Love In Trouble

Love In Trouble
Musibah



"Kapan-kapan kamu nginep di sini lagi dong. Oma beneran kangen sama kamu. Padahal biasanya dulu oma nggak pernah masalah kalau sendirian. Tapi semenjak kamu ada di sini, oma jadi suka keramaian dan ngerasa aneh kalau lagi sendiri. Makanya kamu di sini dong ..."


Zaina menatap tak enak.


"Maaf ya oma, Zaina nggak bisa tinggal di sini. Karena rumah oma juga jauh dari tempat kerja. Terus aku nggak mungkin ninggalin mom sama dad gitu aja. Tapi kalau emang aku ada waktu, nanti aku bakalan datang ke sini terus nginep kok. Asal kalau ada apa-apa, oma jangan sungkan buat bilang sama Zaina. Jangan simpen sendiri ya."


Omanya mengangguk dan merelakan Zaina yang harus pergi meninggalkan dirinya lagi.


Dengan perasaan tak enak, Zaina meninggalkan pekarangan rumah. Ia benar-benar datang hanya untuk menyiapkan makanan dan menunggu oma nya makan. Lalu setelah sudah, ia langsung pergi lagi karena sejak tadi ponselnya sudah berdering.


"Kan daddy nelepon lagi."


Dengan sebelah lengannya, Zaina mengangkat panggilan dari dad Zidan dan tak lupa menspeaker lalu menaruhnya di kursi samping.


"Halo dad," seru Zaina sambil melirik ke arah ponsel sebentar lalu fokus lagi ke jalanan. "Daddy jangan telpon terus atuh, aku jadi nggak enak sama oma. Oma ngerasa kalau aku dilarang gitu datang ke rumah, soalnya daddy malah nelepon aku terus."


/Nak—/ panggil daddy dengan suara sedikit panik.


"Dad? daddy kenapa?" tanya Zaina langsung meminggirkan mobilnya dan mengambil ponselnya itu. "Suara daddy kenapa kayak lagi kesakitan? daddy baik-baik aja kan? nggak ada yang nyakitin daddy?" seru Zaina


/Daddy baik-baik aja, tapi ada sedikit kejadian di proyek dan kaki daddy kena beton yang lumayan berat. Jadi daddy terus nelepon kamu. Kamu ke sini ya. Tapi jangan bilang mommy kamu dulu. Nanti yang ada mommy kamu panik. Nantian aja, dad butuh kamu sekarang./


Jantung Zaina langsung berdegup kencang saat mendengar hal itu.


"Rumah sakit mana?" tanya Zaina cepat.


"Iya ... udah daddy diam dulu aja, jangan banyak gerak. Zaina langsung ke sana sekarang juga."


Tanpa pikir panjang, mobil Zaina melesat menuju rumah sakit yang dibilang daddy Zidan. Selama perjalanan otak Zaina benar-benar tidak bisa jernih.


"Apa yang terjadi, ya ampun seharusnya tadi aku langsung angkat telepon daddy. Bukannya malah diem dan nuduh yang enggak-enggak," sesal Zaina


Otaknya benar-benar sudah tidak jernih. Untung jalanan cukup sepi, membuat Zaina mampu ngebut dan tak lama rumah sakit mulai terlihat.


Zaina turun dari mobil dan langsung berlari menuju lobby rumah sakit. Dipandangnya sekitar dan perempuan itu langsung menemui asisten sang daddy yang sudah nunggu Zaina sedari tadi.


"Gimana kondisi daddy?" tanya Zaina seraya mereka beranjak menuju ruang inap daddy Zidan.


"Tuan Zidan tidak apa-apa, hanya kakinya sedikit terkena beton yang cukup berat. Tapi untung cepat di evakuasi, jadi pergelangan kaki tuan Zidan hanya retak sedikit saja dan itu cukup rawat inap saja. Tidak ada yang cukup serius."


Zaina menghembuskan napas lega, setidaknya sang daddy baik-baik saja. Jadi, ia tidak perlu terlalu khawatir banget.


"Tapi kenapa bisa kejadian kayak gini?" tanya Zaina tepat di depan kamar inap sang daddy.


"Sebenarnya ... ada kejadian tak mengenakan di proyek tadi."


"Apa itu?"