
Dengan panik mommy Nadya mendatangi meja Ghaly. Di sana laki-laki itu langsung berdiri dan menatap bingung.
"Zaina baik-baik saja kan?" tanya mommy Nadya masih dengan wajah yang sangat panik.
Dengan bingung Ghaly menatap ke arah pintu ruangan Zaina dan mengangguk dengan sangat ragu. Dia juga nggak tahu kalau Zaina baik-baik saja di dalam sana atau enggak. Karena dia juga masih belum bisa memanggil Zaina sejak tadi. Dia hanya berusaha memastikan kalau Zaina nggak keluar dengan keadaan kacau.
"Ya ampun ... jadi kamu belum liat keadaan Zaina sama sekali?"
Dengan cepat daddy Zidan langsung menghampiri ruangan Zaina. Ia buka pintunya dan berdecak kesal saat pintunya itu di kunci dari dalam. Dengan cepat, dia memutar otak dan memandang sekitar. Berusaha mencari cara untuk membuka pintu anaknya.
Lalu, Tiba-tiba saja daddy Zidan meninggalkan mereka semua membuat mommy Nadya hanya memperhatikan dengan perasaan kacau. Semakin bingung saat daddy Zidan itu kembali sambil membawa linggis.
"Om mau aku aja yang buka?" tawar Ghaly membiat daddy Zidan langsung menyerahkan nya.
Ia menaruh ujung linggis di pintu dan berusaha membuka. Ghaly memekik kencang karena pintunya yang sangat kencang. Laki-laki itu terus berusaha membayangkan Zaina dj dalam yang sangat sedih dan cuman sendirian. Ia makin emosi dan menendang pintu sangat kencang. Ia buka lagi paksa dan akhirnya pintu terbuka membuag orang tua Zaina langsung mengacir masuk.
Ghaly ...
Laki-laki itu juga masih berdiri di depan ruangan sambil natap Zaina yang memeluk tubuhnya sendiri di samping meja kerja. Hatinya berdenyut. Menyalahkan dirinya sendiri yang nggak bisa memperhatikan keadaan Zaina sama sekali.
Harusnya tadi dia udah membuka paksa dan menenangkan Zaina. Bukan nya malah santai di depan. Tangan Ghaly reflek mengepal. Ia masih sangat kesal sama semua berita yang baru keluar dan dia nggak nerima sama sekali kalau masalah ini lagi dan lagi malah menyeret Zaina.
Nggak mau melihat Zaina di kondisi kayak gini, dengan cepat Ghaly menutup pintu yang sudah sedikit koyak dan meninggalkan mereka gitu aja. Membiarkan keluarga Zaina yang menenangkan perempuan itu.
"Zaina ..."
Zaina mendongak dan tersenyum tipis melihat orang tua nya yang ada di sana.
Tangannya berusaha menggapai tangan mommy Nadya, dengan cepat mommy Nadya mengangguk seraya langsung menggenggam tangan anaknya. Dia usap punggung tangan anaknya, berusaha memberikan ketenangan.
"Ada mommy di sini, kamu nggak akan ngerasa kesepian lagi. Ada mommy di sini, jadi kamu tenang aja ya."
"Mommy ..."
Zaina menubruk tubuh mommy nya dan memeluk dengan sangat erat. Perempuan itu menangis dengan kencang buat siapa aja yang mendengar langsung merasa bersalah. Dua orang di sana hanya saling memandang satu sama lain tanpa tahu harus melakukan apa.
Suara tangisan Zaina benar-benar membuat mereka juga turut sakit hati. Mereka sama sekali nggak tahu harus apa dan melakukan apa.
Mommy Nadya sampai menahan tangisan.
Hatinya ikut terluka melihat kondisi anaknya yang seperti ini dan berulang kali akan ia katakan, kalau dirinya sangat gak terima kalau anaknya di perlakukan seperti ini. Dirinya benar benar sangat nggak terima sama sekali.
"Mas ..."
Mommy Nadya berbisik sambil menatap suaminya. Zaina masih di pelukan dia dengan kepala yang ditaruh pada ceruk leher mommy nya. Jadi, Zaina nggak bisa melihat interaksi mommy sama daddy nya.
"Aku beneran nggak sanggup," bisik mommy Nadya yang di anggukin suaminya.
Daddy Zidan mendekat dan mengusap rambut anaknya, hingga Zaina mendongak. Ia genggam tangan anaknya. Jadi, Zaina menggenggam tangan orang tuanya. Biar Zaina tahu, kalau orang tuanya akan selalu di sisi dia sampai kapan pun itu.
"Daddy juga di sini, nangis nak. Keluarin semuanya. Jangan di tahan."
Tangisan Zaina semakin pecah di pelukan kedua orang tua nya. Daddy Zidan memejamkan mata. Menahan emosi yang menggebu di benaknya. Ia menarik napas dalam sambil menggeleng. Dia sangat benci fakta anaknya masih nangis karena masalah yang bahkan bukan masalah dia sama sekali.
Daddy Zidan menarik napas dalam.
"Daddy beneran benci sama fakta kalau kamu masih nangis. Tapi daddy lebih lega ngeliat kamu yang kayak gini di banding hanya diam dan melamun."
Daddy Zidan terus mengajak anaknya bicara dan semakin lama, daddy Zidan malah membicarakan sesuatu hal ke arah yang lain. Berusaha membuat anaknya lupa sama hal ini. Hingga sesekali Zaina tertawa kecil dan berakhir ketiduran di pelukan Mommy Nadya karena kebanyakan menangis.
Dengan cepat Daddy Zidan langsung mengangkat tubuh anaknya dan menaruh di sofa yang untungnya cukup untuk tubuh anaknya. Jas yang daddy Zidan kenakan di gunakan untuk selimut tubuh anaknya.
"Kamu jaga Zaina ya, mas mau ngomong sama Ghaly dulu."
Mommy Nadya yang sejak tadi nggak meninggalkan tubuh anaknya sedikit pun hanya mengangguk. Ia terus genggam tangan anaknya sambil mengusap lembut kening Zaina.
"Mas ... tolong adili mereka ya. Mereka yang udah jahat sama anak kita. Karena, sungguh aku benci ngeliat orang yang udah buat anak kita jadi kayak gini. Padahal Zaina udah berusaha lepas dari semuanya dan kembali ceria. Tapi karena orang nggak bertanggung jawab, anak kita malahan harus lewatin ini lagi."
Dengan tatapan tegas daddy Zidan mengangguk.
"Tenang aja sayang, nggak cuman kamu doang yang benci sama pelaku. Tapi mas juga dan mas nggak akan biarin orang itu bebas gitu aja sementara anak daddy malahan tersiksa di sini!"
***
"Jadi, menurut kamu di sini Restu yang menjadi pelakunya?" daddy Zidan menatap lurus ke arah Ghaly dan mengacak rambutnya dengan sangat kesal. "Sebenarnya apa motif perempuan itu? apa dia kenal sama Zaina? Kenapa dia itu kayak benci banget sama anak om?"
"Apa dia mengenal Zaina?"
Ghaly menggeleng. Dia sedikit tahh dengan lingkungan dari pertemanan Zaina. Sejak dulu Zaina nggak gampang dekat sama orang lain dan selama itu juga Ghaly nggak pernah tuh mendengar fakta Restu dekat sama Zaina.
"Enggak om ... saya rasa Restu memang cemburu sama Mbak Zaina aja, nggak lebih sama sekali. Dia ngelakuin ini untuk dapet pengakuan dari semua orang kalau dia sekarang punya Mahen. Bukan mbak Zaina lagi."
"Hanya karena itu?"
Ghaly mengendikan bahu. "Perempuan kan kalau sedang cemburu akan ngelakuin banyak cara untuk ngerealisasin biar dia nggak ngerasa cemburu lagi. Jadi ... mungkin Restu pikir dengan cara ini dia mendapat pengakuan dari semua orang dan nggak perlu khawatir lagi."
"Sampai membuat orang lain di benci?" Ghaly mengangguk. "Om nggak habis pikir sama sekali. Masa perempuan bisa melakukan itu. Padahal mereka sama-sama perempuan, tapi kelakuannya malah kayak gini. Kalau begini mah, yang ada om nggak bakalan diem aja."
"Om mau melakukan apa?"
Daddy Zidan menarik napas dalam.
"Karena om nggak mengenal perempuan itu sama sekali. Sepertinya om juga nggak mau berurusan sama dia. Takut malah emosi dan menyakiti dia. Jadi, lebih baik om itu hubungin Mahen dan tanya apa yang terjadi di sini. Karena mau gimana pun, ini ada hubungannya sama Mahen kan?"
Ghaly mengangguk.
"Om ... aku turut sedih ya karena masalah ini dan aku minta maaf karena nggak bisa cegah masalah ini. Aku kira nggak bakal ada lagi yang berani nyenggol Zaina. Ternyata masih ada aja dan malah semakin parah karena perempuan itu ngomong semuanya asli. Padahal. selama ini aku yang selalu jaga Zaina kalau ada urusan keluar dan Zaina sama sekali nggak pernah pergi ke mereka. Makanya aku bingung, kenapa Zaina bisa terseret masalah ini."
Daddy Zidan menarik napas dalam.
Sebagai seorang ayah, dirinya juga sangat emosi karena masalah ini dan egonya mengatakan ingin menemui wanita itu dan memarahinya di depan umum. Tapi, Daddy Zidan gak mau kalau malah anaknya yang di cap semakin buruk. Dia sungguh nggak mau sama sekali.
"Om juga miris nak, Zaina sama sekali nggak pernah mau ikut campur sama masalah aja masih di sangkut pautin. Tapi balik lagi jangan pernah nyalahin diri kamu sendiri. Ini udah takdir dan kamu do'akan saja biar Zaina bisa lewatin ini semua dan wanita itu bisa mendapatkan balasan dari perbuatannya."
"Pasti, om. Pasti bakal Ghaly do'akan yang terbaik untuk Zaina!"