Love In Trouble

Love In Trouble
17 - Pria Baik Hati



"Sini biar saya aja yang bawain."


Zaina menoleh dan tersenyum tipis lihat Mahen yang benar benar perlakuin dia dengan sangat baik. Bahkan Zaina tak mengerti sama sekali, kenapa ada pria yang bau memperlakukan dirinya itu sampai sebaik ini.


"Mahen ... berhenti baik banget sama gue. Ini kalau gue baper, yang ada jadi kasihan ke lu nya. Perlakuin gue itu kayak biasa aja ya. Nggak usah lakuin yang macam-macam banget."


Kening Mahen mengkerut lalu dia malah merangkul Zaina. Membuat tubuh wanita itu semakin dekat dengan diri nya itu.


"Zaina ... bukannya tugas saya itu buat bikin kamu percaya sama saya dan saat ini yang saya lakukan tuh ya mau buat kamu nyaman dan ini cara pendekatan diri saya ke kamu dan kamu udah janji kalau nggak akan meribetkan apa-apa dan mau membiarkan saya melakukan apa-apa."


"Tapi ... tetap aja nggak aman buat jantung gue tahu nggak sih!"


Mahen tertawa kecil.


"Kita berhubungan kayak gini tuh untuk saling paham perasaan satu sama lain. Di saat kayak gini, saya aja udah sedikit nyaman sama kamu. Lalu dengan kamu yang mulai nyaman sama saya juga bukan suatu yang salah kan? Toh kalau pun berjodoh. Nanti pada akhirnya itu kita bisa menikah kan? Jadi nggak ada yang salah sama sekali."


Nadine menarik napas dalam-dalam dan pada akhirnya hanya mengangguk saja.


Ia kemudian mendorong troli lagi.


Siang ini,


Zaina di minta mommy Nadia untuk belanja bulanan. Walau biasanya tugas ini jadi tugas pelayan. Tapi mommy Nadia mau anaknya kembali terbuka dengan banyak hal dan nggak perlu ada rasa sungkan untuk datang ke tempat pusat perbelanjaan.


Dan ... pada akhirnya Zaina mau setelah Mahen menawarkan diri untuk mengantar perempuan itu. Jadi lah mereka seperti sebuah keluarga yang sedang belanja bulanan untuk penuhi kebutuhan keluarga di hidup mereka.


"Ini seperti gambaran kalau kita nikah di masa depan. Saya suami kamu dan kamu istri saya. Kita akan bersama dan selalu bersama kayak gini."


Zaina mencibir dan mengibaskan tangan di udara.


"Ini tuh ... memang gue yang baru tahu atau lu selalu kayak gini sih? Perasaan ini dari tadi lu nggak berhenti buat kasih gombal ke gue. Baperin gue mulu. Duh memang nggak capek apa?"


Mahen menggeleng.


"Kita harus saling mendekati diri kan? Dan ini cara saya untuk membuat kita saling dekat dan semakin nyaman satu sama lain."


"Aish ... kalau memang mau nyaman. Tolong ubah panggilan saya deh. Kaku banget tau nggak sih. Dari awal gue itu dengar kesannya kayak lagi di tempat formal banget. Tapi ya gue nggak berani bilang."


Mahen menghentikan troli dan berbalik menatap Zaina.


"Lalu maunya kamu di panggil apa? Biar merasa jauh lebih nyaman sama saya?"


Zaina menaruh telunjuknya di kening buat Mahen tertawa dan menggeleng. Zaina ini super cantik. Apa lagi katanya aura ibu hamil tuh nggak ada yang bisa nandingin sama sekali ya? Dan kini Mahen beneran percaya.


Padahal dari tadi ia banyak perempuan yang secara nggak langsung menggoda dirinya. Bahkan banyak yang jauh lebih cantik, langsing, tapi aura Zaina bener bisa melawan semua itu. Sampai Mahen cuma bisa tertuju sama Zaina doang dan nggak bisa tergantikan sama sekali.


"Ah iya ... gimana kalau gue lu aja? Enak kan dengarnya? Dan nggak terkesan jadi canggung juga. Jadi enakan panggil gue lu dong."


"Ini tuh sebenarnya kita mau jadi bestie friend atau suami istri sih? Panggilan gue lu tuh kesannya nggak sopan banget deh. Jadi mending ganti aja. Nanti saya coba usaha buat manggil aku kamu tapi mungkin saya nggak mudah buat ganti nya. Karena udah terbiasa dengan saya. Tapi tenang aja ... seiring berjalannya waktu saya akan mengganti panggilan ini."


Dengan sewot Zaina menunjuk dirinya sendiri itu.


"Lah gue? Gue manggil gue lu. Jadi lu selama ini anggap gue nggak sopan dong? Duh jadi gini nih anggapan lu itu selama ini sama gue? Salah prespektif juga ya ternyata gue."


Mahen mengusap rambut Zaina.


"Saya memang merasa panggilan gue lu itu kurang sopan tapi buat kamu saya gak pernah permasalahin sama sekali. Kamu bisa terus pakai sampai kapan pun itu dan saya akan menunggu kamu sampai merubah panggilan itu."


Kening Zaina mengkerut.


"Sampai kapan pun?" tanya dia sekali lagi.


Mahen mengangguk, "sampai kapan pun itu. Karena saya beneran akan terus menunggu kamu. Mau sampai dunia terbelah juga. Saya nggak akan pernah ingkar sama omongan saya."


Zaina memutar matanya, "gombal terus!" papar dia dengan sedikit kesal lalu mendorong troli, meninggalkan Mahen begitu saja.


Mahen tertawa pelan dan mengikuti Zaina dari belakang.


***


"Makan tuh jangan kayak anak kecil," seru Mahen lalu mengusap bibir bawah Zaina dengan tisu yang baru saja ia ambil itu. "Nanti anak kamu kaget karena tahu ibunya masih makan sambil berantakan kayak gini. Apa lagi kalau nanti udah lahiran. Saya malahan ngak bisa bedain kalian lagi? Yang mana anak dan yang mana orang tua karena tingkah kalian yang mirip."


Zaina merampas tisu itu.


"Ini lu lagi roasting gue ya? Sengaja mau buat gue malu," omel Zaina untuk menutupi rasa malu dia.


Lihat saja wajahnya yang memerah.


"Roasting gimana deh? Kurangin negatif thinking sama orang lain ya, Zaina. Saya di sini berniat baik untuk kamu dan kalau bisa kamu hilangin rasa curiga itu ke saya. Karena saya nggak akan pernah berbuat macam-macam dan nantinya itu malah buat kamu kecewa."


Zaina menghela napas dalam.


"Gimana gue bisa percaya lagi sama orang lain setelah di khianati dengan laki-laki yang gue cintai sendiri? Dari situ rasa curiga aku semakin meningkat dan nggak gampang buat percaya sama orang lain lagi. Apa lagi sama lu yang cuma tiba-tiba datang dan gue aja gak tahu sama sekali asal usul lu tuh gimana dah."


Mahen menatap serius.


"Kekasih kamu itu ya kekasih kamu dan saya ya saya. Kita berbeda dan jangan samakan kami berdua karena kita itu beda. Kalau kamu nggak percaya sama saya. Saya nggak masalah. Tapi jangan samakan kami berdua."


Zaina menarik napas dalam dan menunduk. Ah rasanya dia jadi nggak selera buat makan lagi.


"Maaf Zaina ... tapi kamu harus mulai lupain dia kalau misalnya memang ada niat baik untuk berhubungan dengan saya. Jadi, saya harap kamu bisa lakuin apa yang saya pinta."