
"Jadi kalian udah resmi bersama nih?"
Zaina yang ditodong pertanyaan hanya bisa tersenyum malu malu sambil mengangguk, menanggapi pertanyaan daddy nya itu. Melihat anaknya yang malu-malu seperti ini buat daddy Zidan tersenyum tipis seraya mengangguk tipis. Ikut bahagia melihat anaknya yang seperti ini.
"Daddy beneran seneng banget lihat kamu yang kayak gini. Bahagia terus ya nak. Dan jangan sia-siain hubungan kamu sama Mahen. Karena dari beberapa laki-laki yang datang. Daddy cuma melihat keseriusan dari mata suami kamu. Bukan yang lain."
Zaina mengangguk.
Ia kembali fokus memotonh waffle yang menjadi menu sarapan mereka. Sesekali ia akan mengambil strawberry. Strawberry yang manis. Ah melihat strawberry membuat Zaina jadi ingat Mahen. Kekasihnya itu sangat menyukai strawberry yang manis seperti ini. Mengingat itu membuat Zaina tersenyum tipis.
"Lihat tuh mom ... baru aja semuanya kelar. Anak kita jadi kayak dulu," bisik daddy Zidan. "Senyum senyum sendiri. Tapi daddy nggak masalah ngelihat sisi anak kita yang kayak gini. Karena artinya Zaina kembali kayak dulu lagi."
"Iya ya ... anak kita juga jadi manis banget. Soalnya senyum terus. Mom jadi merasa bersalah karena udah bawa masalah perjodohan ini. Kalau aja waktu itu mom nggak lakuin hal bodoh ini. Pasti sekarang anak kita lagi bebas dan mungkin udah lanjutin hubungan sama Mahen? Dan nggak perlu mikirin masalahnya lagi."
Zaina mengetuk meja pelan.
"Loh memangnya kata siapa aku nggak bisa punya hubungan sama Mahen?" tanya Zaina membuat kedua orang tuanya saling pandang.
"..."
"Mom tenang aja ... masalah ini nggak menyurutkan hubungan aku sama Mahen kok."
"Loh memangnya kalian sudah balikan?" tanya mommy Nadya yang terkejut
Dengan cepat Zaina mengangguk. Ia tersenyum simpul. Mengingat kenangan indah malam itu. Kebersamaan yang nggak akan pernah Zaina lupakan sama sekali. Dia sangat bahagia semenjak malam itu terjadi, seolah mimpi indah terus datang ke hidupnya.
"Sejak kapan?" tanya daddy Zidan sambil menaruh secangkir kopi di atas meja. "Kenapa kalian nggak ada bicara dulu sama daddy? kalian sudah nggak ada anggap daddy kah?"
Senyuman itu mulai menghilang di wajah Zaina. Ia menelan saliva dan menatap takut pada daddy nya. Perempuan itu juga baru sadar kalau hal ini seharusnya dia ceritakan pada orang tuanya. Tapi dia malah melangkah sendirian saja dan nggak jujur sama orang tuanya.
"Dad maaf ... Zaina benar-benar lupa. Zaina—
"HAHAHA."
"Hah?" bingung Zaina yang malah melihat daddynya tertawa itu. Ini sebenarnya ada apa?
"Kamu ini kebiasaan banget!" marah mom Nadya sambil menepuk paha daddy Zidan cukup kencang. "Suka banget kalau liat anaknya panik. Udah Zaina ... daddy kamu bohong tuh. Mana mungkin dia marah karena kamu sama Mahen yang punya hubungan? Yang ada daddy kamu itu seneng akhirnya anaknya kembali bahagia kayak dulu."
"Memang! Tapi kan memang benar, seharusnya kamu jujur sama daddy. Kan kalau daddy tau kamu sama Mahen udah balikan. Daddy bakalan buat pesta besar-besaran. Seru kan kedengarannya?"
Zaina terkekeh dan mengangkat bahu.
"Buat apa? Satu masalah aja belum selesai. Mendingan selesaiin dulu masalahnya, baru buat pesta kayak gitu. Yang ada kalau buat pesta dulu dan oma tau. Yang ada oma marah lagi sama kita. Aku males cari ribut dad."
Seisi ruangan kini terdiam.
"Terus bagaimana masalah oma kamu? apa daddy perlu turun tangan?"
"Mommy minta maaf ya nak," sambung mommy Nadya
Zaina menggeleng, tak enak. Kenapa jadi pada minta maaf kayak gini. Padahal ini bukan salah mereka sama sekali. Ini hanya takdir yang membuatnya harus merasakan seperti ini.
"Mommy sama daddy tenang aja, aku sama mas Mahen udah punya rencana sendiri. Aku cuma minta doa aja dari mom sama dad, supaya semuanya di lancarin. Udah itu aja. Selain itu kalau memang rencananya gagal, aku baru minta tolong sama daddy dan buat mommy ... nggak usah ngerasa bersalah terus ya. Aku yang jadi ngerasa sedih loh mom."
"Tuh ... anaknya sendiri yang ngomong, mas kan udah sering ingetin kamu kalau Zaina nggak mungkin marah sama kamu. Dari pada mikirin yang dulu, mendingan kita cari tau tentang info nikah yang bisa cepet dj lakuin."
"Daddy!"
orang tuanya malah tertawa puas.
Zaina menggeleng pelan dan bangkit. Ia menyeka mulutnya lalu mengenakan tas yang sejak tadi tersampir di kursi.
"Aku berangkat dulu ya," pamitnya
"Mau kemana kamu?"
"Mau jalan sama mas Mahen."
Orang tuanya hanya menggeleng menatap kepergian Zaina yang terlihat sangat sumringah itu.
"Anak kita benar-benar udah bahagia, mas harap selamanya Zaina akan bahagia terus kayak gini. Kita do'ain ya sayang."
"Iya mas ..."