
Setelah mommy Nadya kembali, wajah tegas oma langsung berubah menjadi ramah. Zaina bisa menangkap itu semua dengan matanya dan saat itu, perempuan itu langsung sadar kalau omanya memang bermuka dua. Dan berbaikan sama sang mommy hanya lah kedok karena ada yang oma nya mau.
Tapi ... apa yang bisa perempuan itu lakukan? setelah janji yang dia lontarkan begitu saja?
Saat ini,
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Sejak tadi Zaina hanya mendekam di kamar saja dan kini sudah waktunya ia keluar untuk menyambut sang daddy. Ini salah satu rutinitas yang dia lakukan setelah ada di rumah dan sedang bersantai. Dan Daddy nya juga mengatakan ini lah yang buat kekuatan daddynya pulih.
Dengan santai Zaina menuruni tangga.
"Ish kamu ya Zaina. Dari tadi mommy udah suruh kamu turun loh. Ini nggak enak sama oma kamu. Masa oma kamu datang jauh-jauh ke sini. Tapi dari tadi kamu ngedekem terus di kamar. Kamu juga nggak lagi kerja kan? Soalnya daddy kamu yang akhir-akhir ini handle kerjaan."
"Loh ... Dasar Zidan, sudah tua tapi masih saja kerja," sela sang oma dengan gerutuan yang terdengar semua orang. "Memang udah seharusnya Zaina cari suami. Biar nggak keteteran lagi ngurus perusahaan. Karena udah seharusnya Zidan istirahat di rumah. Bukannya terus bekerja kayak gini," pancing sang oma.
"Nadya sih nggak pernah maksa Zaina, Bu." Jawab mommy Nadya. "Selama Zaina nyaman sama statusnya dan dia juga nggak ke napa-napa. Nadya lebih senang Zaina kayak gini. Karena banyak laki-laki di luaran sana yang jahat. Jadi Nadya lebih nyaman kalau Zaina nggak terburu-buru cari cowok," jelas sang mommy membuat Zaina menghela napas lega.
"Loh nggak bisa gitu Nadya," balas oma.
"Nggak bisa bagaimana?"
"Umur Zaina tuh udah sangat dewasa dan Zaina juga udah punya banyak isi buruk yang tersebar luas. Harusnya dia nggak memilih lagi. Karena ... mau gimana pun, saat ini seorang keluarga pasti memiliki menantu yang baik-baik. Tapi kalau tau Zaina yang jadi menantu mereka. Pasti ada lah yang mikir lagi dan milih menolak."
Mommy Nadya melirik pada anaknya yang masih berdiri di anak tangga terakhir. Tak merespon apa-apa. Selain tangan Zaina yang semakin mengepal. Kuku tajamnya sampai menghujam kulit. Terasa sangat menyakitkan. Tapi hati perempuan itu jauh lebih sakit.
"Maksud ibu?"
"Keadaan Zaina yang kayak gini, bukan waktunya perempuan itu untuk pilih-pilih. Sudah seharusnya dia cari yang mau. Tanpa harus memikirkan tampan atau kaya. Pokoknya, ada yang mau aja harusnya bersyukur. Jadi, menurut ibu memang sudah sepatutnya dia dinikahkan saja. Lagi pula ... dengan menikah sepertinya bisa meredam asumsi publik kan?"
"Tapi ... Nadya nggak mau buat anak Nadya jadi nggak nyaman. Maksudnya, menikah kan nggak segampang yang dikira. Ini tentang seumur hidup. Jadi, kalau ada apa-apa. Takutnya malah Zaina yang kena."
"Memangnya kamu sama Zidan nggak ada rencana untuk jodohin Zaina lagi?" pancing sang oma lagi.
Mommy Nadya menggeleng dengan pelan.
"Untuk sekarang, belum ada sama sekali. Nadya sama mas Zidan lagi fokus untuk membersihkan nama Zaina. Jadi, kita masih belum ada kepikiran ke arah sana."
"Tuh dengar kan Zaina?" tanya sang oma pada Zaina.
"Hmm ..."
"Lihat, bagaimana orang tua kamu yang terus berusaha untuk membersihkan nama kamu. Pasti mereka jauh lebih lelah. Di saat umur setua mereka, mereka masih terus saja mengurus kamu. Kamu harusnya tau diri ... cari laki-laki yang bisa menerima kamu—
"Bu ... bukan maksud kami seperti itu. Kami bahagia kok melakukan ini. Ini demi kebaikan Zaina juga kan. Jadi gak ada yang terpaksa sama sekali. Dan ... untuk masalah jodoh, itu urusan nanti. Kalau sudah waktunya, pasti akan ada yang datang juga."
"Mana bisa begitu! Ibu akan cari laki-laki. Kalian menurut saja sama ibu. Memang sudah seharusnya Zaina di kasih sifat yang tegas! Jangan klemer-klemer terus. Pokoknya kamu harus kasih dia penegasan."
Deg!
Rasanya jantung Zaina langsung copot detik itu juga saat melihat mommynya yang mengangguk pelan. Tak berselang lama, suara daddynya yang datang terdengar. Membuat Zaina langsung berlari keluar dan memeluk daddynya itu dengan sangat erat.
"Dad ..."