
Zaina sudah kembali ke rumah dan semuanya tampak berbeda. Tidak ada lagi kata semangat dari orang tuanya. Perintah mereka yang meminta Zaina untuk menikah saja sudah nggak ada.
Zaina tertawa dan menyentuh perut dia yang masih rata. "Mereka pasti kecewa banget sama aku kan? Mereka nggak menyangka kalau aku sampai kayak gini. Mereka pasti beneran udah merasa malu sama aku."
Zaina menutup wajahnya dan menangis.
Ia merindukan dirinya yang dulu. Di banding marah karena sekarang dia hamil dan kenyataan bahwa kekasih dia udah nggak ada di sisiNya. Zaina lebih marah sama dirinya karena udah jatuh ke jurang yang begitu dalam.
Dia kecewa sama dirinya sendiri.
Zaina memukul bantal tak bersalah itu dengan sangat emosi. Entah dia harus melampiaskan amarah ini sama siapa, semuanya terasa begitu rancu. Bahkan Ghaly saja sama sekali nggak ada dan nggak bisa di hubungin.
Keberadaan Ghaly sama sekali nggak di ketahui, hingga di satu titik Zaina merasa ingin menyerah.
"Kenapa ... kenapa aku begitu bodoh dan bucin banget sama Ghaly? Sampai aku melupakan hal ini. Hamil ... aku itu menyesal telah melakukan semuanya sama Ghaly. Tapi di sisi lain, kadang aku mempersilahkan Ghaly sendiri yang melakukan semua itu sama aku. Tanpa pernah aku tolak sama sekali."
Zaina turun dari tempat tidur dan dia mendatangi meja rias, duduk di sana. Zaina menatap wajahnya. Entah udah berapa kali dia menangis. Zaina juga gak ingat sama sekali. Tapi yang dia ingat, dirinya menangis sampai kepala dirinya pusing dan berhenti. Tapi beberapa saat kemudian Zaina akan kembali menangis.
“Woah ... beneran kayak mata panda banget. Ini mah yang ada aku kayak orang yang udah berhari-hari nggak tidur. Tapi— mana mungkin aku bisa tidur di saat kondisi yang aku alamin sedang kayak gini? Aku nggak bisa apa-apa, selain menyalahkan diri aku sendiri. Rasanya aku juga terlalu bodoh karena udah melakukan hal yang seharusnya nggak aku lakukan sama sekali,” gumam Zaina.
Kemudian perempuan itu memilih pergi dan melangkah keluar kamar. Langkahnya terhenti saat melihat mommynya sudah ada di sana. Di dapur.
“Zaina? Kamu mau makan?” tanya mommynya tanpa mengatakan apa-apa. sungguh keadaan seperti ini malah membuat Zaina semakin merasa nggak enak.
Pasalnya. Zaina merasa kalau dua orang tuanya marah atas apa yang dia lakukan. Tapi mereka sama sekali nggak pernah secara gamblang, berteriak atau marah sama dirinya. Orang tua Zaina lebih ke mendiami dan menjaga jarak. Walau tetap bicara sama Zaina. Tapi Zaina merasa semua itu nggak kayak dulu. Tidak ada kehangatan sama sekali dan itu karena dirinya.
“Mommy?—
“Ini mommy buatkan kamu sup ayam. Orang hamil harus mendapatkan kehangatan, mommy nggak mau kalau kamu sampai kenapa-napa dan berpengaruh sama anak kamu. Jadi jangan berlarut pada kesedihan. Lebih baik makan dan fokus sama kesehatan kamu sendiri. Karena itu yang paling penting untuk saat ini,” papar mommynya lalu pergi meninggalkan Zaina begitu aja dan hilang dari pandangannya.
Zaina menatap mommynya itu sampai tubuh mommynya hilang di balik tembok dan menunduk, tangan perempuan itu mencengkram rok yang ia kenakan dengan sangat kuat. Bibirnya sudah gemetar dan dia nggak tahu harus apa.
“Why? Kenapa aku nggak pernah membanggakan mereka dan malah terus mengecewakan mommy sama daddy?”
Semenjak apa yang daddynya katakan tempo hari, Zaina mulai merubah pola pikirnya dan baru sadar kalau selama ini dirinya lah yang udah problem. Dirinya lah yang udah membuat banyak orang terluka. Dirinya lah yang menjadi penyebab dari berbagai hal yang terjadi. Jadi, Zaina mulai merasa kalau dirinyalah penebar luka yang sebenarnya sampai dia nggak tahu harus memulai hidup dari mana.
“Aku bodoh ... sekarang aku udah nggak merasa heran kenapa mommy kayak tadi. Ya karena ini atas balasan apa yang aku lakukan selama ini. Balasan atas apa yang aku perbuat. Karena bukan aku aja yang kecewa tapi mommy sama daddy sama kecewanya dengan apa yang aku lakukan ini.”
Zaina pada akhirnya memilih untuk makan, karena dia nggak mau membuat suasana kembali semakin kacau lagi. Dia mau membuat mommynya nggak marah dan dia akan menuruti apa pun yang di pinta sama mommya. Untuk saat ini dan kedepannya. Bahkan kalau orang tuanya meminta dia untuk pergi. Zaina akan pergi. Demi nama baik keluarganya.
Sore harinya,
Zaina memilih kembali keluar setelah ia mendengar suara mobil ayahnya dari dalam kamar.
“Daddy?” panggil Zaina dan mendatangi daddynya itu, membawakan tas kerja yang di pegang sama daddynya itu. “Daddy ... aku pasti buat kecewa daddy sama mommy kan? Aku beneran minta maaf atas semua hal yang terjadi. Aku nggak tahu harus apa. Ini semua salah aku dan aku bingung harus apa untuk buat mommy sama daddy kembali senang. Aku nggak suka kayak gini. Aku nggak suka mommy sama daddy yang malah mendiamkan aku. Aku merasa jahat banget. Aku nggak masalah kalau daddy usir—
“Tadi daddy melihat jus mangga kesukaan kamu, daddy sempat berhenti dan beliin buat kamu,” potong daddynya membuat perasaan Zaina tidak keruan dan menyerahkan sebungkus plastik itu.
“Tapi daddy ... dengerin apa yang aku omongin dulu. Ini beneran dari hati aku yang paling dalam. Aku nggak masalah semua hidup aku berubah asal daddy sama mommy senang. Pasti kelakuan aku udah buat orang sedih kan? Daddy sama mommy juga malu punya anak kayak aku?” tanya Zaina dengan suara gemetar.
“Kata siapa?” tanya daddy Zidan sambil membawa kembali tas kerjanya di lengan Zaina, membiarkan anaknya itu memegang jus saja.
“Sikap daddy sama mommy yang memberi tahu semuanya.”
Daddy Zidan menarik napas dalam. “Kalau kami marah sama kamu, sudah dari awal kami mengusir kamu karena sudah membuat nama keluarga jadi buruk. Tapi apa? daddy sama mommy sama sekali nggak pernah melakukan itu semua. Di banding marah sama kamu, kami lebih kecewa sama diri kami sendiri. Karena sudah menjadi orang tua yang gagal.”
Zaina menggeleng, “enggak ... ini bukan salah mommy dan daddy sama sekali. Ini murni salah yang aku lakukan. Jangan salahkan diri mommy sama daddy kayak gini. Malah buat aku semakin sakit.”
Daddy Zidan mengusak rambut anaknya, “untuk sekarang kamu cukup fokus sama diri kamu sendiri ya. Jaga kesehatan kamu karena ada orang lain yang harus kamu jaga di perut kamu itu dan jangan terlalu pikirkan sikap mommy sama daddy. Kami hanya butuh waktu sesaat dan nanti akan kembali seperti biasanya.”
“Daddy sayang sama kamu,” ucap daddynya sebelum melangkah pergi.