
"Jadi kamu beneran mau?"
Zaina langsung mengangguk dengan cepat. Tangannya menyatu, tanda dia antusias. Walah sedetik kemudian dia kembali menghela napas dalam. Buat mommy sama daddynya jadi bingung karena perubahan yang begitu cepat.
"Sebenarnya ... aku nggak paham juga sih. Tapi aku cuma mau ketemu sama dia. Bukan sebagai jodohnya atau orang yang nanti nikah sama aku. Tapi aku cuma mau kenalan aja sama dia. Aku mau membuat dia jadi teman aku. Aku mau mengenalnya lebih jauh dulu. Dari pada aku yang nantinya terpaksa kalau udah ketemu sama dia."
Mommynya mengangguk dan langsung menggenggam lengan Zaina.
"Nggak apa-apa, nak .. mommy udah senang kalau sekarang aja kamu mau membuka diri dan nggak menolak lagi. Gini aja udah mampu buat mommy itu jadi senang banget."
Zaina senang kalau mendengar hal ini.
"Ya udah nanti mommy siapin pertemuan kalian!"
***
Di sinilah Zaina berada. Di sebuah restoran dalam hotel yang sangat privat. Sungguh ini keberanian Zaina lagi untuk keluar rumah. Setelah sekian lama dia itu cuma berani beranjak di sekeliling komplek perumahannya aja. Dia mulai kembali keluar tanpa penjagaan sama sekali.
"Ini benar-benar bebas dan aku rindu sama hidup aku yang bebas."
Tangannya mencengkram kuat setir dan pandangannya turun ke perutnya itu. Ia mengusap pelan.
"Walaupun bunda menyukai hidup gini, bunda mau kamu lahir di dunia ini, nak."
“Maaf karena kamu hadir di waktu yang salah dan mungkin sebagian orang nggak akan suka sama keberadaan kamu. Maaf karena bunda yang udah buat kamu ada di posisi kayak gini. Bunda benar-benar minta maaf untuk semua hal. Tapi di sini bunda janji nggak akan buat hidup kamu tertekan. Bunda akan memberi kebahagiaan untuk kamu.”
Perasannya jadi abu-abu dan ia hanya nggak mau menangis. Jadi, Zaina memilih untuk menjalani mobil sampai menuju tempat itu.
Begitu tiba dia langsung di pandu ke sebuah ruangan privat sampai ia melihat sebuah pria yang duduk membelakangi dirinya. Kening perempuan itu mengkerut dan berjalan perlahan, sampai ia berdiri di hadapannya. “Tuan Mahen?”
Laki-laki itu berbalik dan memiringkan wajahnya, “Zaina?”
Zaina mengangguk dan keduanya langsung aja berjabat tangan. Mahen langsung meminta Zaina untuk duduk. Zaina memutar kursi dan duduk di depanya. Untuk sesaat mereka hanya saling memandang tanpa mengatakan satu sama lain. Begitu juga Zaina, ia hanya menatap dari atas sampai bawah lalu menarik napas dalam.
/Ini mah ... terlalu perfect untuk aku yang udah nggak sempurna/ papar Zaina di dalam hati. Lihat aja bagaimana laki-laki itu yang terlihat sangat tampan, wajahnya yang tegas, auranya yang benar-benar mencekam, dan bagaimana laki-laki itu yang sama sekali nggak kasih senyuman sama dia.
“Ini ... dengan kamu datang kesini? Berarti sudah menerima permintaan orang tua kamu?”
“Loh kenapa?” tanya Mahen dengan bingung. “Saya nggak ada hal yang buat kamu nggak suka kan? Di sini saya sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu. Tapi kenapa saat ini kamu langsung memutuskan untuk menolak? Di saat kami belum mengenal dalam dan sejauh itu? Apa memang nggak kesempatan untuk saya?”
Mata Zaina semakin memicing, “hal ini yang buat gue nggak tahu harus apa. Aneh banget dengan lu yang ngomong gini deh. Nggak sesuai banget sama citra lu dan buat gue beneran nggak mau banget untuk bareng sama lu,” papar Zaina sambil menggeleng. “Berjalan saja seperti biasa dan gue nggak bakalan menerima sama sekali.”
“Aneh sekali ... bagaimana kalau kita mengenal lebih jauh? Saya janji akan membuat kamu jatuh cinta sama saya dan saya nggak akan pernah membuat kamu kecewa sama sekali. Jadi, bagaimana? Apa kamu bersedia?” tanya Mahen lagi dengan semakin memaksa.
Zaina semakin menggeleng.
“Berikan alasannya dan saya akan pertimbangkan lagi.”
Zaina menarik napas dalam, "gue deh yang balik bertanya. Kenapa lu segitunya mau sama gue? Di saat gue yakin banget kalau lu tahu apa yang udah gue alamin dan saat ini gue kenapa. Kenapa orang yang memiliki uang, tampang dan aura bagus malahan milih perempuan kayak gue. DI saat banyak perempuan lain yang lebih bagus di luaran sana? Bukannya ini jadi tanda tanya sendiri dan malah terkesan aneh banget?"
Mahen menggeleng. "Tidak ada yang aneh selagi memang diri saya sendiri yang memilih. Kalau saya maunya kamu, gimana? Gak salah sama sekali kan. Jadi, dari pada mikirin hal itu. Harusnya kamu tahu penekanan kalau saya nggak peduli dengan semua keadaan yang menimpa kamu. Saya tetap akan menerima kamu seratus persen dan nggak akan menolak apa pun itu."
Zaina semakin tidak mengerti.
Ia memandang Mahen dari wajahnya sampai postur badannya yang terkesan sempurna.
Sementara dirinya? Hanya perempuan yang memiliki tampang, tapi pasti sebenar lagi badannya akan mulai menyusut karena dia yang lagi hamil. Jadi, alasan apa yang buat Mahen sampai segitunya?
"Bener deh ... beneran aneh banget. Ini pertemuan pertama kita dan lu udah ngomong gitu. Seakan kita udah ketemu dari lama? dan juga ... gue datang kesini tuh karena butuh teman. Butuh orang yang dengarin semua permasalahan gue tanpa pamrih dan gue harap bisa nemuin itu dari lu. Tapi kalau tahu lu yang kayak gini, beneran deh gue malah takut. Orang yang maksa gue. Jadi, jangankan menikah sama lu. Mau jadiin lu temen aja gue masih mikir."
Zaina memangku wajahnya di atas meja dan menggeleng. Ia masih terlanjur nggak paham sama semua ini.
"Okei ... saya ada suatu problem dan itu bisa di selesaiin sama nikah. Kalau kamu nanya? Saya akan jelasin kalau kamu udah bersedia untuk jadi teman saya. Kita bagi masalah bersama satu sama lain. Jadi, bagaimana? Kamu bersedia jadi teman saya?" tanya Mahen dengan hati-hati.
Mahen menjulurkan lengannya dan menatap pada Zaina dengan pandangan yang sangat memohon.
"Bagiamana?"
Zaina sungguh penasaran akan hal ini, jadi tanpa pikir panjang dia langsung membalas jabatan tangan itu. "Ya! kita teman, tapi jangan maksa gue untuk nikah sama lu. Gue mau buat diri gue nyaman dulu dan nggak akan buat lu jadi merasa aneh sama kebadaan gue."
Mahen tersenyum tipis dan mengangguk, "jadi ... apa yang mau kamu ceritain lebih dulu?"