
"Mas merasa ... akhir-akhir ini kita kembali kayak dulu."
Zaina menoleh sesaat sebelum kembali menggoyangkan kakinya di atas pasir, membuat beberapa pasir terciprat ke wajahnya. Beribu pertanyaan hinggap di benaknya, tapi dia tak kunjung menemukan jawaban dan berakhir menghela napas kecil.
"Kamu nggak suka ya?"
"Bukannya nggak suka. Aku malahan seneng banget karena impian mas selama ini akhirnya terwujud juga. Tapi ... mas sedikit merasa aneh. Karena mas belum mengutarakan isi hati mas sama kamu. Ya, memang bagus sih. Tapi kan mas mau kamu tau kalau sampai sekarang perasaan ini masih terjerumus untuk kamu dan nggak ada yang berubah sama sekali."
Zaina terkikik dan menggeleng kecil. Ditatapnya laki-laki yang sudah bersama dia selama ini. Laki-laki yang udah membantu dirinya selama ini. Laki-laki yang selalu sigap ada di sampingnya di berbagai kondisi.
Dengan keberanian yang tinggi Zaina membawa tangan Mahen kr hadapannya dan menggenggamnya sangat erat.
"Kamu nggak perlu repot ngelakuin ini itu. Karena aku jelas tau perasaan kamu yang sebenarnya. Toh ... semua tindakan kamu selama ini udah jadi bukti kalau kamu memang cinta sama aku. Jadi, kamu tenang aja. Tanpa perlu ribet nyatain perasaan. Aku tetap tahu gimana perasaan kamu yang sebenarnya."
Mahen mendengus dan mengacak rambut Zaina.
"Benar kan apa yang aku bilang?" tanya Zaina sambil terus berusaha mendapat validasi jawaban dari Mahen. "Nggak ada yang salah kan dari omongan aku?"
Mahen menggeleng dan mencubit pipi Zaina. Perempuan itu mengerang dan menatap kesal. Belum membalas kelakuan Mahen, tubuh Zaina langsung ditarik ke pelukan Mahen. Jadi, terlihat Mahen yang merangkul perempuan itu. Dengan tangannya yang tersampir di bahunya.
"Kalau ngomong ya jangan jujur jujur amat lah. Mas kan jadi malu. Ketahuan kalau bucin banget sama kamu. Ya ... nggak masalah sih sebenernya. Tapi kan, mas juga mau ngutarain kayak orang-orang gitu. Kalau mas cinta sama kamu."
"..."
"Dan ... yang mas tau kalau banyak orang pengin banget tuh di kasih kejutan pas nembk perasaan gitu. Bukannya wanita seneng ya yang kayak gitu? Makanya ... mas pengin banget buat sebuah kejutan untuk hubungan kita berdua. Ya ... walau pun kita bukan anak kecil lagi. Tapi, tetep aja jalanin hubungan itu nggak mandang umur kan?"
Zaina mengangguk.
Zaina menyamankan posisi di rangkulan Mahen. Ia tersenyum tipis.
"Aku bukan tipe perempuan ribet kayak gitu. Bukannya ribet sih. Aku udah males ada di fase malu-malu buat nerima perasaan kamu. Toh ... bagi aku itu semuanya sama aja kan? Mau kamu kasih kejutan atau enggak, aku bakalan tetep nerima hubungan kita? Jadi, dari pada buang-buang waktu. Mendingan kita jalanin aja apa yang udah terjadi sekarang ini."
"Ah ... mas cinta banget sama kamu."
Mahen merengkuh tubuh Zaina dengan sangat erat. Sesekali mendusel manja di ceruk leher Zaina. Sangat bersyukur karena hubungan mereka akan berakhir seperti ini.
"Mas rasa satu per satu masalah mulai hilang dan itu semua karena kekuatan cinta kita. Untuk ke depannya kalau semua masalah udah selesai, mas nggak akan menyia-nyiakan kamu lagi kayak dulu. Mas mau langsung meminang kamu di hadapan semua orang dan menikahi kamu. Biar semua orang tahu kalau kamu ini milik mas, bukan orang lain."
Zaina mendesis dan memukul paha Mahen lumayan kencang.
"Loh ... kenapa mukul mas? Padahal yang mas omongin bener kan. Memangnya kamu nggak mau nikah sama mas? Yah ... ternyata kamu nggak mau nikah ya sama mas," ucap Mahen yang langsung murung membuat Zaina hanya bisa tepuk jidat aja melihat kelakuan kekasihnya itu.
"Nggak semuanya mesti cepat-cepat mas. Perlahan saja. Dan masalah oma sama perjodohan ini aja belum selesai. Jadi, aku nggak mau kamu berharap lebih dan berakhir menyakiti kamu lagi."
Mahen melepas pelukan mereka dan menggeleng.
ia berdiri dan menatap yakin ke arah gelapnya malam.
"Kali ini mas yakin kalau nggak akan ada lagi yang ganggu hubungan kita. Dan apapun yang terjadi mas akan bantu hubungan kita. Tapi ... kalau semua masalah udah selesai. Kamu nggak akan nolak untuk nikah sama mas kan?"
Zaina berdiri dan langsung menerjang tubuh Mahen.
"Mana mungkin aku nolak orang yang selama ini selalu ada di hati aku!" pekiknya membuat dua orang ith tertawa dan saling berpelukan mesra.