Love In Trouble

Love In Trouble
Tegas



Setelah daddy Zidan benar-benar terlelap, perempuan itu melipir ke arah oma dan mommy yang masih berbincang. Ia duduk di hadapan mereka dan mulai memahami pembicaraan mereka dan seketika hati Zaina tertegun saat sang mommy terus membicarakan dirinya sambil terus tersenyum lebar.


"Ih mommy berlebihan, padahal aku nggak sehebat itu," sela Zaina saat sang mommy membicarakan bagaimana dirinya yang kuat melewati banyak masalah yang menimpa dirinya itu


"Nggak hebat gimana ... dengan kamu yang sekarang udah baik-baik aja udah nandain kalau kamu hebat. Di sini mommy beneran kagum sama kamu. Karena akhirnya kamu bisa lewatin ini semua dan sekarang mommy yakin kalau nanti ke depannya kamu bakalan bahagia terus. Kamu gak perlu khawatir karena nanti akan berakhir bahagia juga."


Zaina tersenyum tipis.


"Oma juga ... kamu anak baik dan selama ini oma udah menyesal karena berlaku kurang baik sama kamu. Jadi, oma merasa nanti kamu pasti bakalan bahagia terus dan kamu juga hebat karena udah ngelewatin banyak hal saat ini."


Perempuan itu sungguh tersipu.


Tanpa sadar mereka kembali berbincang. Kini mommy dan oma menjelaskan bagaimana mereka yang berbaikan dan Zaina baru tahu kalau ternyata mereka saling mengaku kesalahan satu sama lain terus meminta maaf. Bahkan mereka juga menceritakan semua kejadian selama ini yang pada akhirnya membuat mereka berjanji untuk tidak lagi mengulangi hal yang sama.


Zaina sesekali mengangguk mendengar cerita mereka. Hingga tanpa sadar perutnya berbunyi dan oma sama mommy langsung menatapnya.


"Hehehe ... udah lewat jam makan siang, makanya aku sedikit lapar," adu Zaina pada akhirnya dengan kekehan pelan.


"Ya ampun ... mom lupa kalau kamu belum makan. Tadi pagi makan juga cuma sedikit kan? ya udah kalau gitu. Kita beli makan sekarang."


Mommy Nadya beranjak dan mengambil tas selempangnya.


Tapi Zaina buru-buru menghadang dan membuat langkah mommy Nadya terhenti. Zaina menggeleng, mengambil tas sang mommy lalu menaruhnya lagi ke meja.


"Biar aku aja yang beli makan. Oma sama mom di sini aja, sekalian nunggu daddy," ucapnya sambil menatap daddy Zidan yang terlelap. "Nanti kalau daddy bangun, langsung panggil dokter aja ya mom. Ini Zaina juga mau nyelesaiin sedikit urusan juga."


Zaina merapihkan file yang tadi ditaruh asisten sang daddy.


"Eh kamu mau ke mana?" panik mommy Nadya menatap anaknya itu dengan serius. "Jangan pergi ke mana-mana, di rumah sakit aja. Mommy masih belum tau apa yang terjadi sekarang. Tadi daddy kamu yang kayak gini. Gimana kalau mereka nanti malah incar kamu juga?"


Perempuan itu tertawa tipis lalu menggeleng.


"Enggak kok mom ... masalahnya nggak sebesar itu dan nggak bakalan ada yang berani deketin Zaina. Mommy lupa kalau anak mommy ini lulusan karate? jadi tenang aja ... dan Zaina cuma ada di rumah sakit doang kok," jawabnya santai.


"Beneran?" tanya oma menyela dengan nada yang ikut khawatir


"Iya ... ini aku sekalian mau beli makanan ke bawah dan urusan aku cuma baca file ini doang kok. Bukan yang gimana-gimana. Jadi, oma sama mom nggak perlu lah khawatir sama Zaina."


"Ya sudah ... Hati-hati ya nak. Kalau ada masalah, jangan sungkan buat nelepon mommy."


"Siap mom!"


Zaina beranjak meninggalkan kamar VIP tersebut. Baru lima langkah dari pintu, Zaina teringat sesuatu dan kembali. Ia kembali membuka pintu dengan buru-buru lalu memuncul kan kepalanya di balik pintu.


"Mom sama oma pada mau makan apa? sekalian nanti aku beli di bawah."


Mommy memandang oma dan omanya itu hanya menggeleng, tidak tahu mau makan apa.


"Mom belikan nasi goreng saja. Minumannya air putih ya nak dan sekalian belikan roti. Siapa tahu nanti daddymu itu bangun dan lapar," putus mommy Nadya pada akhirnya.


"Kalau oma mau makan apa?" tanya Zaina


"Oma sih belum lapar."


Wajah Zaina langsung menajam dan dia menggeleng tidak suka sama jawaban oma itu.


"Oma harus makan ya, memangnya oma kira Zaina nggak tahu kalau selama ini oma suka nyepelein waktu makan siang?" omel Zaina yang langsung berdiri tegap di antara pintu. "Aku nunggu aja sampai oma nepatin janji ke aku. Tapi ternyata pelayan di rumah oma terus ngabarin ke aku kalau oma jarang makan lagi."


"Mungkin oma anggap aku bawel, tapi ini juga demi kebaikan oma dan aku juga udah bawa riwayat sakit oma. Rata-rata itu karena oma nggak makan tepat waktu ... jadi wajar kalau aku ngomong kayak gini sama oma."


Oma mengedipkan mata, wajah keriputnya berubah sayu. Zaina sedikit tidak tega, tapi dia harus tegas supaya sang oma juga tegas sama dirinya sendiri.


"Zaina juga mau oma makan itu demi diri oma sendiri. Bukan karena aku, nanti takutnya oma nggak mau aku marah dan maksain buat makan. Kalau gitu sama aja, karena oma nggak serius sama diri oma sendiri."


"Zaina," potong mommy Nadya yang merasa anaknya sudah berlebihan


Tapi Zaina mengangkat tangannya ke udara dan menggeleng.


"Sekarang terserah oma aja mau gimana, aku bakalan nyerahin semuanya sama oma. Mau oma makan juga bagus, kalau enggak juga ya biarin. Toh oma sendiri yang ngerasain kan?"


Zaina beranjak, belum sempat menutup pintu suara oma kembali mengudara.


"Belikan oma nasi sama lauk saja, lauknya terserah kamu." Oma berucap. "Maaf ya ... tapi tolong belikan pesenan oma. Oma mau makan siang."


"Hmm ..."


Zaina menutup pintu kamar inap dengan seutuhnya dan tersenyum tipis.


Misinya selesai.


***


Sambil menunggu pesanan, Zaina memilih duduk di salah satu meja yang sedikit menjorok ke dalam dan cukup jauh dari jangkauan para pembeli yang datang karena tempatnya duduk tertutupi pot cukup besar.


Zaina membuka semua map ke meja dan menjejerkan lima kertas yang ada di sana. Ia menatap satu per satu mengenai perusahaan Z yang sebenarnya baru ia kenal.


"Kenapa daddy mau kerja sama dengan perusahaan yang bahkan nggak punya keuntungan kayak gini ya?" gumam Zaina saat tahu pemasukan perusahaan Z sangat dikit bahkan terkadang minus.


"Bukannya resiko kalau daddy malah kerja sama dengan perusahaan yang baru merintis kayak gini?"


Zaina mengambil kertas berisi informasi mengenai orang yang memiliki perusahaan tersebut. Masih muda dan begitu berantakan, bagi Zaina.


Ia memiringkan wajahnya, melihat banyaknya keanehan proyek yang dilakukan kerja sama dengan perusahaan tersebut.


"Berarti kalau dari penjelasan asisten daddy, ada dua kemungkinan terjadinya hal ini ya?" gumam Zaina untuk dirinya sendiri lagi.


"Pertama, mungkin karena pemasukan yang kurang. Jadi keamanan kurang terjaga, sehingga beton yang tergantung bisa terjatuh. Kedua, bisa jadi mereka sengaja karena mau menguasai proyek ini dan membiarkan daddy terluka? karena dengan begitu, mereka memiliki hak penuh untuk meneruskan proyek ini?"


Zaina sungguh membenci kemungkinan kedua, yang artinya mereka sudah jahat dan berlaku curang.


Perempuan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dan menghembuskan napasnya pelan.


"Ada-ada aja ya ampun masalah," ucapnya pelan. "Mereka nggak bisa kah usaha dengan yang baik-baik aja?" omel Zaina yang merasa masalah ini akan membuat hubungan nya dengan Mahen akan kembali diundur karena harus mengurus masalah ini lebih dulu.


"Padahal daddy udah baik, udah kasihan sama mereka dan mau nolongin perusahaan bangkrut kayak gitu. Eh mereka nya malah berlaku kurang ajar banget."


Zaina menggumam sebentar.


"Aku nggak mungkin diem aja, kalau mereka memang mau nyelakain daddy cuma karena mau nguasain proyek ini. Maka aku nggak bakalan diam aja."


Sorot matanya menajam dan Zaina menatap datar deretan kertas yang ada di meja.


"Nggak ada yang boleh berani menyentuh keluarga saya karena sampai kapan pun saya nggak akan mengampuni nya sama sekali!"