
Begitu masuk ke pintu masuk, Zaina langsung disambut dengan wajah khawatir sang oma yang begitu terlihat sangat sedih sekaligus khawatir. Tubuh oma sedikit ling lung saat mendapati cucunya masuk. Zaina buru-buru beranjak dan menopang tubuh oma.
"Oma ... Zaina kan bilang jangan panik kayak gini. Daddy baik-baik aja kok," sungut Zaina yang ikutan panik melihat omanya yang seperti ini.
Zaina menuntun oma untuk duduk kembali lalu dia duduk di bawah sambil memegang bahu omanya yang terkulai lemas itu.
"Oma tarik napas, lalu keluarin lagi. Ulangin terus sampai oma agak mendingan. Aku nggak mau bawa oma ke rumah sakit kalau oma masih kayak gini," titah Zaina lalu beranjak ke dapur untuk membuat teh hangat untuk ibu dan omanya itu.
Sesekali Zaina melirik ke arah oma yang masih menunduk, melamun. Seperti memikirkan masalah ini dengan begitu berlarut. Perempuan itu hanya menarik napas dan menatap segan.
"Aku tadi juga ke mommy gitu, mommy keliatan panik banget dan bingung harus apa. Makanya aku suruh mom untuk sabar dulu, soalnya kalau ke rumah sakit dengan keadaan yang panik malah buat daddy nanti jadi sedih."
"Ah iya, bukannya mommy kamu mau ikut?"
Zaina mengangguk. "Itu ada di depan."
"Kenapa nggak di suruh masuk?" tanya sang oma
"Sedikit sungkan oma, oma tahu sendiri kan kalau hubungan oma—
Suara ketukan di pintu membuat Zaina berhenti dan ikut menoleh. Ia melihat sang mommy yang masuk ke dalam. Kedua perempuan yang sudah berumur itu hanya bisa saling menatap tanpa mengatakan apa-apa sama sekali.
Sampai mom Nadya mendekati oma dan mereka berpelukan hingga menangis.
"Aku harap ini menjadi awal yang baik untuk semua orang," gumam Zaina kembali menuntaskan kegiatan membuat minumannya.
Setelah selesai, Zaina menaruh gelas itu ke meja hingga menimbulkan suara denting membuat kedua orang itu kembali melepas pelukan.
"Oma sama mommy bicara berdua dulu aja. Zaina tunggu ke depan. Nggak usah buru-buru, kalian berdua ngomongin baik baik dulu aja. Ada yang mau Zaina urus juga."
Zaina melipir ke luar membiarkan oma dan mommy Nadya untuk beristirahat sejenak sembari mengeluarkan isi hati mereka. Karena Zaina merasa mereka butuh bicara berdua dan terutama, mereka butuh waktu untuk berbaikan.
***
Selama menunggu oma dan mommy Nadya bicara empat mata. Zaina sudah terduduk di mobil dan mengeluarkan ponselnya. Ia berusaha mencari tahu proyek yang sedang di kerjakan sang daddy hingga menimbulkan masalah cukup besar seperti ini.
Sampai sedang asyik menggulir ponselnya, ponsel perempuan itu berdering dan nama Mahen langsung menghiasi layar membuat Zaina tersenyum tipis dan buru buru mengangkatnya.
/Zaina ... kamu baik-baik aja kan? biasanya kamu selalu ngabarin mas terus. Tapi sampai jam segini kamu nggak ada tuh ngechat mas lagi. Kamu nggak ke napa-napa kan? Sebenarnya dari tadi mas mau nelepon kamu. Tapi mas lagi sibuk banget. Banyak kerjaan yang masuk. Jadi nya nggak bisa hubungin kamu. Ini aja nyuri waktu biar mas bisa tuh buat nelepon kamu. Soalnya mas udah kangen banget nih sama kamu. Ya ampun .../
Zaina terkikik mendengar ucapan Mahen yang panjang lebar disaat ia baru mengangkatnya.
/Ih ... kok kamu malah ketawa sih?/ keluh Mahen dengan suara mendayu
"Hahaha maaf ya mas, aku nggak bermaksud ketawa kok. Aku suka aja sama cara khawatir kamu yang ngeliatin banget kalau kamu tuh memang khawatir gitu. Khas kayak orang yang sayang banget gitu loh. Dan aku minta maaf karena nggak bisa ngabarin kamu sama sekali."
/Okei .. mas maafin dan sekarang tolong jelasin sama mas. Kamu itu habis dari mana? soalnya mas penasaran banget./
Zaina menceritakan semua yang terjadi hari ini.
Dari ia yang harus ke rumah oma untuk memasak dan mengurus sebagian hal tentang omanya. Sampai Zaina mendapat kabar yang mengejutkan dan kurang baik dari sang daddy. Semua Zaina ceritakan dengan detail.
"Pokoknya begitu deh mas dan untungnya, daddy beneran nggak apa-apa dan aku nggak harus khawatir banget. Yaa ... soalnya kan di sini juga ada mommy yang terlampau panik dan khawatir. Aku jadi harus nenangin diri, biar nggak bikin nambah panik."
/Ya ampun ... ada aja ya orang jahat kayak gitu,/ papar Mahen tertuju ke orang yang nyebabin calon mertuanya sampai masuk ke rumah sakit kayak gini. /Kalau kayak gitu, nanti mas usahain cepet deh buat ngurus kerjaan mas. Biar mas bisa jenguk daddy kamu. Mas bawa apa nih? daddy kamu sukanya apa? biar mas bawa. Kalau yang mas tahu kan daddy kamu itu paling suka sama martabak. Tapi lagi sakit kayak gini masa dibawa martabak sih."
Zaina terkekeh, memindahkan ponselnya ke telinga yang lain.
"Kamu datang aja, daddy pasti seneng kok. Nggak usah repot mas. Rekan kerja daddy pasti udah banyak yang datang dan mereka pasti bawa bunga atau buah. Yang ada makanannya jadi mubazir. Cukup kamu kok, pasti daddy seneng."
/Kamu yang seneng atau om nih yang seneng?/ tanya Mahen membuat Zaina menutup wajahnya yang malu.
Ketahuan ...
/Loh kok diem aja? mas bener ya? jadi bukan daddy kamu yang butuh nih? tapi kamu?/
"Oh iya mas kalau kamu tahu nggak sih perusuh yang tadi aku bilang itu? dari Z corp itu?"
Terdengar kekehan Mahen dari seberang sana membuat hati perempuan itu mencelos dan ikut menutup wajahnya. Karena sebentar lagi akan mendengar ledekan dari Mahen.
/Ah kebiasaan suka ngalihin omongan kalau lagi serius begini. Bilang aja kalau kamu mau ketemu sama mas. Cie kangen sama mas nih .../
KAN!
Zaina tidak bisa apa-apa selain menjauhkan ponselnya dari telinga. Tidak mau Mahen mendengar pekikkan dia.
Sampai panggilan Mahen dari ponselnya terdengar lagi. Zaina berdeham dan mendekatkan ponselnya ke telinga lagi.
"Iya?"
/Oke serius ... tentang Z corp sendiri tentunya mas tahu dan beberapa minggu yang lalu. Dia baru mengajukan kerja sama dengan perusahaan mas. Tapi karena perusahaan mas lagi sibuk, jadi mas belum balas kontak dia sama sekali. Tapi sekarang mas bersyukur karena belum milih untuk menandatangani kerja sama itu./
Zaina menghela napas pelan. Ia menyandar ke kursi mobil dan menatap kosong ke arah langit di depannya.
"Aku bingung, mas. Aku baru hadepin kejadian kayak gini. Tapi aku udah janji sama daddy untuk ngurus ini. Soalnya aku mau mandiri dan nggak tergantung lagi sama mereka."
/Hftt ... mas khawatir sebenarnya. Tapi balik lagi, kalau kamu memang mau begitu. Mas bisa bantu. Kamu tenang aja, Ada mas disini ... mas akan selalu ada untuk kamu dan ngebantu semuanya. Jadi, kamu nggak usah terlalu di pikirin ya. Biar mas cari jalan keluarnya./
"Ya udah ... makasih banyak ya mas. Nanti aku bantu juga kalau masalah ini disini udah selesai."
/Iya sayang ../
Mereka terus berbincang hingga Mahen berpamitan karena ada panggilan dari asistennya. Telepon pun terhenti. Tangan Zaina masih bertaut dengan ponselnya. Ia tersenyum begitu tipis. Bahagia memiliki laki-laki yang begitu paham sama kondisinya saat ini.
Tak mau berlarut, Zaina beranjak keluar mobil. Namun langkahnya terhenti saat melihat mom dan omanya berbincang.
Tapi,
Dengan senyuman lebar di wajah mereka.