Love In Trouble

Love In Trouble
Untuk Semuanya



Begitu turun dari lantai dua oma langsung menghirup aroma wangi yang menyapa indra penciumannya. Oma mencari sumber wangi ke segala arah sampai matanya melihat sang cucu yang sedang mengenakan apron dan menaruh makanan di atas meja makan.


Senyum tipis hinggap di wajah keriput itu.


“Eh oma ... selamat pagi oma,” seru Zaina lalu memeluk omanya pelan lalu menggiring oma ke dekat meja makan. Zaina tarik kursi dan meminta oma untuk duduk di sana.


Oma hanya sesekali menggeleng dan mengikuti perintah sang cucu.


“Oma masih belum maafin kamu ya,” ucap Oma yang cukup memohon hati Zaina.


Tapi perempuan itu berusaha mempertahankan senyumannya dan mengangguk. Ia menatap ke arah omanya itu dengan sangat serius. Zaina juga nggak mau melakukannya secepat itu. Dia melakukan ini pure dari hatinya yang paling dalam.


“Oma tenang aja, aku ngelakuin ini tuh ikhlas kok,” papar Zaina sambil menuang lauk ke atas piring. “Aku pure mau dekat sama oma karena aku ngerasa hubungan kita nggak bagus. Jadi, apa salahnya kalau kita berhubungan baik dari sekarang kan?” tanya Zaina


Oma hanya menggeleng dan mengucapkan terima kasih.


“Oma juga tahu kalau kamu melakukan ini untuk mendapat restu oma kan?” tuduh oma yang membuat Zaina langsung menggeleng.


“Nggak ada sekali pun niat seperti itu oma. Oma tenang aja. Kita bedain urusan kayak gitu. Ini aku memang mau dekat sama oma kok.”


Oma mengangguk saja, kembali bergumam setuju sama rasa masakan yang cocok di lidah nya. Padahal jarang ada pelayan yang punya selera masak dengan dirinya. Oma termasuk tipe yang pemilih. Makanya cukup banyak orang yang berhenti cepat karena memang oma yang nggak sesuai sama selera masakan para pelayan baru.


Hanya satu orang yang benar-benar cocok yaitu mbak yang kemarin ngobrol sama Zaina. Mbak itu juga salah satu yang bekerja paling lama di sini dan paling mengerti selera makanan oma dan nggak cuman itu aja. Mbak yang satu itu juga paham emosi oma. Jadi kalau oma sedang kesal atau marah yang membuat banyak pelayan takut. Maka mbak itu yang bakalan turun tangan dan berusaha menenangkan sang oma.


“Ini kamu yang masak?” tanya oma setelah makanan di piringnya habis.


Dengan hati-hati Zaina mengangguk.


“Maaf ya oma. Kata mbak, oma suka lewatin waktu sarapan dan nggak makan. Makanya oma sering di rawat. Jadi, aku sengaja nyoba masak. Ini beberapa masakan yang aku kuasai. Cuma ini doang sih. Maaf juga kalau masakan Zaina nggak enak.”


“Sering sering masak di rumah.”


“Hah?” kaget Zaina sambil mengerjap bingung


Oma mengangguk.


“Oma langsung suka sama masakan kamu. Jadi, kamu datang lagi ke sini dan sering masak buat oma ya,” pinta sang oma dengan senyuman yang sangat tipis. “Kamu juga mau berhubungan baik sama oma kan? Dan ini salah satu caranya, kamu harus sering masak buat oma.”


Zaina memekik girang dan langsung mengangguk.


“Pasti! Aku pasti sering datang ke sini dan masakin oma.”


Oma hanya menggeleng kecil.


Selama ini dirinya tidak begitu mengenal cucu nya dari anak pertamanya sendiri dan ini terasa sedikit asing namun sangat menyenangkan. Oma merasa menyesal karena sudah melewati hari lucu Zaina. Pasti lucu melihat pertumbuhan Zaina dengan kebawelannya seperti ini.


Saat ini saja,


Dalam hati oma mengaku kalau Zaina benar benar sangat bawel. Bahkan dirinya hanya satu kali berucap, tapi cucunya itu akan menjawab sampai belasan bahkan puluhan kata. Benar benar sangat tidak seimbang.


Oma merasa ...


Di umur cucunya yang sudah beranjak kepala dua. Zaina tidak seperti anak dengan umur segitu. Tapi seperti anak remaja yang masih dalam masa pertumbuhannya, yang mana lagi masa cerewet cerewetnya.


Tapi,


Ini sangat menyenangkan.


Oma tersenyum tipis sambil memandang Zaina yang terus berbicara di sela makannya. Cucunya itu sibuk berbicara padanya tapi mata Zaina terus tertuju ke makanan yang baru saja nambah itu.


“Kamu benar.”


Zaina memandang oma bingung. “Maksud oma?”


“Kamu benar yang bilang oma kesepian,” lanjut oma dengan pelan. “oma kira sendiri itu bakalan menyenangkan. Tapi setelah kenal kami, ternyata bersama orang yang aktif. Oma jadi benar-benar merasa lebih senang.”


***


Jam sudah menunjukkan pukul tiga siang. Tapi sampai detik ini, Zaina belum memutuskan untuk pulang juga. Dia malah memiliki niatan untuk menginap lagi lantaran di rumahnya juga sedang tidak ada orang.


Wong, orang tuanya nginep di luar kota sampai lusa. Dari pada mati dengan rasa bosan yang menyekik. Sepertinya Zaina memilih untuk nginap di sini dan itu juga bukan ide yang buruk.


Toh ...


Zaina mendapat kabar kalau Mahen juga sedang sangat sibuk karena selama ini selalu meluangkan waktu untuk dirinya sampai perusahaan dia sedikit terbengkalai.


Jadi, Zaina benar-benar nggak ada tujuan. Selain di sini memang jalan yang paling terbaik.


Tadi ... Oma berpesan ingin mengobrol sama Zaina saat sore hari. Lantaran selama ini oma selalu memiliki kegiatan pas dalam menghirup aroma angin sore yang memenangkan dan kali ini, oma ingin memiliki teman untuk berbicara. Jadi, Zaina menawarkan diri.


“Aku harus narik perhatian oma,” perintah Zaina di depan cermin. Seolah memerintah diri nya sendiri.


Perempuan itu menarik napas dalam.


“Aku memang ikhlas ngelakuin ini semua. Tapi aku harus tetap hati-hati,” titah Zaina pada diri nya lagi. “Jangan sampai aku malahan buat satu kesalahan. Terus nantinya malah buat hubungan aku sama yang lain jadi buruk lagi,” titah Zaina pada dirinya sendiri


***


Zaina menyempatkan diri untuk membuat teh hangat lalu membawanya ke halaman belakang. Ternyata di sana sudah ada oma dan beberapa cemilan yang ada di atas meja.


“Oma kapan keluarnya?” tanya Zaina yang bingung. “Perasaan dari tadi aku di dapur deh dan nggak sadar atau lihat oma lewat ke depan. Jadi, oma udah dari tadi ya di sini?”


Oma tertawa dan menggeleng.


“Kan ada pintu belakang, Zaina. Jadi oma lewat sana. Kamu ya ... Hal kayak gitu aja jadi pertnyaan deh.”


Zaina mengusap tengkuknya dan terkekeh.


“Kan aku kira oma tuh punya kekuatan teleportasi yang bisa berpindah satu tempat ke tempat lain. Soalnya tadi perasaan di kamar tapi tiba-tiba ada di depan aja. Jadi kan aku tuh penasaran.”


Oma hanya menggeleng kecil membuat Zaina mengusap tengkuk, merasa bodoh sendiri karena ulahnya sendiri.


Zaina melirik ke arah oma.


Omanya itu sedang duduk menyandar di kursi dan matanya terpejam. Sinar matahari yang tidak terlalu terik malah menghangatkan tubuh mereka berdua.


Zaina berusaha merilekskan tubuhnya dan mengikuti apa yang omanya lakukan. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan menutup mata seperti yang omanya lakukan itu.


“Oma sering ngelakuin kayak gini?” tanya Zaina pelan.


Oma melirik sebentar pada cucunya lalu dia mengangguk.


“Ini kegiatan rutin yang biasa oma lakuin. Ya anggap aja sebagai membunuh waktu yang sepi. Oma terus berusaha nyibukkin diri oma sendiri dan terciptalah jadwal rutin yang biasa oma lakuin itu.”


Zaina mengangguk mengerti.


“Sekarang oma nggak perlu sendiri lagi karena udah ada Zaina. Tapi Zaina nggak janji bisa bareng oma terus menerus. Karena mungkin Zaina ada kegiatan.”


Omany mengangguk, mengerti.


“Tapi, Zaina akan mengusahakan diri supaya bisa kasih yang terbaik buat oma. Oma tinggal luangin waktu buat Zaina. Baru nanti Zaina bakal datang ke sini.”


“Hmm ... Maaf ya.”


Zaina membuka matanya. “Maaf apa?”


“Untuk Semuanya."