Love In Trouble

Love In Trouble
Ada Daddy Disini



Membicarakan tentang Mahen, membuat Zaina tersenyum malu-malu. Ia menunduk dan meringis kecil, mengingat lagi semua kebaikan Mahen pada dirinya. Hingga sebuah tepukan di pahanya membuat lamunan Zaina jadi buyar.


"Daddy nanya kabar tentang Mahen, eh kamunya malahan senyum nggak jelas kayak gini. Elah ... daddy tahu kalau ini kamu lagi seneng banget. Tapi, ya nggak gini juga dong. Biasa aja ..."


Zaina terkekeh sambil mengusap tengkuknya canggung.


"Tadi aku udah ngabarin Mahen dad, dan maleman nanti mas Mahen mau datang ke sini. Daddy nggak apa-apa kan kalau mas Mahen datang? nggak marah ..."


Daddy Zidan mencibir.


"Memangnya daddy pernah keliatan marah sama kak Mahen? suruh datang saja. Sekalian, mumpung ada oma di sini. Jadi, oma kamu bisa kenalan sama kekasih kamu itu. Bukannya ini salah satu yang harus kalian lakukan juga?"


Zaina kembali melirik sang oma.


"Duh ... oma menerima baik Mahen nggak ya dad? aku jadi kepikiran sama khawatir gini. Maksudnya ... takut mas Mahen nggak masuk ke kriteria yang dimaksud oma. Kan daddy tau sendiri kalau mas Mahen tuh sedikit gimana gitu dan takut aja gitu ..."


"Kamu kenapa?" tanya daddy Zidan menelisik wajah Zaina yang tiba-tiba berubah menjadi sedih itu.


Daddy Zidan menatap anaknya lalu menggenggam tangan putri satu-satunya itu dengan penuh kasih sayang. Dia terus usap lengan putri kecilnya yang begitu indah itu.


"Apapun yang terjadi daddy akan terus dukung kamu. Kamu nggak perlu khawatir sama sekali. Walaupun nanti oma kamu itu nggak setuju, daddy akan tetap setuju karena tau putri kecil daddy hanya bahagia dengan Mahen. Bukan pria lain yang baru masuk ke hidupnya."


Sebercah harapan datang dan perempuan itu tersenyum begitu tipis sambil menunduk kecil.


"Oma mau bilang apa juga, kamu nggak perlu risau. Karena tetap daddy yang memutuskan semuanya di sini dan dari semua pria yang datang ke hidup kamu. Hanya nak Mahen yang daddy percaya untuk menjaga kamu. Karena mungkin kalian udah mengenal dari lama. Selebihnya daddy nggak setuju. Karena mereka nggak bisa menjaga kamu seperti dad menjaga kamu dan hanya nak Mahen yang udah begitu sayang sama kamu dan mengusahakan banyak hal untuk kamu. Jadi, kamu nggak perlu khawatir sama sekali ya. Suruh saja datang dulu."


"Makasih banyak dad." Ditatapnya mata daddy Zidan dengan begitu bahagia.


"Sama sama sayang, jangan risau sama sekali ya dan bahagia terus anak daddy. Jangan pikirkan hal lain, daddy yakin setelah ini kamu pasti akan bahagia. Mengingat semua perjuangan yang udah kamu lewatin sama nak Mahen. Pokoknya, kalian udah sama-sama hebat deh. Daddy beneran kagum sekali sama kalian."


Zaina semakin tersenyum lebar dan mengangguk.


"Oh iya dad ..." Zaina menatap jam di layar ponselnya.


Tadi, Zaina sudah menemui dokter dan dokter menjelaskan apa saja yang harus dia lakukan setelah ini dan sekarang ini udah waktunya daddy Zidan meminum obat.


Zaina beranjak ke nakas dan menuang minuman lalu mengeluarkan beberapa obat yang harus dikonsumsi oleh sang daddy. Ia berikan semua itu kepada daddy Zidan.


"Daddy minum dulu ya ... udah waktunya minum obat. Habis ini daddy langsung istirahat. Pokoknya daddy jangan banyak gerak dulu, biar kaki daddy juga cepet sembuh," ucap Zaina yang sejak tadi sadar kalau daddy nya itu menahan sakit di kakinya dan salu diam-diam meringis.


"Makasih sayang."


Daddy Zidan meminum semua obat dan setelah selesai, Zaina membantu menaruhnya lagi di atas nakas dan kembali duduk ke kursinya tadi.


"Sekarang daddy istirahat dulu ya." Zaina merapihkan selimut yang terbentang. "Nanti pas daddy udah bangun, aku bakal manggil dokter lagi. Buat ngecek kondisi daddy. Tapi kalau daddy ngerasa sakit atau nyeri lagi, langsung aja bilang ke Zaina ya. Jangan di sembunyiin."


"Iya putri daddy tersayang, makasih ya karena udah peduli sama daddy."


"Harus dong ..."


Zaina masih duduk di kursi sambil menatap wajah daddy yang masih terdiam dan lama-lama mulai terlelap dalam tidurnya. Zaina tersenyum tipis. Bahagia melihat sang daddy yang kini sudah terlelap.


"Selamat istirahat daddy, makasih karena udah jadi ayah yang baik untuk Zaina. Zaina sangat sayang sama daddy."