Love In Trouble

Love In Trouble
Ghaly Cemburu?



"MOMMY ... lihat dress aku yang bunga-bunga kecil nggak?"


Mommy Nadya yang sedang memasak di bawah langsung terlihat bingung. Karena nggak biasanya Zaina berteriak seperti itu di pagi hari.


"Samperin mommy kamu!" balas sang daddy dengan berteriak juga. "Nggak usah teriak kayak gitu!" lanjutnya


"Mas ... jangan terlalu keras," ucap sang mommy


Tapi daddy Zidan menggeleng. Karena memang dirinya harus tegas kalau berurusan sama anaknya. Dia nggak mau kalau anaknya tumbuh dengan sikap nggak sopan seperti tadi. Jadi daddy Zidan memilih diam saja.


Tak lama, terdengar suara yang sangat ribut. Di saat mommy Nadya menoleh dan ia hanya bisa menggeleng saat melihat anaknya yang berlarian menuruni tangga untuk menghampiri dirinya.


"Maaf ya mom," sesal Nadya. "Oh iya tadi aku mau nanya tentang dress yang selutut itu loh. Yang bunga warnanya hijau sage. Aku udah nemu sabuk nya. Tapi aku nggak nemu dress nya. Mommy pernah lihat nggak?" tanya Zaina yang sangat penasaran itu.


"Kalau nggak salah ada di sekitaran lemari yang gantung itu," jawab mommy Nadya. "Toh kalau dress memang selalu di gantung kan? jadi ... kamu nggak nyari di sana?" tanya mommy Nadya lagi dengan bingung.


"Ih udah!" seru Zaina sambil mengacak rambutnya frustasi. "Tapi nggak ada, sampai aku buka satu-satu tumpukan baju. Tapi tetep nggak ada. Motifnya itu kan bagus banget. Jadi, kalau ketumpukan juga bisa langsung liat. Tapi sekarang? aku nggak liat sama sekali," rengeknya frustasi.


"Lagian tumben banget kamu nyari dress kayak gitu. Gak mungkin kan kamu kerja pakai dress kayak gitu? apa gak terlalu formal banget. Jadi ... dress itu buat apa?" tanya mommy Nadya pelan.


Degh!


Zaina baru inget kalau dia belum mengabari orang tuanya untuk masalah yang satu ini. Ia menunduk, kakinya terus bergerak tanda dia sedang gugup. Ia tersipu malu.


"Duh ... duh ... anak mommy kenapa keliatan malu-malu kayak begini," seru mommy Nadya membuat daddy Zidan langsung mengalihkan pandangan dan menatap wajah Zaina yang sudah memerah.


"Bener kata mommy mu, kenapa muka kamu sampai memerah kayak gini? apa yang buat kamu malu sampai kayak gini?"


"Hari ini aku mau ke rumah keluarga Mahen."


"Oh ... jadi?" gumam sang mommy. "Kamu udah ngehubungin mereka kan? nggak langsung datang kan? soalnya siapa tau gaun itu udah dibuang sama mereka. Jadi kamu sia-sia datang ke sana."


"Ih enggak dong, aku juga masih punya sopan santun," gumam Zaina sambil mengerucutkan bibirnya. "Kemaren aku udah teleponan sama Mahen dan semuanya masih di simpan baik sama mereka. Jadi, aku tanya aja sama Mahen kalau aku boleh bawa nggak. Eh kata Mahen nanti datang aja ke rumah. Mahen juga yang bakalan jemput aku ke kantor nanti. Biar aku nggak terlalu canggung di sana."


"Ah jadinya anak mommy mau kencan nih?"


Wajah Zaina semakin memerah berbanding terbalik dengan rengekannya yang mengatakan nggak suka.


"Mommy nggak lupa kan kalau Mahen udah punya tunangan? jadi ... nggak usah ngomong kayak gitu deh," peringat Zaina yang juga menyakiti hatinya itu.


"Hahaha ... tapi mommy gemes lihat kamu yang semangat kayak gini. Tapi ya sudah lah. Mungkin kalian memang bukan takdir cinta terakhir. Kalau gitu mommy bantu kamu cari bajunya deh. Biar nunjukkin hal terbaik anak mommy."


"Toh ... pertunangan itu juga nggak ada lanjutannya kan?" sela sang daddy membuat Zaina menoleh.


Zaina mengangkat bahu, acuh. "Aku nggak terlalu ngikutin lagi sih dad, takut sedikit sakit hati. Makanya aku nggak tau kelanjutannya gimana."


"Oh kamu nggak ngikutin?" seru daddy Zidan. "Pokoknya sampai detik ini nggak ada kelanjutan gitu dari perusahaan perempuan itu. Dan nggak ada penjelasan apa-apa dari pihak keluarga Mahen juga. Sedikit aneh sih. Soalnya kalau melihat kita dulu. Kita kan langsing klarifikasi dan mengiyakan. Kalau ini mah nggak ada."


"Mommy rasa juga memang ada yang aneh ..."


"Dan kamu nggak nanya langsung ke Mahen?" tanya daddy Zidan membuat kedua orang tuanya langsung memusatkan perhatian ke Zaina.


Zaina menggeleng.


"Aku sama Mahen pure mau bertemen. Jadi, aku nggak mau ikut campur sama masalah ini dulu dad. Jadi aku beneran diam aja deh. Nggak mau peduli."


"Ya sudah kalau kamu memang maunya begitu. Nanti kalau mereka ada ngelakuin macem-macem ke kamu dan buat kamu nggak nyaman. Apa lagi Mahen sampai nggak bela kamu. Kamu bisa hubungin daddy atau Ghaly. Biar kami langsung jemput kamu."


Zaina mengangguk.


"Ghaly udah ngomong kayak gini kok dad. Jadi daddy nggak usah khawatir sama sekali."


"Hahaha anak itu memang perhatian banget ya sama kamu," ucap sang daddy yang di angguki sama mommy Nadya.


"Benar ... mommy rasa dia masih punya perasaan sama kamu. Benar-benar dia selalu treatment kamu dengan baik. Sampai kami kadang merasa iri. Walau akhirnya selama kamu seneng, kami juga nggan akan peduli."


Zaina menarik napas dalam.


"Aku juga kadang ngerasa gitu. Ghaly terlalu berlebihan sama aku. Tapi aku milih buat pura-pura aja," jelas Zaina sambil menghembuskan napas kasar. "Aku nggak mau ngelibatin perasaan lagi. Jadi, aku pura-pura aja nggak tau sama perasaan yang dia punya."


"Ya ampun, nak ... tapi jangan buat Ghaly sampai sakit hati. Dia udah baik banget sama kamu. Kalau memang dia sampai nyatain perasaan sama kamu. Kamu jawab pelan dan hati-hati. Dia udah super baik sama kamu. Kami jadi nggak enak kalau menyakiti hati dia juga."


Zaina tertawa dan mengangguk.


"Mommy tenang aja, aku juga nggak sejahat itu kok. Hayuk, keburu siang. Nanti keburu kesiangan aku pergi ke kantor nya."


"Alah, kantor punya kamu juga," seru sang daddy sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya memang ... tapi daddy sendiri yang nyuruh aku buat taat peraturan! jangan mentang mentang jadi pemilik perusahaan. Aku jadi bebas."


Mommy Nadya yang mendengar hanya tertawa. "Kamu di ulti sama anak kamu sendiri, mas."


Setelah itu, Zaina langsung mengajak mommy Nadya ke atas. Untuk mencari baju yang dia inginkan itu.


***


"Beneran deh, kamu aneh banget pakai baju dress sebagus ini padahal cuman kerja," seru Ghaly yang memang lagi santai di ruangan kerja Zaina. Mereka sedang mengurus berkas dan sejak tadi mereka terus berbincang santai. Seolah nggak ada di kantor.


"Aneh ya?" tanya Zaina sambil memandang dress selutut sage yang memang ia ingin kenakan itu.


Tadi ...


Masalahnya, sebelum itu Zaina udah mmecari di tempat yang sama. Tapi nggak menemuinya sama sekali. Kenapa pas dicari sama mommy nya. Mommy Nadya itu langsung menemui di tempat yang sama? sedikit aneh, tapi memang itu yang terjadi.


Tapi ... ya sudahlah. Yang penting dia sudah pakai gaun yang dia mau itu.


"Oh iya ... memangnya aneh?" tanya Zaina lagi saat melihat Ghaly yang malah melamun.


Ghaly mengerjap dan menggeleng kecil. "Mana ada aneh. Kamu malah cantik banget kalau pakai kayak gini," jujur Ghaly dengan semangat membuat perempuan itu langsung tersenyum bahagia. "Gue nanya ya cuman sedikit ngerasa aneh aja gitu. Soalnya kan ... nggak biasanya lu pakai baju formal kayak gini dan nggak cuman itu aja. Biasanya juga cuman pakai celana dan kemeja oversize doang."


"Itu karena nanti pas jam makan siang gue mau ketemu sama Mahen dan datang ke rumah keluarga Mahen. Jadi, gue mau kasih yang terbaik. Soalnya juga ... nanti nggak ada kerjaan kan? hari ini sedikit lebih lowong di banding hari biasanya kan?"


"Oh ..."


Salah satu alis Zaina terangkat. Ia melirik ke arah Ghaly yang langsung berubah ekspresinya. Diam-diam Zaina menarik napas dlam.


Paham perasaan Ghaly yang mungkin saat ini sedang sesak. Tapi Zaina bisa apa? dia juga mau kalau Ghaly menghilangkan perasaan ini. Karena Zaina sungguh nggak mau kalau mereka nanti malah tergantung sama perasaan ini. Dia nggak mau sama sekali.


"Tanggepan kamu cuma itu?" tanya Zaina dengan suara yang merendah. "Padahal gue tadi nanya."


"Ah itu ... iya ada jam kosong kok," jawab Ghaly singkat dan kembali berkutat sama kerjaan.


Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Suasana nyaman yang tadi terbentuk. Tiba-tiba saja berubah jadi canggung dan mereka sama sekali nggak tahu harus melakukan apa selain menyibukkan diri sama perasaan sendiri.


Sampai Zaina terdengar pergerakan dari depannya. Ia noleh dan melihat Mahen yang mau berdiri dan sedang merapihkan laptopnya.


"Mau ke mana kamu?" tanya Zaina dengan cepat.


"Ah ini ... kayaknya gue kerja di ruangan gue aja. Kamu juga udah nggak ada yang di tanyain lagi kan? jadi mendingan gue kembali aja. Nanti kalau ada yang di tanya lagi. Bisa chat aja."


"Enggak boleh!" seru Zaina membuat pergerakan Ghaly langsung terhenti. "Ayolah ... sekarang memang belum ada pertanyaan sama sekali. Tapi bagian yang bikin gue bingung, belum lewat sama sekali. Jadi, nggak usah balik sekarang. Dari pada nanti kamu bolak-balik kan? Jadi kamu tunggu di sini dulu aja."


Samar Samar Zaina mendengar helaan napas dari seberang sana. Zaina memejamkan maya sembari meminta maaf dalam hati karena membuat Ghaly nggak nyaman seperti ini.


Tapi dia nggak mau kehilangan Ghaly. Dia nggak mau kalau Ghaly sampai marah sama dirinya. Dia tahu kalau dirinya egois, tapi maaf ...


Ghaly kembali duduk di sana dan mengerjakan dengan tenang.


"Kalau nanti ada apa-apa gue boleh nelepon lu kan?"


Ghaly menghembuskan napas kasar dan menatap ke arah Zaina. "Iya Zaina ... nggak cuman itu, kalau ada apa-apa juga jangan lupa untuk jelasin sama gue dulu. Karena gue beneran selalu ngomong kayak gitu kan? Biar masalah yang lu hadepin. Kita hadepin bersama. Gue nggak mau kalau selama ini lu ngerasa tersingkirkan."


Zaina tersenyum simpul.


"Lu kenapa baik banget sih sama gue?"


"Apa yang harus gue jelasin lagi?" tanya Ghaly dengan senyuman tipis. "Gue kan udah bilang berulang kali, kalau hidup gue udah di dedikasikan sama lu. Jadi lu kalau ada apa-apa jangan lupa cerita sama gue."


"Aneh nggak sih sebenernya?" tanya Zaina.


"Aneh gimana?"


"Sekitar dua tahun yang lalu kita masih pacaran. Bahkan saat itu kita nggak pernah kepikiran bakal kayak gini. Dan sekarang kalau inget dulu tuh jadi sedikit ngerasa aneh. Aneh sekaligus bahagia gitu loh. Karena nggak bisa ngebayangin kalau hidup secepat ini berubah dan juga nggak bisa ngebayangin kalau banyak pelajaran hidup yang udah kita lewatin."


Ghaly tersenyum simpul dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia menatap ke arah luar dan memandang langit yang sangat cerah.


"Benar-benar berubah ya ..."


"Iya kan ... kadang lucu aja gitu. Dalam satu tahun terakhir semuanya kayak cepat berubah. Dari aku yang bakal ngerasain jadi seorang ibu tapi akhirnya gagal. Atau kita yang dulu mimpiin buat nikah, tapi akhirnya begini dan yang paling terakhir. Ada diri gue yang dulu masih slengean dan nggak suka sama hal sibuk gini. Tapi sekarang harus siap menguris perusahaan. Sedikit aneh, tapi ini lah yang terjadi."


Ghaly mengangguk lagi, dia sangat setuju.


"Menurut kamu ... jalan hidup kamu yang sekarang itu berubah jadi makin baik atau buruk?" tanya Ghaly yang penasaran.


"Baik dong ... dalam dua tahun terakhir gue jadi paham gimana rasanya sakit hati karena dua pria—


"Eits ini lagi nyindir gue?" sela Ghaly membuat Zaina tertawa dan bersyukur kalau pancingannya membuat Ghalh jadi kembali bersikap santai.


"Ya gitu ... pokoknya, gue jadi paham lah gimana ngelewatin rasa sakit hati kayak gini dan nggak cuman itu aja. Gue juga jadi tahu kalau disudutin semua orang tuh hal yang paling bikin gue sakit. Tapi satu .. mungkin diri gue bisa jadi lebih kuat karena udah ngelewatin ini semua? walaupun lewatin ini sampai capek sendiri dan terus berpikir buat nyerah."


"Hahaha ... tapi mulai ke depannya harus terus baik dong."


Zaina berharap seperti itu.


"Kalau kamu sendiri?"


"Kalau gue mah sih nggak terlalu mikir ya, kayak ya udah jalanin aja. Tapi satu yang kadang buat gue sakit hati sendiri. Pas sadar kalau sebenarnya gue udah jadi seorang ayah dan fakta kalau gue nggak bisa jadi ayah yang baik untuk anak gue. Itu doang sih yang gue pikirin sampai detik ini."


"Ah iya ... anak kita."


Ghaly tersenyum miris.


"Semoga dia bahagia ya di atas sana. Aku udah berusaha buat nggak nangis kalau bahas tentang anak kita."


"Hebat ... kamu udah hebat dan tenang aja. Selama kita gak sedih, pasti anak kita bahagia kok di sana. Kita cukup doa saja."


Sedang asyik berbincang, pintu ruangan Zaina di ketuk dan setelah Zaina izinkan. Seorang OG masuk dan menunduk sopan ke arah mereka.


"Maaf nona, tapi di bawah ada tuan Mahen sedang menunggu nona. Di suruh naik saja atau nona mau turun?"