
Tanpa mereka sadari,
Mahen berdiri di dekat balkon sambil menatap nanar punggung Zaina yang meninggalkan sang bunda lalu masuk ke dalam mobilnya. Mahen menatap itu semua dan melihat bagaimana Zaina yang menepis air mata yang sepertinya turun. Hati Mahen bergetar, ikut sakit melihat semua itu. Ia menarik napas dalam, memang benar kalau dirinya memiliki andil yang cukup besar dalam menyakiti perempuan itu. Karena tanpa sadar dirinya sudah melangkah begitu jauh dan membuat wanitanya semakin sakit.
Laki-laki itu pada akhirnya menutup pintu balkon dan tiduran di kasur, sambil menatap ke arah langit-langit kamar. Ia menarik napas dalam.
“Kenapa sesulit ini ya? gue kira semuanya nggak bakalan sejauh ini. Tapi ternyata ini malah semakin menyakiti Zaina.”
Mahen menaruh lengan kanannya untuk menutupi matanya. Ia memejamkan mata sembari sesekali menghembuskan napas kasar.
“Gue kira nggak bakal sejauh ini, tapi ternyata ...”
Laki-laki itu kembali menarik napas dalam. Saat ini dirinya nggak bisa apa-apa selain berada di pihak Restu.
“Ah ... tentang Restu, gue beneran nyesel banget kenal sama perempuan itu.”
Satu detik kemudian, Mahen mendengar ponselnya berdering. Dengan cepat ia bangkit sambil mengambil ponselnya. Laki-laki itu hanya berdecak kencang saat melihat nama ‘Restu’ ada di layar ponselnya. Mahen memekik kesal dan langsung melempar asal ponselnya. Napas laki-laki itu memburu dan berteriak kencang.
“Gue nyesel karena udah sejauh ini!”
Tentang Restu,
Mereka nggak memiliki hubungan sama sekali. Semua ini terjadi karena kebodohan dirinya. Entah kenapa dia harus berakhir seperti ini. Tapi, ini semua harus ia lakukan. Itu pun demi Zaina. Karena ini menyangkut tentang perempuan yang masih menetap di hatinya.
Sebenarnya,
Mahen mengenal Restu itu tanpa sadar. Dulu mereka hanya kenal selewat saja, karena memang nggak pernah berhubungan lebih. Tapi setelah berita putusnya hubungan Mahen sama Zaina, entah kenapa Restu seolah deket-deket terus sama dirinya. Sampai Mahen sendiri risih dan tidak sengaja membentak perempuan itu.
Awalnya, Restu hanya bisa menangis dan langsung meninggalkan Mahen. Untuk sesaat Mahen juga nggak melihat kabar Restu lagi dan itu cukup membuatnya lega.
Ia melakukan semua ini karena nama Zaina masih terus ada di hatinya pada saat itu. Bahkan sampai detik ini juga, Mahen nggak pernah menghilangkan nama Zaina sama sekali.
Tapi ...
Satu bulan kemudian Restu datang sambil melihatkan satu video yang benar-benar mengejutkan laki-laki itu. Karena entah dari mana, Restu memiliki video Zaina saat sedang bermesraan dengan Ghaly saat berada di club dan mereka terlihat cukup intim. Dan entah ke napa Restu sampai memiliki video seperti itu dan perempuan itu mengancam akan menyebarkan video tersebut kalau Mahen masih baik sama Zaina. Mahen harus terus deket Restu kalau nggak mau video itu tersebar dan karena itu Mahen terpaksa menjaga jarak dari Zaina dan itu sangat menyakiti hatinya.
Tidak ada yang tahu alasan yang sebenarnya, karena selama ini Mahen memilih menyembunyi kan ini semua sendiri.
Bahkan orang tuanya sendiri,
Mereka hanya tahu kalau Mahen dekat sama Restu. Maka dari itu, orang tua Mahen kecewa sama pilihan anaknya yang jauh dari apa yang mereka inginkan. Entah kenapa firasat orang tua Mahen selalu buruk kalau sudah membicarakn tentang perempuan itu.
Mahen menarik napas dalam.
Ia sudah tidak bisa lagi menangis, karena ini salah satu perjuangan yang harus ia lakukan supaya Zaina nggak sedih lagi. Ia nggak mau perempuannya ke napa-napa lagi kalau hal ini sampai bocor karena keegoisan dirinya. Jadi, untuk saat ini Mahen harus menahan diri. Selama Zaina baik-baik aja sama Ghaly. Mahen harus berusaha baik-baik aja.
Laki-laki itu menatap kosong ke arah depan. Lamunan nya kembali terusik saat mendengar suara ponselnya terus berdering tanpa henti. Tanpa pikir panjang sama sekali, Zaina menghampiri ponselnya yang sudah ia lempar tadi dan langsung mengangkatnya tanpa melihat layar sama sekali.
Mahen memejamkan mata, untuk menahan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.
“Maaf maaf aja ya Restu, kamu memang nyuruh gue buat selesaiin hubungan buruk sama Zaina. Tapi nggak pernah tuh kamu menyuruh orang tua gue untuk menjauhi Zaina kan? Jadi ... kedatangan Zaina itu untuk bunda gue. Jadi, lu nggak bisa larang sama sekali! Dan juga gak usah di ingetin berulang kali. Karena gue akan inget terus.”
/Bagus kalau begitu ... dah lah, aku nggak mau kalau bunda kamu terus-terusan masih deket sama Zaina. Jadi, kapan kamu mau datengin aku ke rumah kamu dan menemui orang tua kamu. Kamu janji kan mau ngenalin kita berdua? Awas aja kalau kamu bohong. Pokoknya, aku bakal marah banget kalau kamu cuman janji doang dan nggak mungkin kan kalau kamu larang aku buat ketemu sama orang tua kamu terus, di saat semua orang udah tau kalau kita ini adalah pasangan yang udah bertunangan./
Diam-diam Zaina mengepalkan tangan dan memukul kasur yang tak bersalah itu.
“Lu bisa nggak sih kalau ngelakuin sesuatu itu mikir dulu? Memangnya gue ada omongan mau tunangan sama lu. Tapi kenapa lu malah umumin kayak gitu?”
/..../
“Memangnya lu nggak mikirin perasaan orang tua gue selama ini? ayolah Restu ... lu tuh cuman obsesi sama gue. Kalau cinta sama orang, nggak perlu memiliki orang itu. Lu tuh udah di tingkat egois dan secara nggak langsung malah nyakitin hati gue. Dengan lu yang kayak gini, bukan malah buat orang tua gue jadi suka lu. Malah kebalikan nya, yang artinya orang tua gue malah benci sama lu.”
/Gue nggak peduli sama sekali, karena yang gue butuhin bukan orang tua lu. Melainkan lu sendiri. Jadi, mau ribuan orang nggak suka sama hubungan kita, gue nggak peduli sama sekali. Yang penting lu tunduk di bawah gue./
“Gue capek Restu ... lu selalu nyuruh gue ini itu. Gue udah jauhin Zaina, seperti yang lu pinta. Tapi lu malah buat Zaina sakit hati karena lu mau kita terus ada di deket Zaina. Gue udah ikutin semua permintaan lu. Tapi lu malah umumin berita itu, padahal kita nggak pernah ada omongan sejauh itu.”
/Ya ... gue sih nggak peduli, lu sendiri udah lihat video nya kan? Kalau lu mau nyerah gak mau ngelakuin ini lagi. Artinya ... sama aja lu mau lihat Zaina yang dihujat semua orang lagi? Duh, gue nggak sabar ngeliat ketikan jahat semua orang untuk Zaina. Pasti seru banget kan?/
“OKEI! Gue akan ikutin semua kemauan lu, tapi tolong jangan pernah sebar video itu!”
/Nah gitu dong ... apa susahnya sih nurut? Jadi, untuk sekarang aku harap kamu nggak akan marah atau ngomong sinis lagi sama aku. Tinggal ikutin semua kemauan aku. Gampang kan?/
Mahen berdecak dan langsung mematikan ponselnya, ia benar-benar benci sama Restu. Mulai detik ini, ia akan mencari cara untuk keluar dari zona ini. Dia akan mencari cara supaya video itu bisa terhapus dan dirinya bisa minta maaf sama Zaina atas kelakuan dia selama ini.
***
“Mahen ... sampai sekarang kamu masih nggak mau ngomong sama bunda, apa alesan kamu sebenarnya untuk menyukai Restu? Ini bukan kamu sama sekali. Jadi, bunda merasa sangat aneh. Tolong kasih tau apa yang sebenarnya terjadi. Biar bunda bisa tau.”
Mahen mengaduk makanannya, ia jadi tak berselera makan sama sekali. Ia menarik napas dalam sambil menatap memelas pada bundanya. Rasanya ia ikut tercekat. Ingin rasanya jujur sama orang tuanya apa yang sebenarnya terjadi selama ini, tapi dia nggak mau karena dirinya yang egois. Zaina akan menjadi korban lagi.
“Bunda nggak perlu tau ...,” jawab Mahen pada akhirnya dengan sangat singkat.
“Bunda sebenarnya nggak pernah peduli sama pilihan kamu, karena tahu kamu terus mencari yang terbaik. Tapi ini sangat aneh. Kamu melupakan tiga orang yang lalu aja butuh bertahun tahun, tapi kenapa melupakan Zaina dalam selang waktu satu bulan aja? Ini beneran aneh dan fakta kamu yang nggak pernah gubris masalah sama dia juga buat aneh banget. Nggak cuman itu, kalau kamu memang serius dengan perempuan itu. Kenapa kamu nggak pernah bawa dia ke rumah? Kamu beneran serius kah?”
Mahen mengigit bibir bawahnya dan menghembuskan napas kasar.
“Maaf bun, aku belum bisa bicara sekarang.”
“Tuh kan ... bunda sudah merasa kalau semua ini memang nggak seperti yang bunda kira. Kamu memang menyembunyikan sesuatu dari bunda. Nak, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu. Kamu menyembunyikan sesuatu yang buruk kah? Atau bagaimana. Ini bunda kamu, bunda yang melahirkan kamu. Kalau ada masalah, kamu cerita. Jangan menyimpannya sendiri.”
Mahen mengalihkan pandangan, berusaha menghilangkan air matanya yang udah ingin memaksa keluar dari netranya.
“Maaf bun,” hanya itu yang bisa Mahen ucapkan untuk kali ini.