Love In Trouble

Love In Trouble
Perintah Mom dan Dad



Setelah hampir seharian ada di apartemen Mahen. Baru saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Mahen berani mengantarkan Zaina pulang. Tepatnya saat hujan agak lebih reda.


Selanjutnya, Zaina langsung masuk ke dalam kamar karena seisi rumah juga sudah kosong. Tanda semua orang sudah istirahat. Lagi pula nanti sekitaran jam dua belas malam, dad Zidan bakal mengontrol ke kamar Zaina. Itu yang selalu dilakukan orang tua Zaina selama ini. Jadi, Zaina nggak bisa bohong sama sekali. Karena ada aturan yang di lakuin sama orang tuanya itu.


Setelah membersihkan diri, Zaina duduk di depan cermin.


Ia tersenyum lebar, menatap wajahnya yang begitu berseri. Sembari mengenakan serum malam, perempuan itu hanya bisa menghela napas kecil.


"Nggak tahu deh, tapi beneran kata mas Mahen kalau aku harus apresiasi sama diri aku sendiri karena udah lewatin banyak masalah. Bukannya malah terus nyalahin diri aku sendiri."


Zaina memandang wajahnya di cermin.


Lalu menarik napas dalam. Setelah semua urusan sudah selsai, Zaina kembali menata make up ke atas meja rias dan beranjak menuju kasur.


Ia duduk dan menyelimuti kakinya.


Setelah menarik napas berulang kali, berusaha membuat hatinya lebih tenang. Kini Zaina memeluk tubuhnya sendiri. Ia memeluk dadanya dengan posisi tangan yang menyilang. Berusaha kali Zaina melakukannya sambil terus menarik lalu menghembuskannya.


"Kamu hebat, kamu sudah hebat. Kamu keren."


Begitu saja terus yang dilakukan Zaina, sampai dia merasa jauh lebih tenang dan memilih untuk tidur.


Malam ini,


Zaina merasa hatinya jauh lebih tenang dan bahagia. Dia berjanji akan melakukannya setiap malam. Seolah memberi tahu kalau dirinya udah hebat selama ini. Jadi, Zaina akan terus melakukannya.


***


"Ya maaf yah ... kan kemaren lagi hujan. Yang minta nginep juga aku kok, soalnya aku males banget buat pulang. Pengin tidur aja. Tapi nggak di izinin sama ayah dan akunya juga udah pulang kan? Jadi ayah nggak usah marahin Mas Mahen ya ... mas Mahen nggak tau apa-apa."


"Alah ... pacarmu aja dibela," seru dad Zidan sambil meminum segelas teh hangat yang disediakan mommy Nadya.


"Ih ayah ma!" rengek Zaina sambil merengut.


Beneran deh, Zaina merasa semenjak kejadian dulu. Daddy nya ini selalu protektif sama dirinya. It's okei, Zaina tidak masalah kalau daddy nya ini protektif. Tetapi akhir-akhir ini sang daddy selalu memperlakukan dia seperti anak kecil.


Lucu sih, tapi terkadang Zaina kesal.


"Daddy mu itu khawatir sama kamu," ucap mommy Chika sambil menaruh senampan roti bakar di atas meja. "Jadi, kamu tahan-tahan aja ya."


Zaina mengangguk.


"Tapi beneran deh dad, mom, mas Mahen ini udah ngajak aku buat nikah. Dia mau dateng ke hadapan mom sama dad. Tapi aku yang terus larang. Karena menurut aku ini kecepatan."


Daddy Zidan menatap serius pada anaknya.


"Kayaknya nggak usah diundur deh nak. Kalau memang dia serius. Mendingan suruh datangkan Mahen kesini. Temuin daddy. Kalau bisa secepatnya, karena kita nggak akan tahu apa yang terjadi ke depannya kan? Jadi kalau bisa sekarang, kenapa harus nanti?"


Zaina terdiam, mau tidak mau menyetujui.


"Ya udah deh, nanti aku kasih tau ke mas Mahen deh."


"Nah gitu, segera kabari daddy ya."