
/Bawa saya pergi dari sini./
Mungkin itu salah satu kalimat yang harus Zaina teriakan di depan muka Ghaly. Sayang Ghaly memilih keluar karena merasa nggak enak, tidak ada asisten yang ada di ruangan ini. Walau Ghaly terus bertanya pada Zaina kalau dia sanggup nggak sebelum pergi dan meminta Zaina untuk memanggilnya kalau sampai ada sesuatu.
Tapi mau bagaimana manggil? kalau mereka saja nggak pernah memberi kesempatan Zaina untuk berbicara.
"Eh kamu ini anak dari pak Zidan kan?"
Zaina yang merasa terpanggil langsung mendongak dan mengangguk. "Iya bu ... mohon bantuannya. Saya masih terbilang baru di dunia seperti ini. Jadi mohon bantuannya."
"Tapi ... memangnya kamu sanggup?" tanya perempuan yang mengenakan baju seksi, yang sejak tadi melihatnya dengan. "Bukannya kamu orang yang sama dengan orang yang muncul di berita beberapa waktu yang lalu? kamu ini di gosipkan sama pemilik perusahaan— eh iya sama pak Mahen kan? ya ampun ... kalian masih punya hubungan kah? makanya sekarang mau duduk berdua kayak gini?"
Zaina langsung menyangkal dengan menggeleng.
"Kami sudah nggak ada hubungan apa-apa," ucapnya dengan cepat karena takut Mahen terganggu sama hal ini. "Dan juga ... tidak perlu membahas masalah ini lagi. Toh semuanya udah berlalu dan sekarang aku datang sebagai anak dari daddy Zidan, untuk membicarakan perusahaan. Bukan gosip sama sekali."
Perempuan itu menyilangkan kaki dan menatap Zaina dari atas sampai bawah lalu tertawa sambil menggeleng kecil. "Kami ternyata muna juga ya ... kamu meminta saya untuk nggak menceritakan masalah ini lagi? tapi apa ... perbuatan yang kamu lakukan sudah membuat nama perempuan jadi jelek. Seolah semua laki-laki tau kalau kaum kami tuh sangat jelek dan kelakuannya cuman bisa mempermalukan saja."
"Tapi—
"Benar mbak Zaina," ucap yang lain. "Saya sebenarnya sangat nggak peduli dengan gosip di luaran sana. Tapi berita ini benar-benar sangat boom sampai saya hanya bisa melihat berita tentang anda. Jadi ... saya sedikit kepikiran. Apa perempuan yang bisanya main laki-laki seperti anda mampu mengurus perusahaan?"
Hati Zaina seakan dihujani ribuan jarum.
Kenapa di saat ia berusaha keras untuk keluar dari semua kenangan masa lalu yang sangat menyakitkan. Masih aja ada orang yang membahas ini dan membuat luka lamanya terbuka kembali?
kini Zaina hanya mampu menunduk.
Tidak tahu harus melakukan apa lagi.
"Benar juga ... saya jadinya kasihan sama pak Zidan. Dia selalu berusaha keras untuk membuat perusahaannya bangkit dari keterpurukan yang dibuat anaknya sendiri. Tapi kini malah anaknya yang ngurus perusahaan Ini. Pasti pak Zidan sendiri nggak mau perusahaannya kembalj jatuh. Tapi mungkin kamu maksa ayah kamu buat kasih perusahaan itu."
Perempuan yang pertama kali memancing langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Maaf ya Zaina ... bukan maksud saya untuk memancing keributan di sini. Saya hanya mau mereka tahu kelakuan kamu yang sebenarnya dan nggak cuman itu saja. Saya harap mereka sadar kalau perbuatan kamu mampu buat bahaya perusahaan yang menaruh harapan di tempat kamu. Jadi ... saya hanya mengingatkan saja."
"Hahaha ... iya santai saja," jawab Zaina dengan senyuman yang sangat tipis. "Saya sudah terbiasa dengan hal kayak gini dan di sini saya juga minta maaf karena perbuatan saya menganggu kalian. Jika kalian memang nggak percaya lagi sama saya. Kalian bisa narik saham dari perusahaan kami. Kami tidak pernah memaksa kalian menaruh saham di sini."
"Jangan sombong kamu!" bentak seseorang.
"Saya tidak sombong. Saya hanya antisipasi, takut salah satu dari kalian nggak percaya lagi sama kami dan malah membicarakan hal buruk di belakang kami."
"Betul ... saya yakin pak Zidan pasti sebenarnya malu punya anak yang nggak bisa di andalkan seperti ini dan kerjaannya hanya membuat malu keluarga saja. Jangan malah nambah beban orang tua kamu ..."
"Sudah hamil di luar nikah. Ketahuan selingkuh. Ramai di berita dengan berita tak mengenakan. Duh kalau jadi pak Zidan mah pasti udah mengasingkan anaknya karena benar benar mempermalukan."
Semua omongan mereka benar-benar menyakiti Zaina. Memang benar feeling dia sejak tadi. Sangat enggan untuk datang ke tempat ini dan lihat saja sekarang. Mereka semua hanya bisa mengatakan hal buruk yang menyakiti dirinya. Ia benar-benar nggak tahu lagi harus mengatakan apa.
Yang lebih lucu, Zaina hanya melihat Mahen diam di pojokan dan menikmati minuman. Tak ada lirikan sama sekali. Dia sama sekali nggak pernah khawatir.
Rasanya sangat sakit. Ini terlampau menyakitkan. Hati dia benar-benar nggak kuat.
Karena ... sepertinya Mahen benar-benar udah melupakan dirinya dan nggak akan pernah peduli lagi sama dia. Zaina mengubur dalam-dalam keinginan untuk kembali bersama dia. Yang kini Zaina harapkan hanyalah dia meminta maaf sampai Mahen memaafkannya saja.
Tanpa campur aduk masalah lain.
"Terima kasih atas masukan kalian. Tapi kalian udah menyakiti hati aku," jujur Zaina.
"Alah ... nggak usah sok paling tersakiti. Karena memang kamu yang salah di sini dan nggak cuman itu doang. Kamu juga udah punya anak kan? di mana anak kamu itu? perempuan yang memiliki anak tanpa bapak kayak kamu itu nggak perlu ngerasa sok tersakiti. Nggak cuman itu, anak kamu—
BUGH!
Zaina bangkit setelah memukul meja, membuat mereka semua terdiam.
"Jaga ya mulut kalian!" teriaknya. "Kalian kalau mau hina saya, hina saya saja. Nggak usah bawa-bawa keluarga saya apa lagi anak saya! anak saya udah tenang di atas sana. Jadi kalian nggak perlu ngomong macem-macem. Anak saya nggak ada salah sama kalian. Jadi kalian nggak perlu hina sampai segininya."
"Berlebihan banget sih ..."
Ziana menggeram marah.
"Terserah ... saya nggak akan pernah peduli lagi. Kalian bawa nama anak saya. Saya tahu kalau saya salah, tapi jangan pernah kalian bawa-bawa anak saya karena saya nggak akan diem saja."
Tiba-tiba pintu terbuka dark luar dan Ghaly masuk. Sepertinya Ghaly mendengar teriakan Zaina dan Ghaly semakin dibuat terkejut dengan kondisi Zaina yang sudah menangis.
Tanpa bertanya lebih lanjut. Ghaly langsung membopong Zaina. "Maaf ... kami permisi terlebih dahulu. Kalian lanjutkan lagi saja."
Ghaly terus mengusap punggung Zaina sampai mereka keluar dan Mahen hanya mampu melihat dengan tatapan yang tak bisa diartikan sama sekali.
"Mereka jahat, Ghaly ..."