Love In Trouble

Love In Trouble
23 - Takdir?



Zaina nggak menyangka kalau berita pernikahannya akan membuat banyak orang bahagia termasuk keluarga Mahen, Zaina yang datang ke sana langsung disambut dengan baik dan tanpa pikir panjang Zaina menceritakan kondisi kehamilannya. Karena menurut perempuan itu, lebih baik mengatakan semuanya dari awal dan tahu respon mereka. Dari pada Zaina menyembunyikannya dan malah mendapat hujatan pas akhir.


Tapi apa?


“Kami tahu semuanya dan tenang aja ... kita bukan keluarga kuno kok. Kita malah senang, bisa dapet menantu sekaligus cucu. Tapi kamu harus hati-hati sama tante-tante dari keluarga kami ya. Mereka mulutnya besar. Pasti mereka kalau tau bakalan ngomong yang pedes.”


Zaina menelan saliva. Sedikit takut.


“Tapi nggak usah takut, bunda awalnya juga nggak suka dan kaget sama mulut mereka yang nggak bisa di jaga sama sekali. Tapi  ... ya seiring berjalannya waktu, kamu juga bakalan terbiasa kok.”


Mahen datang dan duduk di samping Zaina, ia merangkul perempuan itu.


“Nih, bunda ya ... ngomongnya malah buat Zaina makin takut,” serunya sebal membuat bunda Mina tertawa tipis. “Tenang aja Zaina ... mereka nggak ada apa-apanya di banding aku. Jadi, kalau mereka macem-macem. Pasti aku bakalan ngelakuin sesuatu sama keluarga mereka. Toh, mereka semua kerja di bawah perusahaan aku. Jadi, kalau sekali aja macem-macem. Aku nggak bakalan maafin.”


Zaina menepuk paha Mahen sampai laki-laki itu mengaduh. Zaina hanya menggeleng. Nggak usah lah bales-bales kayak gitu. Yang ada nama dirinya yang semakin jelek.


“Loh, kenapa nolak? Malahan bagus kan. Mas memang harus gertak mereka. Karena kalau ga di giniin, pasti mereka bakalan macem-macem deh dan mas nggak mau kalau mereka bakalan ngelakuin semau mereka.”


“Karena, aku nggak mau nama kamu makin buruk mas. Apalagi kalau nanti kita udah nikah. Pasti mereka malah mikir kalau aku yang udah pengaruhi kamu dan buat kamu berubah. Dan kalau kita bales keburukan, yang ada mereka malah semakin benci. Mendingan kita bales kebaikan, sampai mereka jadi nggak enak sendiri mau jahat sama kita.”


“Ah ... ternyata sikap baik dan pemikiran tulus kamu yang gini ya, yang buat banyak orang yang gampang jatohin kamu,” seru Mahen sambil menyelipkan anak rambut di telinga Zaina.


“Ternyata kita nggak salah pilih ya mas. Zaina benar-benar memiliki hati sebaik malaikat dan kenapa orang sebaik ini yang selalu di jahatin orang lain.”


“Aku nggak sebaik yang kalian kira,” tambah Zaina dengan senyum sangat tulus.


Tidak ada yang baik kalau dirinya sampai hamil kayak gini. Zaina kadang terlalu malu sama orang yang bilang dirinya super baik lah, atau orang yang bilang dirinya anak berhati malaikat kayak gini.


Kalau mundur ke belakang, Zaina bisa bilang kalau dirinya seperti setan yang kehilangan arah. Dia melakukan banyak hal yang di larang dan menjauhi hal yang seharusnya dia lakukan.


Zaina mengepalkan tangannya diam-diam.


Bahkan, sampai detik ini. Setiap dia mengadu kepada Tuhan, dia selalu aja merasa nggak pantas sama sekali. Bahkan dirinya berulang kali merasa sangat nggak suci. Walaupun mom selalu bilang dirinya itu berhak mendapat permaafan dari semuanya terutama Tuhan, karena manusia tempatnya salah.


Tapi, tetap saja ...


Terkadang ia benci sama dirinya di masa lalu.


“Zaina?!”


Tepukan di pipinya membuat perempuan itu tersadar dan langsung menghapus air matanya yang udah turun. “Eh, iya kenapa?”


“Ada apa kak? Kamu mikirin apa?” tanya bunda Mina yang super baik, sambil menatap dengan penuh khawatir itu.


“Nggak apa-apa kok, tan. Aku cuman lagi mikirin hal yang sedih aja.”


“Kok sedih? Udah nggak usah sedih-sedih lagi. Yuk bantu bunda angetin makanan. Mau makan siang kan?”


“Aish bunda mah, ganggu waktu aku sama Zaina aja,” papar Mahen sambil berdiri. “Aku kan mau ajak Zaina jalan-jalan di sekitaran rumah. Tapi, dari pas dateng. Bunda deket-deket Zaina mulu. Aku jadi nggak bisa deket sama Zaina!”


“Aish ni anak,” ucap ayah Mario. “Nggak bisa ngalah banget sama orang tua sendiri. Kamu bisa bareng terus sama Zaina, dan emangnya ayah nggak tau kalau hampir setiap hari habis pulang kerja, kamu mampir mulu ke rumah Zaina dan sekarang kamu mau deket-deket sama Zaina lagi? Ya Zaina lama-lama bosen lah sama kamu ...”


“Loh, memangnya kamu bisa bosen sama aku, yang?” tanya Mahen meminta pertolongan.


Dengan sengaja Zaina mengangguk.


“Bosen lama-lama aku sama kamu,” jawabnya sebelum mengikuti bunda Mina yang udah jalan dari tadi.


“Ah bohong ... ZAINA, Kamu bercanda doang kan? Kamu nggak mungkin bosen sama aku kan? Kamu bohong kan? Kamu ikut-ikut ayah doang kan?” seru Mahen mau mengikuti langkah Zaina tapi ditarik tangannya sama ayah Mario.


“Udah ... selesaiin dulu berkas yang ayah bilang tadi, baru temui Zaina. Biarin bundamu sama calon menantunya dulu. Jangan ganggu!”


“Ayah mah! Nggak berpericintaan,” asal Mahen yang kesal. “Udah ah ... aku marah sama ayah.”


Ayah Mahen menyeruput kopinya sambil terus menggeleng-geleng.


“Katanya sih udah dewasa, udah bisa jaga perusahaan sendiri. Udah bisa jagain perempuan lain. Udah bisa hidup sendiri. Tapi, tingkahnya masih kayak anak kecil. Dasar ...”


***


“Potongan daun bawangnya.”


Zaina mengambil talenan dan memotong satu ikat daun bawang dengan telaten. “Terus apa lagi bun?” tanya Zaina sambil menyerahkan potongan itu ke atas meja.


“Udah, belum ada yang bisa di bantu. Tunggu dulu aja di situ,” serunya. “Oh iya, kamu biasa masak di rumah?”


“Hmm ... pas tinggal di apartemen sih, aku sering masak. Tapi yang simple gitu. Nggak bisa masak yang berat-berat. Makanya aku ada niatan mau belajar sama bunda dan mommy banyak makanan, biar aku jago masak. Sama ... aku mau tau makanan kesukaan mas Mahen. Biar bisa masakin dia sesuatu yang mas Mahen suka.”


“Tenang aja ... anak itu pecinta semua makanan kalau kamu harus tau! Mau ada makanan apa pun di meja, dia pasti bakalan makan. Tapi ya dia memang harus makan masakan yang masih hangat gitu loh. Nggak bisa yang dingin, kalau makanan kemarin juga harus diangetin dulu.”


Note ...


Zaina mengetik di ponsel.


“Dan juga ... Mahen kurang suka sarapan roti di pagi hari. Harus nasi. Nafsu makannya memang gede. Walaupun seneng karena ngeliat anak sendiri makannya bagus. Tapi kadang dia terlalu rakus. Bunda kadang suka khawatir. Apa perut Mahen nggak sakit kalau terus di masukin makanan sebanyak itu.”


Zaina tertawa.


“Oh iya ... Bunda mau berterima kasih saka kamu.”


“Makasih?” tunjuk Zaina pada dirinya sendiri. “Emangnya, apa yang udah aku lakuin sampai bunda makasih sama aku?”


“Banyak ... kamu harus tau, kalau sebelum bertemu sama kamu Mahen nggak pernah ada niatan untuk menikah. Setelah kejadian itu, dia benar-benar—


“Adalah .. kamu nggak perlu tahu, itu masa lalu yang sama sekali nggak menyenangkan dan ya, mungkin Mahen akan cerita kalau udah tepat waktunya. Tapi tanpa dia cerita juga, ini nggak terlalu penting sih buat di bahas.”


Zaina mengangguk, mengerti.


“Pokoknya kejadian buruk itu buat dia nggak mau kenal sama wanita lagi. Tapi setelah lihat foto kamu, entah kenapa dia menyanggupi perjodohan kalian. Padahal jelas-jelas kalian belum ada ketemu sama sekali. Sampai orang tua kamu datang ke sini dan mau mencabut perjodohan ini karena kondisi kamu. Tapi Mahen datang dengan tegas dan menolaknya. Dia malah mau lanjut.”


Zaina kaget mendengarnya.


“Kami juga turut kaget dong, tapi dengan berbagai alasan yang dia bilang. Akhirnya orang tua kamu menyanggupi untuk memberi kamu sama Mahen dan membiarkan Mahen buat usaha sendiri.”


“Dari situ, bunda pertama kali melihat Mahen yang seperti ini,” papar bunda Mina sambil tersenyum, membayangkan kala itu. “Dia jadi anak bunda yang beda. Dia selalu excited buat cerita tentang kamu. Dia juga selalu muji kamu di depan kami.”


Pipi Zaina memerah mendengarnya.


Mahen memang benar-benar menyukai dirinya. Bukan karena suatu hal doang.


Dia sangat beruntung.


“Makanya bunda mau berterima kasih banyak sama kamu dan nggak pernah peduli sama apa pun kondisi kamu. Karena mau bagaimana pun kamu, kamu tetap orang yang udah buat anak kami jadi kayak gini lagi.”


“Dan ... sayangi anak kami ya, nak. Kalian harus jadi pasangan yang berbahagia. Kekurangan di antara kalian berdua harus saling menyatukan buat kalian. Kalian itu klop dan bunda tolong buat jaga Mahen untuk ke depannya. Kamu juga harus percaya terus sama Mahen.”


Walaupun bingung Zaina mengangguk.


“Aku bakalan jaga mas Mahen kok, bun! Makasih juga karena udah nerima aku tanpa pamrih. Tanpa pernah melihat kondisi aku yang begini. Aku berterima kasih sekali lagi.”


Bunda Mina mendekat dan memeluk Zaina dengan sangat erat. Dia hanya terus berdoa dan berharap supaya tidak ada yang ganggu kebahagiaan mereka.


Sudah cukup masa lalu anaknya terhenti saat itu, jangan lagi.


“Ya sudah ... kamu duduk dulu aja.”


Bunda Mina melepas pelukan dan mengambil minuman dingin dari kulkas. Ia tuangkan ke gelas milik Zaina.


“Kamu masih hamil muda jadi nggak usah terlalu banyak gerak sampai buat kamu jadi kecapean. Jadi, duduk aja. Biar bunda yang selesaikan sisanya dan makasih loh udah bantu bunda.”


“Ih, padahal aku nggak bantu banyak ...”


“Tapi, lumayan membantu loh .. udah sekarang kamu panggil yang lain. Kita makan sekarang.”


“Oke bun ...”


***


“Muka kamu tuh kayak nggak asing ya.”


Zaina terus melihat foto masa muda Mahen. “Beneran deh ... nggak asing sama sekali, kita pernah ketemu sebelumnya?” tanya Zaina mengalihkan pandangan dan menatap Mahen. “Ah nggak ah, kita baru pertama kali ketemu kok.”


“Hahaha ... memangnya kamu nggak inget ya.”


“Inget?”


“Beberapa tahun yang lalu,” seru Mahen melontarkan teka-teki


“Hah? Maksudnya apaan sih? Beberapa tahun lalu yang mana? rasaan aku nggak pernah ketemu sama kamu. Aku yakin kok dan aku juga bukan tipe perempuan yang bakalan lupa sama hal penting gitu. Kamu ya yang bohong sama aku?”


“Mas juga nggak inget, tepatnya beberapa tahun yang lalu. Tapi kamu orangnya, mas inget sekali. Perempuan yang memiliki senyuman manis dengan tahi lalat mungil di bawah mata. Mas ingat sekali pas itu lagi sedih karena suatu hal. Tapi kamu datang dengan memakai seragam sma kamu lalu menyodorkan sapu tangan milik kamu.”


“Hah?”


“Kamu bilang mas buat nggak sedih karena laki-laki harus kuat dan dari situ mas selalu nunggu di tempat yang sama, berharap ketemu sama kamu. Ternyata takdir nggak membawa kita untuk bertemu lagi sampai beberapa tahun kemudian dan ternyata sekarang Tuhan mengirimkan kamu lagi.”


“Oh iya?”


“Kamu ... kamu orangnya yang selalu mas cari selama ini dan setelah lihat kamu yang dikasih sama bunda dan ayah, tanpa pikir panjang mas langsung menerima kamu.”


“Kenapa aku nggak inget ya?” bingung Zaina, masih mengernyit. “Maaf ya mas ... aku beneran nggak inget sama sekali. Tapi, kalau beneran kayak gitu. Takdir banget nggak sih mas? Kayak kok bisa gitu, kita ketemu lagi setelah dulu kita berinteraksi.”


“Itulah namanya jodoh ...”


“Aih ... super gemes!” seru Zaina sampai lompat-lompat


“ZAINA!” pekik Mahen menahan tubuh perempuan itu, memegangi pinggangnya. “Ada anak kita di perut kamu. Kamu harus hati-hati! Jangan loncat-loncat kayak tadi ah. Nggak baik dan kasihan kalau anak kamu yang kenapa-napa.”


“Eh iya, aku lupa.” Zaina mengusap perutnya. “Maaf ya nak. Bunda masih suka lupa kalau lagi hamil. Tapi, tenang aja. Bunda nggak pernah lupain kamu kok! Kamu tetap prioritas utama bunda dan buat ke depannya, bunda akan lebih hati-hati.”


“Dan ayah bakal menjaga kalian dengan baik.”


Mahen memeluk tubuh Zaina dari belakang dan mengusap perut perempuan itu. “Ayah bakalan jadi kepala keluarga yang sigap buat kalian dan mas berterima kasih sama kamu karena udah menerima mas dengan baik. Kapan lagi ... mas bisa sebahagia ini kalau nggak ketemu sama kamu kan?”


Zaina menoleh, menatap Mahen dan merengkuh tubuh laki-laki itu.


“Jangan pergi dari hidup aku ya mas, jangan kecewakan aku lagi. Jangan buat aku berpikir kalau semua laki-laki itu brengsk. Sudah cukup aku dikecewakan sekali dan jangan sampai aku berpikiran yang sama lagi.”


“Mahen ... hidup mati kamu ada di tangan mas. Kebahagiaan kamu juga mas yang nanggung dan mas udah bersumpah dari dulu, kalau ketemu sama anak perempuan yang menolong mas. Mas harus melakukan sesuatu demi dia. mas harus memberi kebahagiaan buat dia karena dia juga udah buat mas sedikit lebih lega pas itu. Jadi ... nggak perlu khawatir. Mas udah dedikasi kan sebagian hidup mas buat kamu. Jadi ... kamu nggak akan pernah merasa kecewa lagi.


Zaina yang semakin hari, memang semakin manja itu malah mendusel di balik leher Mahen yang aromanya selalu ia suka.


“Ah mas ... padahal belum genap satu tahun kita bertemu, tapi aku nggak mau kehilangan kamu sama sekali. Aku sayang sama kamu! Sayang banget,” seru Zaina dengan sangat semangat. “Dan ... makasih untuk semuanya. Buat udah menerima aku sama anak aku dengan baik. Aku benar-benar beruntung karena ketemu sama kamu.”


“Mas juga ...”