Love In Trouble

Love In Trouble
Mohon



"Ini mas beneran nggak perlu pamit dulu sama orang tua kamu?"


Mahen menatap cemas ke rumah besar yang sering ia datangi. Biasanya Mahen akan bertemu lebih dulu pada orang tua Zaina setiap kali dirinya menjemput Zaina. Tapi sekarang Zaina meminta ia langsung pergi saja.


Mahen memicing dan menggenggam tangan Zaina.


"Serius deh ... orang tua kamu nggak lagi marah kan sama mas?" Khawatir Mahen. Ini masalah hidupnya, kalau orang tua kekasihnya marah sama dia. Yang ada dirinya harus membujuk semuanya dari awal dan itu sangat nggak mudah baginya. "Pasti karena mas di cap sebagai pacar kamu yang kurang baik. Soalnya ... orang tua pacarnya lagi sakit. Mas malah nggak jenguk sama sekali. Duh!"


Zaina mengedipkan mata dan tertawa kecil. Ia memukul pelan Mahen membuat laki-laki itu menatapnya dengan sangat bingung.


"Kok malah ketawa sih, ini mas lagi bingung. Tapi kamunya malah ketawa begini."


"Ya ampun mas ... aku ngajak buru-buru tuh karena udah telat. Kata asistennya daddy, kafenya lumayan jauh dan pas ke sana juga jalanan agak macet. Jadi, dari pada kita buang waktu. Mendingan langsung berangkat."


Zaina berbalik dan mengenakan seat belt lalu duduk dengan tenang.


"Daddy juga nggak marah sama kamu kok. Daddy malah suka kalau kamu prioritasin kerjaan kamu. Soalnya itu emang yang paling penting. Jenguk daddy aku mah bisa kapan aja, nggak usah khawatir banget."


"Tetap aja .."


Mahen mengambil kaca mata hitam dan memakainya lalu beranjak mengenakan seat belt juga.


"Jadi ... kita berangkat sekarang aja nih?"


Zaina mengangguk.


Sesekali, Mahen menoleh ke arah Zaina dan ikut tersenyum tipis saat melihat kekasihnya itu yang mengantuk.


Lengan yang luang ia usap ke pipi Zaina.


"Kalau ngantuk tidur dulu aja. Masih lumayan jauh kok. Lumayan kalau kamu mau tidur."


Zaina berdeham. Menyamankan posisi duduknya dan menyila kakinya di mobil lalu mulai memejamkan mata. Guncangan kecil tak membuatnya membuka mata. Kini Zaina sudah masuk ke dunia mimpinya. Meninggalkan Mahen yang merasa gemas sama tingkah kekasihnya itu.


"Gampang banget tidur deh si gemes. Ya ampun lucu banget sih kekasih aku," gumam Mahen dengan senyuman khasnya. "Semoga kita cepat nikah ya sayang. Mas nggak sabar mau kekep kamu di rumah. Nggak boleh ada yang liat kegemasan kamu sayang ..."


***


Wajah serius Zaina sejak tadi cukup membuat Mahen beserta asisten daddy Zidan meneguk saliva. Keduanya benar-benar melihat sisi lain Zaina yang sibuk dan serius dengan pekerjaan seperti ini terutama untuk memberantas masalah yang cukup besar seperti ini.


"Om Tama ... ini aku bisa nggak sih dateng ke perusahaan Z?" tanya Zaina ke asisten ayahnya itu. "Aku beneran masih abu-abu banget tentang perusahaan Z. Mau udah om sama mas Mahen kasih banyak informasi. Tapi kalau aku belum lihat secara langsung. Kayak ada yang janggal aja."


"Kamu yakin?" tanya Mahen. "Mereka aja berani lakuin hal licik begini sama daddy kamu. Apalagi cuma sama kamu doang. Nggak ah ... mas nggak kasih izin. Kamu juga harus jaga diri sayang."


Zaina menatap serius.


"Mas ... tolong, kali ini aja."