
Begitu pengacara itu keluar ruangan, orang tua Zaina langsung menghampiri mereka. Untuk membicarakan kasus ini lebih lanjut. Sementara, Mahen memilih mendatangi Zaina yang duduk termenung di kursinya.
Laki-laki itu mengusap kepala Zaina dan berjalan memutar lalu duduk di depan Zaina. "Semuanya baik-baik aja kan? Kamu nggak sedih lagi?"
Belum dijawab, Mahen langsung mengusap pipi Zaina dan mencubitnya pelan. Membuat perempuan itu mengaduh dan menepis lengan Mahen. Lalu mengusap pipinya. Zaina natap kesal pada Mahen yang malah cengengesan itu.
"Ih! Mahen ... kan aku udah bilang, kalau aku paling nggak suka pipi aku di uyel kayak tadi. Sakit tau! Suka sensitif gitu. Pokoknya yang ada malah jadi gatel. Jadi, aku mohon jangan kayak tadi lagi ya. Nggak suka plus jadi merah!" kesal Zaina.
Mahen tertawa dan meminta maaf.
"Dari kemarin kayaknya kita serius mulu. Gimana kalau sekarang kita jalan-jalan dulu? Cari angin gitu. Kayaknya kamu juga butuh refreshing kan? Mayan, masih ada waktu sampai larut malem. Kamu mau kan?"
Zaina mengangguk.
"Mau deh ... dari pada cuman di rumah dan malah mikirin masalah ini. Nambah ruwet aja. Jadi, mendingan aku ikut kamu jalan-jalan ke luar."
"Anak pinter."
"Ih! Aku bukan anak kecil!" seru Zaina sambil jalan lebih dulu dan Mahen mengikutinya dari belakang. "Aku tuh cuman kurang tinggi aja tau! Ah enggak ... kalau sama yang lain. Aku udah cukup tinggi kok. Kamunya aja yang ketinggian makanya bisa gituin aku. Alah, aku kesel ah sama kamu."
"Lah kenapa jadi kesel sama aku— eh mommy."
"Hahaha kalian keliatan asyik banget. Mau ke mana nih?" tanya mommy Nadya yang sejak tadi ternyata berdiri di pintu masuk. Tapi nggak ada yang menyadari sama sekali. "Kayaknya kalian mau pergi keluar ya?"
"Iya mom, Mahen ngajak aku refreshing. Cuman jalan jalan biasa aja kok," beri tahu Zaina dan diikuti anggukan Mahen.
"Boleh kan mommy? Karena saya rasa, Zaina sudah hebat banget bisa ada sejauh ini. Dia mau menuruti kita perihal hal seperti ini di tengah dirinya yang pasti terus bersiteru sama dirinya sendiri karena nggak biasanya tega sama orang lain. Dan dari kemarin berita tentang Zaina juga nggak berhenti selesai. Pasti Zaina juga mumet banget. Makanya saya mau ajak anak tante untuk jalan-jalan. Boleh kan tante?"
"Ya boleh dong ... bawa saja. Saya cuman meminta kamu untuk menjaga Zaina saja. Selebihnya kamu nggak perlu khawatir karena saya sama suami saya yang akan mengurus sisanya."
"Benar nak," ucap daddy Zidan yang tiba-tiba datang sambil membawa sebuah map. "Terima kasih banyak karena kamu sudah berpartisipasi selama ini.Keberadaann kamu sangat membantu kami untuk menyelesaikan masalah ini."
"Dengan senang hati, daddy ... Ya sudah, Mahen minta izin buat ajak anak daddy jalan-jalan. Sebelum jam sepuluh malam saya janji kalau Zaina akan ada mansion kalian."
"Hahaha ... masih ingat saja kamu. Bawa saja, kamu nggak perlu khawatir karena sekarang saya udah percaya sama kamu. Kalian habisin waktu dulu saja. Anggap saja ambil waktu buat hembusin napas setelah selama ini banyak masalah yang datang."
Kedua orang muda mudi itu berpamitan dan langsung meninggalkan mom Nadya dan dad Zidan yang menatap mereke dengan gemas. Sampai dady Zidan merangkul istri nya itu dengan lembut.
"Kamu beneran tega ngelihat mereka berpisah, padahal mereka udah sejauh ini? Padahal kebersamaan mereka udah buat mereka bahagia banget. Kamu denger kan, bahkan tadi anak kita langsung dengerin omongan Mahen ketimbang kita. Itu semua karena apa? Karena Zaina udah percaya banget sama anak itu. Jadi ... kamu tega kah kalau hancurin hubungan mereka hanya demi ego kamu?" ucap Dad Zidan.
Daddy Zidan nggak akan sungkan lagi. Walaupun harus melawan istrinya sekali pun. Dia benar-benar nggak mau melihat anaknya sedih lagi. Karena setelah persidangan selesai, daddy Zidan nggaj mau lagi sampai denger istri dan ibunya itu kembali mempermasalahkan hal ini.
"Tapi mas ... apa salahnya dengerin omongan oma kamu kan?" ucap mom Nadya dengan pelan. "Aku juga gemas kok sama mereka. Lucu ada lihat Zaina sama Mahen. Tapi kita kan nggak tahu apa Mahen memang masih cinta sama anak kita atau cuman merasa kasihan aja. Jadi .. aku nggak mau buat Zaina jadi sakit hati. Makanya aku mau milih opsi yang di pinta sama oma. Karena itu salah satu opsi yang menurut aku sangat terbaik."
"Terbaik menurut siapa?" tanya dad Zidan sambil menggeleng. Sedikit memberi jarak pada istrinya itu.
"Mas—
"Aku beneran nggak akan segan marah sama kamu. Kalau kamu tetap egois dan maksa Zaina ya! Apalagi kalau nanti diam diam mas ngelihat Zaina yang nangis lagi karena hal ini. Pokoknya, mas nggak akan diam aja. Mas nggak mau kalau Zaina kembali merasakan kesedihan karena keegoisan kamu sama oma."
"Aku beneran nggak maksa Zaina kok," ucap mom Nadya yang nggak terima.
Ia menatap suaminya itu yang terlihat jauh lebih marah ketimbang tadi. "Memangnya kamu kira aku ibu seperti apa yang mau menjatuhkan anaknya sendiri? Aku juga nggak mau kayak gitu, mas ... kamu nggak perlu khawatir sama sekali. Aku cuman mau mengikuti saran oma doang. Tapi aku juga nggak maksa Zaina buat milih orang suruhan oma itu. Aku cuman minta Zaina nurut doang dan deket sekedar nya aja. Ya, kalau mereka lanjut berarti cowok itu cocok. Tapi kalau memang Zaina nggak suka. Zaina nggak perlu lanjutkan kok. Zaina bisa cari kebahagiaan sendiri."
"Itu yang ada di pikiran kamu! Bukan oma!" balas dad Zidan dengan serius. "Dengan kamu memberi izin membuat ibu jadi berpikir kalau ini waktunya dan dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan yang dia mau."
"Ta— tapi mas
"Kamu udah kenal sama ibu dari lama kan? Dan juga harus nya kamu sadar. Karena dari awal dia deketin kamu secara tiba-tiba aja udah aneh banget. Dia deketin kamu buat apa? Selain buat wujudin keinginan dia. Aku yakin kalau ibu ngak tulus sama kamu. Jadi, buka mata kamu lebar-lebar karena selama ini kamu udah di manfaatin sama ibu. Kamu udah di cuci otaknya sama ibu. Kamu juga tau kan, kalau udah ada yang ibu mau. Dia akan melakukan berbagai cara. Demi dapat apa yang dia mau."
"..."
Mommy Nadya terdiam.
Baru sadar akan pikiran ke arah sana.
"Buka pikiran kamu dari sekarang. Dari pada kamu harus menyesal nanti!"
***
"Mau ke mana kita?" seru Zaina sambil meloncat, berjalan mundur sembari terus menatap Mahen yang mengikutinya dengan dua tangan di taruh pada kantung. Terlihat sangat keren di mata perempuan itu.
"Kan niatnya mau cari angin. Jadi aku bawa kamu ke taman sini. Lumayan kan nggak serame yang dikira. Kita bisa teriak juga nggak bakalan ada yang keganggu. Tapi walaupun jarang ada orang. Banyak makanan di sini. Kamu suka kan?"
Zaina mengangguk dan menyamakan posisi mereka berjalan.
"Mahen ... sekarang aku paham kenapa banyak yang suka sama kamu. Termasuk Restu yang rela lakuin banyak cara hanya untuk dapetin kamu."
"Kenapa gitu? Karena tampan?" balas Mahen membuat perempuan itu mencibir. "Tapi memang sih. Siapa yang nggak tergoda sama ketampanan seorang Mahen? Semua orang juga mengakuinya."
Zaina mau marah, tapi semua itu menang benar adanya.
Malahan aneh kalau ada orang yang ngomong kalah Mahen itu nggak tampan. Itu beneran aneh banget. Karena selama ini banyak orang yang bahkan memujinya karena ketampanan pria itu.
"Kamu mengakuinya kan?" tanya Mahen sambil menoel dagu perempuan itu.
Zaina mencibir lagi walaupun wajahnya mengangguk.
"Tapi bukan itu yang jadi point utama! Bukan itu yang mau aku omongin. Serius dulu atuh."
"Hahaha gemes banget sih. Ya udah, memangnya apa yang mau kamu omongin."
"Itu loh mas kamu tuh punya banyak sisi menarik yang pasti di sukain banyak orang. Selain karena tampan yang pasti buat banyak perempuan di luaran sana jadi suka. Kamu tuh benar-benar attractive banget. Semua hal kamu ambil dari segi mulut kamu yang manis. Bukan sekedar manis kayak kebanyakan laki-laki di luaran sana. Tapi kamu tuh beneran lakuin semua omongan kamu, yang pastinya banyak wanita yang meleleh karena ini."
"..."
"Kamu juga selalu sigap menjaga wanita yang kamu sukain. Sikap, gesture, mulut, tatapan, semuanya benar-benar sangat tulus dan aku yakin kalau banyak perempuan di luaran sana yang iri sama aku. Karena dapetin laki-laki sesempurna kamu."
"..."
"Aku beneran beruntung banget dapetin kamu. Kamu yang selalu mengutamakan kamu bahkan di hidup kamu sendiri. Kamu yang selalu bela aku di saat banyak masalah yang datang. Kamu yang tetap di sisi aku setelah tau semuanya tentang aku. Kamu yang selalu ada di belakang kamu dan menjadi orang yang selalu ada untuk aku, setiap aku tertimpa masalah. Kamu juga selalu sigap di depan aku, menahan semua badai di hidup aku."
Mahen tersenyum sendu.
Setelah mereka saling jujur kala itu yang membuat mereka sedikit bertengkar.
Mahen merasa kalau Zaina lebih terbuka sama dirinya dan Mahen benar-benar bahagia akan hal yang satu ini. Karena Zaina selalu saja memperlihatkan sisi yang buat laki-laki itu semakin jatuh cinta sama Zaina.
Mahen benar-benar menyukainya.
"Terlepas dari perasaan ini. Kamu memang pantas kok nemuin orang yang baik banget sama kamu. Orang di luaran sana hanya tau sisi luar kamu aja. Padahal mereka nggak tau gimana baiknya kamu. Mungkin kamu pernah salah. Tapi yang namanya manusia kan? Nggak pernah ada yang luput dari kesalahan. Jadi kita harus melihat dari sisi lain. Orang itu bakalan sadar dan belajar untuk berubah. Atau malah sebaliknya."
Langkah perempuan itu berhenti membuat Mahen juga ikut berhenti.
"Aku beneran bersyukur kalau kamu mikir seperti itu dan aku akan tetap ada di sini untuk kamu. Kamu nggak perlu khawatir sama sekali ya. Aku akan selamanya di sini untuk kamu."
"Tapi Mahen—
"Iya?"
"Bagaimana dengan titahan dari oma? tentang laki-laki yang disuruh dekat sama aku. Karena sejujurnya sampai detik ini oma masih terus menghubungi aku," jujur Zaina pada akhir nya.