternyata membawa hubungan kita yang cukup rumit. Mas nggak tau kalau kita bisa lewatin ini semua dan hebatnya kita tetep bertahan ya. Kamu beneran yang terbaik."


Zaina berbalik dan memandang kekasihnya itu dengan sangat lembut.


"Aku yang harusnya makasih banyak sama kamu. Kamu yang hebat karena udah bertahan sama aku. Coba dari awal kamu nyerah," jelas Zaina pelan. "Mungkin sekarang kamu lagi sama yang lain. Karena nggak mau ngurus aku yang banyak masalah kayak gini."


Mahen menggeleng dan membenarkan posisi mereka menjadi duduk. Membuat Zaina ikut melakukan hal yang sama dan menatap langsung Mahen.


Kedua mata mereka saling bersitatap satu sama lain.


"Bisa berhenti ngomong kalau diri kamu pembawa masalah kayak gini?" titah Mahen yang membuat Zaina bungkam.


"..."


"..."


"Dibanding ngomong kalau kamu pembawa masalah, kamu bisa ngomong kalau diri kamu ini perempuan kuat karena udah bisa ngelewatin ini semua. Nggak usah rendahin diri kamu sendiri. Kamu hebat, kamu kuat. Pokoknya keren banget deh."


Senyum tipis mulai muncul di wajah perempuan itu.


"Dan jangan merasa cuma mas doang yang berjuang sama hubungan ini. Karena entah kamu atau mas. Kita sama-sama bisa ngelewatin bersama. Jadi, kita ada di titik ini juga karena usaha kita bareng. Nggak usah ngomong apa-apa. Nggak enak sama yang lain. Kamu udah hebat banget karena ada di titik ini."


"Malam ini ... terakhir kali mas denger kamu jelekkin diri kamu. Okei?"


Zaina mengangguk dan langsung membawa kekasihnya itu masuk ke dalam pelukan. Rasa nyaman yang selama ini menghilang kini terasakan. Hatinya yang kopong mulai terasa hangat karena keberadaan sosok laki-laki yang selalu ada untuknya itu, entah dalam kondisi apa pun.


"Mas sayang sama kamu, sayang sekali."


"Aku juga."


Hujan saat itu menambah kehangatan bagi mereka. Kedua orang yang saling mencintai itu kini tahu kalau dengan bersama, mereka bisa nyaman sampai di titik ini.