Love In Trouble

Love In Trouble
29 - Dad Zidan



Suara pintu yang dipaksa terbuka membuat Zaina menolah dan ia langsung memeluk tubuh Mahen yang baru masuk, sambil menatapnya dengan penuh rasa khawatir.


“Ada apa?”


Zaina menggeleng lirih di pelukan Mahen.


“Aku ... rasanya nggak bisa nahan diri untuk nggak marah sama orang yang udah hina anak aku. Aku selama ini diem aja. Tapi komenan salah satu orang buat aku bener-bener marah dan itu semua karena Ghaly! Dia ayah kandung, dari anak yang aku kandung. Tapi, entah kenapa dia malahan tega ngelakuin hal jahat sama anaknya sendiri. Bahkan ... dia udah jadi orang paling jahat yang pernah lahir. Dia udah jadi ayah yang gagal bahkan sebelum anaknya lahir di dunia ini.”


“Maaf ...” Ghaly menunduk. “Tolong hukum gue, gue sadar kalau kelakuan gue sangat salah. Tapi ... jangan hukum gue kayak gini. Jangan terus ngomong kalau gue ayah yang gagal. Itu benar-benar menyakitkan.”


“Karena pada kenyataannya, anda adalah ayah yang gagal!” seru Mahen memojokan laki-laki itu. “Walaupun saya nggak punya hubungan darah dengan anak yang di kandung Zaina. Tapi saya punya keinginan untuk membuat mereka berdua bahagia.”


Mahen mencengkram pipi Ghaly dan menekan dengan sangat kuat.


“Makanya ... sebelum ngelakuin sesuatu itu, di pikir dulu. Gimana anggapan orang banyak dan gimana respon semua orang! Gue juga nggak paham di sini sama maksud lu ngelakuin itu ...”


“...”


“JAWAB GHALY!” sentak Zaina. “Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku?” serunya dengan pelan. “Bahkan, nggak ada yang bisa di untungin kamu dengan kamu ngelakuin ini kan?! Apa kurang nya aku selama ini ... kamu mau apa? Kamu mau uang dari aku? Aku kasih ... Tapi nggak usah ngelakuin ini semua.”


“...”


“Tapi telat,” tawa Zaina lirih. “Kamu beneran udah nyakitin banyak orang dan aku harap nanti pas anak aku tumbuh, kamu nggak akan pernah bisa ngeliat dia! Kamu cuman bisa lihat dari jauh dan kalau bisa, aku nggak bakal bolehin kamu untuk nemuin anak aku! Dan kalau bisa dia nggak bakalan tau kalau ayahnya itu kamu!”


Mahen terus mengusap punggung Zaina dan memintanya untuk tenang.


“Gimana aku bisa tenang, mas!” histeris Zaina terus menggeleng. “Dia ... dia penyebab semua ini terjadi!”


Zaina semakim histeris, Mahen nggak mampu menanganinya dan Ghaly cuman bisa melihat karena tangannya udah di ikat lagi sama penjaga di sana. Sampai, di saat Zaina masih terus histeris dad Zidan masuk ke dalam dan menenangkan anaknya.


“Hei, anak dad ... Tenang yuk, semuanya baik-baik aja. Ada daddy di sini,” bisik dad Zidan dengan lembut sambil meraih tubuh anaknya dan memeluk. “Semuanya bakalan baik-baik aja kok. Jadi, nggak perlu mikir yang enggak enggak ya ... ada daddy di sini.”


Zaina masih menangis.


“Sekarang, kamu nunggu di mobil dulu ya. Ada yang mau daddy urus dulu di sini,” ucapnya membuat Zaina menggeleng.


“Nggak apa-apa ... daddy pastikan semuanya baik-baik aja dan daddy nggak bakalan macam-macam kok di sini. Ada yang harus daddy bicarain sama laki-laki itu.”


Daddy Zidan memandang ke arah Mahen.


“Bawa anak daddy keluar, tempat ini nggak cocok buat anak selembut dia,” perintahnya yang langsung di setujui sama Mahen.


Laki-laki muda itu langsung merangkul Zaina. Awalnya Zaina memang menolak tapi Mahen terus membisikkan banyak kata baik, sampai Zaina jauh lebih tenang dan akhirnya bisa di beri tau.


“Kamu lihat?” tanya daddy Zidan memulai pembicaraan sambil duduk berjarak dari Ghaly. “Begini lah kondisi Zaina kalau lagi lepas kendali,” ucapnya lalu tertawa kecil. “Saya sama sekali nggak pernah membayangkan anak saya bakalan seperti ini karena ulah laki-laki lain.”


Ghaly makin menunduk.


“Rasanya ... saya muak hanya melihat wajah kamu, jangan kan melihat wajah, hanya dengar nama kamu saja cukup membuat saya muak. Saya benar-benar nggak bisa bersikap baik sama laki-laki yang udah menyakiti anak saya sampai seperti itu.”


“...”


“Sejak lama, saya mengetahui Zaina memiliki hubungan sama seorang laki-laki. Awalnya kami membiarkan, berusaha menahan diri karena Zaina selalu merasa kami mengekangnya. Tapi, lambat laun kami makin heran. Kenapa laki-laki itu nggak pernah ada itikad baik untuk datang ke rumah? Kenapa laki-laki itu nggak pernah mau nunjukin diri dan dari situ, saya sama mom nya Zaina mulai merasa kalau laki-laki yang bersama anak saya, bukan lah laki-laki baik ..”


“...”


“Kami selalu bujuk Zaina untuk mendatangkan kamu, tapi apa? Yang ada Zaina malah marah sama kami. Ya ... akhirnya karena kami mulai marah, kami memilih menjodohkan Zaina tanpa pernah memikirkan perasaan Zaina sama sekali.”


“...”


“Lambat laun, hubungan kami sama Zaina semakin buruk. Mom nya Zaina sering nangis karena Zaina yang berubah. Perasaan nggak enak selalu saja menyelimuti kami. Sampai Zaina datang ke rumah dengan murung. Dia nggak pernah mengatakan apa-apa dan kami juga berusaha nggak nanya apa-apa sama Zaina, karna takut mengusik privasi anak kami.”


“...”


“Sampai ... fakta itu datang. Anak kami yang selalu di bangga-banggakan ternyata hamil. Hamil dari laki-laki yang bahkan kami nggak kenal. Kami berusaha menguatkan diri untuk Zaina. Tidak ... kami nggak menyalahkan anak kami sama sekali. Mungkin, ini salah saya dan mom nya karena terlalu membiarkan anak itu ada di luaran sana tanpa pengawasan sama sekali.”


“...”


“Tapi, tahu nggak sih yang buat saya makin benci sama kamu?” tanya dad Zidan dengan sangat bengis. “Saya membenci fakta kalau kamu pergi meninggalkan anak saya gitu saja dan makin membenci saat tahu kamu kembali, hanya untuk membuat anak saya kembali terluka.”


“...”


“Hati orang tua mana yang nggak sakit hati saat tahu anaknya di sakiti sama laki-laki lain? Saya merawat Zaina dari kecil berharap dia terus bahagia tanpa ada yang membuatnya sedih sama sekali. Tapi ... malahan ada orang asing datang dan dengan seenaknya menyakiti anak saya. Sakit hati saya ..."


"Maaf ..."


"Sebenarnya, apa yang mau kamu lakuin sama anak saya? Udah ngerasa hebat? Ngerasa hebat, karena udah ngomong hal ini ke media? udah ngerasa hebat karena kamu udah hancurin hidup anak saya? udah ngerasa hebat?! kamu tau apa sih ... mental anak saya terganggu karena kamu ..."


"Butuh waktu untuk membuat Zaina tenang dan menerima dirinya sendiri, dan sekarang kamu malah nyakitin dia lagi? ya ampun ... saya beneran nggan tahu harus lakuin apa sama kamu. Bahkan, saya nggak bisa marah sama kamu. Saya nggak bisa mukul kamu. Karena semuanya benar-benar udah hancur. Mental anak saya semakin terganggu."


Dad Zidan meraung, meraup wajahnya frustasi.


"Apa yang kamu dapetin dari semua ini?" tanya dad Zidan dengan lembut. "Kamu bahagia kah dengan melakukan ini semua?"


"Apa memang ini yang kamu mau? kehancuran anak saya?"