
"Mau kemana kamu?" todong daddy Zidan
"Aku telat!" jawab Zaina tak nyambung
Buru-buru ia merampas selembar roti tawar dan menggigit nya. Lalu tangannya sibuk menali sepatu sneakers yang kini jadi favoritnya karena simple dan bisa dipakai ke mana aja.
Setelah selesai, ia menghampiri daddy Zidan yang sedang duduk sama oma menonton televisi. Sementara mommy nya sendiri sudah pergi pagi-pagi sekali karena ikutan acara mingguan sama orang kompleks.
"Dad aku pamit."
"Mau ke mana sih kamu?" tanya daddy Zidan malah narik tubuh anaknya hingga terjatuh di atas sofa. Memaksa Zaina untuk makan dengan duduk. Tak boleh berdiri. "Kaget daddy pas tiba-tiba kamu turun. Mana berisik banget lagi di tangga. Mana itu baju masih acak-acakan lagi. Rapihin dulu sana."
"Ih ... daddy mah kebiasaan! aku kan udah bilang, walau aku anak daddy. Tapi aku tetep mau jadi pegawai yang baik. Aku mau nyontohin ke banyak orang kalau aku ini bukan kerja yang main-main gitu."
Daddy Zidan terkekeh.
"Kayaknya kamu lupa ... semalam kan, mommy mu kasih tau ke daddy kalau kamu mau main sama Mahen? jadi buat apa kamu harus ke kantor? ini kayaknya kamu belum konek deh. Masih baru bangun tidur banget. Udah mendingan kamu masuk lagi ke kamar kamu. Beresin tuh rambut kamu."
Zaina menyisir rambutnya dengan lengan dan menghela napas kasar saat tangannya tersangkut. Alias rambutnya kusut lagi.
"Ah iya," serunya pelan. "Ya udah, aku ke atas dulu ya. Makasih dad karena udah ingetin Zaina. Zaina aja lupa loh. Tapi aku mau ke atas dulu dan ngabarin mas Mahen!"
Dengan buru-buru perempuan itu berlari masuk ke dalam kamarnya sembari berusaha menelpon Mahen. Dia mau mengabari laki-laki itu kalau dia butuh waktu lebih banyak untuk menyiapkan diri.
"Dasar anakmu itu," ucap oma sambil menggeleng pelan saat mendengar pintu kamar Zaina yang dibanting sama perempuan itu.
"Dia memang bucin banget sih," lanjut sang daddy.
"Persis seperti kamu," ucap oma lagi. "Bedanya kalau dulu kamu nggak mendapat dukungan dari banyak orang. Jadi kamu diem-diem bucinnya. Padahal ibu jelas tau kalau kamu tuh excited setiap ketemu sama Nadya. Ah, ibu menyesal karena udah nggak memberikan izin sama kamu dan Nadya dari awal. Padahal kalian sebahagia itu kalau bersama."
Daddy Zidan memegang lengan ibunya yang sudah keriput itu.
"Nyiapin diri buat apa?"
"Kan ... pacarnya Zaina mau ajak main. Nanti dia pasti izin ke aku. Dia pasti ke dalam buat nemuin aku. Artinya ibu bakalan ketemu sama Mahen. Bukannya oma mau ketemu sama dia ya? jadi aku nyuruh ibu persiapin diri."
"Yah ..."
Oma sudah siap memegang tongkatnya untuk pergi ninggalin ruang tamu. Sadar akan sikap sang ibu yang mau mangkir lagi setiap ada hal yang mengganggunya. Buru-buru Daddy Zidan mengambil tongkat sang ibu dan menaruhnya cukup jauh dari jangkauan ibunya itu.
Bukan bermaksud untuk durhaka. Tapi ibunya harus di lakukan seperti ini.
"Ibu udah janji mau ngomong sama pacarnya Zaina loh dan sekarang waktu yang tepat banget."
"Tapi—
"Bu ... mereka udah pacaran dari lama banget dan udah waktunya mereka bahagia. Aku yakin banget setelah Zaina mengurus masalahnya ini. Pasti mereka akan mulai lanjut ke jenjang yang lebih serius. Jadi, kita nggak boleh halang halang lagi hubungan mereka dan yang Zidan duga, hubungan mereka masih nggak jelas di restu ibu. Jadi, udah waktunya ibu turun tangan dan bilang langsung sama mereka."
Oma tertegun mendengarkan pernyataan anak sulungnya yang sedikit menyentil jiwanya.
"Memangnya ibu mau kalau Zaina marah lagi sama ibu karena ibu yang nggak ngasih restu ke hubungan mereka?"
Omanya menggeleng.
Setelah mereka semua berbaikan, Oma jadi sadar akan hubungan yang berjalan baik adalah sebuah anugerah tak tertulis yang pernah oma rasakan. Jadi, dia tidak mau kalau hubungan mereka sampai hancur lagi karena masalah kecil kayak gini.
Kini dengan perhatian yang lebih terlihat, oma memandang anak sulungnya itu dengan ekspresi penasaran.
"Menurut kamu ... bagaimana dengan Mahen? apa dia anak yang baik?"