Love In Trouble

Love In Trouble
Damai?



Tubuh Zaina seperti tersengat listrik saat berjabat tangan dengan Mahen. Laki-laki yang ada di depannya kini menggenggam erat tangan Zaina dan mengusapnya pelan, sebelum melepas genggaman tangan dan kembali duduk di tempat masing-masing.


Pertemuan kali ini mereka hanya diikuti diri mereka saja. Asisten Mahen dan Zaina sama-sama memilih pergi, karena permintaan dari Mahen sama Zaina sendiri. Ada yang mau mereka bicarakan, tentu saja diluar kerjaan.


“Kamu ... gimana kabarnya?” tanya Mahen


Zaina menarik napas dalam. Ia nggak berani menatap mata Mahen. Perempuan itu masih berasa bersalah atas apa yang dia lakukan selama ini. “Maaf ...,” bisiknya pelan membuat Mahen mengernyit bingung. Suara Zaina hanya samar-samar terdengar.


“Tadi kamu bicara apa?” tanya Mahen sekali lagi.


“Maaf,” pekik Zaina kali ini dengan lebih kencang. “Aku minta maaf sama kamu karena udah jadi temen yang buruk. Maaf ... tapi waktu itu aku lagi kalut. Aku beneran nggak pikir panjang sama apa yang sedang terjadi. Aku malah nuduh kamu. Tapi ... maksud aku nggak kayak gitu. Aku beneran minta maaf banget. Aku janji nggak akan ngelakuin hal yang buat kamu sakit hati lagi. Aku cuman mau mendapat maaf dari kamu. Aku nggak minta untuk kita kembali dekat kayak dulu lagi. Karena, aku tau itu nggak mungkin.”


“Nggak mungkin, gimana?” tanya Mahen sambil menatap Zaina.


Zaina terdiam.


Mahen duduk menyandar sambil terus menatap Zaina. Perempuan di depannya ini kelihatan sangat gugup. Ingin rasanya Mahen mendekat dan memeluk Zaina. Tapi Mahen bisa apa? mereka udah nggak ada hubungan sama sekali dan bisa aja Zaina malah salah paham kalau dia melakukan apa yang dia mau.


“Jangan diam saja Zaina, apa yang mau kamu katakan?” tanya Mahen. “Selama ini saya cuman mendapat kata maaf dari orang tua kamu saja. Bahkan mommy sama daddy kamu selalu bilang kamu sangat bersalah setelah mengatakan itu. Nggak cuman itu doang. Kamu juga ngerasa bersalah banget dengan semuanya. Tapi, kenapa malah mereka? Iyu yang selalu saya tanyakan sama diri saya. Karena kan di sini yang salah itu kamu. Bukan mereka.”


Zaina menelan saliva dan menunduk, nggak tahu harus menjawab seperti ini.


Selama ini Zaina memang selalu mengadu ke orang tuanya bagaimana dia sangat sedih dan merasa bersalah atas semua ini. Tapi, dia sama sekali nggak pernah menyuruh orang tuanya untuk meminta maaf sama Mahen. Zaina juga sadar kalau dia nggak pernh meminta maaf sesering itu sama Mahen. Dia cuman minta maaf saat keesokan harinya setelah kejadian itu terjadi.


Tapi ... selanjutnya dia nggak pernah minta maaf sama sekali. Karena merasa nggak enak. Tapi, kenapa ini? kenapa Mahen menganggap dia seperti nggak merasa bersalah sama sekali.


“Mahen ... kamu nggak menerima pesan yang aku kirimkan waktu itu?” tanya Zaina yang sedikit sewot. “Aku udah ngetik panjang lebar untuk minta maaf sama kamu. Tapi apa? kamu cuman baca doang. Kamu nggak ada balas sama sekali. Tapi ... kenapa sekarang kamu malah mengatakan kayak gini? Kayak ... anggep aku tuh orang yang nggak pernah meminta maaf sama sekali atas semua kesalahan yang aku buat.”


“...”


Zaina menepuk dadanya berulang kali dengan perasaan sedih. “Aku juga punya perasaan bersalah kok. Aku minta maaf dan ngerasa nggak enak sama kamu. Makanya aku nggak berani nunjukin diri di depan kamu, karena aku tau kalau kamu mungkin nggak suka sama keberadaan aku setelah itu. Aku juga baru denger dari mulut kamu kalau mommy sama daddy sering minta maaf sama kamu. Padahal selama ini aku nggak pernah nyuruh mereka sama sekali.”


Mahen diam dan nggak menjawab apa-apa sama sekali.


“Sekarang kamu mau apa? kamu mau aku bersujud di kaki kamu?” tanya Zaina dengan sewot.


“Apa-apaan sih,” balas Mahen dengan sedikit marah. “Kenapa malah kamu yang jadinya marah? Padahal ... harusnya aku yang marah sama kamu. Harusnya aku yang ngomong kayak gitu sama kamu. Aku cuman nanya doang. Tapi, kenapa kamu malah ngejawab sewot kayak gini? Kamu marah sama saya?”


Zaina menarik napas dalam. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia nggak mau terpengaruh dan memang sudah seharusnya ia mendapat maaf dari Mahen.


“Mahen ... kamu tuh kayak nuduh aku tahu nggak sih,” ucap Zaina. “Udah lah. Aku nggak mau kita malah berantem lagi. Padahal kita baru bertemu kayak gini. Aku di sini cuman mau bilang sama kamu, kalau aku minta maaf sama kamu atas semua yang terjadi. Aku beneran nggak berniat untuk menuduh kamu dengan kata yang jahat banget. Aku juga nggak ada niatan untuk ngomong kayak gitu. Ini beneran diluar kehendak aku. Aku spotan ngomong kayak gitu ...”


Mahen mengalihkan pandangan ke arah lain, nggak mau menatap Zaina.


“Saya juga minta maaf sama kamu.”


Zaina menggeleng. Memang nggak seharusnya Mahen minta maaf sama dirinya. Karena di sini yang punya salah memang dirinya.


Zaina mengambil matcha yang ada di meja dan menyeruput. Tangannya menggenggam penuh gelas ini. Sesekali Zaina mengeluarkan napas dari mulutnya. Sungguh, sebenarnya saat ini ia masih gugup. Satu-satunya yang menenangkan dirinya, hanyalah keberadaan Ghaly yang masih terlihat di ujung matanya. Ia merasa kalau Ghaly akan membela dia kalau ada sesuatu yang terjadi. Jadi, dia sedikit lega saat melihat Ghaly dari tempatnya duduk.


Mahen mengikuti arah pandang Zaina dan menoleh ke belakang. Ah ... ternyata di sana ada Ghaly, laki-laki yang dulu memiliki hubungan sama Zaina.


“Kamu memiliki hubungan lagi sama laki-laki itu?” tanya Mahen sambil menunjuk Ghaly dengan dagunya.


“Ghaly?”


“Hmm ... untuk apa kamu dekat lagi sama dia? untuk apa? bukannya dia udah noreh luka banyak di hidup kamu. Kamu juga ngapain sih masih maafin dia? ayah dari anak tak bertanggung jawab itu.”


Zaina terdiam. “Semuanya udah berlalu ... dan maaf ya Mahen, dia punya hubungan sama aku dan dia juga punya urusannya sama aku. Jadi, kamu nggak berhak untuk mengurus ini itu. Ini keputusan daddy. Bahkan daddy udah maafin dia. Jadi, kenapa kamu yang harus ribet?” tanya Zaina dengan tawa kecilnya.


“Bukan itu maksud saya ...”


“Tapi, ini bukan salah kamu.”


Zaina mengangguk.


“Memang bukan salah aku sama sekali,” jawab Zaina sambil tersenyum tipis. “Tapi, tetap saja. Kalau hari itu aku nggak ngelamun. Kalau saja hari itu aku nggak jalan di pinggir jalan. Kalau aja hari itu aku nggak gegabah, pasti sampai saat ini anak aku masih ada di sini.”


Zaina menurunkan lengannya dan mengepalkan tangan di bawah meja.


Lukanya masih ada hingga titik ini.


“Tapi—


“Nggak Mahen ... semua orang juga ngomong kalau ini bukan salah aku. Jadi, aku tahu kalau omongan kalian semua itu cuman buat ngehibur aku doang. Tetep aja aku yang paling sadar di sini kalau aku memang salah. Sudahlah ... oh iya aku juga mau ngomong makasih sama kamu. Karena sampai detik ini kamu masih sering datang ke makam.”


“Hah?” kaget Mahen lalu menggeleng. “Maaf Zaina ... tapi karena akhir-akhir ini aku sibuk. Aku jadi nggak sempat datang ke makam. Maksud kamu apa?” tanya Mahen yang bingung juga. “Ini aja aku baru minta ke asisten aku buat ngosongin waktu. Supaya aku bisa ke makam anak kamu lagi.”


“Hah?”


Lalu, semua bunga yang ada di makam anaknya itu milik siapa?


“Beneran bukan kamu?” tanya Zaina lagi. “Maksudnya ... siapa yang ngunjungi makam anak aku lagi selain kamu? Padahal biasanya cuman kita-kita aja yang datang dan bukan cuman mommy sama daddy juga yang datang ke sana. Tapi aku sering nemuin bunga di sana. Masa— ah iya,” ucapnya terpotong saat tahu siapa yang menaruh bunga di makam.


Matanya menatap laki-laki di belakang Mahen, yang masih menunggunya di depan sembari sesekali menoleh ke arah dirinya. Zaina tersenyum sangat tipis.


“Ternyata bukan kamu, pasti Ghaly. Dia yang pasti selalu datang ke makam anaknya.”


Mahen menatap cemburu dan hanya bisa tersenyum tipis.


“Seenggaknya dia bisa menjadi ayah yang baik, walau telat,” seru Mahen yang di angguki Zaina. “Tapi kamu masih punya perasaan sama dia nggak? maksudnya ... kamu dulu cerita kan kalau hubungan kamu sama dia juga nggak secepet itu? Butuh waktu yang cukup lama. Jadi, apa semuanya masih biasa aja pas kamu bareng dia? apa nggak ada sedikit perasaan aja sama dia?”


“Nggak ada sama sekali,” jawab Zaina dengan yakin. “Aku menghilangkan semuanya tepat setelah anak aku meninggal. Aku benar-benar nggak ada lagi perasaan. Yang ada sekarang hanya lah teman biasa dan aku merasa di lindungi saat bersama dengan Ghaly. Begitu juga dia. Dia juga udah menjadi kepercayaan daddy aku. Jadi ... sekarang tuh Ghaly kayak anggap aku adiknya. Dia nggak pernah anggap lebih.”


“Ah ....”


Zaina menarik napas dalam. Ingat dengan salah satu perjanjiannya yang dia buat, sebelum menemui sang anak.


“Oh iya Mahen ... aku nggak tahu ini kamu tuh beneran maafin aku, atau cuman karena merasa nggak enak aja sama aku. Makanya, biar aku percaya kalau kamu udah maafin aku. Boleh nggak sesekali kita main bareng? Nggak usah sering, karena aku nggak enak.”


“Nggak enak? Nggak enak sama siapa?” tanya Mahen yang bingung


“Ya nggak enak aja,” jawab Zaina lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku nggak mungkin bilang secara gamblang kalau kekasih Mahen yang akan membenci dirinya kalau dia terlalu dekat sama laki-laki itu. Ia hanya nggak mau menambah masalah saja.


“Ya ... saya nggak paham maksud kamu. Tapi, kalau kamu merasa saya nggak memaafkan kamu dari hati dan mau kita jalan-jalan sesekali juga boleh aja kok. Nanti kita cari waktu kosong yang sama ya. gimana?”


Zaina mengangguk dengan cepat dan mengucapkan terima kasih.


“Ya sudah Mahen kalau gitu, karena masalah kerjaan jga udah selesai. Kayaknya aku harus pulang duluan ya. Ada urusan lain yang harus aku urus.”


Mahen ikut berdiri saat Zaina sudah lebih dulu berdiri. “Boleh aku minta pelukan?” tanya Zaina dengan suara pelan.


Mahen terkekeh dan menarik Zaina ke pelukannya.


“Maaf ya karena sempat menghilang dan abaiin kamu. Tapi tenang aja. Aku beneran udah lupa sama semua itu. Aku nggak bakalan ungkit lagi kok, kalau mau main. Kasih tau aja. Jangan pernah sungkan sama sekali.”


Zaina mengangguk. “Sekali lagi ... aku minta maaf ya. Maaf atas semua kerusuhan yang ada di hidup kamu, setelah kamu mengenal aku. Pokoknya aku minta maaf.”


“Iya Zaina ... tenang saja. Saya sudah memaafkan semuanya kok.”