Love In Trouble

Love In Trouble
Jangan Khawatir



“Bukan itu masalahnya Mahen, tapi kamu yang mengenal perempuan itu. Pasti kamu jauh lebih kenal sama dia kan di bandung om sendiri? Di sini om nggak mau menyalahkan kamu. Tapi om mau nanya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa pasangan kamu itu malah jelekin anak saya? Jangan karena saya mengenal kamu, kamu jadi bisa seenaknya aja.”


Mahen yang ada di seberang sana hanya bisa diam, dia sudah tahu kalau akhirnya orang tua Zaina bakalan menelepon dirinya.


Anggap aja mereka pasti turut menyalahkan dirinya karena masalah ini.


“Kamu tahu gimana Zaina, dan kamu kenal gimana kepribadian Zaina. Jangan karena ini, saya jadi benci kamu, Mahen! Kamu jangan jadi racun dan luka di hidup anak saya dong. Zaina sudah tersiksa selama ini dan kamu jangan menambah masalah. Di sini kamu yang tahu dan kenal Restu. Jadi, sekali lagi saya nanya sama kamu. Kenapa Restu bisa fitnah anak saya sampai segitunya? Apa dia benci sama anak saya?”


/Om ... saya mohon ampun. Saya nggak bisa mengatakan apa-apa di telepon karena ada sesuatu yang nggak bisa saya katakan./


“Kamu ngomong gini bukan karena mau mangkir dari pertanyaan saya kan? Saya akan cecer kamu terus! Dan saya nggak bakal akan ampunin kamu kalau ternyata kamu sendiri yang menjadi alasan wanita itu menjelekkan anak saya!”


/.../


“Kamu tau kan Zaina itu kenapa? Kamu tau kan kalau kalian berdua udah nggak ada hubungan sama sekali. Jadi, kalau dia ngelakuin ini cuman karena cemburu. Bilang sama dia, kalau kalian udah nggak ada hubungan apa-apa sama sekali. Dan kalau wanita itu masih cemburu nggak berdasar sama anak saya. Bilang padanya ... kalau saya sendiri akan menjodohkan anak saya. Jadi dia nggak perlu khawatir lagi!”


/Apa ... menjodohkan?/


“Iya? Kenapa? Jangan bilang kamu masih suka sama anak saya dan alasan wanita itu cemburu nggak berdasar sama Zaina juga karena kamu yang sering nyinggung Zaina di pembicaraan kalian. Makanya wanita itu cemburu.”


Bungkamnya Mahen membuat daddy Zaina langsung menghembuskan napas dalam.


Dia merasa ada yang nggak beres di sini. Pengin rasanya dia memarahi laki-laki itu, hanya saja ia nggak tahu harus marah sama siapa.


“Pokoknya saya nggak mau tahu, kamu yang kenal sama wanita itu maka kamu juga harus menyelesaikan masalah ini. Saya nggak akan marah dan mendatangi wanita itu. Tapi kalau dia semakin berlebihan dan malah membuat anak saus semakin terluka. Maka, saya nggak akan diam saja.”


/.../


“Jangan anggap main-main omongan saya Mahen! Saya juga akan menyeret kamu kalau sampai tahu, kamu penyebab anak saya itu mengalami ini semua. Saya nggak akan diam saja sama sekali!”


Napas Daddy Zidan memburu dan tanpa berusaha mendengar pernyataan dari Mahen sama sekali. Laki-laki berwajah tegas itu langsung saja mematikan ponselnya.


***


“Kenapa kau datang ke sini?” marah daddy Zidan saat mengetahui asisten Mahen yang malah mendatangi kediamannya. Daddy Zidan menatap dari atas sampai bawah lalu meminta asisten Mahen untuk masuk ke ruang kerjanya.


“Siapa dia mas?” tanya mommy Nadya yang memang sejak tadi duduk di ruang tamu sambil terus menelpon awak media untuk menyangkal perbuatan sang anak.


Sementara itu,


Zaina sendiri masih ada di dalam kamarnya. Hari hari yang terjadi beberapa waktu lalu, kembali terjadi. Zaina hanya melamun dan sesekali masih bisa di ajak bicara. Zaina terus meminta untuk datang ke makam anaknya. Tapi situasi yang masih ramai seperti ini buat orang tuanya melarang karena takut terjadi hal buruk. Ditambah wartawan saat ini sangat lah tidak kondusif dan melakukan berbagai cara untuk bertemu dengan Zaina.


"Asisten Mahen, entah kenapa dia malah menyuruh asisten nya sendiri untuk datang. Bukannya menyelesaikan masalah dengan dia yang datang sendiri."


"Sudah ... tidak perlu marah terlebih dahulu. Coba kamu tanya dulu sama dia. Siapa tau memang ada yang penting, yang ingin dia katakan. Dan siapa tau juga, dia mau jelasin sesuatu yang penting. Yang bisa membantu kita?"


Daddy Zidan mendengus dan langsung meminta pria tadi untuk mengikutinya masuk ke ruangan kerjanya di rumah ini. Mereka duduk berhadapan, sampai daddy Zidan itu menghembuskan napas kasar dan memandang sinis pada pria tadi.


"Jadi ... apa yang ingin kau katakan?"


Asisten Mahen langsung mendongak.


"Maaf tuan Zidan, di sini saya mau meminta maaf atas nama tuan Mahen. Ini nggak seperti yang tuan Zidan kira. Tuan Mahen nggak sejahat yang tuan Zidan kira. Jadi, atas nama tuan Mahen saya ingin minta maaf—


"Dia yang harusnya datang sendiri," sela daddy Zidan dengan sinis. "Anak itu masih punya kaki kan? dia masih bisa berjalan sendiri ke sini kan? Dia masih punya mata kan? Dia masih bisa melihat sekitar. Dia juga masih punya mulut kan? Jadi masih bisa bicara sendirj. Tanpa harus di wakil kan seperti ini. Jadi, saya rasa. Harusnya dia sendiri yang datang ke sini. Bukannya malah di wakilin sama kamu."


Asisten Mahen menunduk.


"Maaf tuan ... itu semua memang terlihat sangat mudah. Tapi apa yang terjadi sekarang membuat semuanya jadi terkesan rumit karena perempuan itu," sindir asisten Mahen yang ikutan terlihat sangat geram.


Daddy Zidan melirik.


"Perempuan itu? Restu? Kenapa dia? apa dia juga berulah pada Mahen?"


Dengan cepat asisten Mahen mengangguk. Akhirnya dengan gamblang ia ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Termasuk video itu yang pada akhirnya membuat Mahen untuk bungkam.


Asisten Mahen udah benar-benar geram melihat atasan nya yang memilih diam saja. Di saat harusnya masalah seperti ini mereka kerja sama supaya nggak saling menyakiti satu sama lain lagi.


Sayangnya ...


Semua ketakutan yang ada di benak Mahen, membuat laki laki itu memilih bungkam. Membiarkan semua orang terus saja menyalahkan dirinya. Dari orang tuanya, sampai orang tua wanita yang Mahen cintai itu. Jadi, tanpa sepengetahuan Mahen. Asisten nya itu turun tangan setelah melewati banyak pertimbangan.


Selama ini Mahen sudah banyak membantu dirinya.


Jadi, untuk kali ini biarlah dirinya yang membalas budi perbuatan Mahen selama ini.


"Maaf tuan Zidan, mungkin saya lancang karena ini bukan perintah tuan Mahen sama sekali. Tapi saya rasa harus meluruskan masalah ini. Karena kalian semua hanya salah paham atas perbuatan perempuan itu. Kalau semakin di biarkan. Saya nggak tahu apa yang akan di lakukan Restu lagi kepada kalian semua."


"..."


Daddy Zidan memijat keningnya.


Fakta yang menyerang dirinya membuat dia sangat terkejut dan nggak tahu harus melakukan apa. Dia menarik napas dalam. Berusaha mencari pembenaran di wajah asisten dari Mahen itu dan wajah laki-laki itu benar-benar serius.


"Video? Apa kamu tahu video apa yang di maksud?" tanya daddy Zidan


Asisten Mahen menggeleng.


"Sayangnya saya sama sekali nggak tau, tuan. Karena tuan Mahen nggak pernah cerita spesifik video apa itu. Karena di situ hanya tuan Mahen yang pernah melihat dan dengan pintar Restu mengunci semua akses ke jaringan yang dia punya. Jadi, saya nggak semudah itu untuk menemukan akses videonya. Walau begitu, saya nggak akan pernah berhenti mencari tahu video apa yang di maksud."


Daddy Zidan menarik napas dalam. Kenapa masalah ini malah semakin berat? Sebagai seorang ayah, dia hanya mau anaknya mendapat yang terbaik.


Tetapi,


Kenapa masalah terus menyerang anaknya. Di saat anak nya itu sudah mau berubah? Daddy Zidan tidak habis pikir. Ia ingin memeluk dunianya dari jauh dan enggan membiar kan dunianya mengetahui betapa jahatnya semua orang yang ada di sini. Tapi, dunia seolah memiliki sisi buruk dan terus menerus menyakiti kesayangannya daddy Zidan.


Daddy Zidan menarik napas dalam sambil menggeleng kecil.


"Lalu ... apa yang harus saya lakukan? Saya tidak mau membuat anak saya kembali di hujat dan sebenarnya apa yang di inginkan perempuan itu? Kenapa dia begitu gencar menyakiti hati anak saya? apa anak saya punya masalah sama dirinya?"


Asisten Mahen mengangkat bahu, memang tidak tahu alasan sebenarnya.


"Saya datang ke sini untuk meluruskan salah paham. Biar tuan tidak memojokkan tuan Mahen lagi. Saya tidak ingin melihat sisi rapuh tuan Mahen yang sangat hancur karena penasaran dengan keadaan nona Zaina. Tapi nggak bisa apa apa karena semua orang melarangnya untuk mendekat, merasa tuan Mahen juga punya andil sama masalah ini. Padahal tidak seperti itu, tuan Mahen sudah melakukan yang terbaik untuk membuat Zaina aman. Tapi memang Restu sendiri yang suka melihat nona Zaina tersakiti sepertj ini dan tuan Mahen nggak bisa menahannya sama sekali."


Daddy Zidan mengangguk.


Mulai mengerti kalau keadaan Mahen juga sama nggak enaknya dengan apa yang di alami sama anaknya itu.


"Tenang saja ... kamu tidak perlu risau. Saya tidak akan menyalahkan Mahen lagi. Nanti saya akan panggil dia ke sini. Tapi terlepas dari itu semua, saya masih penasaran sama Restu ini. Dia tuh sebenarnya siapa sih? Dia hanya putri dari perusahaan kecil kan? Kenapa dia berani sekali menyenggol anak saya?"


"Maaf tuan ... tapi sepertinya perempuan itu melakukan ini cuman karena dia iri sama nona Zaina?"


Daddy Zidan menatap kacau.


Masa hanya karena itu, wanita lain menyakiti anaknya.


"Kenapa iri? kenapa dia harus iri padahal anak saya nggak pernah menyombongkan hidupnya? Di hidup dia juga cuman ada kesedihan doang. Jadi, untuk apa dia iri sama hidup saya dan kenapa dia menyakiti anak saya?"


Hancur hatinya sebagai seorang ayah.


Di saat ia mau memberikan yang terbaik untuk anaknya. Masih aja ada oknum nakal yang mau menjatuhkan posisi anaknya. Di sini kondisinya Zaina mau berubah menjadi anak baik. Tapi kenapa orang nggak bisa membiarkan anaknya hanya sedetik aja.


Baru kemarin,


Baru kemarin daddy Zidan melihat senyum lebar anaknya. Kini ada orang yang mau menyakiti nya lagi. Apa semua orang itu gak waras?


Apa semua orang nggak mikir sama apa yang terjadi di sini?


Daddy Zidan menutup wajahnya.


"Saya ingin rasanya langsung menahan perempuan itu. Karena dia anak saya bisa jadi kacau."


Asisten Mahen mengangguk.


"Tapi tuan bisa menindak perempuan itu loh tuan atas perbuatan nggak menyenangkan."


"Dan membiarkan anak saya semakin di hujat sama semua orang?" tanya daddy Zidan yang membuat asisten Mahen itu langsung bungkam. "Saya bisa, saya bisa memenjarakan perempuan itu. Saya bisa menghancurkan perusahaan itu. Tapi dengan dalih anak saya akan semakin di hujat karena mereka merasa orang kaya akan bertindak seenaknya. Pada hal mereka semua nggak tahu apa yang terjadi di sini."


Daddy Zidan harus hati-hati di setiap langkahnya.


"Dan ... tadi kamu sendiri yang bilang kan kalau dia ini licik? Jadi saya nggak mau membiarkan anak saya semakin tersiksa karena hal ini."


Asisten Mahen mengangguk.


"Baik tuan, tuan tidak sendiri. Saya juga aman mencari tahu video itu dan membuat wanita itu jadi terpojokan. Di sini saya cuman mau bilang kalau sampai detik ini tuan Mahen masih mencintai anak tuan."


"..."


"Tanpa kalian tahu semua, tuan Mahen yang notabene jarang bangun pagi. Kini sering bangun pagi, buat apa? cuman buat melihat nona Zaina dari jauh. Biasanya tuan Mahen akan menghentikan mobilnya di depan gang untuk bertemu sama nona Zaina. Bahkan ... pas ada kerja sama antar perusahaan yang harus membuat mereka bertemu. Tuan Mahen jadi orang yang paling excited dan harus menyiapkan diri dengan rapih. Walaupun harus pulang dengan keadaan kecewa karena melihat nona Zaina yang sangat dekat dengan asistennya."


"Ghaly?" asisten Mahen mengangguk. "Dia bukan siapa siapanya, tenang saja."


Daddy Zidan menepuk pundak asisten Mahen.


"Bilang sama atasanmu, kalau putri saya masih mencintai dia juga. Jadi, jangan khawatir."