Love In Trouble

Love In Trouble
Tekad Zaina



Zaina tertegun mendengar penuturan asisten ayahnya itu. Berat rasanya mendengar orang tua yang begitu kita sayang mendapat perlakuan buruk dari orang lain. Hati perempuan itu berubah menjadi geram.


"Ya sudah ... nanti biar aku yang urus sisanya. Nanti om lihatin surat-surat perizinannya ke aku ya. Langsung kirim aja ke email aku, nggak usah denger persetujuan daddy. Yang ada daddy nolak semuanya. Biar aku aja yang urus."


"Baik mbak ... saya segera urus."


Zaina mengangguk.


Kini ia memilih masuk ke dalam ruangan. Rasa khawatirnya langsung lenyap saat daddy nya malah tersenyum lebar sambil menatap dirinya. Zaina menggeleng pelan sembari menghampiri sang daddy.


"Daddy ih!" serunya pelan tak lama menangis sangking khawatirnya


"Eh anak daddy kenapa nangis!" panik daddy Zidan langsung menangkup wajah anaknya dan mengusap pelan sambil terus mengusap air mata Zaina tapi anaknya itu menggeleng dan memeluk daddy Zidan dengan sangat erat. Masih terus menangis. "Jangan nangis kayak gini dong, kan daddy nya juga baik-baik aja," seru daddy Zidan sembari melepas pelukan dan menatap anaknya yang masih saja sesegukan.


"Daddy kenapa masih bisa santai pas Zaina luar biasa panik!" serunya sambil memukul pelan. "Daddy nggak baik baik aja, stop berakting baik-baik aja."


Zaina menutup wajahnya yang masih terus menangis. Dia benar-benar sedih akan fakta daddynya yang masuk rumah sakit.


Selama hidupnya,


Ini pertama kalinya Zaina melihat sang daddy sampai masuk rumah sakit. Selama ini daddy nya hanya sakit biasa dan tidak pernah sampai masuk rumah sakit seperti ini. Tak hanya itu, daddy Zidan termasuk jarang sakit. Bahkan selama ini juga kalau libur kerja paling cuma tiduran doang, sakit paling sering terasa di tubuh daddy nya hanya lah masuk angin dan tiba-tiba daddy nya sampai masuk rumah sakit kayak gini?


Siapa yang nggak khawatir?


Zaina menatap kaki sang daddy yang diperban. Ia mengusap pelan membuat daddy Zidan melakukan pergerakan kecil sembari meringis.


"Tuh kan ... daddy nggak baik-baik aja. HUAAAA, harusnya tadi aku langsung ikut aja sama daddy. Nggak usah ke rumah oma."


Zaina menunduk pelan.


"Daddy ... apa sebenarnya terjadi?" tanya Zaina yang mau mendengar cerita dari sisi daddy nya. "Aku penasaran banget dan karena ini, daddy nggak bisa ngurus kantor. Jadi, izinin Zaina buat urus sisanya ya."


Daddy Zidan langsung menggeleng, menolak usulan sang anak itu.


"No ... ini membahayakan kamu, daddy akan urus masalah ini sendiri. Kalau kamu ke napa-napa daddy sendiri yang bingung. Mau bagaimana pun, kamu perempuan dan daddy nggak mau anak daddy jadi ke napa-napa."


Zaina menggenggam tangan sang daddy.


"Aku memang perempuan, tapi aku bisa kok lewatin masalah ini. Selama ini aku udah ngelewatin banyak hal, sampai aku ada di titik ini. Sekarang izinin aku juga buat selesaiin masalah ini. Aku mau buktiin ke daddy, kalau anak perempuan daddy satu-satunya bisa ngelewatin ini semua. Jadi ... kasih Zaina izin ya."


Dengan segala pertimbangan, pada akhirnya daddy Zidan mengangguk.


Zaina memekik riang dan berjanji akan melakukan yang terbaik demi dirinya dan demi perusahaan sang daddy.


"Ya udah ... sekarang aku jemput mom dulu ya dad di rumah. Soalnya aku nggak mau telepon doang nanti mom panik dan malah ke napa-napa."


Daddy Zidan mengangguk. "Ya sudah kamu bawa mommy kamu ke sini dan tenangin, bilang kalau di sini daddy baik baik aja. Jadi jangan terlalu khawatir."


Zaina mengangguk.


Perempuan itu memeluk daddy Zidan sebentar, meminta nya untuk berjuang. Dirinya segera pamit setelah menitipkan sang daddy kepada asistennya itu.


"Aku pasti bisa!"