
Mereka kembali ke dalam setelah Mahen sudah puas menumpahkan kesedihan pada Zaina dan setelah Mahen merasa dirinya jauh lebih baik ketimbang beberapa saat yang lalu. Yang masih di lingkupi rasa sedih yang berlebihan.
Zaina mengangguk sambil menatap Mahen. Ia gandeng tangan laki-laki itu, berusaha memberi kenyamanan. “Ada aku ya, mas ... kamu nggak usah khawatir sama sekali. Kita hadapi mereka bersama. Pokoknya kita pasti bisa!”
Mahen tertawa renyah. “Iya sayang ... kita hadapi bersama,” tekadnya lalu semakin mengerat kan genggaman tangan mereka sebelum masuk kembali ke dalam rumah.
Tatapan dari orang diacuhkan sama keduanya. Mahen sama Zaina seolah memiliki dunia mereka sendiri, seolah mereka nggak akan pernah bisa masuk ke dunia tersebut. Keduanya benar-benar menikmati candaan mereka sendiri, sampai suasana hening kembali datang. Dan tak lama ... nenek sama Alfi turun dari lantai dua.
“Mahen ... setelah bentak nenek kayak tadi, kamu nggak ada niatan kah untuk minta maaf sama nenek?” tanya sang nenek sambil menuntun tongkatnya mendekati mereka sambil di pegangi perempuan di sampingnya. “Kamu ini di ajarin siapa sih? Padahal sopan santun itu yang paling utama, tapi malahan bersikap kayak tadi. Nenek kecewa sama kamu.”
“Diajarin siapa?” sarkas Mahen lalu tertawa remeh. “Aku belajar dari nenek sendiri lah,” jawab nya membuat semua orang terkejut di sana. “Wong ... sampai detik ini aja nenek nggak pernah minta maaf sama aku karena udah menghabiskan nyawa seseorang. Dan itu jauh lebih gede masalahnya di banding sama perbuatan aku yang tadi. Tapi ... nenek nggak ada tuh minta maaf sama aku. Jadi, buat apa aku minta maaf sama nenek.”
“MAHEN!”
“Kenapa ... nggak usah ikut campur deh,” balas Mahen menatap Alfi. “Lu juga ada sangkut pautnya sama kematian Fia. Jadi, nggak usah sok ngebela di depan gue. Lu cuman hama tau nggak sih.”
“Mahen ...,” panggil neneknya dengan nada rendah lalu menggeleng. “Kamu tuh sebenarnya kenapa, cu? Kenapa masalah lama selalu aja kamu sangkut pautin terus. Udah beberapa tahun yang lalu. Tapi, masih aja kamu bahas ... yang lalu biarlah berlalu. Nenek nggak suka kamu membicarakannya lagi.”
Mahen tertawa kecil.
“Ya ... itu bagi nenek, tapi nggak bagi aku. Walaupun udah beberapa tahun lamanya, ingetan itu nggak bakal aku lupain sama sekali!” jawab Mahen dengan penuh penekanan. “Kelakuan seseorang yang membuat nyawa orang lain lenyap. Bahkan pelakunya masih bisa santai, aku nggak akan pernah bisa lupa!” Mahen mengepalkan tangan. “Kalian ... argh!”
Mahen meninju udara kosong dan memekik pelan.
Napasnya memburu.
“Tenang ... nggak apa-apa, semuanya bakalan baik-baik aja,” bisik Zaina sambil mengusap lengan laki-laki itu. “Ini bukan salah kamu sama sekali. Nanti kita kirim doa buat Fia ya. Biar dia tenang di alam sana ...”
Napas Mahen mulai teratur. Tapi ia masih menatap tajam pada nenek dan Alfi yang menunduk.
“Dan sekarang nenek bawa perempuan ini ke sini lagi?!”
Nenek Mahen berdeham dan duduk. “Karena nenek masih mau lihat kedekatan kamu sama Alfi. Nenek mau kasih tau ke kamu kalau Alfi jauh lebih segalanya di banding perempuan yang ada di samping kamu. Dia jauh lebih sopan di banding dia. dan ... tentunya, Alfi jauh lebih punya adab dan tau aturan, di banding perempuan itu yang bahkan hamil di luar nikah.”
“...”
“Cuih ... ajaran orang tuanya—
“Ma!” panggil ayah Mario membuat Zaina kembali menutup mulutnya. “Mamah bilang nggak bakalan bahas ini lagi ya kalau aku sama keluarga kecilku datang ke sini. Udah berapa kali juga aku bilang ... stop jodohin anak Mario sama perempuan asing. Karena ini hidup Mahen, biar dia yang milih jalan hidupnya. Bahkan Mario aja nggak akan pernah maksa Mahen untuk lakuin yang Mario mau. Mario mau Mahen jalanin hidupnya dengan sesuka dia, asal tertata.”
“Maaf,” sela Zaina dengan sangat sopan.
“...”
“Aku nggak masalah mau dibilang apa pun sama kalian semua yang ada di sini. Tapi satu, jangan bawa-bawa orang tua aku. Karena ini pure kesalahan aku ... dan stop untuk ceritain masalah ini,” Zaina menoleh pada Mahen. “Kalian nggak lihat kah kalau dari tadi mukanya Mahen itu pucet setelah kita omongin ini?”
Semuanya langsung memusatkan perhatian ke Mahen.
“Kalau kalian sadar, kalian pasti tahu kalau Mahen sebenarnya nggak suka kita bahas kayak gini. Dia trauma ... dia masih nggak bisa membicarakan hal itu. Jadi ... aku harap nggak usah sok ceritain masa lalu lagi kalau nyatanya hanya ngebuat salah satu orang yang ada di sini jadi nggak nyaman kayak gini.”
Mereka diam.
“Aku memang baru dan mungkin ... sebagian besar dari kalian bakalan bilang kalau aku ini sok tau banget. Tapi, aku nggak peduli sama sekali. Selagi nggak merugikan kalian. Aku akan terus speak up kalau Mahen terganggu kalau kita udah ngomongin masa lalu. Jadi ... tolong berhenti ya. Apa kalian nggak kasihan sama mas Mahen?”
“Kamu tahu apa tentang kami?” julid salah satu perempuan dewasa di sana.
“Kan ... tadi aku udha tekanin kalau, aku emang anak baru dan nggak tahu semuanya. Tapi aku speak up kayak gini cuman demi kenyamanan Mahen doang. Kalian bisa lakuin aktivitas yang emang mau kalian lakuin tanpa bawa-bawa Mahen .. aku mohon.”
“Dengar kan?” ucap bunda Mina sambil menatap calon menantunya itu dengan tatapan sangat lega.
“Kami di sini tidak butuh intimidasi dari kalian, karena kami datang pure karena paksaan kalian. Sebenarnya kami juga malas berada di keluarga yang penuh kepura-puraan ini. Kalian selalu mendesak apa pun tentang kami. Jadi, kami sebenarnya nggak nyaman ada di sini. Tapi ... kami masih memiliki itikad baik sama kalian semua dan memilih untuk datang. Dan kalian juga udah janji sama kami untuk nggak membahas masalah apa pun. Kami datang pure untuk makan siang bersama tanpa embel-embel apa pun. Jadi ... kenapa sekarang malah kayak gini?”
“Sudah-sudah ... kami pamit ke belakang dulu sebelum makan. Kami mau meredakan emosi dulu.”
Sebagai kepala keluarga, ayah Mario langsung menggiring semua keluarga untuk kembali ke halaman belakang untuk menenangkan diri.
Mereka diam sambil menikmati hembusan angin yang sejuk menyelimuti tubuh mereka berempat. Mereka sama sekali nggak mengatakan apa-apa dan memilih untuk menenangkan diri, berusaha mentralkan perasaan mereka.
***
“Bunda beneran berterima kash sama kamu,” ucap Bunda Mina sambil mengelus belakang rambut calon menantunya itu. “Kamu salah satunya yang sadar sama posisi Mahen. Dan kami berterima kasih akan hal itu. Sekarang bunda cuman mau nanya sama kamu, kamu masih sanggup melewati mereka semua saat makan siang nanti atau mau pulang?”
Zaina terdiam untuk sesaat sampai dengan perasaan yakin perempuan itu mengangguk.
“AKU MASIH SANGGUP!”