Love In Trouble

Love In Trouble
Mahen dan Usahanya



“Eh ada tante ...”


Mahen jadi malu sendiri karena baru membuka pintu mobil Zaina, ia melihat Mommy Nadya yang ada di sana. Pikiran tentang mereka yang tadi saling berpelukan dan di lihatin sama mommy Nadya benar-benar membuat Mahen sedikit malu.


"Maaf—


"Hahaha ... kamu lucu banget, nggak kok. Tante nggak marah. Tante malah berterima kasih sama kamu karena udah memaafkan perbuatan anak tante."


"Nggak tante, ini bukan salah Zaina sama sekali. Ini salah aku ..."


"Ih salah aku!" seru Zaina.


Mahen mengelak dan menggeleng sambil menatap tulus ke arah Zaina. Terus saja begitu. Sampai mommy Nadya hanya tertawa kecil dan meminta mereka untuk berhenti berdebat.


"Sudah lah ... yang penting sekarang kalian sudah akur dan buat Mahen. Kapan-kapan datang ya ke rumah. Tante itu kangen masakin kamu makanan. Tante beneran suka lihat kamu yang selalu habisin makanan dengan rapih. Pokoknya sering main ke rumah. Temenin Zaina tuh, kasihan dia kesepian."


"Ih mommy ... aku nggak se kesepian itu kok," kesal Zaina sambil menggerutu kecil. Ia mendelik nggak suka, kenapa mommy nya sering banget ngomong tanpa mikir? Kan dia malu kalau Mahen sampai tahu dirinya itu gimana setelah jauh dari Mahen.


"Alah nggak usah ngelak gitu," seru Mahen sambil menoel lengan Zaina yang sudah memerah wajahnya. "Aku tahu kalau diri aku ini emang ngangenin."


Zaina berpura-pura bergidik.


Ini tingkah random Mahen kenapa balik lagi sih? Kan hati Zaina belum siap untuk mendapatkannya.


"Sudah dulu ya nak, kamu masih ada janji loh," peringat mommy Nadya membuat tubuh Zaina tertegun. Mulai ingat ke mana mereka akan pergi.


"Mau ke mana?"


"Adalah ...," jawab mommy Nadya yang nggak mau membongkar perasaan anaknya sendiri. "Oh iya, jangan lupa ya nak untuk datang ke rumah. Pintu rumah kami terbuka lebar untuk kamu."


"Iya tante ..."


"Bukan tante, tapi mommy!"


Mahen tersenyum sangat lebar. "Makasih mommy! Aku bakal cepet dateng. Terima kasih sekali lagi atas undangan nya."


Mommy Nadya mengangguk dan Zaina kembali berdiri di depan Mahen dan tersenyum sendu. Masih banyak yang perempuan itu ingin ceritakan pada Mahen. Termasuk dia yang di ajak ke psikiater. Tapi ini bukan waktu yang tepat.


"Aku pamit dulu ya, makasih sekali lagi karena kamu udah mau jujur dan makasih karena udah maafin aku."


Mahen mengusap pipi Zaina dan menyelipkan rambut perempuan itu ke belakang telinga wanitanya. "Bukan kamu yang harusnya minta maaf, tapi aku. Dan ... selalu senyum kayak gini ya Zaina. Nggak boleh sedih lagi. Dan sampai bertemu kembali lagi."


"..."


"Ah iya .. aku janji bakal selesaiin urusan aku! Aku nggak bakalan nunda lagi. Demi kamu. Hanya demi kamu."


***


"Sepertinya perasaan kamu jauh lebih baik ya."


Mommy Nadya tersenyum bahagia melihat hasil baik yang diterima dari dokter yang menjadi pendengar Zaina. Walau sedikit penasaran dengan apa yang diceritakan Zaina pada dokter itu, karena sang dokter tidak bisa memberi tahu. Ini sudah SOP dari sananya. Jadi, mommy Nadya tidak bisa memaksa sama sekali.


"Jangan bilang ini efek kamu ketemu sama Mahen lagi?" goda sang mommy membuat Zaina mendelik dan menutup wajahnya. "Emang ya, Mahen kayak punya magnet sendiri yang bisa bikin kamu seneng bukan main. Ya ampun, mom beneran seneng deh kalau lihat kamu yang kayak gini."


"Apaan sih mom ..."


"Hahha anak mommy malu," ledek mommy Nadya. "Kamu tuh memang masih suka ya sama Mahen? mommy masih restuin kalian berdua kok. Mommy rela banget kalau yang dapetin kamu tuh ya Mahen. Karena cuman dia yang udah mengerti kamu kuat dalam dan nggak memojokkan sama sekali."


"Kamu mau bilang kalau Mahen punya perempuan lain? Mommy rasa ... Mahen pasti menceritakan sesuatu tentang Restu ke kamu? Jadi kurang lebih kamu pasti tahu dong kalau mereka nggak ada hubungan sama sekali."


Zaina menatap terkejut. "Mommy tahu?"


"Sebelum bertemu sama kamu, Mahen sudah lebih dulu datang ke mommy sama daddy. Dia sedikit menceritakan tentang hal ini. Makanya, tadi mommy biarin kalian berdua ngobrol. Karena kalau enggak ... mommy pasti marah liat Mahen yang masih deketin kamu."


"..."


"Kamu harus tau ... dia benar-benar melakukan usaha yang terbaik dan itu semua demi kamu."


Zaina menyentuh dadanya. "Aku merepotkan ya mom?"


"Enggak sama sekali, Mahen ngelakuin ini semua karena dia benar-benar mencintai kamu. Dia melakukannya hanya demi kamu. Nggak usah merada dj repotkan, karena ini udah jadi pilihan Mahen."


"..."


"Kamu harus tau kalau Mahen sangat mencintai kamu. Dulu maupun sekarang," jelas sang mommy dengan penuh rasa yakin yang menggebu.


***


Saat ini,


Mahen sedang berada di perusahaan daddynya Zaina. Dia sudah memiliki janji untuk membuat rencana dalam hancurin perusahaan Restu dan membuat perempuan itu ngaku atas semua perbuatan yang sudah dia lakukan.


"Tadi aku ketemu sama Zaina, om."


"Ah iya saya tahu ..."


Mahen terbelalak, terkejut karena orang tua Zaina tahu. Dia jelas mengingat kalau tadi nggak ada daddy Zidan. Hanya ada mommy Nadya saja. Selebihnya nggak ada sama sekali. Mahen memiringkan wajah dengan bingung. Sedikit bingung dan penasaran.


Sadar akan kebingungan Mahen, daddy Zidan tertawa kecil.


"Saya nggak mungkin lepas tangan gitu aja dalam pengawasan anak saya. Di saat anak saya sedang di buru banyak pihak. Jadi saya mendapat informasi dari orang suruhan saya yang mengikuti Zaina tanpa diketahui anak saya sendiri."


"Oalah ..."


"Anak itu terlalu gengsi, selalu mau kelihatan kuat. Padahal dia sangat lemah. Sampai saya sendiri nggak tahu harus melakukan apa untuk membuat Zaina sadar kalau di sini itu masih ada orang tuanya. Yang menjadi tempat dia untuk bercerita."


"..."


"Kadang saya sedih melihat keadaan anak saya sendiri. Pasti kamu paham maksud saya karena tadi ngeliat Zaina secara langsung kan?"


Mahen mengangguk pelan.


"Zaina jauh lebih kurus dan kantung matanya juga menghitam. Aku juga kadang lihat tatapan Zaina yang kayak ling ling gitu."


Daddy Zidan setuju akan omongan Mahen.


"Makanya saya beneran mau cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini dan ingin menyelesaikan semuanya dengan benar benar clear. Biar nggak ada satu pun orang yang bakal menyakiti anak saya. Saya beneran muak sama semua orang yang kembali menyalahkan anak saya di saat anak says nggak melakukan kesalahan sama sekali. Perkataan kasar mereka benar-benar terekam di benak saya dan saya juga sudah menindak sebagian orang yang berkata buruk ke anak saya."


"Maafin aku ya om, karena aku. Zaina jadi harus melewati masalah ini."


"Sudahlah ... lebih baik kita cari tahu apa yang harus di lakukan untuk selanjutnya."